Kerumunan semakin padat. Orang-orang berkumpul, sebagian menonton dengan antusias, sebagian lagi berbisik-bisik, membicarakan dua pria yang kini berdiri di tengah jalan. Tapi bagiku, hanya ada satu sosok yang menarik perhatianku—Ethan.
Aku menatapnya lekat-lekat, nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat.
Dia berdiri tegak, bahunya rileks, wajahnya tetap dingin seperti biasanya. Seakan pertarungan ini bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan. Sementara lawannya—pria bertubuh besar dengan wajah merah padam karena amarah—bernapas tersengal, rahangnya mengatup kuat menahan emosi yang sudah di ambang batas.
“Ayo, pukul aku kalau berani!” bentak pria itu, mengangkat tinjunya tinggi.
Orang-orang di sekitar mulai bersorak, mendorong pertarungan ini semakin panas. Aku bisa mendengar beberapa suara wanita yang terpesona membicarakan Ethan.
“Dia tampan sekali…”
“Lihat caranya berdiri, seperti petarung profesional.”
“Kalau aku jadi pria itu, aku sudah mundur duluan.”
Aku menggigit bibir, tiba-tiba merasa risih mendengar komentar mereka. Tapi, aku harus mengakui, Ethan memang terlihat luar biasa.
Pria di depannya akhirnya melayangkan pukulan. Cepat dan penuh tenaga.
Tapi Ethan hanya menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Hanya sekian sentimeter sebelum pukulan itu bisa mengenainya. Sebuah gerakan kecil yang terlihat mudah, tapi jelas membutuhkan ketenangan dan refleks luar biasa.
Aku menahan napas.
Pria itu tidak berhenti. Dia mencoba menyerang lagi—satu pukulan lurus ke arah rahang Ethan. Namun, lagi-lagi Ethan menghindar dengan gerakan mulus. Kali ini, ia sedikit memutar tubuhnya, membiarkan pukulan itu meleset, lalu menyentuh pergelangan tangan lawannya dan menariknya ke depan.
Aku mendengar suara terengah dari pria itu saat tubuhnya terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan.
Ethan bisa saja menjatuhkannya sekarang, tapi dia hanya melepaskan cengkeramannya dan melangkah mundur. Seakan memberi kesempatan lawannya untuk berpikir ulang sebelum bertindak bodoh lagi.
Pria itu mengumpat. “b******k! Kau pikir kau siapa?”
Ethan tetap diam. Matanya dingin, seolah mengatakan bahwa dia bahkan tidak menganggap pria itu sebagai ancaman.
Dan itu semakin membuat lawannya frustrasi.
Pria itu mencoba menyerang lagi, kali ini dengan tendangan rendah yang diarahkan ke Ethan. Namun, Ethan sudah lebih dulu mengangkat kakinya, menepis tendangan itu dengan bagian bawah sepatunya. Gerakan cepat, tapi tetap elegan.
Tepisan itu cukup kuat untuk membuat pria itu kehilangan keseimbangan sejenak. Dan di saat itulah, Ethan akhirnya menyerang balik.
Dalam satu gerakan cepat, dia maju. Sikunya menghantam d**a pria itu dengan keras, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Tidak cukup untuk menjatuhkannya, tapi cukup untuk membuatnya sadar siapa yang lebih unggul dalam pertarungan ini.
Kerumunan berseru.
Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam dadaku. Ethan… sungguh pria yang sempurna.
Dia bisa memasak, punya toko sendiri, tampan, berkarisma, tenang, dan sekarang, aku tahu dia juga jago berkelahi. Dan itu bukan sekadar pukul sembarang atau hanya mengandalkan kekuatan. Gerakannya terukur, efisien, dan elegan.
Aku menelan ludah saat melihat beberapa wanita di sekitar yang juga terpana. Tatapan mereka penuh kagum, beberapa bahkan terdengar berbisik tentang betapa seksi Ethan saat bertarung.
Aku mengerjap, berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
Kenapa aku harus merasa terganggu dengan itu? Bukankah aku sendiri sering mengatakan betapa menyebalkannya pria ini? Bukankah aku seharusnya tetap membencinya?
Tapi… aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.
Saat ini, aku merasa benar-benar kalah.
Aku selalu menganggap Ethan sebagai pria yang menyebalkan. Tapi kenyataannya, dia adalah seseorang yang… hampir tanpa celah.
Sementara aku? Aku hanyalah seseorang yang tersesat di tengah kota, tidak tahu harus ke mana, dengan masalah yang tak kunjung selesai.
Aku menggigit bibir, tiba-tiba merasa ingin pergi dari sini.
Tapi saat aku berbalik, suara berat Ethan menghentikanku.
“Sudah?”
Aku menoleh kembali ke arah pertarungan.
Ethan masih berdiri dengan santai, tangannya kini terselip di dalam saku celana, seolah dia bahkan tidak peduli dengan pertarungan ini sejak awal. Sementara lawannya berdiri terpaku, jelas-jelas sedang mempertimbangkan apakah dia harus menyerang lagi atau pergi dengan sisa harga dirinya.
Tapi, dalam pertarungan semacam ini, kadang-kadang ego lebih besar dari logika.
