Pukul delapan lewat ketika Daren membelokkan mobil ke jalan menuju apartemen. Kotak-kotak bahan kompetisi tersusun di bagasi, sebagian berisi tepung khusus, cokelat, dan buah yang harus tetap dingin. Aku sudah menawarkan diri membantu membawanya, tetapi Daren bilang lebih baik ia mengantar semua bahan ke toko terlebih dahulu.
'Kau yakin tidak mau makan dulu?' tanyanya.
'Kita sudah makan setelah mengambil bahan. Aku hanya ingin mandi dan tidur. Besok ada kuliah pagi.'
'Kalau begitu, aku turunkan kau di depan. Aku akan kembali ke toko untuk menyimpan bahan-bahan ini.'
Aku menggeleng. 'Kau sudah mengantarku jauh-jauh. Aku bisa bawa tas sendiri.'
'Aku tidak keberatan. Lagi pula, kau yang membantu memilih rasa. Setidaknya aku harus memastikan kau sampai dengan selamat.'
Aku menerima tawarannya. Sebelum turun, aku mengucapkan terima kasih dan mengingatkan agar kotak yang berisi buah tidak tertinggal di mobil. Daren tertawa, lalu berjanji akan langsung kembali ke toko. Dalam hati, aku masih merasa bersalah karena membuatnya bolak-balik malam-malam. Namun, ia menganggapnya bukan masalah besar dan menyuruhku beristirahat.
**
Lampu ruang tengah masih menyala saat aku membuka pintu. Ethan duduk di sofa dengan sebuah buku terbuka di tangan. Ia tidak tampak sedang membaca; matanya justru tertuju pada jam dinding.
'Kau belum tidur?' tanyaku.
'Aku menunggu suara pintu.'
'Kenapa?'
'Karena kau bilang mungkin pulang agak malam. Aku perlu tahu pintunya terkunci setelah kau masuk.'
Aku menutup pintu perlahan. 'Aku mengirim pesan bahwa kami harus mengambil beberapa bahan tambahan. Kau tidak membacanya?'
Ia menunjuk ponsel di meja. 'Aku membacanya.'
'Jadi kau memang menunggu.'
'Aku baru saja bilang begitu. Jangan membuatnya terdengar seperti sesuatu yang istimewa.'
Aku melepas mantel dan menggantungnya. 'Aku tidak bilang istimewa. Aku hanya heran kau masih bangun.'
Ethan menutup bukunya. 'Kau makan malam dengan Daren?'
'Kami berhenti di kedai dekat toko bahan. Aku sudah menjelaskan padamu, ini bukan kencan.'
'Aku tidak bertanya apakah itu kencan.'
'Tapi nada suaramu terdengar seperti sedang memeriksa.'
Ia berdiri dan berjalan ke dapur. 'Aku membuat mi. Kau mau?'
Pertanyaan itu mengubah arah percakapan begitu cepat sampai aku terlambat menjawab. 'Kau membuat makanan untukku?'
'Aku membuat terlalu banyak. Kalau kau tidak mau, sisanya masuk kulkas.'
'Tentu. Aku mau. Terima kasih.'
Di meja dapur sudah ada dua mangkuk mi hangat. Uapnya masih mengepul. Ethan meletakkan sumpit di samping mangkukku, lalu kembali duduk tanpa menunggu. Aku mencicipi kuahnya. Rasanya sederhana, tetapi pas untuk malam yang dingin.
'Enak,' kataku.
'Jangan terlalu memuji. Nanti kau mengira aku sengaja membuatnya untuk menyambutmu.'
Aku hampir tersedak. 'Kau yang menunggu di sofa dan menyiapkan dua mangkuk. Sulit untuk tidak mengira begitu.'
'Aku lapar.'
'Kau bisa membuat satu mangkuk.'
'Aku lapar dua kali lipat.'
Aku memandangnya. 'Kalau begitu, selamat atas nafsu makanmu.'
Ia mengangkat bahu, tetapi ada senyum kecil yang hampir muncul di sudut bibirnya. Aku mencoba menahan senyum balasan. Malam itu terasa ganjil, seperti sebuah adegan yang belum memutuskan apakah sedang bertengkar atau berbagi makan.
