Aku membawa catatan Emily ke kampus dan membacanya lagi di sela kuliah. Setiap kali menemukan kata 'datar', aku ingin menutup layar. Namun, jika aku hanya menghindari komentar itu, naskahku tidak akan berubah. Aku membuat dua kolom di buku: apa yang diinginkan tokohku dan apa yang ia takutkan.
Ningning menatap halaman itu saat kami duduk di kantin.
'Kau sedang mengerjakan tugas atau merencanakan penculikan?' tanyanya.
'Aku sedang mencoba membuat tokohku berhenti bicara seperti robot.'
Jayden mengambil buku tersebut sebelum aku sempat menutupnya. 'Dia ingin bantuan, tapi takut terlihat lemah. Dia ingin disukai, tapi takut orang itu cuma kasihan. Wah, ini terdengar seperti seseorang yang kukenal.'
Aku merebut kembali bukuku. 'Ini tokoh fiksi.'
'Tentu saja,' kata Jayden. 'Semua orang yang menulis tentang perasaan pasti sedang membahas tokoh fiksi.'
Ningning menyikutnya. 'Jangan ganggu dia. Emily meminta revisi, berarti masih ada kesempatan.'
'Aku tahu. Aku cuma kesal karena setelah makan malam dengan Daren, aku kira adegannya akan langsung hidup.'
'Kau dapat bahan, bukan jawaban jadi,' kata Ningning. 'Pengalaman perlu diolah.'
Aku memandang catatan itu. 'Daren baik sekali. Dia tidak keberatan aku menjelaskan tujuan makan malam. Tapi aku masih merasa bersalah menjadikannya semacam bahan pengamatan.'
'Kau sudah jujur dan dia setuju,' kata Jayden. 'Yang penting jangan mengubah percakapan pribadinya jadi sesuatu yang bisa dikenali.'
'Aku tidak melakukannya. Adegan itu sepenuhnya fiksi.'
Ningning tersenyum. 'Kalau begitu, lanjutkan. Tulis tokohmu sedang mencari keberanian, bukan sekadar mencari menu.'
**
Aku mengangguk. Saat kembali ke rumah sore itu, aku membawa satu halaman baru. Ethan sedang menempel secarik memo di kulkas. Tulisan tangannya rapi: 'Peralatan makan yang dipakai harus dicuci sebelum tidur.' Aku menatapnya, lalu menatapnya.
'Memo baru lagi?' tanyaku.
'Piring kemarin tertinggal semalaman.'
'Piringku?'
'Bukan. Piringku. Aku menulisnya untuk kita berdua.'
Aku tidak menyangka ia akan mengaku begitu saja. 'Setidaknya kau adil.'
'Aku selalu adil.'
'Kau punya memo yang melarangku menyentuh rak paling atas.'
'Karena kau pernah menjatuhkan stoples.'
'Stoples itu sudah kosong.'
'Tetap saja pecah.'
Aku menahan senyum. 'Aku sedang menulis tentang dua orang yang saling menyebalkan. Sepertinya aku tidak perlu riset jauh-jauh.'
Ethan memandang halaman di tanganku. 'Kau menulis tentang kita?'
'Tidak. Aku bilang dua orang yang saling menyebalkan. Itu deskripsi umum.'
'Kedengarannya cukup spesifik.'
'Kalau kau merasa tersindir, mungkin ada sebabnya.'
Ia menggeleng dan mengambil gelas. Aku masuk ke ruang tamu, menaruh laptop di meja, dan membuka naskah. Kali ini aku menulis tokoh perempuan yang hampir meminta tolong kepada lawan bicaranya, lalu mengalihkan pembicaraan karena takut ditolak. Tokoh laki-lakinya melihat perubahan itu, tetapi tidak memaksanya menjelaskan.
Aku membaca ulang paragraf tersebut dengan suara pelan. Rasanya lebih jujur, tetapi belum selesai. Aku menambahkan detail tangan yang meremas tisu dan tatapan yang menghindari mata. Detail kecil itu terasa seperti cara untuk menunjukkan ketakutan tanpa menjelaskannya panjang lebar.
Ethan melintas membawa secangkir teh. Ia berhenti sejenak. 'Kau masih menulis?'
'Iya. Aku sudah menemukan arah, tapi belum tahu apakah berhasil.'
'Kau mau pendapat?'
Aku terkejut. 'Kau mau membaca?'
