Hari berikutnya, aku ikut Daren merapikan daftar bahan di Cross & Co. Ia memeriksa jadwal kompetisi dan memastikan tidak ada bahan yang akan kedaluwarsa sebelum uji coba resep. Ethan berada di ruang belakang, berbicara melalui telepon tentang pesanan pelanggan.
'Kau tidak perlu tinggal lama,' kata Daren. 'Aku hanya ingin memastikan ukuran kotak kemasan sesuai dengan kue yang akan kami bawa.'
'Aku bisa membantu sebentar. Aku tidak ada kelas sore ini.'
Ia memperlihatkan sketsa kotak. Aku memberi saran agar jendela transparannya sedikit lebih lebar, supaya lapisan kue terlihat dari luar.
'Itu ide bagus,' katanya. 'Aku akan tanya Ethan sebelum memesan.'
Ethan keluar dari ruang belakang tepat saat Daren menyebut namanya. Ia memandang sketsa itu.
'Apa yang sedang kalian bicarakan?' tanyanya.
'Ukuran kotak untuk kompetisi,' jawab Daren. 'Shopia menyarankan jendelanya diperlebar.'
Ethan melihat sketsa. 'Pastikan kotaknya tetap kuat. Kue tidak boleh bergeser saat dibawa.'
'Tentu,' kata Daren. 'Aku akan ukur ulang.'
Aku menunjuk satu sisi gambar. 'Kalau penyangga bagian dalam dibuat sedikit lebih tinggi, kuenya tidak bergerak. Jendelanya bisa tetap lebar.'
Ethan memeriksa gambar itu lagi. 'Bisa dicoba. Daren, pesan satu contoh dulu sebelum memesan banyak.'
'Siap.'
Aku tersenyum. 'Jadi pendapatku diterima?'
'Idemu diterima. Itu tidak sama dengan semua idemu akan diterima.'
'Aku tidak meminta pengangkatan sebagai konsultan.'
Daren tertawa. 'Sayang sekali. Aku sudah membayangkan rapat mingguan.'
Kami kembali bekerja. Setelah Daren pergi ke ruang penyimpanan, aku membantu Ethan membereskan daftar persediaan di meja kasir. Ada beberapa kotak yang harus dicatat ulang karena labelnya luntur.
'Kau dan Daren terlihat kompak,' kata Ethan tanpa mengangkat kepala.
Aku menoleh. 'Kami sedang membahas kotak kue.'
'Aku tahu.'
'Kalau kau punya sesuatu yang ingin ditanyakan, tanyakan saja. Jangan awali dengan kalimat seperti itu.'
Ia diam sebentar. 'Kau nyaman bekerja dengannya?'
'Ya. Daren ramah dan jelas soal batas. Dia tahu makan malam kami untuk riset dan tidak memaksakan apa pun.'
Ethan menaruh label. 'Bagus.'
Aku mengamati wajahnya. 'Apa yang membuatmu bertanya?'
'Tidak ada. Aku hanya ingin tahu.'
'Kau yakin tidak cemburu?'
Tangannya berhenti. 'Tidak.'
Jawabannya singkat dan keras. Aku segera menyadari bahwa aku telah mendorong percakapan ke arah yang tidak ia inginkan.
'Maaf. Aku tidak seharusnya mendesakmu.'
'Kau tidak mendesak. Kau bertanya. Aku menjawab.'
'Tapi kau terdengar marah.'
Ia menyusun label-label itu menjadi tumpukan rapi. 'Aku tidak marah padamu.'
Aku tidak tahu apakah harus percaya.
Daren kembali membawa selembar karton bekas kemasan. Ia tidak mau memesan contoh sebelum memastikan gambar kami bisa dilipat menjadi sesuatu yang berdiri. Kami memindahkan gelas dari meja, lalu aku menahan ujung penggaris sementara ia menandai garis lipatan.
'Jendela sebesar ini?' tanyanya.
Aku mengangguk. Dalam gambar, lapisan kue akan terlihat cantik. Pada karton yang benar-benar terlipat, hasilnya berbeda. Sisi kotak melengkung ketika Daren mengangkatnya. Celah yang kuusulkan mengambil terlalu banyak bagian penyangga.
