"Dia… pria?” tanyaku, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Jadi kamu… kamu juga suka menyimpan pria di rumahmu?” Aku tidak bisa menahan kekagetanku. Dengan polosnya aku malah bertanya seperti itu.
Ethan memijat keningnya, menghela napas panjang seolah mencoba bersabar menghadapi kebodohanku. “Shopia,” katanya dengan nada yang sedikit lelah, “kau sadar bagaimana pertanyaanmu terdengar barusan?”
Aku masih belum bisa memproses semuanya dengan benar. “Jadi, Mina itu benar-benar pria?” tanyaku lagi, hanya untuk memastikan aku tidak salah dengar.
Ethan menatapku lama, lalu mengangguk pelan. “Ya. Mina adalah seorang transgender. Dia pria yang memilih untuk hidup sebagai wanita.”
Aku masih terpaku di tempat, mencoba mencerna apa yang baru saja kudengar. Pikiranku berputar cepat, menghubungkan potongan-potongan kejadian kemarin malam di kerumunan dan siang tadi. Aku teringat bagaimana Mina menjabat tanganku dengan sedikit canggung, bagaimana Ethan tampak santai bersamanya, dan bagaimana aku begitu cepat mengambil kesimpulan yang ternyata salah besar.
Ethan, yang masih berdiri di depanku dengan ekspresi datar, tampak menunggu reaksiku. Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak tahu harus berkata apa.
“Hahahaha...Aku masih sulit percaya,” kataku akhirnya, suaraku lebih pelan dari biasanya. “Aku… benar-benar tidak menyangka.”
Ethan menghela napas, lalu menyilangkan tangan di d**a—gerakan yang seharusnya biasa saja, tetapi karena dia masih belum mengenakan pakaian atas, aku malah kehilangan fokus untuk sesaat. Kenapa dia masih seperti ini?!
“Shopia,” panggilnya, mengembalikan kesadaranku. “Apa itu masalah besar bagimu?”
Aku berkedip beberapa kali. “Tentu saja tidak! Aku hanya…” Aku mencari kata yang tepat. “…terkejut.”
Ethan mendekat lagi, kali ini ekspresinya tidak semenyebalkan tadi. “Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan,” ujarnya. “Kamu melihat seorang wanita keluar dari apartemenku, lalu langsung membuat cerita di kepalamu sendiri.”
Aku membuka mulut untuk membela diri, tapi Ethan mengangkat tangannya, menyela. “Dan sekarang, setelah tahu kebenarannya, apa yang kamu pikirkan?”
Aku mengerjap, lalu mengalihkan pandangan. Apa yang kupikirkan?
Jujur saja, aku masih sedikit kaget. Tapi di sisi lain, aku merasa… lega. Sejak siang tadi, aku tidak bisa menyingkirkan rasa tidak nyaman ini. Aku bahkan membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu. Sekarang, mengetahui bahwa Mina bukanlah seperti yang kubayangkan, aku merasa seperti beban besar terangkat dari pikiranku.
Tapi tentu saja, aku tidak akan mengatakan itu dengan jujur di depan Ethan.
Aku melipat tangan di d**a, mencoba terlihat lebih tenang. “Aku hanya kesal karena kamu tidak menjelaskan dari awal,” gumamku.
Ethan menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya aku harus memberikan laporan setiap kali seseorang datang ke apartemenku?”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Oke, mungkin dia benar.
Aku mendengus kesal, lalu berbalik menuju sofa. “Terserah. Aku lapar. Aku mau makan.”
Ethan terkekeh kecil, lalu berjalan santai ke dapur. Aku berusaha tidak memperhatikannya, tapi sudut mataku tetap menangkap pergerakannya. Dia mengambil botol air minum di atas meja, meneguknya perlahan, lalu—dengan santai—menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
Aku menelan ludah. Kenapa dia harus bergerak seperti itu?!
Aku buru-buru membuka kantong makanan dan mulai memindahkan isinya ke meja, mencoba mengabaikan keberadaannya. Namun, Ethan malah berjalan mendekat dan duduk di sebelahku.
“Kamu mau makan apa?” tanyanya.
Aku meliriknya sekilas. “Tentu saja makanan yang kupesan tadi.”
Dia menatap kantong makanan itu sebentar, lalu mengambil salah satu bungkusnya. “Hmm. Kamu pesan banyak sekali.”
Aku menatapnya tajam. “Memangnya kenapa?”
Ethan tersenyum tipis. “Tidak, hanya bertanya.”
