Pagi harinya, aroma kopi memenuhi dapur. Ethan sudah bersiap pergi ke toko. Ia sedang membaca catatan jadwal pengiriman ketika aku masuk untuk mengambil air.
'Terima kasih untuk mi semalam,' kataku.
'Kau sudah mengatakannya tadi malam.'
'Aku mengatakannya lagi karena rasanya enak.'
'Kalau begitu, lain kali jangan pulang setelah makan malam. Kau bisa makan di rumah.'
Aku menatapnya. 'Kau terdengar seperti sedang mengundangku.'
'Aku terdengar seperti orang yang tidak suka makanan sisa.'
'Baiklah. Aku akan mengirim pesan kalau aku membawa makanan pulang.'
Ia meletakkan kertas. 'Kau tidak perlu memberi laporan soal makanan.'
'Aku cuma berusaha memahami aturanmu.'
'Tidak semua hal harus menjadi aturan.'
Kalimat itu membuatku tersenyum. 'Kau yang menempel memo tentang jam pulang.'
'Itu soal pintu dan jadwal kerja, bukan makanan.'
'Bedanya tipis.'
Ethan menghabiskan kopinya dan meraih kunci mobil. 'Aku berangkat. Kau ada kelas pagi?'
'Iya.'
'Jangan lupa membawa payung. Cuaca terlihat mendung.'
Aku menoleh ke jendela. Langit kelabu memang menggantung di atas gedung. 'Aku akan bawa. Terima kasih sudah mengingatkan.'
Ia mengangguk, lalu pergi. Aku memandang pintu yang tertutup. Sejak tinggal bersama, Ethan sering memberi perintah kecil, tetapi kali ini ia mengingatkanku tanpa menempelkan memo. Mungkin itu perkembangan, walau aku tidak tahu apakah perlu mencatatnya.
**
Di kampus, aku membuka naskah di sela kelas. Aku menulis percakapan dua tokoh yang baru saja berbagi makanan setelah salah satu pulang larut. Awalnya dialognya terdengar seperti punyaku dengan Ethan, jadi aku mengubah detailnya. Tokoh lelaki itu tidak tinggal serumah, makanannya bukan mi, dan tidak ada aturan jam pulang. Namun, rasa kikuk ketika seseorang menunjukkan perhatian sambil menyangkalnya tetap terasa berguna.
Ningning duduk di sampingku saat istirahat.
'Bagaimana makan malam risetmu?' tanyanya.
'Menyenangkan. Tapi Daren tetap terasa seperti teman, bukan calon pasangan.'
'Itu tidak masalah. Kau menulis, bukan memilih pacar.'
'Benar. Lalu tadi malam Ethan menungguku pulang dan membuat mi.'
Ningning mengangkat alis. 'Menunggumu?'
'Dia bilang menunggu suara pintu supaya tahu pintunya terkunci.'
'Dan mi?'
'Katanya kebanyakan dibuat.'
Ningning tersenyum lebar. 'Kau sendiri percaya alasan itu?'
'Aku tidak tahu. Aku juga tidak mau menyimpulkan apa-apa.'
'Bagus. Jangan terburu-buru membuat kesimpulan. Tapi kau boleh menikmati perhatian kecil tanpa langsung memberinya nama.'
Aku menatap layar. 'Aku ingin menulis adegan itu, tapi kalau terlalu dekat dengan kejadian sebenarnya, rasanya seperti mencuri.'
'Ubah sampai menjadi milik tokohmu. Perasaan yang kauamati bukan milik satu orang saja. Tapi jangan pakai rahasia Ethan.'
'Aku tidak tahu rahasianya.'
'Justru itu. Jangan memaksanya menceritakan sesuatu hanya demi naskahmu.'
Nasihat Ningning masuk akal. Aku menulis ulang dialognya dengan fokus pada perasaan tokohku sendiri: nyaman karena diberi makanan, malu karena salah paham, lalu jengkel saat lawan bicaranya menyangkal perhatian. Aku tidak memberi tokoh lelaki itu alasan yang belum kuketahui.
