Malam itu, aku menemukan Ethan di dapur sedang memeriksa daftar belanja. Aku menuang air dan melihatnya beberapa kali mencoret lalu menulis ulang angka.
'Kau sedang menghitung pesanan?' tanyaku.
'Persediaan untuk minggu ini. Ada beberapa bahan yang harus dipesan lebih awal.'
Aku berdiri di seberang meja. 'Boleh aku bertanya sesuatu?'
Ia meletakkan pena. 'Tergantung pertanyaannya.'
Aku ragu. 'Tentang istrimu. Maksudku, mantan istrimu. Aku minta maaf kalau ini terlalu pribadi. Tapi saat pertama kali tahu kau duda, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi.'
Raut wajahnya berubah. Ia menutup buku catatan dan menaruhnya di samping.
'Kenapa kau ingin tahu?' tanyanya.
'Karena aku tinggal serumah denganmu. Karena kadang aku melihatmu menghindari beberapa hal, dan aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang masih menyakitimu. Aku tidak meminta detail kalau kau tidak mau cerita.'
Ia menatap meja cukup lama. Aku hampir mengatakan bahwa ia tidak perlu menjawab, tetapi ia lebih dulu bicara.
'Pernikahanku berakhir karena aku lebih memilih toko dan aturan daripada mendengarkan dia. Itu saja.'
Kalimatnya pendek. Tidak ada penjelasan tentang kapan, bagaimana, atau apa yang terjadi setelahnya. Nadanya begitu dingin hingga seolah percakapan itu sudah ditutup bahkan sebelum dimulai.
Aku menelan ludah. 'Aku turut menyesal.'
'Tidak perlu. Itu sudah lewat.'
'Apa kau masih—'
'Aku tidak ingin membicarakannya lagi.'
Aku langsung mengangguk. 'Baik. Maaf sudah bertanya.'
Ethan membuka kembali daftar belanja, tapi tidak melanjutkan menulis. Aku tahu ia masih berada di dapur, namun jarak di antara kami terasa jauh.
'Aku tidak bertanya untuk bahan naskah,' kataku pelan. 'Aku tidak akan menulis tentang hal yang belum kauizinkan.'
'Aku tahu. Tapi itu tetap bukan cerita yang ingin kubagikan.'
'Aku mengerti.'
Ia membawa buku catatannya ke ruang kerja kecil. Aku tetap berdiri di dekat meja, merasa bodoh karena telah membuka pintu yang jelas-jelas ingin ia tutup. Namun, ia telah menjawab satu hal: ia mengutamakan toko dan aturan sampai istrinya pergi. Kalimat itu membuat memo-memo di kulkas terasa berbeda. Bukan berarti aku tahu seluruh kisahnya, tetapi mungkin aturan adalah caranya menghindari kesalahan yang sama.
Aku tidak akan menyimpulkan terlalu jauh. Aku bahkan tidak tahu apakah mantan istrinya masih tinggal di kota ini. Ia tidak menyebut nama atau memberi petunjuk lain, dan aku tidak akan mencari tahu diam-diam. Kalau ia ingin bercerita, ia yang akan memilih waktunya.
**
Keesokan harinya, aku pulang dari kampus dan menemukan Ethan sedang memperbaiki engsel lemari dapur. Ia bekerja dengan tenang, alat-alat tersusun di atas kain kecil agar tidak berantakan.
'Engselnya rusak?' tanyaku.
'Longgar. Kalau tidak diperbaiki, pintunya akan terus berderit.'
Aku meletakkan tas. 'Aku bisa memegang pintunya kalau kau butuh bantuan.'
'Tidak usah. Aku hampir selesai.'
Aku menahan diri untuk tidak mengingatkan bahwa ia bisa meminta bantuan. Ia jelas ingin mengerjakannya sendiri. Sebagai gantinya aku mengisi gelas dan duduk di kursi, menjaga jarak.
'Soal semalam,' katanya tanpa menoleh, 'aku tidak marah karena kau bertanya. Aku hanya tidak ingin membahasnya.'
