Keesokan malamnya, aku tiba di Cross & Co. dengan rambut terikat dan celemek yang kubawa sendiri. Aku sempat mempertimbangkan memakai pakaian hitam agar noda tepung tidak terlihat, tetapi akhirnya memilih kaus lama yang memang tak akan kusesali jika terkena adonan.
Daren membuka pintu dapur. 'Persiapanmu serius sekali.'
'Aku belajar dari kesalahan kemarin. Kali ini aku datang dengan pakaian yang siap menghadapi tepung.'
Ethan menoleh dari meja kerja. 'Bagus. Kita akan membuat dua adonan. Satu versi sesuai takaran kemarin, satu lagi dengan sedikit tambahan cairan.'
'Jadi aku boleh mengaduk?'
'Kau boleh mengukur dan mengaduk. Aku akan mengawasi oven. Daren menyiapkan isian.'
Aku mencuci tangan dan membaca resep dari buku. Ethan menaruh mangkuk dan sendok di depanku, memastikan gagangnya menghadap ke arah yang mudah kupegang. Ada perhatian kecil dalam caranya mengatur ruang kerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi memastikan aku tidak perlu menjangkau melewati loyang panas.
'Dua ratus gram tepung,' kataku.
'Timbang sendiri kali ini,' jawabnya. 'Aku akan mengoreksi kalau meleset.'
Aku menuang tepung perlahan ke timbangan. Angkanya berhenti di dua ratus dua belas.
'Dua belas gram terlalu banyak,' kataku.
'Kau bisa mengurangi sedikit demi sedikit. Jangan menuang balik sekaligus.'
Aku mengambil sendok kecil dan memindahkan tepung ke mangkuk cadangan. 'Ini bagian yang membuatku gugup. Semua terlihat sederhana sampai harus tepat.'
'Resep itu bisa diulang karena takarannya jelas. Tapi kau juga harus memperhatikan bahan. Tepung yang berbeda bisa menyerap cairan dengan cara berbeda.'
'Jadi angka bukan segalanya?'
'Angka membantu. Pengalaman yang mengajari kapan harus menyesuaikan.'
Aku menatapnya. 'Kau sedang membicarakan resep, kan?'
'Kita sedang membuat adonan.'
'Jawaban yang aman.'
Daren menyela dari meja lain. 'Kalau kalian selesai membahas filsafat tepung, buahnya sudah siap.'
Aku mulai mengaduk bahan kering, lalu Ethan menunjukkan cara menambahkan mentega sedikit demi sedikit. Ia tidak mengambil alih meski gerakanku lambat. Ketika aku meminta bantuan, ia menunjukkan arah tekanan dengan spatula dan membiarkanku mencoba lagi.
Adonan kedua terasa lebih lembap. Aku mengangkat spatula dan melihatnya menempel dalam gumpalan kecil.
'Bagaimana?' tanyaku.
Ethan memperhatikan teksturnya. 'Lebih dekat. Jangan tambahkan cairan lagi.'
'Aku bangga pada adonan ini. Ia lebih kooperatif daripada aku.'
'Aku tidak akan berkomentar soal itu.'
'Karena kau setuju?'
'Karena aku ingin kita menyelesaikan resep malam ini.'
Aku menahan senyum. Daren tertawa, lalu menyerahkan wadah berisi isian untuk percobaan pertama. Kami membagi adonan menjadi beberapa bagian dan memasukkannya ke cetakan. Ethan memeriksa susunannya sebelum memasukkan loyang ke oven.
'Sekarang kita tunggu,' katanya. 'Jangan membuka pintu oven sebelum waktunya.'
'Aku tahu. Panasnya bisa keluar dan membuat suhu turun.'
Ia mengangguk. 'Kau memperhatikan kemarin.'
'Aku memperhatikan banyak hal. Aku hanya tidak selalu mengatakannya.'
'Contohnya?'
'Contohnya, kau tertawa saat aku membuat dapur berantakan. Aku tidak menyangka kau punya tawa seperti itu.'
Senyumnya menghilang perlahan, tetapi kali ini ia tidak terlihat tersinggung. 'Aku juga tidak menyangka kau akan membuat tepung menempel sampai di rambutmu.'
Aku menyentuh kepalaku. 'Masih ada?'
'Sedikit di sebelah kiri.'