Sore harinya, aku kembali ke rumah lebih dulu. Ada satu mangkuk bersih di rak dan secarik memo lama di kulkas tentang mencuci peralatan sebelum tidur. Aku mengambil magnet kecil yang hampir jatuh dan memasangnya kembali. Tulisan Ethan tidak lagi membuatku kesal seperti sebelumnya.
Ketika Ethan pulang, ia melihatku sedang menutup laptop.
'Kau menulis tentang mi?' tanyanya.
Aku menatapnya. 'Dari mana kau tahu?'
'Kau menulis sambil menatap mangkuk kosong di meja.'
'Aku sedang memikirkan adegan. Bukan menulis biografimu.'
'Aku tidak menuduhmu.'
'Kau selalu terdengar seperti menuduh.'
Ia meletakkan tasnya. 'Aku sedang belajar memperbaikinya.'
Jawaban itu membuatku berhenti. 'Kalau begitu, aku juga akan belajar tidak langsung membalas dengan sindiran.'
'Kita lihat saja nanti.'
'Itu kalimatmu yang paling sering keluar.'
'Karena biasanya memang perlu dilihat dulu.'
Aku tertawa kecil. Aku mengeluarkan makanan yang kubeli dalam perjalanan pulang, sementara Ethan menghangatkan lauknya. Aku menawarkan sebagian isi wadahku. Ia mengambil piring kecil dan menyisihkan lauknya untuk kubagi juga. Kami menyiapkan makan malam tanpa banyak bicara. Setelah makan, sebelum melanjutkan pekerjaan, aku menyimpan adegan baru dalam folder naskah dan memberi judul sementara: 'Mi yang Terlalu Banyak.' Aku tidak tahu apakah akan kupakai, tetapi setidaknya malam itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus segera kupecahkan.
Aku melanjutkan menulis setelah makan malam, kali ini tidak berusaha menyalin kejadian secara langsung. Tokohku tidak tinggal bersama lelaki itu. Ia hanya bertemu dengannya di sebuah kedai, lalu menerima bekal yang sengaja dibuat berlebih. Aku mempertahankan rasa canggungnya, tetapi mengganti tempat, makanan, pekerjaan, dan alasan mereka bertemu.
Aku menulis dua versi dialog. Pada versi pertama, tokoh lelaki menyangkal bahwa ia peduli dan si perempuan langsung mengejeknya. Versi kedua lebih pelan: ia menolak disebut baik, sementara perempuan itu menerima bantuannya tanpa memaksa penjelasan. Aku memilih versi kedua karena membuat mereka sama-sama menjaga batas.
Ethan lewat di belakang kursiku untuk mengambil air. Ia melirik layar, tetapi tidak membaca dari dekat.
'Kau masih menulis?' tanyanya.
'Sedikit lagi. Aku ingin memastikan adegannya tidak berubah menjadi catatan tentang rumah ini.'
'Kalau begitu, jangan menulis terlalu dekat dengan rumah ini.'
'Itu rencanaku.'
Ia menuang air dan menunggu sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak bertanya. Setelah ia kembali ke kamarnya, aku membaca adegan itu sekali lagi dan mengganti satu kalimat yang terdengar seperti ucapan Ethan.
Aku menyimpan draf dengan judul baru. Belum kukirim kepada Emily; aku ingin membacanya lagi setelah tidur. Di meja, wadah makanan yang kubeli tadi sudah kosong. Ethan telah mengambil bagiannya tanpa komentar, dan aku tidak bertanya apakah ia menyukainya. Kami berdua bisa menikmati makan malam tanpa harus mengubahnya menjadi percakapan besar.
Sebelum menutup laptop, aku menambahkan catatan: tokoh perempuan boleh merasa nyaman, tetapi rasa nyaman tidak menjawab semua pertanyaan tentang hubungan mereka. Aku mematikan layar, mencuci cangkir, dan menaruhnya di rak. Tidak ada memo baru yang muncul malam itu. Aku kembali ke kamar dengan perasaan lega karena satu hari bisa berakhir tanpa salah paham baru. Sebelum tidur, kubaca ulang beberapa paragraf yang kutulis dan menghapus satu kalimat yang terdengar terlalu manis. Aku ingin ceritaku terasa jujur, bukan sekadar romantis.