“Aku tak tahu lagi harus bagaimana, Ning!” keluhku pada sahabatku, Ningning, saat kami duduk di bangku taman kampus. “Sudah berhari-hari aku mengubah sinopsis dan beberapa bagian naskah, tapi tetap saja Emily merasa ada yang kurang!”
Ningning mengunyah permen karetnya sambil menatapku penuh simpati. “Mungkin kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Kadang, semakin kita berusaha, semakin sulit menemukan solusi.”
“Aku sudah mencoba segalanya,” gumamku, menundukkan kepala di atas meja. “Tapi tetap saja, aku nggak bisa menemukan perasaan yang tepat untuk menulis adegan romantis.”
Ningning tiba-tiba bertepuk tangan. “Aha! Aku tahu solusinya! Ayo kita ke kafe! Mungkin suasana baru bisa memberimu inspirasi.”
Aku mendongak dengan malas. “Kafe?”
“Iya! Kafe kopi dan kue di tengah kota. Kata orang-orang, tempatnya nyaman banget buat kerja, dan kuenya enak!”
“Aku nggak yakin ini akan membantu…”
“Ayolah! Jayden akan traktir!” godanya.
Aku menghela napas. Baiklah, mungkin ini ide yang bagus. Meskipun aku mungkin akan menjadi nyamuk diantara mereka berdua.
Kami sampai di kafe yang Ningning maksud, dan jantungku langsung berhenti berdetak begitu melihat papan nama di atas pintu:
Cross & Co. Bakery & Coffee
Oh, sial.
“Kita masuk?” tanya Jayden riang.
Aku langsung menarik lengan Ningning. “Kita bisa cari tempat lain!” bisikku.
“Kenapa? Tempat ini lagi viral, lho!” Ningning menatapku dengan bingung.
Aku menghela napas panjang. “Itu… kafe milik Ethan.”
Mata Ningning melebar. “Serius?! Kau tinggal serumah dengan pria yang punya tempat sekeren ini?”
Aku mendengus. “Percayalah, nggak ada yang keren dari Ethan.”
“Tunggu, Ethan siapa?” Jayden ikut campur.
“Ethan Cross. Pemilik tempat ini.”
Jayden tampak terkejut. “Kau tinggal satu rumah dengan pria itu? Wow, kenapa kau masih jadi penulis freelance? Minta saja pekerjaan di sini!”
Aku memelototinya. “Aku lebih baik mati kelaparan.”
Ningning hanya tertawa. “Yah, kita sudah sampai di sini. Ayo masuk!”
Dengan enggan, aku mengikuti mereka masuk. Ada cukup tempat kosong untuk kami duduk bertiga. Kami pun memilih tempat yang berada di sudut jendela untuk menghindari kebisingan. Dan well, aku cukup takjub dengan tempat secozy ini. Interiornya minimalis namun modern. Dan memang sangat cocok untuk orang-orang yang suka bekerja dan memerlukan tempat yang tenang untuk menikmati suasana.
"Apa yang buat Emily tak puas?” tanya Ningning ketika kami baru saja duduk di tempat. Aku sempat bertatap muka dengan Daren di dapur. Ia melambaikan tangannya sembari tersenyum menampakkan lesung pipinya itu.
“Adegan romantisnya,” gumamku. “Katanya terasa kaku dan nggak natural.”
Jayden bersiul pelan. “Ya, mungkin karena kau nggak punya pengalaman?”
Aku melotot. “Hei! Aku bisa menulis tanpa harus mengalami sendiri!”
Jayden tertawa. “Benarkah? Kalau begitu, coba tulis adegan ciuman sekarang.”
Aku terdiam, wajahku langsung memanas.
Ningning terkikik. “Aku setuju dengan Jayden. Mungkin kau perlu merasakan hubungan yang sebenarnya agar bisa menulis lebih natural.”
Aku menepuk dahiku. “Astaga, aku sudah cukup stres dengan naskah ini, dan kalian malah menyuruhku berpacaran?”
Jayden menjentikkan jarinya. “Kenapa tidak pacaran dengan teman serumahmu saja?”
Aku nyaris tersedak kopiku. “APA?!”
Jayden terkekeh. “Ethan pria dewasa, dan kalau dipikir-pikir, kau tinggal satu rumah dengannya. Bukankah lebih mudah?”
Aku menggeleng keras. “Tidak mungkin! Dia dingin, menyebalkan, dan tidak tertarik padaku sama sekali!”
“Hei, Shopia,” sapa Daren.
Aku mengangkat alis. “Hei, Daren!”