Aku tidak menyukai caranya tersenyum seperti itu. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tapi aku terlalu lapar untuk mengurusi pikirannya saat ini. Aku mengambil sepotong ayam goreng dan mulai menggigitnya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Aku mulai berpikir bahwa percakapan kami sudah selesai, tetapi kemudian Ethan kembali berbicara.
“Tapi serius, Shopia,” katanya pelan.
Aku menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan nadanya. “Apa?”
Dia menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kenapa kamu terlihat sangat terganggu dengan Mina?”
Aku hampir tersedak. “Aku tidak terganggu!” sanggahku cepat.
Ethan tetap menatapku, seolah bisa melihat sesuatu yang bahkan tidak kusadari sendiri. “Benarkah?” tanyanya pelan.
Aku mengalihkan pandangan. “Tentu saja.”
Dia tidak menjawab untuk beberapa saat, tetapi aku bisa merasakan bahwa dia masih memperhatikanku. Udara di antara kami terasa berbeda—seperti ada sesuatu yang tidak ingin dia katakan, tetapi juga tidak ingin dia sembunyikan.
Dan itu membuatku semakin tidak nyaman.
Aku meletakkan ayam di piring, lalu berdiri. “Aku ke kamar dulu.Makan saja kalau kau mau."
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berjalan cepat menuju kamarku, menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
"Malunya aku!"
Untuk menghilangkan pikiran bodoh dan apa yang kulakukan tadi, aku kembali menatap layar laptopku dengan tatapan kosong, jari-jariku menggantung di atas keyboard tanpa tahu harus mengetik apa lagi. Naskah ini sudah kuubah entah berapa kali, tapi tetap saja Emily tidak puas.
“Shopia, kita harus bicara soal naskah ini. Sinopsisnya kurang menggugah, konflik terlalu datar, dan… yah, jujur saja, adegan romantisnya terasa kaku. Kau harus memperbaiki ini sebelum tenggat waktu!”
Aku sudah membaca email itu berkali-kali sejak pagi tadi. Kepala terasa berdenyut, dan rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke meja. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk memperbaiki naskah ini, tapi tetap saja, Emily terus mengirim email demi email yang membuatku ingin menjerit.
Aku menghela napas panjang, lalu membanting tubuhku ke sandaran kursi. Jemariku masih menggantung di atas keyboard, tetapi otakku rasanya benar-benar buntu. Aku menatap paragraf terakhir yang baru saja kutulis—lalu menghapusnya lagi.
Menyebalkan.
Aku tahu Emily tidak bermaksud jahat. Dia editorku, tugasnya memang memastikan naskahku berada dalam kondisi terbaik. Tapi tetap saja, setiap kali aku membaca ulang emailnya, rasanya seperti ditampar berkali-kali. “Kurang menggugah,” katanya. “Konflik terlalu datar,” katanya. Kalau aku tahu caranya membuat konflik yang mengguncang, aku tidak akan duduk di sini seperti patung sambil menatap layar kosong!
Aku menutup laptop dengan kasar dan menyandarkan kepala ke meja.
“Aku butuh inspirasi,” gumamku.
Mataku melirik ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Di luar sana, Ethan pasti masih sibuk dengan urusannya. Mungkin dia sedang membaca, atau lebih buruk lagi—berolahraga tanpa baju lagi seperti tadi.
Aku buru-buru menggeleng. Tidak, Shopia, fokus!
Tapi entah kenapa, kepalaku malah memutar ulang kejadian tadi. Ethan yang tiba-tiba muncul di belakangku, bertelanjang d**a, menampilkan otot-otot perutnya yang—astaga—cukup membuat pria pengantar makanan langsung mundur tanpa kata. Kemudian, perdebatan absurd kami tentang Mina, yang ternyata seorang transgender.
Aku mengingat bagaimana Ethan mendekat dan mengangkat tanganku ke atas, memaksaku berjinjit agar menatapnya langsung.
“Kenapa kau begitu keberatan soal Mina? Seharusnya itu tidak ada hubungannya denganmu, bukan?”
Aku menggigit bibir, merasa kesal dengan diriku sendiri. Kenapa aku memang begitu keberatan mau siapapun yang datang ke rumahnya?
Aku menepis pikiran itu dan bangkit dari kursi. Tidak ada gunanya terus berkutat dengan naskah yang tidak mau bekerja sama. Aku pun menarik selimut. Mencoba merehatkan kepalaku yang seharian ini sudah berpikir tak normal.