Kami bertiga akhirnya masuk ke dalam, dan sementara Daren dan Ethan sibuk berbicara tentang sampel kue yang dibawa Daren untuk kompetisi mendatang, pikiranku justru terbang jauh. Tak seperti mereka yang terfokus pada hal teknis dan serius, aku malah terperangkap dalam imajinasi liar yang mulai berkembang di otakku.
Aku memandangi setiap sudut apartemen, berusaha untuk tetap tampak biasa saja, meski jantungku berdegup kencang. Aku mencari-cari sesuatu yang mencurigakan, meski aku sendiri tidak tahu persis apa yang kucari. Aku hanya merasa ada yang tidak beres.
Dan kemudian, aroma itu kembali menyerang penciumanku—parfum manis yang entah kenapa, meski sudah beberapa menit berlalu, masih terasa begitu kuat di udara. Seperti aroma yang terperangkap di sini, mengendap di dinding, menjelma menjadi sesuatu yang semakin menyesakkan di paru-paruku. Apa itu? Apakah itu parfum dari wanita tadi?
“Hei Shopia, kau sedang tidak waras?” batinku, mencoba menenangkan diri. Namun jelas sudah, otakku sudah lebih dulu lari ke tempat yang jauh.
Tiba-tiba aku membayangkan Ethan dan wanita itu tengah berada di dalam kamar tidur, bergumul di atas tempat tidur, ciuman mereka begitu hangat dan mendalam, tangannya saling meraba tubuh satu sama lain, menyelami setiap inci kulit, seperti yang biasa dilakukan pasangan yang sudah sangat dekat. Mungkin mereka bercinta di sana. Atau lebih parah lagi, mungkin mereka sedang berbisik-bisik tentang betapa enaknya hidup mereka tanpa gangguan apapun.
Aku hampir bisa membayangkan suasananya—wanita itu mengusap rambut Ethan, berbisik lembut di telinganya, “Kamu tidak akan percaya betapa aku merindukanmu, Ethan…”
Dan Ethan, seperti biasanya, akan menanggapi dengan tatapan penuh arti, “Kamu juga, sayang. Ini lebih baik dari yang pernah aku bayangkan.”
Jantungku berdegup kencang, dan aku harus berusaha keras untuk menahan suara hati yang berteriak “Tidak! Itu tidak bisa terjadi!” Namun, bayangan itu begitu kuat dan nyata, seperti film yang sedang diputar di otakku.
Aku membayangkan mereka berciuman. Ya, ciuman penuh gairah, seperti yang sering dilakukan oleh pasangan yang sedang dimabuk asmara—tangan mereka menjelajahi tubuh, bibir mereka bertemu dengan penuh kecemasan dan hasrat. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang panas meluap dalam dadaku, perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku merasa seperti cemburu… bahkan marah.
Bayangan itu semakin jelas. Aku bisa melihat Ethan merangkul wanita itu, tangannya meremas pinggangnya dengan erat, sementara wanita itu memejamkan mata, menikmati setiap detik yang berlalu. Kenapa aku merasa seperti ini? Bukankah ini hal yang wajar? Ethan berhak melakukan apa pun yang dia inginkan. Tapi kenapa aku malah merasa seperti tertampar dengan bayangan itu?
"Hih! Sadar lah Shopia. Apa kau sedang membayangkan tulisan novelmu sendiri?" gumamku dalam hati.
Sadar tak sadar, aku berjalan semakin dekat ke ruang tamu, melangkah perlahan, mencoba menenangkan diri dengan berfokus pada hal-hal lain. Namun, aroma itu semakin mendekat—menghantuiku tanpa ampun. Bagaimana bisa parfum wanita itu masih begitu jelas terasa? Apa dia masih ada di sini? Apa dia diam-diam menyelinap ke dalam hidup Ethan, atau lebih tepatnya, ke dalam apartemen ini?
Namun, aku segera terjaga ketika mendapati Ethan berada di sampingku, mendekat dengan tatapan tajam. Terkejut? Tentu saja! Aku hampir saja melompat dari tempatku berdiri. Apalagi melihat ekspresinya yang sulit k****a—seperti tahu kalau aku sedang berusaha menghindari sesuatu yang tidak ingin kulihat.
“Ada yang bisa kubantu, Shopia?” tanyanya dengan suara datar, meski aku bisa mendengar ada nada menyindir di sana.
Aku tersentak, berusaha menyembunyikan perasaan yang semakin tidak terkendali. “Ah, tidak kok,” jawabku canggung. “Aku hanya, eh, hanya merasa aneh saja.”
Ethan memiringkan kepala, menatapku seperti sedang menguji. “Aneh? Kenapa? Ada yang salah?”
Aku menggaruk kepala, berpikir cepat. “Tidak! Aku hanya… tidak menyangka, kamu pria seperti itu, Ethan,” kataku dengan nada yang sedikit terburu-buru, berharap bisa menyembunyikan rasa penasaranku yang meruak di dalam diriku. “Suka membawa wanita masuk ke rumah, begitu.”
Seketika aku melihat wajah Ethan berubah, mata cokelatnya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ia melangkah mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajahku, begitu dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan napasnya.
“Kau berpikir begitu?” jawabnya dengan suara serendah itu, hampir seperti bisikan. “Aku bahkan membiarkan wanita asing tinggal serumah denganku.” Ia menunjuk keningku dengan telunjuknya, semakin mendekatkan wajahnya. “Apa aku tidak boleh melakukan itu dengan wanita lain?”
Seketika jantungku berhenti berdetak. Aku terjebak dalam kata-kataku sendiri. Rasanya seperti tersudut, terperangkap dan lebih parahnya lagi, aku tidak tahu bagaimana keluar dari situasi ini.