“Aku senang kalian mampir ke sini. Kalian ingin pesan sesuatu?” tanyanya, meletakkan sepiring kue di meja kami.
Ningning langsung menatap kue itu dengan mata berbinar. “Wow, ini kelihatan enak!”
“Spesial dari Ethan,” kata Daren. “Tapi dia lagi sibuk, jadi aku yang mengantar.”
Aku melirik ke arah Ethan, yang berdiri di belakang counter, tampak sibuk meracik kopi tanpa sekalipun melihat ke arahku.
"No way. Mana mungkin itu darinya."
Daren terkekeh mendengarnya.
Daren menarik kursi kosong di meja kami dan duduk tanpa sungkan.“Jadi,kalian temannya Shopia?”
Jayden mengangguk sambil mengunyah kuenya. “Yep. Aku Jayden, dan ini Ningning.”
Ningning melambai kecil. “Hai! Kamu kerja di sini juga?”
Daren tersenyum. “Yup. Aku chef pastry di sini.”
Ningning langsung berseru, “Oh, jadi kamu yang bikin kue enak ini?”
Daren tertawa kecil. “Iya. Kecuali yang ini.” Dia menunjuk kue di meja kami. “Yang ini spesial dari Ethan.”
Aku yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya berdeham. “Kenapa spesial?” tanyaku curiga.
Daren mengangkat bahu. “Mungkin karena dia tahu kau suka kue ini?”
Aku menatap kue itu sejenak, lalu melirik ke arah Ethan yang masih sibuk di counter. “Dia bahkan nggak pernah peduli aku suka apa. Dan kue ini jelas-jelas kue yang dia buang ke tempat sampah karena aku menyentuh eksperimennya waktu itu."
Jayden menelan suapan kuenya dan menyeringai. “Mungkin dia peduli, tapi nggak mau kelihatan.”
Aku mendengus. “Tidak mungkin.”
Ningning ikut tersenyum. “Siapa tahu Ethan itu tipe tsundere?”
Aku menatapnya tajam. “Kau terlalu banyak baca novel.”
Daren tertawa kecil, lalu mengalihkan perhatian ke Jayden dan Ningning. “Jadi, kalian berdua ini pacaran?”
Ningning mengangguk dengan bangga, sementara Jayden malah menggoda, “Tunggu, kau naksir Ningning juga, ya?”
Ningning menampar lengan Jayden sambil tertawa. “Ish, Jayden! Jangan mulai.”
Daren ikut tertawa. “Tenang, aku nggak mau cari masalah.”
Kami semua tertawa, dan suasana di meja mulai terasa lebih santai. Aku melirik sekilas ke arah counter, dan di sana Ethan masih tetap dengan sikap dinginnya.
Tapi… aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa sejak tadi dia melirik ke arah meja kami. Sekilas, tapi cukup jelas.
Daren kemudian bangkit. “Oke, aku harus balik kerja. Nikmati kuenya, ya.”
Ningning dan Jayden melambai. “Thanks, Daren!”
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Setelah Daren pergi, Jayden langsung mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan ekspresi penuh arti. Jayden melirik ke arah Daren, yang sedang berbicara dengan pelanggan lain. Lalu, dia tersenyum penuh arti.
“Kalau begitu, kenapa tidak coba dengan Daren?” katanya ringan.
Aku mengernyit. “Apa?”
Aku menoleh ke arah Daren, yang kebetulan sedang menatap kami dan tersenyum ramah.
Aku terdiam.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya dengan nada menggoda.
Ningning terkikik. “Daren kelihatannya orang baik.”
Jayden menambahkan, “Dan dia jelas tertarik untuk ngobrol denganmu.”
Aku menatap mereka berdua dengan curiga. “Kalian tidak sedang berusaha menjodohkanku dengan Daren, kan?”
Jayden mengangkat bahu. “Hei, bukankah kau butuh inspirasi untuk naskahmu?”
Aku memutar mata. “Bukan berarti aku harus pacaran sungguhan.”
Jayden bersandar santai. “Kau bilang sendiri adegan romantismu terasa kaku. Mungkin karena kau belum pernah benar-benar mengalaminya?”
Aku terdiam.
Ningning lalu menepuk tanganku. “Coba pikirkan, Shopia. Daren baik, ramah, dan dia jelas suka mengobrol denganmu.”
Aku menatap piring kue di depanku, lalu mencuri pandang ke arah Daren yang mulai bekerja.
Jayden tersenyum penuh arti. “Setidaknya, kau bisa mulai dari mengenal Daren lebih baik.”
Aku menarik napas panjang.
Mungkin… ini bukan ide yang buruk?