Daren sedang mengatur bahan di dapur, sementara Ethan berdiri di dekat meja kasir sambil memeriksa daftar persediaan. Aku menarik kursi di meja sudut dan membuka laptop untuk membaca ulang revisiku. Hari keempat sejak aku mengajak Daren makan malam hampir berakhir.
'Kertas di kulkas itu masih berlaku untuk kita berdua?' tanyaku.
'Tentu. Aturan yang sama untuk kita berdua,' jawabnya terlalu cepat.
Aku teringat memo yang sudah ditempel Ethan sebelum makan malam itu. Tulisan 'JAM PULANG' masih jelas, disusul pengingat agar penghuni apartemen memberi kabar jika pulang lebih lambat dari perkiraan, terutama saat ada jadwal kerja pagi.
'Kau menempel aturan itu karena aku makan malam dengan Daren?'
'Aturan itu berlaku untuk semua penghuni.'
'Cuma ada dua penghuni.'
'Berarti berlaku untuk kita berdua.'
Daren menyembulkan kepala dari dapur. 'Apa aku perlu ikut menandatangani? Aku tinggal dekat sini, tapi tidak serumah.'
'Tidak,' jawab Ethan.
'Sayang sekali. Aku suka memo.'
Aku mencoba mengingat susunan kalimat pada memo di kulkas apartemen itu. 'Aku sudah berjanji akan memberi kabar kalau terlambat. Kenapa perlu ditempel?'
'Karena aturan yang tertulis lebih mudah diingat.'
'Kau bisa saja mengatakannya tanpa membuat pengumuman di kulkas.'
'Dan kau bisa pulang sesuai waktu yang kauperkirakan.'
Aku merasakan kejengkelan naik, tetapi berusaha menahannya. 'Aku tidak melanggar aturan apa pun. Makan malam dengan Daren selesai sebelum pukul sepuluh. Aku mengirim pesan ketika kereta terlambat.'
'Aku tahu.'
'Jadi memo di rumah itu bukan teguran?'
Ethan merapikan daftar persediaan di tangannya. 'Bukan. Itu pengingat.'
Aku ingin bertanya kenapa ia tampak begitu serius, tetapi tidak ingin membuat pertengkaran di depan Daren. Aku menghela napas dan menaruh lembar catatan Emily di meja.
'Aku ada revisi baru,' kataku, beralih topik. 'Belum kukirim. Aku ingin membacanya sekali lagi malam ini.'
'Bagaimana hasilnya?' tanya Daren.
'Lebih baik, kurasa. Aku membuat tokohnya punya alasan untuk diam, bukan sekadar kehabisan topik.'
'Itu kemajuan,' kata Daren. 'Kau akan mengirimnya ke Emily?'
'Besok pagi. Kalau dia masih bilang datar, setidaknya kali ini aku tahu sudah mencoba sesuatu yang berbeda.'
Ethan menatap lembar itu. 'Jangan terlalu lama menunggu sampai merasa sempurna. Kalau terus diperbaiki tanpa dikirim, kau tidak akan tahu apakah arahnya benar.'
Aku menatapnya curiga. 'Kau baru saja menyuruhku mengirim draf yang belum sempurna?'
'Aku menyuruhmu berhenti mencari alasan untuk menundanya.'
Daren tertawa kecil. 'Kadang-kadang dia memang bisa memberi saran yang masuk akal. Jangan bilang aku mengatakan itu.'
'Aku dengar,' kata Ethan.
'Memang sengaja,' jawab Daren.
Aku mengambil lembar catatanku dan memasukkannya kembali ke tas. 'Baik. Besok akan kukirim.'
Kami kembali bekerja. Aku membantu Daren mengatur kotak-kotak kecil untuk pesanan sore, sementara Ethan melayani pelanggan. Beberapa kali aku menangkap Ethan menoleh ke arahku, tetapi setiap kali mata kami hampir bertemu, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak tahu apakah ia sekadar memastikan aku tidak menjatuhkan barang atau mencari alasan untuk melihat.