Daren yang melihat kami semakin canggung hanya bisa terkekeh kecil. “Wah, ada apa nih?” katanya sambil menggelengkan kepala. “Ada sesuatu yang nggak aku tahu?”
Aku hanya bisa tersenyum kaku, berusaha menghindari perasaan yang semakin membuncah. “Aku… aku pergi ke kamar dulu,” kataku, mencoba menghindar.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku buru-buru berbalik dan masuk ke kamar, menutup pintu dengan pelan. Sambil duduk di tempat tidur, aku berusaha menenangkan diri. Jantungku masih berdebar-debar, pikiranku masih dipenuhi bayangan Ethan dan wanita itu, dan perasaan aneh yang entah kenapa tidak bisa kutahan.
"Kenapa aku kepikiran hal begituan sih?"
Aku menatap langit-langit dengan pandangan kosong, "Eh tapi...kenapa aku bisa berimajinasi seperti novel dewasa? Bukankah itu bagus?"
Aku bangkit dari dudukku, "Ini harus kutulis! Sebelum semuanya menghilang." ujarku penuh semangat.
Malamnya..
Setelah berjam-jam berkutat dengan naskah, aku memutuskan untuk keluar kamar untuk mengambil pesanan makanan yang datang. Ketika aku membuka pintu, seorang pria tampan berdiri di sana dengan senyum ramah, serta tangan yang tengah memegang kantong makanan. Jantungku langsung berdegup lebih cepat—sepertinya aku benar-benar tidak bisa menghindari pesona pria tampan. Kami saling berpandangan, dan aku bisa merasakan ketegangan yang aneh di udara. Aku berusaha tersenyum, walau rasanya cukup canggung.
“Terima kasih,” ujarku, mencoba bersikap biasa meskipun aku merasa sedikit salah tingkah.
Pria itu tersenyum lagi. “Sama-sama. Semoga makanannya enak,” jawabnya, masih dengan senyum itu. Kami berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, entah kenapa aku merasa begitu canggung.
Aku mengumpulkan semua keberanian untuk mengalihkan pandangan. “Oh, iya… terima kasih,” kataku lagi, berharap bisa mengakhiri percakapan yang semakin membuatku merasa konyol.
“Hmm, kenapa kamu berbicara cukup lama dengan kurir makanan itu, Shopia?” Ethan muncul tiba-tiba. Suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.
“Memangnya kenapa?" tanyaku sambil mendongak ke atas.
Kurir pengantar makanan itupun sudah pergi dengan canggung. Sepertinya, dia sudah salah paham dengan banyak hal.
“Kamu terlalu nyaman berbicara dengan orang asing, ya?” tanyanya sambil menatapku tajam, seperti sedang menilai.
Namun, aku terdiam sejenak. “Aku tidak ada masalah dengan itu. Dia hanya kurir makanan, bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.”
Namun, sebelum aku sempat berkata lebih banyak, aku berbalik dan baru menyadari sesuatu yang sangat jelas—Ethan muncul tanpa pakaian atas. Tubuhnya yang tegap, dengan sixpack yang terlihat jelas, langsung menyita perhatian. Seolah-olah dia baru selesai berolahraga. Melihatnya seperti itu, aku merasa sedikit kehilangan kata-kata. Kenapa dia harus muncul dengan cara seperti ini?
Aku menatapnya dengan tatapan penuh rasa bingung. “Apa ini sengaja, Ethan? Apa kamu memang ingin membuat aku terlihat seperti w************n yang terbuai hanya karena tubuhmu?” kataku, agak kesal dan malu.
Ethan hanya tersenyum, tapi senyum itu lebih mirip senyum nakal daripada senyum ramah. Dia mendekat sedikit, wajahnya semakin dekat dengan wajahku. “Kamu merasa keberatan, Shopia?” tanyanya, suaranya datar namun mengandung nada yang menantang.
Aku mendorong dadanya sedikit, mencoba mengusir perasaan canggung yang mulai melanda. “Aku bukan Mina, Ethan. Aku tidak akan jatuh begitu saja hanya karena perhatian seperti itu,” jawabku, berusaha terdengar tegas, meskipun hatiku sedikit berdebar.
Ethan terlihat tidak terpengaruh oleh ucapanku. “Lalu, kenapa kamu merasa seperti itu?” tanyanya, langkahnya semakin mendekat.
Aku merasa kesal, jadi aku mendorongnya lagi. “Kamu tidak perlu melakukan itu, Ethan. Aku bukan orang yang mudah tergoda dengan permainan seperti ini,” aku berusaha menunjukkan ketegasan.
Namun, tak terduga, Ethan mengangkat tanganku dengan gerakan cepat, memaksaku berjinjit sedikit agar bisa mengikuti gerakan tangannya. Aku terkejut, tidak bisa mengelak. “Oh ya? Lalu, apa masalahnya? Dan kenapa harus bawa-bawa Mina?” tanyanya sekali lagi, suaranya rendah dan penuh tekanan.
Aku mulai merasa terperangkap. “Kenapa kamu selalu mengajukan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab?” ujarku, mulai kesal dengan situasi yang semakin memanas.
Ethan menatapku dengan ekspresi yang agak serius. “Kamu belum memperhatikan dengan benar, Shopia,” katanya, lebih dalam kali ini. “Mina bukan wanita. Dia seorang transgender."
Kata-kata itu seolah menamparku. Aku terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dia katakan. Ingatanku langsung kembali ke jabat tangan yang terjadi beberapa jam sebelumnya—sikapnya yang sangat sopan, namun sedikit terburu-buru. Aku merasa bingung, dan tiba-tiba semuanya menjadi lebih jelas.
“Dia… pria?” tanyaku, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Jadi kamu… kamu juga suka menyimpan pria di rumahmu?” Aku tidak bisa menahan kekagetanku.