Keesokan paginya, aku sedang membuat kopi ketika Ethan masuk ke dapur membawa kotak kecil berwarna putih. Ia meletakkannya di meja, lalu berdiri di seberangnya dengan sikap yang lebih serius daripada biasanya.
'Kau ada waktu sebelum pergi ke kampus?' tanyanya.
'Hari ini aku tidak ada kelas pagi. Kenapa?'
'Aku ingin meminta bantuanmu untuk kompetisi kue.'
Aku hampir menumpahkan kopi. 'Kau meminta bantuanku?'
'Jangan membuatnya terdengar mengejutkan. Kau punya pendapat soal rasa dan tampilan. Daren bilang saranmu tentang kemasan masuk akal.'
'Jadi ini karena Daren?'
'Ini karena aku butuh pencicip yang jujur. Kau tidak perlu ikut kalau tidak nyaman.'
Aku menatap kotak di meja. 'Kue di dalamnya?'
'Sampel awal. Tapi ada satu syarat. Di dapur toko, kau tidak menyentuh bahan, alat, atau adonan tanpa izinku. Semuanya sudah ditimbang dan disusun sesuai urutan. Kalau ada yang perlu dipindahkan, tanyakan dulu.'
Aku mengangkat alis. 'Kau meminta bantuanku sebagai pencicip, tapi juga melarangku menyentuh apa pun?'
'Aku minta kau mencicipi setelah sampelnya siap. Dapur bukan tempat bebas untuk mengambil bahan. Ada pisau, oven panas, dan pesanan pelanggan. Aku harus memastikan semuanya aman dan tidak tercampur.'
Alasan itu cukup masuk akal, meski cara penyampaiannya tetap terdengar seperti daftar aturan.
'Baik. Aku akan bertanya sebelum menyentuh apa pun. Tapi kalau aku punya pendapat, kau harus siap mendengarnya.'
'Itu tujuan memintamu.'
'Dan kau tidak boleh marah kalau aku tidak suka rasanya.'
'Aku lebih suka jawaban jujur daripada pujian palsu.'
Aku mematikan mesin kopi. 'Kapan kau membutuhkanku?'
'Sekarang, kalau kau punya waktu satu jam. Daren sudah di toko dan kami baru akan mulai menyiapkan sampel.'
Aku memandang kotak kecil itu. 'Kau sudah menyiapkan sampelnya?'
'Itu hanya contoh yang kemarin kami buat. Hari ini kami akan mulai resep yang berbeda. Aku ingin kau mencicipi nanti, bukan langsung sekarang.'
Aku setuju untuk ikut. Sebelum pergi, aku mengirim pesan kepada Ningning bahwa aku akan mampir ke Cross & Co. untuk membantu percobaan rasa. Ia membalas dengan gambar kue dan pesan agar aku tidak jatuh cinta pada siapa pun hanya karena diberi gula.
**
Di toko, Daren menyambutku dengan celemek bersih yang ia pinjamkan. Ethan menunjukkan tempat duduk di ujung meja persiapan.
'Kau boleh duduk di sana dan memberi komentar setelah kami menyajikan sampel,' katanya. 'Jangan menyentuh peralatan di meja ini tanpa bertanya.'
'Aku ingat. Tidak ada sentuhan tanpa izin.'
Daren terkekeh. 'Dia sudah mengulangnya tiga kali sejak kita mulai bicara.'
'Karena aturan dapur penting,' jawab Ethan.
'Aku tidak membantah. Aku hanya memastikan Shopia tidak mengira kau sedang menguji kesabarannya.'
Ethan menatapnya. 'Aku tidak sedang menguji siapa pun.'
Aku duduk di kursi yang ditunjuk. Mereka mulai bekerja. Daren menimbang bahan, sementara Ethan memeriksa resep dan suhu oven. Aku mengamati cara mereka berbagi tugas. Mereka tidak selalu bicara, tetapi tahu kapan harus memberi ruang dan kapan menyerahkan alat.
'Kalian sudah lama bekerja bersama?' tanyaku.
'Cukup lama untuk tahu kapan dia akan mengkritik ukuran potonganku,' kata Daren.
'Karena ukuranmu selalu berbeda-beda,' sahut Ethan.
'Itu namanya variasi.'
'Dalam resep, variasi bisa membuat hasilnya tidak konsisten.'
Aku menyandarkan siku di meja. 'Kalian selalu berdebat begini?'