'Apa saja yang kalian beli?' tanyanya.
'Tepung almond, cokelat pahit, dan beberapa jenis buah. Daren ingin mencoba kombinasi rasa baru untuk kompetisi. Aku hanya membantu memilih warna dan bentuk kemasannya.'
'Kau membantu menguji resep juga?'
'Belum. Dia bilang kali ini baru belanja bahan.'
'Bagus.'
Aku meletakkan sumpit. 'Kenapa bagus?'
'Karena kau tidak bekerja di toko. Aku tidak mau kau merasa harus ikut campur dalam urusan kompetisi kami.'
'Daren mengajakku karena aku punya pendapat tentang tampilan. Aku bisa menolak kapan saja.'
'Aku tahu.'
Jawabannya terdengar pendek, tetapi tidak dingin. Aku menghabiskan mi, lalu membawa mangkuk ke wastafel. Ethan mencoba mengambilnya lebih dulu.
'Biar aku cuci,' kataku. 'Kau yang memasak.'
'Aku bisa mencuci piringku sendiri.'
'Dan aku bisa mencuci punyaku. Kita impas.'
Ia melepaskan mangkuk itu. Aku membilasnya, sementara Ethan mengeringkan mangkuk miliknya. Kami berdiri berdampingan dengan jarak yang cukup, mendengarkan air mengalir.
'Daren mengantarmu sampai pintu?' tanyanya.
'Ya. Dia perlu kembali ke toko untuk menyimpan bahan.'
'Kau sudah memberi tahu dia aturan jam pulang?'
'Aku bilang aku akan mengabarimu kalau terlambat. Itu bukan aturan untuk Daren.'
Ethan mengeringkan tangannya. 'Benar. Maaf. Aku tidak bermaksud mengatur siapa yang mengantarmu.'
Permintaan maaf itu membuatku terdiam. Aku mengangguk kecil. 'Tidak apa-apa. Aku akan tidur.'
'Selamat malam, Shopia.'
'Selamat malam, Ethan.'
Aku masuk kamar sambil membawa rasa hangat dari mi dan percakapan yang belum sepenuhnya selesai. Ia masih bersikeras bahwa ia hanya ingin memastikan pintu terkunci. Namun, saat aku menutup pintu, aku mendengar Ethan kembali membuka bukunya. Barangkali ia memang belum mengantuk. Atau mungkin ia baru bisa tenang setelah tahu aku sudah pulang.
Aku meletakkan tas di kursi dan mengecek ponsel. Pesanku kepada Ethan memang sudah terkirim sebelum Daren membawaku pulang. Aku tidak menyebut jam pasti karena kami belum tahu berapa lama mencari kotak yang cocok. Seharusnya itu cukup untuk menjelaskan keterlambatan, tetapi melihat Ethan menunggu di sofa tetap membuatku kikuk.
Aku teringat uap mi yang mengepul dan mangkuk kedua yang sudah ada di meja. Mungkin ia memasak untuk dirinya sendiri, lalu memutuskan menyisakan sebagian. Mungkin ia memang membuat dua porsi sejak awal. Aku tidak punya bukti untuk memilih salah satu jawaban, jadi kuputuskan tidak menjadikannya kesimpulan.
Di buku catatan, aku menulis satu kalimat tentang pulang larut dan menemukan lampu masih menyala. Aku mengubah tokohnya, menghapus nama Ethan dari pikiranku, lalu menyimpan catatan itu tanpa mengembangkannya. Malam ini bukan bahan yang harus kupakai. Aku bisa mengingat rasa hangatnya tanpa mengubahnya menjadi janji.
Dari luar kamar terdengar suara halaman buku dibalik. Aku hampir keluar untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi, tetapi sudah melakukannya. Aku membiarkan Ethan membaca dan menarik selimut sampai ke bahu. Besok kami akan kembali bekerja seperti biasa, meski sekarang aku tahu ia setidaknya tidak membiarkanku pulang ke rumah yang gelap.