Udara dingin menusuk tulang saat aku berdiri di depan kantor polisi. Langit mendung menggantung rendah, seakan mencerminkan beratnya beban yang kupikul saat ini. Dalam genggamanku, sebuah map berisi dokumen yang telah kususun rapi—kontrak, bukti transfer, serta tangkapan layar percakapan dengan seseorang yang kini terasa seperti hantu: Daniel Carter.
Aku menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri sebelum melangkah masuk ke dalam gedung. Ruangan itu memiliki aroma khas—campuran kopi basi dan kertas dokumen yang sudah bertahun-tahun tersimpan. Beberapa orang duduk di bangku tunggu, sebagian besar terlihat letih dan gelisah. Aku melangkah menuju resepsionis, seorang pria bertubuh besar dengan ekspresi datar.
“Ada yang bisa saya bantu, Miss?” tanyanya tanpa menoleh dari layar komputer.
“Aku ingin melaporkan kasus penipuan properti,” ujarku, berusaha tetap tenang meskipun hatiku berdebar keras.
Pria itu akhirnya menatapku, mengamati sejenak sebelum mengangguk. “Anda bisa ke Unit Kejahatan Finansial. Meja ketiga di sebelah kanan.”
Aku mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju tempat yang dimaksud. Di sana, seorang wanita berkulit hitam dengan rambut hitam pendek bergelombang tengah sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Namanya tertulis di papan meja: Selena Harris.
Selena mendongak begitu melihatku datang. Ia tersenyum ramah, membuatku sedikit lebih tenang. “Silakan duduk. Apa yang bisa saya bantu?”
Aku menarik kursi di depannya dan meletakkan map dokumen di atas meja. Tanganku sedikit gemetar saat membukanya. “Aku ingin melaporkan penipuan properti,” ujarku, menatapnya dengan harapan yang nyaris putus.
Selena mengangguk dan mengambil buku catatan. “Baik, bisa dijelaskan lebih detail?”
Aku menelan ludah sebelum mulai berbicara. “Beberapa bulan lalu, aku membeli properti dari seorang pria bernama Daniel Carter. Dia menawarkan sebuah apartemen dengan harga yang masuk akal, dokumen-dokumennya terlihat resmi, dan semua komunikasi kami berjalan lancar. Aku sudah membayar sebagian besar harga properti itu melalui transfer bank, tapi beberapa minggu terakhir, dia menghilang begitu saja. Kontaknya tidak bisa dihubungi, dan ketika aku mengecek ke badan properti resmi, apartemen itu ternyata tidak pernah terdaftar atas namanya.”
Selena mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat sesuatu. “Jadi, Anda mengatakan bahwa Daniel Carter menjual properti yang bukan miliknya dan mengambil uang Anda?”
“Ya.” Aku mengangguk, berusaha menahan emosi yang mulai membuncah. “Dan aku bukan satu-satunya korban. Aku menemukan beberapa orang yang mengalami hal serupa di forum online. Mereka juga menyebut nama Daniel Carter, tapi deskripsinya berbeda-beda. Seolah-olah dia menggunakan identitas palsu.”
Selena mendesah pelan, lalu mulai mengetik di komputernya. Aku menunggunya dalam diam, berusaha mencari petunjuk dari ekspresinya.
Setelah beberapa menit, ia membalik layar komputernya ke arahku. Di sana, beberapa berkas digital dengan nama Daniel Carter muncul, masing-masing memiliki sedikit perbedaan dalam ejaan atau nama tengah.
“Anda benar,” kata Selena sambil menunjuk layar. “Daniel Carter bukan nama asli. Dia sudah menjadi subjek investigasi kami selama beberapa tahun terakhir. Metodenya selalu sama: menjual properti fiktif atau mencuri identitas orang lain untuk mendapatkan uang dari pembeli yang tidak curiga. Kami sudah berusaha melacaknya, tapi dia sangat lihai dalam bersembunyi dan memalsukan dokumen. Dia menggunakan banyak alias dan sering berpindah tempat.”
Dadaku serasa dihantam batu. Aku menatap layar itu dengan tatapan kosong. “Jadi… ini berarti aku tidak akan bisa mendapatkan uangku kembali?”
Selena menutup dokumen di layarnya dan menatapku dengan ekspresi penuh pengertian. “Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti sekarang. Kami bisa mulai menyelidiki transaksi Anda, melacak rekening bank yang digunakan, dan mencari pola yang bisa membantu kami menangkapnya. Tapi untuk mengembalikan uang Anda? Itu tergantung pada banyak faktor, terutama apakah kami bisa menemukan Daniel Carter sebelum dia menghilang lagi.”
Aku mengusap wajah dengan frustasi. “Berarti ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun?”