Pria itu kembali menyerang, kali ini dengan pukulan dari arah samping. Sebuah serangan yang ceroboh, penuh amarah, tanpa perhitungan.
Dan dalam sekejap, Ethan menangkap pergelangan tangannya, lalu memutar tubuh pria itu dengan cekatan.
Bam!
Pria itu jatuh ke tanah, meringis kesakitan. Kerumunan kembali berseru, beberapa orang mulai tertawa kecil, sementara yang lain hanya menggelengkan kepala.
Ethan membungkuk sedikit, menatap lawannya yang kini terkapar di trotoar. “Kau sudah selesai?”
Tidak ada jawaban.
Pria itu akhirnya merangkak bangun, wajahnya merah karena malu. Tanpa mengatakan apa pun, dia berbalik dan pergi, meninggalkan kerumunan yang masih berbisik-bisik di belakangnya.
Aku menghela napas panjang, seolah baru sadar kalau sejak tadi aku menahan udara di dadaku.
Suara sirene polisi memecah sorak-sorai penonton, dan beberapa petugas berseragam datang bergegas. Kerumunan mulai bubar perlahan, beberapa orang memilih untuk menjauh, sementara yang lain masih penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tetap berdiri di tempatku, memperhatikan bagaimana para petugas mendekati Ethan dan pria yang baru saja dipermalukan olehnya.
“Ada apa di sini?” salah satu petugas bertanya, matanya menyapu situasi dengan waspada.
Sebelum Ethan atau pria itu sempat menjawab, suara seorang wanita melengking di antara kerumunan.
“Petugas! Orang itu—pria berbaju hitam—dia telah melecehkan saya!”
Semua mata langsung tertuju pada seorang wanita muda yang berdiri tidak jauh dari tempat pria tadi terjatuh. Wajahnya merah karena marah dan matanya berkilat penuh emosi.
Pria itu terbelalak. “Apa? Kau bicara apa, dasar pembohong!”
“Jangan pura-pura bodoh!” wanita itu membalas. “Kau tahu persis apa yang kau lakukan tadi!”
Polisi segera mengalihkan perhatian mereka ke pria itu, sementara wanita tadi bergegas mendekat ke arah Ethan.
“Dia mencoba menyentuhku dengan paksa,” katanya dengan suara bergetar. “Aku sudah menolaknya, tapi dia tetap memaksa. Kalau bukan karena pria ini”—wanita itu menoleh ke Ethan dengan penuh rasa terima kasih—“aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Aku melihat ekspresi Ethan tetap tenang seperti biasa. Dia tidak menunjukkan kebanggaan atau kemarahan.
Polisi segera menangkap pria itu, meskipun dia masih berusaha membela diri. “Aku tidak melakukan apa pun!” teriaknya. “Wanita ini hanya mencari perhatian!”
Wanita itu semakin marah, dan polisi memutuskan untuk membawa keduanya ke kantor untuk dimintai keterangan. Salah satu petugas menoleh ke Ethan. “Anda juga bisa ikut sebagai saksi, Tuan?”
Ethan mengangguk tanpa banyak bicara.
Sementara itu, aku masih berdiri di tengah barisan wanita-wanita yang sejak tadi terpana melihat Ethan.
“Oh Tuhan, dia benar-benar pria idaman.”
“Lihat caranya berdiri. Penuh kharisma.”
“Aku yakin dia pasti hebat di segala hal.”
Aku mendengus kecil dan memutar bola mata dengan jengah.
Seketika, entah kenapa aku merasa perlu menghancurkan fantasi dua wanita yang berdiri di dekatku ini. Jadi, aku bergumam cukup keras agar mereka mendengar, “Dia itu psikopat, tahu? Tampangnya memang tenang, tapi sebenarnya dia kejam.”
Mereka langsung menoleh padaku, menatap dengan ekspresi penuh kebingungan. Seakan aku baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil.
Aku pura-pura acuh, tetapi dalam hati aku sedikit puas melihat reaksi mereka.
Namun, sebelum aku bisa pergi dari situ, aku mendengar suara yang familiar.
“Wow, Ethan! Itu tadi luar biasa, bro!”
Daren.
Aku berbalik sedikit dan mendapati Daren berdiri di belakang kerumunan, wajahnya penuh semangat. Dia tampak begitu kagum melihat Ethan bertarung.
Aku kembali menghela napas. Tentu saja Daren juga terpukau.
Dan saat aku melirik ke arah Ethan, aku sadar dia sedang menatap ke arahku.
Bukan ke Daren, bukan ke para wanita yang memujanya, tapi langsung ke arahku.
Beberapa wanita di sekitar langsung berbisik heboh.
“Aku rasa dia melihat ke arah kita!”
“Astaga, matanya begitu tajam!”
Aku langsung panik dan berusaha berbalik pergi.
Tapi belum sempat aku melangkah, suara Daren kembali terdengar, “Eh, Shopia? Kau juga di sini?”
Aku membeku di tempat.
Perlahan, aku bisa merasakan tatapan orang-orang berpindah ke arahku.
Sial.
Aku buru-buru menutup wajahku dengan tangan, berharap bisa menghilang begitu saja dari situasi ini.