Aku menatap kue di depanku, lalu mengangkat pandangan kepada Daren yang sedang mengelap meja di dekat kasir. Jayden dan Ningning saling melempar tatapan seolah mereka baru saja menyelesaikan sebuah misi penting.
'Kalian jangan menatapku seperti itu,' kataku. 'Aku cuma bilang mungkin ide itu tidak buruk. Bukan berarti aku langsung akan mengajak Daren menikah.'
Jayden tertawa. 'Kami juga tidak menyuruhmu menikah. Mulai dari makan malam saja.'
'Makan malam sebagai riset,' Ningning menambahkan. 'Kau bilang adegan kencanmu terasa kaku. Kalau kau mengamati percakapan sungguhan, mungkin tulisanmu lebih hidup.'
Aku mencubit ujung serbet. Alasan itu terdengar cukup masuk akal. Emily sudah mengirim catatan bahwa hubungan tokoh-tokoh dalam naskahku masih terasa seperti orang yang sedang membaca dialog, bukan dua orang yang benar-benar berada di depan satu sama lain. Aku memang butuh inspirasi. Namun, mengajak Daren keluar hanya untuk bahan tulisan terasa sedikit licik.
'Kalau aku mengajaknya, aku harus jujur soal tujuannya,' ujarku.
Ningning mengangguk. 'Tentu. Jangan membuatnya menyangka kau sedang memberi janji apa pun.'
'Dan jangan bilang kepadanya bahwa kami yang menyuruhmu,' kata Jayden. 'Aku ingin tetap bisa makan kue di sini tanpa ditatap seperti mak comblang gagal.'
Aku memutar mata. 'Kau memang mak comblang gagal.'
'Tapi kueku tetap enak,' sahutnya, lalu menunjuk piringku.
Aku tertawa kecil. Ketegangan di dadaku sedikit mengendur. Daren menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan menghampiri meja kami. Ia membawa teko kopi, lalu mengisi cangkir Ningning dan Jayden sebelum bertanya kepadaku.
'Kau mau tambah?' tanyanya.
'Tidak, terima kasih. Daren, boleh aku bicara sebentar?'
Ia menaruh teko. 'Tentu. Ada apa?'
Aku melirik kedua sahabatku. Mereka langsung berpura-pura sibuk dengan kue masing-masing. Aku menarik napas agar tidak terdengar gugup.
'Aku sedang menulis naskah untuk Emily. Ada adegan makan malam yang terasa kaku, dan aku butuh mengamati percakapan sungguhan. Kalau kau tidak keberatan, mau makan malam denganku suatu hari nanti? Sebagai riset. Aku ingin menjelaskan dari awal supaya tidak membuatmu salah paham.'
Daren tidak langsung menjawab. Ia memandangku sejenak, bukan dengan tersinggung, melainkan seperti sedang memastikan bahwa ia memahami maksudku.
'Kau ingin aku jadi bahan pengamatan?' tanyanya.
'Kalau kau menyebutnya begitu, kedengarannya kejam sekali. Tapi… ya. Aku akan mencatat suasana dan cara orang berbicara, bukan menginterogasimu. Dan kau boleh menolak.'
Daren tersenyum. 'Aku tidak keberatan. Kita bisa makan malam besok setelah toko tutup. Tapi aku akan menganggapnya sebagai makan malam teman, sesuai penjelasanmu.'
'Terima kasih. Itu yang kumaksud.'
'Kalau begitu, besok pukul tujuh? Ada kedai pasta tidak jauh dari sini. Tempatnya tenang, jadi kau bisa mengamati tanpa perlu berteriak.'
'Pukul tujuh cocok.'
Jayden menyela, 'Aku yakin riset ini akan sangat ilmiah.'
'Jayden,' tegur Ningning.
Daren hanya terkekeh. 'Santai saja. Aku tidak akan membuatnya tidak nyaman.'
Aku mengangguk, lalu teringat bahwa ia mungkin perlu tahu soal batas waktu. 'Kalau aku terlihat sibuk menulis di kepala, ingatkan saja aku untuk kembali menjadi teman makan malammu.'