'Aku paham. Aku tidak akan mengulanginya.'
'Kau boleh bertanya tentang hal lain. Jangan merasa semua pertanyaanmu mengganggu.'
Aku menatapnya. 'Terima kasih sudah menjelaskan. Aku juga akan berusaha bertanya tanpa mendesak jawaban.'
Ia memasang kembali engsel dan mencoba membuka pintu lemari. Bunyi berderitnya hilang.
'Berhasil,' kataku.
'Aku tahu.'
'Tentu saja. Kau tidak mungkin meragukan kemampuanmu sendiri.'
'Aku meragukan banyak hal. Hanya bukan engsel.'
Aku ingin bertanya apa saja yang ia ragukan, tetapi tidak jadi. Ia sudah memberikan batas dengan jelas. Aku mengambil tas dan masuk kamar.
Malamnya, aku mencoba memakai pengakuan singkat Ethan untuk menyelesaikan kebuntuan tokohku. Baru dua kalimat kutulis ketika aku berhenti. Tokoh lelaki di layar tiba-tiba mempunyai pernikahan yang belum pernah kubangun di bab sebelumnya. Aku hanya menempelkannya karena percakapan di dapur masih terasa tajam.
Kuhapus kedua kalimat itu. Sebagai gantinya, kubuka catatan tentang konflik yang sudah dimiliki tokohku: ia menjanjikan bantuan, lalu mengatur cara orang lain menerimanya. Aku menulis adegan ketika bantuan itu ditolak dan tokoh perempuan menyelesaikan sebagian pekerjaannya sendiri. Tanpa kisah mantan istri, pertengkaran mereka tetap berjalan. Bahkan kali ini tokoh perempuanku punya tindakan, bukan hanya pertanyaan.
Aku mengirim pesan kepada Emily bahwa revisi berikutnya akan memerlukan satu adegan penghubung. Ia membalas singkat bahwa ia menunggu versi terbaikku, bukan versi terburu-buru. Aku menutup percakapan itu dan kembali membaca halaman yang baru kutulis.
Dari dapur terdengar pintu lemari dibuka. Aku keluar untuk mengisi air dan mendapati Ethan sedang mengambil cangkir dari lemari yang engselnya ia perbaiki siang tadi. Daun pintunya bergerak tanpa derit, tetapi salah satu sekrup masih tergeletak di dekat kain.
'Ini sisa?' tanyaku sambil menunjuknya.
Ia memeriksa lubang di sisi dalam. 'Cadangan. Yang lama sudah aus.'
'Kukira kau meninggalkan bagian penting.'
'Kalau begitu, jangan berdiri tepat di depannya.'
Aku mundur terlalu cepat sebelum melihat senyumnya. 'Itu tidak lucu.'
'Kau tertawa.'
'Karena aku lega lemari ini tidak akan runtuh menimpaku.'
Ia menyimpan sekrup cadangan dan alat-alatnya ke kotak. Kali ini ketika aku menawarkan membawa kain ke tempat cucian, ia menyerahkannya. Aku memasukkannya ke keranjang dan kembali mengambil gelasku. Percakapan tentang mantan istrinya tidak berlanjut. Kami masih bisa menyelesaikan pekerjaan kecil tanpa menjadikan seluruh malam sebagai pembahasan hal yang belum ingin ia ceritakan.
Di kamar, aku melihat jadwal esok. Tidak ada kelas pagi; aku bisa memakai waktu itu untuk revisi, lalu berangkat ke kampus sesudahnya. Aku menaruh pengingat pengiriman naskah di ponselku sendiri. Ketika Ethan lewat di lorong dan mengucapkan selamat malam, aku membalas tanpa membuka pintu. Ia tidak menunggu pertanyaan tambahan. Aku kembali ke adeganku dan memberi tokoh perempuan satu keputusan yang belum ia miliki tadi sore. Aku membacakan dialog barunya pelan, mencoret satu alasan yang berulang, lalu menyimpan versi itu terpisah dari draf yang telah dikomentari Emily.