'Satu paragraf saja. Aku tidak berjanji akan menyukai ceritanya.'
Aku memilih bagian singkat dan membacakannya. Tokohku meminta bantuan memperbaiki keran, lalu berpura-pura bahwa ia hanya kebetulan lewat. Tokoh laki-laki itu memahami alasannya, tetapi menunggu sampai ia sendiri meminta.
Ethan menunjuk kertas yang kubacakan. 'Yang ini lebih baik.'
'Kenapa?'
'Karena mereka melakukan sesuatu sambil menghindari percakapan yang sebenarnya. Orang sering begitu.'
Aku mencatat kalimat itu. 'Kau memang punya banyak pendapat pelanggan.'
'Aku pemilik toko. Aku lebih sering mendengarkan orang mengeluh daripada yang kaukira.'
'Itu masih bukan riset untuk novel romantis.'
'Aku tidak bilang begitu.'
Ia kembali ke dapur. Aku menatap halaman tadi. Komentar singkatnya tidak menyelesaikan seluruh masalah, tetapi membantuku melihat kenapa adegan itu mulai terasa hidup. Di luar jendela, cahaya sore mulai meredup. Aku menulis beberapa halaman, mengubah dialog sopan menjadi percakapan yang memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan.
Aku berhenti beberapa kali untuk membaca ulang bagian yang baru kutulis. Pada percobaan pertama, tokoh perempuan langsung mengaku takut ditolak. Itu terlalu mudah. Aku mengubahnya agar ia lebih dulu berpura-pura tidak peduli, lalu kecewa ketika lawan bicaranya menerima sikap itu begitu saja. Aku juga memastikan tiap perubahan sikap punya pemicu yang terlihat, bukan muncul tiba-tiba.
Aku mulai memahami maksud Emily. Adegan romantis bukan sekadar dua orang yang saling menyukai. Ada jarak, ada salah tafsir, dan ada pilihan untuk memperbaiki percakapan. Detail kecil yang kulihat bersama Daren memberi warna, tetapi konflik dan perubahan tetap harus datang dari tokoh-tokohku sendiri.
Aku membaca ulang bagian itu dengan suara pelan. Pada akhir adegan, tokoh perempuanku akhirnya meminta bantuan, tetapi masih berusaha menutupi rasa takutnya dengan lelucon. Tokoh laki-laki itu tidak menjawab dengan pidato panjang; ia hanya bertanya apakah ia ingin ditemani atau ingin mengerjakannya sendiri. Pilihan kecil itu membuatnya terasa lebih menghormati batas.
Aku mencatat bahwa tokoh laki-laki juga perlu membuat kesalahan. Jika ia selalu memahami semua hal tanpa bertanya, hubungan mereka akan terasa seperti fantasi yang terlalu mudah. Aku menambahkan satu baris ketika ia salah menafsirkan nada suara si perempuan, lalu memperbaikinya setelah diberi tahu. Revisi itu membuat percakapan punya gerak.
Ponselku menunjukkan pukul empat lewat sedikit. Aku belum puas dengan setiap kalimat, tetapi sudah tahu bagian mana yang perlu diperiksa lagi. Aku menyimpan dokumen dengan nama baru agar draf sebelumnya tidak tertimpa, kemudian memasukkan laptop dan catatan Emily ke dalam tas.
Sebelum keluar, aku menatap memo di kulkas. Aturan itu masih terasa menyebalkan, tetapi setidaknya Ethan tidak menuntutku membatalkan rencana atau menjelaskan isi makan malam. Aku tidak ingin menyimpulkan bahwa ia peduli, apalagi bahwa ia cemburu. Mungkin aku hanya terlalu sering membaca makna tersembunyi ke dalam hal-hal biasa.
**
Aku memeriksa pesan Daren. Ia sedang bertugas di Cross & Co. sampai toko tutup. Aku memutuskan kembali ke sana untuk membeli kopi dan membaca ulang adegan di tempat yang tenang. Di perjalanan, aku berjanji pada diri sendiri untuk menilai tulisanku dari kebutuhan tokoh, bukan dari apakah percakapan itu mirip dengan hidupku.
Saat sampai di depan toko, lampu etalase masih menyala. Aku bisa melihat Daren di dapur dan Ethan di dekat kasir. Aku mendorong pintu, berniat menyelesaikan revisi sebelum pulang.