**
Saat toko tutup, aku berjalan pulang bersama Ethan. Daren harus tinggal untuk menyelesaikan satu pesanan khusus. Langit sudah gelap dan udara terasa dingin. Aku menyelipkan tangan ke saku mantel.
'Kau benar-benar tidak keberatan aku pergi makan dengan Daren?' tanyaku.
Ethan tetap menatap jalan. 'Kenapa aku harus keberatan?'
'Entahlah. Kau membuat memo jam pulang tepat setelah itu.'
'Aku menempelkannya karena jadwal kerja kita berubah-ubah. Bukan karena Daren.'
'Aku tidak bilang kau cemburu.'
'Bagus. Karena aku tidak cemburu.'
Jawabannya datang terlalu cepat. Aku menoleh, tetapi ia tetap memasang wajah datar.
'Aku cuma ingin memastikan kau tidak menganggap makan malam itu sebagai kesalahan,' kataku. 'Daren orang baik. Aku juga sudah jelas soal riset.'
'Kalau kau sudah jelas, tidak ada masalah.'
'Dan menurutmu aku boleh bertemu dengannya lagi?'
Ethan berhenti sebentar di depan penyeberangan. 'Kau tidak perlu meminta izin dariku untuk bertemu siapa pun.'
'Aku tahu. Aku bertanya karena kita tinggal serumah dan aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang perlu kubicarakan.'
Lampu penyeberangan berubah. Ia melangkah lebih dulu. 'Tidak ada yang perlu dibicarakan.'
Aku berjalan mengikutinya. Percakapan itu seharusnya membuatku lega, tetapi justru meninggalkan lebih banyak pertanyaan. Di apartemen, memo baru itu masih terasa seperti sesuatu yang ditujukan khusus kepadaku, meski Ethan berkali-kali menyebutnya aturan untuk kami berdua.
Aku membuka laptop malam itu, memperbaiki adegan terakhir, lalu mengirimkannya kepada Emily. Setelah menekan tombol kirim, aku menutup layar. Untuk sesaat, aku merasa lebih ringan.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Emily muncul: 'Besok aku kirim tanggapan lengkap. Kali ini, pastikan kau siap mempertahankan pilihan ceritamu.'
Aku membaca kalimat itu dua kali. Aku tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan. Dari dapur terdengar Ethan menempelkan sesuatu lagi pada kulkas. Aku tidak bangkit untuk memeriksa. Kali ini, aku membiarkan memo itu menunggu sampai pagi.
Aku duduk di tepi ranjang dan memikirkan kalimat Emily. 'Siap mempertahankan pilihan ceritamu' bisa berarti ia akan meminta alasan di balik setiap perubahan. Bisa juga ia mengingatkanku agar tidak meniru saran siapa pun tanpa memahami tujuannya. Aku memutuskan akan membaca ulang versi yang sudah kukirim pagi nanti agar siap membahasnya dengan Emily.
Dari dapur terdengar kertas bergeser. Aku membayangkan memo baru itu berisi aturan lain, mungkin tentang lampu atau jendela. Biasanya aku akan keluar untuk membaca dan mengeluh. Malam itu aku menahan diri. Aku tidak ingin setiap gerakan Ethan menjadi bahan dugaan dalam kepalaku.
Ponselku bergetar. Pesan Daren masuk: 'Besok aku harus mengambil beberapa bahan untuk persiapan kompetisi. Kalau kau selesai kuliah, mau ikut? Kita bisa makan setelahnya. Aku akan mengantarmu pulang, mungkin agak malam.'
Aku menatap pesannya beberapa detik. Besok aku punya waktu kosong setelah kelas. Aku membalas bahwa aku bersedia ikut selama ia tidak menganggapnya sebagai janji kencan. Daren menjawab singkat bahwa ia paham.
Dari luar kamar, Ethan berkata, 'Jangan lupa kunci pintu kalau kau tidur.'
'Iya,' sahutku.
Aku mematikan lampu. Besok aku akan pergi dengan Daren untuk mengambil bahan kompetisi, lalu pulang bersamanya. Itu kegiatan biasa, setidaknya menurutku. Namun, setelah langkah Ethan menjauh dari lorong, aku bertanya-tanya apakah ia akan tetap menganggapnya biasa.