Pagi berikutnya aku membuka laptop sebelum berangkat kuliah. Aku menulis ulang adegan makan malam tokohku, menggunakan beberapa hal yang kupelajari: jeda sebelum menjawab, kebiasaan memutar gelas, dan perhatian kecil yang tidak diumumkan. Aku tidak memakai nama atau kisah pribadi Daren. Tokoh-tokohku tetap fiksi.
Aku mengetik selama satu jam, menghapus dua paragraf, lalu menyusun ulang dialog. Untuk pertama kalinya sejak Emily mengirim catatan, adegan itu terasa seperti sesuatu yang bisa kubayangkan. Aku mengirimkan potongan baru kepadanya sebelum pergi.
'Sudah kukirim,' kataku kepada Ethan ketika kami berpapasan di dapur.
Ia sedang menyiapkan kopi. 'Apa?'
'Revisi adegan untuk Emily. Aku mencoba memperbaiki bagian yang terasa datar.'
'Semoga dia menyukainya.'
Nada suaranya biasa saja. Aku tidak tahu mengapa aku berharap ia bertanya lebih banyak. Mungkin karena ia sudah memperingatkanku soal menulis tentang orang. Aku ingin ia tahu bahwa aku memikirkan perkataannya.
'Aku tidak menulis tentangmu atau Daren secara langsung,' jelasku.
Ethan meletakkan cangkir di meja. 'Aku tidak bilang kau melakukannya.'
'Tapi kau terdengar seolah khawatir.'
'Aku hanya tidak ingin kehidupan pribadi orang berubah jadi bahan cerita tanpa persetujuan. Itu saja.'
'Baik. Aku juga tidak ingin mengambil pengalaman orang begitu saja.'
Ia membawa kopi ke ruang kerja kecil yang dipakainya untuk mengurus administrasi toko. Aku berangkat kuliah dengan pikiranku kembali pada novel. Aku berharap catatan Emily kali ini akan berbeda.
**
Menjelang sore, aku kembali ke apartemen. Email dari Emily sudah masuk. Aku meletakkan tas dan membuka pesan itu berdiri di dekat meja. Ada beberapa komentar yang memuji detail latar dan alur percakapan. Lalu aku membaca kalimat terakhir: hubungan kedua tokoh masih terasa datar, dan adegan makan malam belum membuat pembaca percaya bahwa mereka tertarik satu sama lain.
Aku membaca komentar itu lagi. Kata 'datar' seperti menempel di layar.
'Kau sudah dapat jawaban?' tanya Ethan dari ambang pintu.
Aku segera mengecilkan jendela email. 'Sudah.'
'Bagaimana?'
Aku bisa saja menjawab jujur, tapi mendadak merasa malu. 'Dia bilang beberapa bagian lebih baik.'
Ethan menatapku. 'Itu bukan jawaban lengkap.'
'Sisanya masih perlu diperbaiki. Tidak masalah. Draf memang begitu.'
'Kalau begitu, perbaiki lagi.'
Aku tertawa pendek tanpa humor. 'Terima kasih atas saran yang sangat mendalam.'
'Aku tidak tahu apa yang kauharapkan dariku.'
'Aku juga tidak tahu. Mungkin aku berharap kau tidak terdengar seperti sedang memberi perintah.'
Ethan melipat tangan. 'Aku cuma bilang kau bisa mencoba lagi.'
'Aku tahu. Maaf. Aku sedang kesal pada diriku sendiri, bukan padamu.'
Ia tampak hendak menjawab, tetapi kemudian memilih diam. Aku membuka kembali email dan membaca seluruh komentar dengan lebih teliti. Emily menyebutkan bahwa percakapan perlu punya perubahan emosi. Tokoh perempuan bisa mulai dengan rasa ingin tahu, merasa tersinggung, lalu menemukan alasan untuk tetap duduk di meja. Saat ini, adeganku hanya berisi dua orang bertukar pertanyaan sopan.
Aku menghela napas. 'Dia benar. Mereka memang cuma bertukar pertanyaan.'
Ethan mendekat ke layar, tetapi tetap menjaga jarak. 'Apa yang membuatmu mengirim versi ini?'
