Aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum setelah seharian berkutat dengan naskah baru. Mataku terasa berat karena terlalu lama menatap layar laptop, dan tenggorokanku kering seperti gurun pasir. Dengan langkah malas, aku menuju dapur, menguap kecil sambil mengusap leherku yang pegal.
Namun, saat aku hendak membuka kulkas, suara Ethan terdengar dari ruang tengah. Suaranya terdengar santai, bahkan diselingi tawa kecil.
Aku mengernyit. Ethan? Tertawa? Dengan siapa?
Aku menajamkan pendengaran, mencoba memahami percakapan itu. Dan dari nada suaranya yang lebih lembut dari biasanya, aku bisa menebak… wanita.
Astaga. Jadi dia tengah menelepon seorang wanita?
Aku melirik ke ruang tengah, mencoba mengintip tanpa terlihat terlalu mencurigakan. Tapi, seperti punya radar yang mendeteksi keberadaanku, Ethan tiba-tiba menoleh. Matanya menyipit saat menangkapku yang sedang mengendap-endap di balik dinding dapur.
Sial. Ketahuan.
“Apa yang sedang kau lakukan, Shopia?” tanyanya, alisnya terangkat dengan nada mencurigakan.
Aku merapatkan bibir, lalu bersikap seolah tak peduli. “Aku? Tidak sedang melakukan apa-apa.”
Ethan menatapku dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Oh, benarkah?”
Aku mengangguk cepat. “Tentu saja! Aku hanya mengambil air minum.” Aku mengangkat gelas kosong yang kubawa sebagai bukti.
Ethan tidak berkata apa-apa lagi, tapi aku bisa melihat tatapannya seolah berkata aku tidak percaya padamu.
Aku pura-pura tidak peduli, tapi tetap diam-diam mencuri dengar. Namun, Ethan lalu berkata di telepon, “Maaf, ada seseorang yang terlalu penasaran di sini.”
Aku tersentak.
“Oi! Aku tidak peduli, oke!” protesku cepat.
Alih-alih menjawab, Ethan hanya terkekeh, lalu kembali fokus pada teleponnya.
Aku menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memilih mundur dan kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk. Apa-apaan itu? Ethan tidak biasanya seperti ini.
**
Sore harinya, aku memutuskan untuk keluar sebentar. Aku mampir ke mesin ATM untuk mengecek saldo rekening, berharap ada sedikit keajaiban dalam bentuk angka yang bertambah.
Begitu melihat saldo yang muncul di layar, aku hanya bisa menghela napas panjang.
Tamat riwayatku.
Jika aku tidak segera menghasilkan uang, aku bisa hidup hanya dengan air putih dan mie instan selama sebulan ke depan.
Dengan perasaan kacau, aku melangkah pulang. Namun, di tengah perjalanan, mataku menangkap sosok yang sangat familiar.
Ethan.
Dan… wanita yang kulihat kemarin.
Mata Ethan sedikit menyipit saat wanita itu berbicara, lalu tiba-tiba tertawa kecil sambil mengangguk.
Aku nyaris tersedak udara. Jadi mereka lanjut berkomunikasi setelah pertemuan kemarin?!
Aku berdiri terpaku di trotoar, mencoba mencerna apa yang kulihat. Ethan yang kukenal adalah pria dingin, minim interaksi, dan tidak tertarik dengan basa-basi. Tapi sekarang?
Dia terlihat santai mengobrol dengan wanita itu? Bahkan tersenyum?
Aku harus memastikan sesuatu.
Dengan langkah hati-hati, aku mulai mengikuti mereka dari belakang. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
Kau bukan tipe pria yang haus perhatian wanita, kan, Ethan?
Keduanya berjalan santai, sesekali berbicara dan tertawa kecil. Aku berusaha mendekat tanpa menarik perhatian, meskipun rasanya aneh melakukan ini.
Namun, aku semakin syok saat menyadari ke mana arah mereka.
Ke apartemen.
Dan yang lebih mengejutkan, mereka masuk bersama.
Aku membeku di tempat.
Apa ini?
Mereka baru saling kenal kemarin, bukan? Apa mungkin mereka sudah dekat sampai seperti ini?
Aku menggigit bibir, menatap pintu apartemen yang kini telah tertutup rapat.
Haruskah aku masuk dan merusak suasana mereka?
Atau menunggu di luar sampai mereka keluar?
Tapi… sampai kapan?
Aku mendesah panjang. Ini adalah dilema yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Di satu sisi, aku ingin masuk dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi di sisi lain, aku tidak mau terlihat seperti seseorang yang terlalu peduli.
Jadi, aku hanya berdiri di sana, menatap pintu apartemen dengan ekspresi frustrasi.
Hawa dingin mulai menusuk kulitku. Aku melirik jam. Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri di sini.
Astaga, mereka ini sedang apa di dalam?
Aku menimbang-nimbang opsi yang kumiliki. Tapi sebelum aku bisa memutuskan, suara seseorang terdengar di belakangku.
“Shopia?”
Aku hampir melompat saking terkejutnya.
Aku berbalik dan mendapati Daren berdiri di sana, menatapku dengan bingung.
“Kenapa kau berdiri di sini? Apa kau tidak kedinginan?” tanyanya dengan ekspresi curiga.
Aku tergagap, mencari alasan yang masuk akal. “Aku… hanya menikmati udara segar.”
Daren menatapku dari atas ke bawah, seolah menilai ucapanku. “Menikmati udara segar di depan apartemen Ethan?”
Aku tertawa kaku. “Haha… Kenapa kemari? Apa kau mencari Ethan?”
Daren mengangkat kantong kertas di tangannya. “Ya. Aku membawa sampel yang Ethan minta. Sekalian mau mampir. Boleh kan?"
