Pukul sembilan malam, tulisan CLOSED sudah tergantung di pintu Cross & Co. Lampu ruang makan depan dipadamkan, tetapi dapur masih terang. Aku berdiri di ambang pintu dengan celemek terlipat di tangan, mengingat janji Ethan bahwa aku boleh membantu setelah toko tutup.
'Kau datang juga,' kata Ethan sambil mencuci tangannya.
'Aku sudah bilang akan datang. Tapi kalau kalian berubah pikiran, aku bisa duduk saja dan mencicipi.'
Daren mengangkat sebuah mangkuk. 'Kami butuh pendapatmu, bukan penonton. Hari ini kita menguji tiga variasi isian. Ethan menyiapkan adonan dasarnya.'
'Kalau begitu, aku mulai dengan satu pertanyaan penting. Boleh aku menyentuh mangkuk ini?'
Ethan menoleh. 'Boleh. Mangkuk itu kosong.'
'Bagus. Kemajuan besar bagi hubungan kita.'
'Jangan terlalu bangga. Untuk bahan dan alat lain, tetap tanya dulu.'
Aku mengikat celemek di pinggang. Daren menjelaskan bahwa kue kompetisi mereka harus mudah dibawa, tetap lembut setelah beberapa jam, dan punya rasa yang berbeda dari kue-kue toko lain. Ia menyebut beberapa kombinasi buah dan krim, sementara Ethan mencatatnya di buku resep.
'Kalau kalian hanya membicarakan rasa, aku bisa membantu,' kataku. 'Aku juga bisa bilang bagian mana yang terdengar menarik untuk dibaca di menu.'
'Itu sebabnya kami mengundangmu,' jawab Daren. 'Pembeli melihat kue sebelum mencicipinya. Nama dan ceritanya juga harus menggugah selera.'
Ethan meletakkan tepung di meja. 'Kita mulai dari adonan. Daren, timbang mentega. Shopia, tolong baca daftar takaran. Jangan menuang apa pun dulu.'
Aku mengangkat daftar. 'Tepung dua ratus gram, gula enam puluh, mentega dingin seratus, telur satu. Aku bacakan, kau yang memasukkan?'
'Benar.'
'Aku merasa seperti pembawa acara kuis. Jawaban benar mendapat kesempatan mengaduk.'
Daren terkekeh. 'Kalau adonannya berhasil, hadiahnya kue. Kalau gagal, hadiah hiburan berupa bersih-bersih.'
'Ancaman yang cukup efektif.'
Kami bekerja perlahan. Aku membaca angka, Ethan menimbang, Daren memeriksa teksturnya. Setiap kali tanganku mendekat ke bahan, aku meminta izin. Setelah beberapa kali, Ethan berhenti dan menatapku.
'Kau tidak perlu bertanya untuk setiap hal kecil. Kalau aku bilang kau boleh membantu, kau boleh mengambil alat yang memang sudah kusiapkan untukmu.'
'Kau bilang jangan menyentuh apa pun tanpa izin. Aku sedang berusaha mematuhi peraturan rumah dan peraturan dapur sekaligus.'
'Ini dapur toko, bukan rumah.'
'Jadi peraturannya lebih ketat?'
'Jauh lebih ketat. Pisau tajam, oven panas, lantai bisa licin. Aku tidak mau kau terluka karena ingin terlihat membantu.'
Nada suaranya tidak dingin. Aku menangkap kekhawatiran kecil di sana, meskipun ia cepat kembali memeriksa timbangan.
Setelah bahan tercampur, Ethan menggeser mangkuk ke hadapanku. 'Sekarang kau boleh mengaduk. Pelan dulu, jangan menekan terlalu keras.'
Aku mulai mengikuti gerakannya. Campuran itu tampak kering dan berbutir. Ketika aku mengaduk lebih kuat, sedikit tepung terangkat dari mangkuk dan beterbangan ke meja.
'Berhenti sebentar,' kata Ethan.
Aku langsung menahan sendok. 'Apa aku merusaknya?'
'Belum. Kau mengaduk terlalu cepat. Lihat teksturnya, bukan cuma gerakan tanganmu.'