'Aku mencoba meniru makan malam kemarin. Ternyata menulis yang sungguhan juga tidak otomatis membuatnya menarik.'
'Karena kau menyalin percakapannya?'
'Tidak. Aku mencoba mengambil hal-hal kecilnya. Tapi mungkin aku terlalu sibuk mencatat sehingga lupa memberi tokohku masalah.'
Ethan mengangguk kecil. 'Orang tidak bicara hanya untuk mengisi waktu. Biasanya mereka ingin sesuatu, menghindari sesuatu, atau menyembunyikan sesuatu.'
Aku menoleh kepadanya. 'Kau baru saja memberi nasihat menulis?'
'Anggap saja pendapat pelanggan.'
'Kau bukan pelanggan naskahku.'
'Syukurlah. Aku tidak mau membayar untuk membaca draf.'
Aku hampir tertawa. Ketegangan di antara kami sedikit mengendur. 'Aku akan coba membuat mereka menginginkan sesuatu. Mungkin tokoh perempuannya ingin meminta bantuan, tapi takut terlihat lemah.'
'Itu sudah lebih baik daripada dua orang saling bertanya apakah makanannya enak.'
'Kau mengkritik naskahku tanpa membacanya.'
'Aku mengkritik konsepnya.'
'Aku akan sampaikan kepada Emily bahwa Ethan Cross ikut memberi catatan.'
'Jangan. Aku punya reputasi untuk dijaga.'
Ia berbalik menuju dapur. Aku kembali duduk, kali ini dengan ide baru. Penolakan Emily memang membuatku kecewa, tapi setidaknya aku tahu apa yang harus diperbaiki. Ketika membuka dokumen, aku tidak mulai dari dialog. Aku mulai dari keinginan tokoh perempuanku dan alasan ia takut mengatakannya.
Aku membuat salinan dokumen agar versi yang dikirim tetap aman, lalu menandai adegan yang perlu diubah. Di bagian makan malam, tokohku bertanya tentang pekerjaan, cuaca, dan makanan, tetapi tidak ada satu pun pertanyaan yang berisiko. Ia tidak menginginkan apa-apa dari lawan bicaranya. Aku menghapus hampir seluruh percakapan itu.
Kali ini aku memberi tokoh perempuan satu kebutuhan yang sederhana: ia ingin meminta ditemani ke sebuah acara, tetapi takut pria itu menyetujui karena kasihan. Ia menyusun kalimat, berubah pikiran, lalu pura-pura bertanya tentang hal lain. Pria itu tidak menebak isi pikirannya, hanya menunggu sampai ia siap bicara.
Aku menulis ulang dialognya dengan suara lebih santai. Mereka tidak langsung saling memahami; salah satu kalimat justru membuat tokoh perempuan tersinggung. Namun, ia menjelaskan kenapa ucapan itu terasa menyakitkan, dan pria itu meminta maaf tanpa membela diri. Perubahan kecil itu terasa lebih meyakinkan daripada pujian-pujian panjang.
Aku membaca bagian tersebut keras-keras. Masih ada kalimat yang terdengar kaku, tetapi tokoh-tokohku akhirnya memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan. Aku tidak akan mengirimkannya malam itu. Aku akan membiarkannya sejenak, lalu membaca lagi esok pagi dengan kepala lebih tenang.
Aku menutup laptop dan membuat teh. Rumah terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin dari dapur. Aku teringat komentar Ethan tentang orang yang menginginkan sesuatu, menghindari sesuatu, atau menyembunyikan sesuatu. Barangkali ia hanya bicara soal menulis. Namun kalimat itu membuatku bertanya-tanya apakah ia juga selalu menyembunyikan hal yang sebenarnya ingin ia katakan.
Aku mengusir pikiran itu. Ethan bukan tokoh dalam naskahku, dan aku tidak berhak mengubah setiap diamnya menjadi teka-teki. Besok aku akan membaca revisi dengan kepala dingin, lalu memutuskan apakah pantas dikirim kepada Emily. Aku membawa cangkir ke wastafel dan mencucinya sampai bersih.