Aku buru-buru menggeleng. “T-tidak. Eh..tentu saja boleh. Kau kan memang biasa datang ke sini.”
"Kalau begitu, kenapa nggak masuk ke dalam?"
"Kunci rumahku ketinggalan. Iya...hehe," tawaku terlihat aneh.
Alis Daren terangkat, jelas tidak percaya. Ia menghela napas kecil, lalu tanpa ragu melangkah menuju pintu apartemen Ethan, bersiap mengetuk. Panik, aku segera meraih lengannya.
“Jangan!” seruku spontan.
Daren menoleh dengan ekspresi bingung. “Kenapa?”
Aku menggigit bibir, berusaha mencari alasan yang masuk akal. “Ethan sedang kedatangan tamu,” jawabku cepat.
Daren memiringkan kepalanya, kini semakin tertarik. “Tamu? Siapa?”
Aku mengangkat bahu dengan pura-pura acuh. “Aku juga tidak tahu.”
Daren menatapku lama, seolah membaca pikiranku. Lalu, dengan nada santai yang jelas penuh jebakan, ia berkata, “Kau tidak tahu, atau tidak mau bilang?”
Aku menegang. “Tentu saja aku tidak tahu.”
Daren menyilangkan tangan di dadanya, sudut bibirnya mulai tertarik ke atas. “Kalau begitu, kau tidak keberatan kalau aku mengetuk, kan?”
Aku langsung melotot. “Daren!”
Senyumnya makin melebar. “Kenapa? Bukannya kau tidak peduli?”
Aku mengerjapkan mata, terjebak. “Aku… ya, memang tidak peduli! Hanya saja… kau tahu… Ethan mungkin sedang sibuk.”
Daren terkekeh. “Sibuk dengan apa?”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ugh, kenapa Daren harus banyak bertanya?
“Apa Ethan sedang bersama seseorang?” pancingnya lebih lanjut.
Aku mengalihkan pandangan, pura-pura tertarik dengan tanaman hias di sudut lorong. “Mungkin.”
“Mungkin?”
Aku mengembuskan napas panjang, akhirnya menyerah. “Baiklah! Ethan membawa masuk seorang wanita cantik!”
Daren terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Oh? Jadi itu alasan kau berdiri di sini seperti orang tersesat?”
Aku langsung mendelik. “Aku tidak tersesat! Aku hanya… ya, aku hanya—”
“Sibuk menikmati udara segar, kan?” potong Daren, mengulang kata-kataku tadi dengan nada mengejek.
Aku mendesah frustrasi. “Kau menyebalkan.”
Daren hanya tertawa, jelas menikmati reaksiku. “Ini menarik. Aku tidak tahu kau punya hobi mengawasi Ethan.”
Aku mendelik lebih tajam. “Aku tidak mengawasinya!”
Daren mengangguk dramatis. “Tentu, tentu. Kebetulan kau mau masuk rumah, lalu kebetulan melihatnya bersama wanita cantik, kemudian kebetulan berdiri di sini sambil mencegahku mengetuk pintu.”
Aku mendengus, lalu bersedekap. “Apa kau akan diam atau aku harus mencari cara lain untuk membungkam mulutmu?”
Daren mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Tenang, aku tidak akan mengatakan apa pun pada Ethan.” Ia menyeringai. “Tapi ini terlalu seru untuk dilewatkan.”
Aku mengerang dalam hati. Sial, kenapa Daren harus muncul di saat seperti ini?
Daren lalu melirik pintu apartemen Ethan, lalu kembali padaku dengan tatapan penuh arti. “Ah… mengerti.”
Aku langsung mengerutkan dahi. “Mengerti apa?”
Daren tersenyum misterius. “Tidak apa-apa. Kalau kau butuh saran, mungkin lebih baik kau masuk saja daripada membeku di luar.”
Aku melotot padanya. “Aku bukan sedang menunggu seseorang, oke?”
Daren mengangkat bahu ringan. “Tentu, tentu.”
Aku mendengus kesal. Kenapa semua orang seolah menganggap aku ini punya urusan khusus dengan Ethan?
Tapi sebelum aku bisa menanggapi, pintu apartemen Ethan tiba-tiba terbuka.
Aku langsung kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh ke dalam jika saja tidak ada seseorang yang menangkap lenganku.
Aku menengadah dan bertemu dengan tatapan tajam Ethan.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, suaranya terdengar datar tapi matanya menyelidik.
Aku berkedip beberapa kali, mencoba mencari jawaban yang masuk akal.
“Aku… sedang meregangkan badan?”
Ethan menatapku tanpa ekspresi, jelas tidak percaya. Dan Daren, aku bisa mendengar tawa kecilnya padaku.
Di belakangnya, wanita cantik itu menatap kami bergantian, lalu tersenyum kecil. “Oh, ini teman serumahmu, Ethan?”
Aku hampir tersedak udara.
Teman serumah?!
Ethan menghela napas panjang. “Bisa dibilang begitu.”
Aku langsung merasa ada yang tidak beres.
Tunggu, bisa dibilang begitu?
Apa maksudnya itu?!
Sementara aku masih sibuk mencerna kata-kata Ethan, wanita itu tersenyum padaku. “Aku Mina. Senang bertemu denganmu...lagi.”
Aku membalas senyumnya kaku. “Shopia…”
Mina mengangguk, lalu menatap Ethan. “Aku akan pergi dulu. Terima kasih untuk hari ini.”
Ethan mengangguk. “Hati-hati.”
Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
Daren yang sejak tadi menonton drama ini, berdeham pelan. “Jadi… ada yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku dan Ethan sama-sama meliriknya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, kami sepakat untuk mengabaikannya.