Ethan meletakkan gulungan labelnya. 'Coba dengan beban dulu.'
Ia mengambil wadah bahan yang tertutup dan meletakkannya di atas alas karton. Beratnya bukan ukuran pasti kue kompetisi, tetapi cukup untuk memperlihatkan dasar yang mulai turun. Aku cepat-cepat menahan bagian bawah sebelum wadahnya tergelincir.
'Baik. Kotakku baru saja gagal sebelum meninggalkan meja.'
'Gambarnya belum gagal,' kata Daren. 'Kita menemukan bagian yang tidak bisa dibiarkan seperti ini.'
Aku menarik sketsa ke dekatku dan memperkecil jendelanya. Kali ini kutinggalkan ruang lebih lebar di sudut. Ethan menunjukkan tempat sambungan yang akan menerima tekanan ketika kotak dibawa. Ia tidak menggambar menggantikanku; ujung jarinya menunggu sampai aku selesai menandai garis.
'Kalau aku tetap ingin lapisannya terlihat, bagaimana kalau hanya bagian depan yang terbuka?'
'Dicoba,' jawabnya.
Contoh kedua tidak secantik gambar pertamaku. Bekas lipatannya miring, dan Daren terpaksa menahan satu sambungan dengan selotip. Namun ketika kami mengangkatnya bersama, dasarnya tetap rata. Aku berjalan beberapa langkah dengan kedua tangan menyangga kotak, lalu meletakkannya kembali.
'Aku tidak akan meminta pelanggan membeli kemasan buatanku,' kataku.
'Untungnya kita hanya perlu memberitahu pembuat kemasan apa yang harus diuji,' kata Daren.
Aku menuliskan perubahan di sebelah sketsa, lalu mencoret kalimat jendela selebar mungkin. Ethan membandingkan dua contoh di meja.
'Yang pertama lebih menarik dilihat,' katanya. 'Yang kedua lebih mungkin membuat kue sampai utuh.'
'Aku memilih yang kedua. Tapi aku tetap ingin melihat sampel beningnya sebelum setuju.'
Ia mengangguk. Daren memasukkan sketsa yang telah diperbaiki ke map pesanan dan menyisihkan karton percobaan, agar ukuran pada contoh yang gagal tidak tersalin. Aku merapikan potongan kecil di meja. Ternyata mempertahankan sebuah gagasan lebih melelahkan daripada sekadar mengucapkannya, terutama ketika aku sendiri harus menunjukkan bagian mana yang salah.
Saat Ethan menyerahkan label yang sempat terjatuh, jari kami bersentuhan. Aku mengambilnya tanpa membuat gurauan tentang kecemburuan lagi. Aku masih ingin mengetahui maksud pertanyaannya tadi, tetapi contoh kotak yang penyok memberi kami sesuatu yang lebih mudah dibicarakan. Kami memilih menyelesaikan itu dahulu.
Setelah meja percobaan bersih, Daren mengambil kemasan yang sudah ada. Aku membantu memasukkannya ke lemari. Saat toko hampir tutup, Daren menawarkan untuk mengantarku pulang, tetapi aku menolak karena Ethan juga akan pulang.
'Aku pulang bersama Ethan,' kataku.
'Baik. Sampai besok,' jawab Daren.
'Sampai besok. Terima kasih.'
Ethan mengambil kunci mobil. 'Kita berangkat sekarang?'
Aku mengambil tas. 'Sebentar. Aku mau pamit pada Daren.'
'Silakan. Aku tunggu di luar.'
Ketika keluar, Ethan berdiri dekat pintu dengan tangan di saku. Aku bertanya-tanya kenapa ia bertanya soal Daren, lalu langsung menutup diri saat aku menyebut cemburu. Mungkin ada sesuatu yang menyakitkan di balik sikapnya. Namun, aku tidak akan memaksanya membuka cerita hanya karena rasa ingin tahuku muncul.
**
Di mobil, kami membicarakan lalu lintas. Ethan tidak menyinggung Daren lagi. Aku pun tidak bertanya. Saat tiba di apartemen, ia membuka pintu dan membiarkanku masuk lebih dulu. Sikapnya kembali biasa, tetapi kalimat dinginnya tadi terus terngiang di benakku.