'Akan kulakukan. Tapi kau juga harus menikmati makanannya.'
Ia kembali ke area kerja. Aku berusaha tampak biasa saja, meski baru menyadari Ethan berdiri di balik mesin kopi. Tatapannya sempat bertemu denganku, kemudian ia memalingkan wajah untuk mengambil cangkir. Aku tidak tahu apakah ia mendengar percakapan kami. Dari sikapnya, ia tampak tidak peduli.
Namun saat aku berpamitan, Ethan melewati meja kami dan berkata, 'Jangan pulang terlalu malam. Besok ada pengiriman pagi.'
Aku berhenti. 'Aku tahu jadwalnya.'
'Bagus.'
Hanya itu. Ia tidak menanyakan dengan siapa aku makan malam atau kenapa. Barangkali memang tidak penting baginya. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa komentar tadi sekadar mengingatkan penghuni rumah soal jadwal kerja.
**
Di perjalanan pulang, Jayden mengirim pesan berisi tiga emoji kue dan satu tanda tanya. Aku tidak membalas. Setibanya di apartemen, aku menyimpan laptop di meja, sementara Ethan masih berada di dapur memeriksa daftar persediaan toko.
'Besok aku makan malam dengan Daren setelah toko tutup,' kataku, memastikan ia mendengarku.
Ethan mencoret sesuatu di kertas. 'Itu urusanmu.'
'Aku bilang karena kau baru saja mengingatkan jadwal pengiriman. Aku akan pulang sebelum terlalu larut.'
'Pukul berapa?'
Aku mengernyit. 'Katamu itu urusanku.'
Ia berhenti menulis. 'Aku perlu tahu kapan pintu depan akan dibuka. Aku tidak suka terbangun karena suara kunci setelah tengah malam.'
'Makan malamnya pukul tujuh. Mungkin selesai pukul sembilan.'
'Kalau berubah, beri kabar.'
Aku menatapnya. 'Itu aturan baru?'
'Itu akal sehat.'
Aku tidak ingin bertengkar malam itu. 'Baik. Aku akan memberi kabar kalau terlambat.'
Ethan mengambil kertas kecil dari laci, menulis kalimat pendek tentang memberi kabar jika pulang larut, lalu menempelkannya di kulkas. Ia melakukannya tanpa menatapku, seolah memo itu sama sekali tidak berkaitan dengan rencana makan malamku. Aku membaca tulisan tersebut dan menggigit bagian dalam pipi agar tidak langsung mengomentarinya.
Ethan mengangguk tipis dan kembali ke daftar. Aku masuk kamar dengan perasaan ganjil. Makan malam besok hanya riset, tetapi mendadak ada bagian diriku yang ingin tahu kenapa Ethan begitu ingin mengetahui jam kepulanganku.
Aku mengeluarkan buku catatan dan menuliskan rencana makan malam itu: kedai pasta, pukul tujuh, pertanyaan tentang pekerjaan Daren, dan kebiasaan kecil yang mungkin berguna untuk naskah. Daftar itu membuatku merasa lebih siap, meski semakin kubaca, semakin terasa seperti jadwal wawancara.
Aku mencoret pertanyaan tentang masa lalunya. Itu bukan urusanku dan bukan bagian dari naskahku. Sebagai gantinya kutulis, 'Apa yang membuatmu tertawa saat bekerja?' lalu berhenti. Pertanyaan tersebut terdengar terlalu pribadi. Mungkin aku akan membiarkan percakapan berjalan sendiri.
Dari ruang tengah terdengar Ethan menutup laci. Ia mematikan lampu dapur, lalu langkahnya menjauh ke kamar. Tidak ada ucapan selamat malam. Aku sempat ingin keluar dan mengatakan bahwa aku tidak akan pulang larut, tetapi kesepakatan tadi sudah cukup jelas. Aku menutup buku, memasang alarm, dan berusaha tidur tanpa membayangkan bagaimana ekspresi Ethan saat melihatku pergi bersama Daren.