Polisi yang menangani kasus pelecehan akhirnya kembali setelah menyelesaikan pemeriksaan di tempat kejadian. Salah satu petugas, pria paruh baya dengan perawakan tegap, menatap Ethan dengan penuh apresiasi.
“Kerja bagus. Anda tahu cara menangani situasi tanpa berlebihan,” kata petugas itu dengan nada penuh pengakuan.
Ethan hanya mengangguk kecil, ekspresinya tetap tenang seakan pujian itu bukan hal yang baru baginya. Di sisi lain, aku yang berdiri tidak jauh darinya hanya bisa mendengus dalam hati. Kenapa semua orang begitu terpesona dengan pria ini?
Saat polisi pergi, Ethan melirikku dari sudut matanya. Tatapannya seakan menembus semua kepura-puraan yang coba aku pasang.
“Tadi kau bilang aku psikopat?” tanyanya santai.
Aku tersentak, tapi dengan cepat memasang wajah tanpa dosa. “Siapa? Aku? Tidak, kau pasti salah dengar.”
Alih-alih puas dengan jawaban itu, Ethan justru tersenyum samar. Ia sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke telingaku sebelum berbisik, “Sayang sekali, aku mendengarnya dengan jelas.”
Sentuhan suara rendahnya di dekat telinga membuatku merinding. Refleks, aku mendorong d**a Ethan dengan telapak tanganku, membuat pria itu mundur selangkah dengan ekspresi datarnya yang tak berubah.
“Jangan tiba-tiba mendekat seperti itu, dasar menyebalkan!” sergahku dengan wajah yang kini terasa panas.
Daren yang sejak tadi mengamati interaksi kami dengan penuh hiburan akhirnya menyela dengan tawa kecil. “Sudah malam. Kalian mau pulang bareng?”
Aku ingin menolak mentah-mentah ajakan itu, tapi kemudian aku melirik jam tanganku. Memang sudah cukup larut, dan aku tak ingin berjalan sendirian di kota yang mulai sepi.
Ethan tak mengatakan apa pun, hanya berdiri menunggu dengan ekspresi datarnya.
Aku menghela napas, menyerah pada keadaan. “Baiklah. Tapi jangan anggap ini aku ingin jalan denganmu,” kataku ketus.
Ethan hanya mengangkat bahu tanpa ekspresi. “Tentu saja tidak. Aku yang ditakdirkan untuk melindungi penggemarku.”
Aku hampir ingin melempar sesuatu ke arahnya.
**
Kendaraan di jalanan mulai berkurang, menyisakan lampu kota yang berpendar samar di malam yang semakin larut. Udara dingin membelai kulit, membuatku sedikit merapatkan jaketku. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami sampai di persimpangan tempat Daren harus berpisah arah dengan kami.
“Aku belok ke sini,” kata Daren, melambaikan tangan dengan santai. “Kalian hati-hati di jalan, ya.”
Aku hanya mengangguk, sementara Ethan sekadar mengangkat dagu kecil sebagai tanda perpisahan. Setelah Daren menghilang di antara gedung-gedung kota, suasana tiba-tiba menjadi lebih sunyi.
Kami berjalan berdampingan, tapi dengan jarak yang cukup jauh seolah tak ingin terlihat akrab. Aku mengalihkan perhatian ke trotoar yang sedikit basah, bekas hujan sore tadi. Namun, keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara yang sangat memalukan.
Grok… grok…
Aku terdiam.
Ethan pun ikut terdiam.
Namun, alih-alih berusaha pura-pura tidak mendengar, pria itu justru menghela napas panjang lalu menoleh ke arahku dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
“Kau lapar?” tanyanya dengan nada yang jelas mengandung tawa yang ia tahan.
Aku langsung mendelik ke arahnya. “T-tidak!” bantahku dengan cepat, meskipun perutku jelas-jelas membantah dengan suara kelaparan lainnya.
Ethan akhirnya tertawa kecil. “Jangan terlalu keras menyangkal sesuatu yang sudah jelas.”
Aku mengerucutkan bibirku. “Aku bisa makan di rumah,” gumamku pelan.
“Tapi aku tidak mau repot memasak larut malam.”
Aku meliriknya curiga. “Siapa yang menyuruhmu memasak untukku?”
Ethan mengangkat bahu ringan. “Kau tinggal di tempatku. Kalau aku memasak, aku yakin kau akan datang ke dapur dan makan juga.”
Aku ingin membantah, tapi fakta bahwa aku memang sering begitu membuatku memilih diam.
Ethan lalu berhenti di depan sebuah kios makanan pinggir jalan yang tampak cukup ramai. Aromanya langsung menggoda hidungku, dan tanpa sadar aku menelan ludah.
“Ayo, kita makan di sini,” ajak Ethan sambil berjalan menuju kios.
Aku, yang sebenarnya sudah sangat lapar, akhirnya mengikuti tanpa protes. Kami memesan makanan, lalu duduk di meja kecil di pinggir jalan.
Saat makanan tiba, kami mulai makan dalam diam. Suasana di antara kami terlalu tenang, hanya diiringi suara kendaraan yang lewat dan obrolan pelanggan lain di sekitar.
Ethan akhirnya memecah keheningan. “Ini enak.”
Aku mengangguk pelan, mengunyah makananku sambil menatap piringku. “Ya, lumayan…” kataku tanpa pikir panjang. Namun, tiba-tiba aku menambahkan sesuatu yang seharusnya tidak keluar dari mulutku. “Tapi masakanmu lebih enak.”
Begitu kalimat itu meluncur, aku langsung membeku.
Ethan menatapku dengan ekspresi terkejut yang samar, seolah tidak menyangka akan mendengar pujian darinya.
Aku tersentak. Astaga, apa yang baru saja kukatakan?!
