Keesokan harinya, aku menghabiskan waktu di kampus sambil menyelesaikan satu tugas sebelum pergi ke Cross & Co. Menjelang sore, aku tiba di toko dengan buku catatan di tas. Daren sedang memeriksa loyang kue, sedangkan Ethan berdiri di dekat kasir menghitung uang penjualan.
'Kau datang lebih awal,' kata Daren.
'Aku tidak mau terlambat untuk riset yang kuusulkan sendiri.'
'Bagus. Bantu aku membawa kotak ini ke ruang penyimpanan? Setelah itu kita tutup dan berangkat.'
Aku mengangkat satu sisi kotak. Ethan memperhatikan dari kasir.
'Jangan angkat terlalu tinggi,' katanya. 'Isinya rapuh.'
'Aku tahu cara membawa kotak, Ethan.'
'Kemarin kau hampir menjatuhkan baki karena melihat ponsel.'
'Itu satu kali.'
Daren mengambil alih bagian tengah kotak sebelum perdebatan kami memanjang. 'Aku pegang. Shopia, kau buka pintunya saja.'
Aku menurut, meski tetap melirik Ethan. Ia kembali menghitung uang seakan tak pernah ikut bicara. Sesudah toko tutup, Daren mengunci pintu dan kami berjalan ke kedai pasta di ujung jalan. Hawa malam terasa sejuk, dan lampu-lampu toko memantul di trotoar yang baru disapu.
'Jadi,' kata Daren saat kami duduk, 'apa yang perlu kulakukan agar risetmu berhasil?'
Aku membuka buku catatan, lalu segera menutupnya lagi. 'Mungkin aku tidak perlu mencatat di depanmu. Rasanya seperti sedang mewawancarai saksi.'
'Kau bisa bertanya saja. Aku juga ingin tahu bagaimana naskahmu.'
'Emily bilang adegan romantisku datar. Tokoh-tokohnya berbicara, tetapi pembaca belum merasakan apa pun di antara mereka.'
'Apa yang menurutmu membuat percakapan terasa dekat?'
Pertanyaan itu membuatku berpikir. 'Mungkin ketika orang memperhatikan hal kecil. Bukan hanya mengatakan hal yang terdengar indah.'
'Seperti mengingat pesanan kopi seseorang?'
'Ya, misalnya. Atau menyadari dia tidak suka bawang, walau dia tidak pernah mengatakannya secara langsung.'
Daren tersenyum. 'Aku akan mengingat itu. Kau tidak suka bawang?'
'Aku suka, tapi bukan bawang mentah.'
'Informasi penting untuk riset.'
Kami memesan makanan. Percakapan bergerak dari naskah ke pekerjaan Daren di toko. Ia bercerita bahwa ia lebih suka membuat pastry daripada mengurus laporan, sementara Ethan selalu memastikan seluruh angka tercatat sampai detail terakhir. Aku bertanya bagaimana mereka bisa menjadi partner bisnis.
'Kami bertemu saat bekerja di dapur hotel,' jawab Daren. 'Ethan sudah punya ide membuka toko sendiri. Aku punya resep dan sedikit keberanian. Dia menawarkan tempat; aku menawarkan tenaga. Kami sering tidak sepakat, tapi biasanya hasilnya tetap enak.'
'Kalian terdengar seperti pasangan suami istri yang bertengkar soal dapur.'
Daren tertawa. 'Aku akan menyampaikan itu pada Ethan. Dia pasti senang.'
'Jangan. Nanti dia menempel memo baru yang melarang kita bercanda.'
'Memo-memo itu benar-benar sebanyak itu di rumah?'
'Kulkasku lebih mirip papan pengumuman kantor daripada tempat menyimpan makanan. Ada aturan tentang piring, jadwal kamar mandi, suara musik, bahkan posisi sepatu.'
'Mungkin itu cara Ethan merasa tenang.'
Aku memainkan garpu. 'Kau membelanya?'
'Aku tidak membela. Aku cuma mengenalnya cukup lama untuk tahu aturan itu bukan muncul karena ia ingin menyulitkanmu. Tapi tetap saja, kau boleh meminta perubahan kalau ada yang tidak masuk akal.'
Jawaban Daren terasa seimbang. Ia tidak menjadikan Ethan penjahat, namun tidak juga menyuruhku menuruti semua hal. Aku mengingat kalimat itu tanpa menulisnya.
'Kau memperhatikan ekspresiku sekarang?' tanyanya.
'Mungkin.'
'Lalu apa hasil pengamatannya?'