Ia berdiri di sampingku, menjaga jarak cukup untuk menunjukkan gerakan tanpa menyentuh tanganku. Ia mengambil spatula lain dan memperagakan cara melipat campuran dari tepi ke tengah.
'Begini. Jangan melawan adonannya.'
'Aku bahkan tidak tahu adonan bisa dilawan.'
'Semua bisa dilawan kalau kau cukup keras kepala.'
'Kau sedang membicarakan adonan atau dirimu sendiri?'
Daren menahan tawa di belakang kami. Ethan meliriknya. 'Jangan ikut campur kalau tidak mau mencuci semua loyang.'
'Aku hanya mengamati kerja sama tim,' kata Daren.
Aku mencoba lagi dengan gerakan lebih pelan. Kali ini adonan mulai menyatu. Namun, saat aku mengikis tepung yang menempel di sisi mangkuk, sendokku tersangkut dan mangkuk bergeser. Sebagian tepung jatuh ke meja, lalu hembusan kipas kecil di dekat rak membuatnya beterbangan sampai mengenai lengan Ethan dan bagian depan celemekku.
Aku menutup mulut. 'Maaf. Aku bisa membersihkannya.'
Ethan melihat noda putih di bajunya, lalu menatap wajahku yang penuh tepung. Beberapa detik ia berusaha mempertahankan ekspresi serius.
Kemudian ia tertawa.
Bukan senyum tipis yang biasa ia berikan saat Daren melontarkan lelucon. Tawa Ethan terdengar lepas, memenuhi dapur yang biasanya hanya diisi bunyi alat dan instruksi. Aku ikut tertawa, sedikit lega karena ia tidak marah.
'Aku sudah memperingatkan soal berantakan,' kata Daren.
'Kau tidak bilang tepungnya akan menyerang pemilik toko,' jawabku.
Ethan mengambil kain lap. 'Kau yang menggerakkan mangkuknya.'
'Aku mengaduk. Tepungnya yang memutuskan untuk kabur.'
Ia masih tersenyum saat menyerahkan satu kain kepadaku. 'Bersihkan meja. Setelah itu, kita lanjutkan.'
Kami membersihkan tepung bersama-sama. Daren menyiapkan tiga mangkuk isian, masing-masing memakai buah dan krim dengan komposisi berbeda. Aku membantu membaca label dan membandingkan warna, tetapi menunggu izin sebelum memindahkan wadah. Kali ini Ethan hanya mengingatkan sekali bahwa wadah panas harus dipegang dengan sarung tangan.
'Versi pertama paling wangi,' kataku setelah kami menata sampel. 'Yang kedua kelihatan lebih cantik. Yang ketiga seimbang, tapi mungkin terlalu aman.'
'Kau baru melihatnya,' kata Ethan. 'Belum mencicipi.'
'Aku sedang memberi ulasan penampilan. Aku akan memberi ulasan rasa setelah kalian menyajikannya.'
Daren mengangguk. 'Catat itu, Ethan. Dia mulai bicara seperti juri.'
Ethan menulis sesuatu di buku. 'Besok kita ulangi dengan tekstur adonan yang lebih baik. Kau masih mau ikut?'
'Kalau aku dijanjikan tidak ada tepung yang sengaja dilemparkan kepadaku, ya.'
'Aku tidak menjanjikan hal yang tidak bisa kukendalikan,' katanya, menunjuk mangkuk yang tadi hampir jatuh.
Kami tertawa kecil. Aku membantu membawa piring kosong ke tempat cuci, setelah Ethan mengangguk memberi izin.
**
Saat pulang, tanganku masih berbau mentega dan vanila. Ethan berjalan bersamaku sampai pintu depan.
'Terima kasih sudah mengajariku,' kataku.
'Kau cukup cepat belajar. Hanya perlu lebih sabar.'
'Aku akan menulis catatan itu. Untuk adonan, bukan untuk hidupku.'
'Terserah kau mau memakainya untuk apa.'
Di luar, udara malam terasa dingin. Aku memikirkan tawanya yang tadi muncul tanpa peringatan. Mungkin selama ini aku hanya melihat Ethan yang sibuk menjaga semua hal tetap teratur. Malam ini, di antara tepung berhamburan dan mangkuk yang nyaris jatuh, aku melihat sisi lain yang belum pernah muncul di hadapanku.