Refleks, aku berdeham keras dan mencoba mengoreksi ucapanku. “M-maksudku… yah, kau tahu, ini terlalu banyak minyak! Dan sausnya terlalu manis! Itu saja!”
Ethan tidak berkata apa-apa. Namun, tatapan tenangnya yang seolah mengatakan “aku tahu kau memujiku tadi” membuat wajahku terasa panas.
Tanpa berpikir panjang, aku mulai menyuap makananku dengan cepat, berharap bisa mengalihkan perhatian. Tapi karena terlalu terburu-buru, aku justru tersedak.
“Ukh!”
Aku langsung memegang tenggorokanku, mataku berair.
Ethan yang menyaksikan hal itu hanya menghela napas sebelum bangkit dari kursinya. “Tunggu di sini, aku beli air.”
Aku hanya bisa mengangguk panik, masih berusaha menelan makananku dengan susah payah.
Saat Ethan pergi, aku menunduk sambil memijat dadaku, mencoba menenangkan diriku sendiri. Namun, tiba-tiba aku menangkap suara bisik-bisik dari meja sebelah.
Suara yang sangat familiar.
“Dia pasti pencemburu ulung,” gumam salah satu dari dua wanita yang tadi berada di kerumunan saat Ethan berkelahi.
“Ya ampun, benar sekali. Lihat saja, dia tadi berusaha menjelek-jelekkan pria itu. Pasti sengaja cari alasan supaya pria itu terlihat buruk,” sahut temannya.
Aku yang masih sedikit batuk mendadak membeku.
Mereka sedang membicarakannya.
Aku mengangkat wajahku sedikit, melirik ke arah dua wanita itu yang duduk tak jauh dariku. Mereka memang tidak berbicara langsung padaku, tapi jelas sekali mereka sengaja mengatakannya cukup keras agar aku mendengar.
Seolah menyadari aku mulai mendengarkan, salah satu dari mereka menyeringai kecil dan melanjutkan, “Padahal jelas-jelas mereka punya hubungan, tapi dia pura-pura cuek. Hah, dasar cewek aneh.”
Aku langsung merasa wajahku memanas.
Bukan karena malu karena merasa bersalah, tapi karena aku benar-benar tidak tahu harus merespons apa.
Apa-apaan ini?! pikirku panik. Sejak kapan aku punya hubungan dengan Ethan?!
Aku ingin membantah dan mengatakan bahwa mereka salah paham, tapi membayangkan diriku berdebat dengan dua orang asing tentang hubunganku dengan Ethan justru terdengar semakin memalukan.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengabaikan mereka dan kembali fokus pada makananku. Namun, telingaku masih bisa menangkap bisikan mereka yang terus membahasnya.
Saat Ethan kembali dengan sebotol air mineral, ia langsung menaruhnya di depan aku. “Minum.”
Aku langsung menyambar botol itu dan meminumnya cepat-cepat. Bukan hanya karena tenggorokanku masih terasa seret, tetapi juga sebagai alasan agar tidak perlu menanggapi bisikan menyebalkan di belakangku.
Ethan, yang menyadari ekspresiku sedikit berubah, menatapku dengan alis terangkat. “Kau kenapa?”
Aku buru-buru menggeleng. “Tidak apa-apa!” sahutku cepat.
Ethan masih menatapku dengan penuh selidik, tapi akhirnya memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia kembali duduk dan mulai menghabiskan makanannya dengan tenang.
Namun, beberapa detik setelah itu, aku mendengar suara tawa ringan dari meja sebelah. Kedua wanita yang tadi membicarakan kami kini dengan terang-terangan menatap Ethan dengan pandangan menggebu-gebu.
“Maaf, kita boleh tanya sesuatu?” salah satu dari mereka bertanya dengan senyum cerah, matanya berbinar saat beralih ke Ethan.
Ethan menoleh, menyuguhkan senyum tipis yang khas. “Tentu, ada yang bisa ku bantu?”
Wanita itu tidak bisa menahan tawa kecil. “Aku cuma mau tanya, apakah bisa punya nomor teleponmu? Atau… mungkin i********:?”
Aku yang mendengarnya langsung merasa pipiku memanas. Oh tidak… Benarkah mereka sedang meminta nomor atau sosial media Ethan di depanku?!
Sementara Ethan tersenyum santai, aku hanya bisa menunduk, menekuri piringku, berusaha mengabaikan situasi yang tak nyaman ini. Dalam hati, aku mengomel, Dasar, ini semua gara-gara aku kenal dia!
Wanita itu tampaknya tidak keberatan sedikit pun dengan keberadaanku. Bahkan temannya ikut menambahkan, “Ya, atau kalau kau merasa lebih nyaman, kita bisa bertukar i********:! Aku yakin banyak yang ingin tahu tentangmu.”
Ethan hanya tertawa kecil, merespon mereka dengan sikap yang sopan, meski tatapannya tetap ringan dan santai. Setelah beberapa saat berbicara, mereka akhirnya berpamitan dan pergi setelah mendapatkan informasi yang mereka inginkan.
Begitu kedua wanita itu pergi, Ethan kembali ke arahku. Ia duduk dengan ekspresi yang sedikit menggoda, seakan ingin mengejek.
“Kenapa raut wajahmu seperti itu? Apa kau juga butuh nama Instagramku?” katanya sambil menyeringai nakal, seolah menikmati perasaan tidak nyaman yang mungkin sedang aku rasakan.
"Yang benar saja!" omelku dalam hati. Tapi aku yakin dia bisa melihatnya dari ekspresiku.
Satu hal yang aku sadari malam ini:
Ethan benar-benar magnet perhatian.
Dan sayangnya, aku ikut terseret ke dalam lingkaran itu.