'Kau tersenyum saat bicara tentang pekerjaan. Kau tidak suka kalau aku mengejek Ethan terlalu lama. Dan kau punya kebiasaan memutar gelas ketika sedang memikirkan jawaban.'
Daren melihat tangannya sendiri yang memang sedang memutar gelas. 'Aku tidak sadar melakukannya.'
'Itu bagus. Kebiasaan kecil seperti itu membuat karakter terasa hidup.'
Makanan datang. Kami makan sambil membicarakan hal-hal ringan, termasuk film yang pernah kami tonton dan lagu yang diputar di toko. Daren tidak mencoba mengubah makan malam itu menjadi kencan sungguhan. Ia bertanya tentang kuliahku dan mendengarkan jawabanku tanpa memotong. Aku mulai merasa nyaman, walau nyaman bukan berarti jatuh cinta.
**
Saat tagihan datang, Daren meraih dompet.
'Kita bagi saja,' kataku.
'Kau yang mengundang. Biar aku yang bayar kali ini.'
'Aku mengundang untuk riset, bukan meminta sponsor. Kita bagi.'
Ia mengalah setelah aku bersikeras. Kami berjalan kembali ke toko untuk mengambil mobilnya. Di depan Cross & Co., Ethan masih berada di dalam, sedang mematikan lampu etalase.
'Malamnya menyenangkan?' tanyanya sambil mengunci pintu.
'Lumayan. Daren sangat kooperatif sebagai objek riset.'
Daren tertawa. 'Aku berharap penilaianku bagus.'
Ethan memandang buku catatan di tanganku. 'Kau benar-benar mencatat?'
'Tidak banyak. Aku mencoba mengingat hal-hal kecil.'
'Jangan menulis sesuatu tentang orang tanpa izin mereka.'
Aku berhenti tersenyum. 'Aku tidak menulis rahasia siapa pun. Aku sedang membuat adegan fiksi.'
Daren menyela dengan nada ringan, 'Aku sudah setuju menjadi teman makan malam, bukan tokoh utama. Tenang saja, Ethan.'
Ethan tidak menjawab. Ia berjalan lebih dulu menuju mobilnya. Daren mengambil jaket dari mobilnya, lalu menawarkan mengantarku pulang. Aku memilih kereta karena masih ingin membaca catatan selama perjalanan. Ia menerima jawabanku dan berjalan menemaniku sampai halte menuju stasiun sebelum kembali mengambil mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang, aku mencoba mengingat percakapan tadi, tetapi kalimat Ethan terus menyelip di antara ingatanku.
Ketika kereta tertahan lebih lama dari perkiraan, aku mengirim pesan kepada Ethan bahwa aku akan pulang terlambat. Sesudahnya, aku membuka buku catatan dan menulis tiga hal: Daren memutar gelas tanpa sadar, ia mengingat detail kecil setelah mendengarnya sekali, dan ia tertawa ketika aku menyamakan dirinya dengan Ethan. Aku berhenti sebelum menulis lebih banyak. Catatan itu bukan cerita, hanya bahan untuk memahami suasana.
Ponselku bergetar. Pesan dari Daren masuk: 'Terima kasih sudah mengajakku. Semoga risetmu berhasil. Kalau kau butuh teman makan lagi, kabari saja.' Aku membalas bahwa aku juga menikmati malam itu dan berterima kasih karena ia memahami batas yang kujelaskan.
Sesampainya di apartemen, kulihat lampu ruang tengah sudah mati. Aku masuk pelan-pelan, menggantung mantel, lalu melihat secarik kertas baru di dekat kulkas. Bukan memo, melainkan catatan belanja yang ditulis Ethan. Aku hampir kecewa karena berharap ia menempelkan sesuatu tentang jam pulang, lalu segera merasa konyol. Kenapa aku menunggu reaksinya? Aku menggeleng sendiri dan masuk kamar.
Aku menaruh catatan makan malam di laci, bukan di meja. Aku tidak ingin Ethan membacanya dan mengira aku sedang menilai setiap kebiasaannya. Sebelum tidur, aku memeriksa lagi pesan balasanku kepada Daren. Kalimatnya ramah, tetapi tidak memberi kesan bahwa aku menerima ajakan lain sebagai kencan. Itu batas yang ingin kujaga.
Besok aku akan membaca kembali adegan itu sebelum mengirimnya. Jika Emily tetap menolaknya, setidaknya aku tahu aku sudah mencoba. Kalau ia menyukainya, aku tetap harus mengembangkan cerita tanpa menjadikan Daren sebagai cetakan tokohku. Aku mematikan lampu dan membiarkan pertanyaan tentang tatapan Ethan menunggu sampai pagi.