'Hanya saat kami bekerja,' jawab Daren.
'Dan saat tidak bekerja?' tanyaku.
'Kami berdebat tentang hal lain,' kata Ethan datar.
Aku tertawa. Suasana dapur ternyata tidak setegang aturan yang ia jelaskan. Mereka saling mengoreksi, tapi tidak saling merendahkan. Setelah beberapa waktu, Daren mengeluarkan sampel kecil dari oven dan meletakkannya di rak pendingin.
'Belum boleh dicicipi?' tanyaku.
'Masih panas,' kata Ethan. 'Kita tunggu sebentar.'
Aku menahan diri untuk tidak mendekat. 'Aku akan patuh pada aturan.'
'Bagus.'
Sementara menunggu, aku bertanya tentang tujuan rasa kue itu. Daren menjelaskan bahwa ia ingin perpaduan cokelat pahit dan buah yang tidak terlalu manis. Ethan ingin lapisan luarnya tetap kokoh agar mudah dibawa. Aku tidak menulis catatan tentang kisah pribadi mereka, hanya mencatat kata-kata seperti 'pahit', 'seimbang', dan 'ringan'.
'Kau benar-benar mencatat?' tanya Daren.
'Hanya deskripsi rasa. Aku tidak akan menulis siapa yang salah memotong buah.'
'Itu bagus,' katanya. 'Karena aku yang memotongnya.'
Ethan membawa sampel ke meja kecil, tetapi sebelum meletakkannya, ia menunjuk bangku di seberang. 'Pencicip duduk di sana. Tidak ada yang menyentuh sampel sebelum aku sajikan.'
Aku berdiri dan pindah ke kursi itu. 'Baik, Chef Cross.'
Ia mengangkat satu alis. 'Jangan mulai memanggilku begitu.'
'Aku hanya mencoba menghormati aturan.'
'Kau bisa menghormati tanpa mengejek.'
'Aku akan berusaha.'
Daren membawa piring kecil dan meletakkannya di hadapanku. Ethan menunggu sampai ia duduk, lalu berkata, 'Sekarang kau boleh mencicipi. Setelah itu, beri tahu kami apa yang menurutmu kurang.'
Aku memandang kue itu, lalu keduanya. Aku sudah berjanji akan memberi pendapat jujur. Namun, melihat keseriusan Ethan membuatku sadar bahwa ia sungguh-sungguh mempertaruhkan sesuatu dalam kompetisi itu.
Aku mengambil garpu yang sudah disediakan, memotong ujung kecil, dan mencicipi. Rasa cokelat pahit muncul lebih dulu, disusul buah yang segar. Aku mengunyah perlahan sebelum menjawab.
'Aku punya satu komentar,' kataku.
Ethan mencondongkan tubuh sedikit. 'Apa?'
Aku menelan suapan itu. 'Teksturnya enak. Tapi aku belum yakin rasa buahnya cukup terasa.'
Daren memandang Ethan. Ethan tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil buku resep dan membuka halaman berikutnya.
'Kalau begitu, kita coba lagi dengan takaran berbeda,' katanya. 'Tapi kali ini, kau tetap duduk di sana sampai aku meminta pendapat berikutnya.'
Aku tersenyum. 'Deal.'
Ethan menutup buku resep setelah mencatat komentarku. 'Hari ini cukup. Kalau kau masih bersedia membantu, besok setelah toko tutup kita akan menguji adonan dan beberapa rasa lain.'
'Aku bersedia,' kataku. 'Tapi aturan bertanya sebelum menyentuh tetap berlaku?'
'Terutama kalau oven menyala,' jawabnya.
Daren membereskan piring kecil. 'Besok akan lebih berantakan. Kau sudah diperingatkan.'
Aku tertawa. Aku datang hanya untuk memberi pendapat, tetapi kini mereka mengajakku ikut dalam uji coba berikutnya. Aku belum tahu apakah kue itu akan berhasil. Yang kutahu, besok aku akan kembali ke dapur Cross & Co. dengan izin yang jelas dan tanpa menyentuh apa pun sebelum diminta.
Ethan menaruh buku resep di rak atas. 'Sampai besok, pencicip.'
'Sampai besok, Chef Cross.'
'Jangan panggil begitu.'
Daren tertawa saat aku melepas celemek. Kali ini Ethan tidak ikut tersenyum, tetapi ia juga tidak membantah lagi.