Aku mencoba membersihkannya, tetapi salah arah. Ethan mengangkat tangan seolah ingin membantu, kemudian berhenti sebelum menyentuhku.
'Boleh kubersihkan?' tanyanya.
Pertanyaannya sederhana, tetapi membuatku diam sejenak. Ia benar-benar menunggu jawabanku.
'Boleh,' kataku.
Dengan ujung jarinya, ia mengambil sedikit tepung dari dekat pelipisku. Sentuhannya singkat dan hati-hati. Setelah itu ia menunjukkan tepung putih di jarinya, dan aku tertawa kecil karena rupanya aku memang belum bersih.
Daren berdeham dari seberang meja. 'Aku ada di sini, kalau kalian lupa.'
Ethan mundur selangkah. 'Kami sedang membahas kebersihan dapur.'
'Tentu saja,' jawab Daren. 'Topik yang sangat menarik.'
Timer berbunyi sebelum aku sempat membalas. Ethan mengeluarkan loyang dengan sarung tangan tebal. Aroma mentega memenuhi ruangan. Bentuknya cukup bagus, meskipun bagian pinggir salah satu kue sedikit lebih gelap.
Kami menunggu beberapa menit sebelum mencicipi. Daren membelah satu sampel. Bagian dalamnya tampak padat, tetapi tidak kering.
'Teksturnya lebih baik,' kata Ethan. 'Shopia, bagaimana menurutmu?'
Aku menggigit sedikit. Rasa buahnya segar, tetapi lapisan luarnya terlalu tebal. 'Isinya enak. Bagian luar agak berat. Kalau kulitnya lebih tipis, rasa buahnya akan lebih terasa.'
Daren mencatat. 'Aku setuju. Versi kedua lebih baik, tapi belum selesai.'
Ethan tidak membela resepnya. Ia menulis komentar itu dan bertanya, 'Kalau kulitnya ditipiskan, apa bentuknya masih akan bertahan saat dibawa?'
'Kita bisa mencoba satu lagi dengan cetakan lebih kecil,' kataku. 'Aku tidak tahu apakah berhasil, tapi itu mungkin membuat isiannya lebih seimbang.'
'Ide bagus,' ujar Daren. 'Besok kita uji ukuran.'
Ethan menatapku. 'Kau masih bisa datang?'
'Bisa. Aku akan membawa catatan rasa supaya tidak mengandalkan ingatan.'
'Jangan menulis terlalu banyak sampai lupa makan,' kata Ethan.
Aku terkejut mendengarnya. 'Itu terdengar seperti perhatian.'
'Itu terdengar seperti saran praktis. Kau akan lebih berguna kalau tidak kelaparan.'
Daren tersenyum lebar. 'Tentu, Ethan. Sangat praktis.'
Kami membereskan meja. Kali ini hampir tidak ada tepung yang beterbangan, meskipun aku berhasil menumpahkan sedikit gula. Ethan hanya menggeleng dan mengambil sapu kecil. Aku tertawa sebelum ia sempat mengomel. Daren kemudian mengusulkan agar kami menuliskan setiap perubahan resep di papan kecil, supaya tak ada yang mengandalkan ingatan. Ethan menyetujuinya dan memberiku spidol. Aku menulis tanggal, takaran, lalu catatan tentang kulit adonan yang terlalu tebal. Tulisan tanganku miring ke atas, jauh dari rapi, tetapi cukup jelas untuk dibaca.
'Kalau aku salah menulis angka, beri tahu,' kataku.
'Kali ini kau yang bertugas mencatat,' jawab Ethan. 'Aku akan memeriksa setelah selesai.'
'Kau mempercayakan papan resep kepadaku?'
'Jangan membuatnya terdengar seperti menyerahkan toko.'
'Aku cuma ingin menghargai momen ini.'
Daren menempelkan papan itu dekat rak buku resep. 'Sudah. Besok kita tahu apa yang berhasil tanpa harus berdebat soal siapa yang mengingat dengan benar.'
**
Di perjalanan pulang, aku mengulang gerakan mengaduk dalam pikiranku. Lebih dari itu, aku mengingat bagaimana Ethan meminta izin sebelum menyentuh tepung di rambutku. Batas yang ia minta dariku, ternyata ia juga berusaha jaga untukku.