Selena terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Kemungkinan besar, ya. Saya harus jujur kepada Anda—ini bukan kasus yang bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Saya bisa menjanjikan bahwa kami akan melakukan yang terbaik untuk menangkapnya, tapi saya tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selesai dalam waktu tiga bulan ke depan.”
Aku mengalihkan pandangan, mencoba menahan rasa kecewa yang tiba-tiba menghantamku. Sejujurnya, aku sudah menduga ini tidak akan mudah, tapi mendengar langsung bahwa pria itu masih berkeliaran bebas, sementara aku kehilangan uang dalam jumlah besar, rasanya sulit diterima.
“Tapi,” lanjut Selena, suaranya lebih lembut. “Anda sudah melakukan langkah yang benar dengan melapor. Semakin banyak informasi yang kami dapatkan, semakin besar kemungkinan kami bisa menemukan celah untuk menangkapnya. Jika Anda memiliki informasi lain, sekecil apa pun, silakan hubungi saya.”
Aku mengangguk lemah. “Baik. Terima kasih.”
Selena mengambil kartunya dan menyodorkannya padaku. “Ini kontak saya. Jika ada yang mencurigakan atau jika Anda mendengar sesuatu tentang Daniel Carter, segera beri tahu saya.”
Aku mengambil kartu itu dan menggenggamnya erat. “Aku akan menghubungi Anda jika menemukan sesuatu.”
Aku bangkit dari kursi dengan perasaan campur aduk—sedikit lega karena kasus ini setidaknya diperhatikan, tapi juga diliputi keputusasaan karena tidak ada jaminan penyelesaiannya. Saat aku berjalan keluar dari kantor polisi, udara dingin kembali menyambutku.
Aku menatap langit yang semakin mendung. Aku tidak bisa hanya duduk dan menunggu. Jika polisi membutuhkan waktu lama untuk menangkapnya, mungkin aku harus mencari cara lain.
Daniel Carter, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja.
**
Udara malam terasa menusuk, lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku melangkah tanpa tujuan di sepanjang trotoar kota, membiarkan pikiranku mengembara ke mana pun ia ingin pergi. Langkahku terasa ringan, tapi hatiku berat.
Laporan polisi tadi tak banyak membantuku. Hanya janji samar yang menggantung tanpa kepastian. Aku tahu Selena berusaha membantu, tapi kalimatnya terus terngiang di kepalaku—bahwa kasus ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Aku tidak punya waktu sebanyak itu.
Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Pulang ke apartemen? Tidak mungkin. Aku tidak ingin menghadapi Ethan malam ini, dengan tatapan tajamnya yang selalu seolah bisa membaca pikiranku. Dia tidak akan bertanya langsung, tapi aku tahu dia akan mengamatiku, menunggu aku mengatakan sesuatu. Dan aku tidak ingin membahas hal ini.
Tapi aku juga tidak bisa pulang ke rumah. Rumah? Ah, kata itu sudah kehilangan maknanya sejak lama. Tempat yang dulu terasa hangat kini hanya bangunan kosong dengan dinding yang terasa semakin asing setiap kali aku menginjakkan kaki di dalamnya.
Tanpa sadar, aku terus berjalan, membiarkan lampu-lampu kota membimbing langkahku. Malam ini begitu ramai—orang-orang berkumpul di restoran dan kafe, tertawa, mengobrol, menikmati kebersamaan yang terasa begitu jauh dari kehidupanku sekarang.
Saat melewati sebuah kafe kecil di sudut jalan, langkahku melambat. Di balik jendela kaca yang besar, aku melihat sebuah keluarga kecil tengah menikmati makan malam mereka. Seorang pria dan wanita, mungkin seumuran dengan orang tuaku dulu, duduk berhadapan dengan seorang gadis kecil berambut pirang yang sedang tertawa bahagia sambil mengayunkan kakinya di kursi.
Aku berdiri di sana, terdiam.
Ingatan itu datang begitu saja, seperti ombak yang tiba-tiba menghantam karang. Masa kecilku. Tawa ibu yang lembut, tangan ayah yang selalu terasa hangat saat mengusap kepalaku, suara denting sendok dan garpu di meja makan, dan kebiasaan kecil kami menghabiskan waktu bersama setelah makan malam.
Aku dulu punya itu. Kehangatan itu.
Sebuah senyuman kecil sempat muncul di bibirku, tapi hanya bertahan sekejap. Kenangan itu berubah, wajah-wajah yang dulu penuh cinta kini memudar, tergantikan oleh bayangan yang lebih kelam. Kehangatan itu hilang sejak Miranda masuk ke dalam hidup kami.
Perlahan, aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku. Aku menyentuh wajahku dengan ujung jari—air mata. Entah sejak kapan aku mulai menangis.
Aku menunduk, berusaha mengendalikan diri, tapi semakin keras aku mencoba menahan, semakin deras air mataku mengalir. Aku merindukan masa lalu. Aku merindukan keluargaku yang dulu. Tapi semuanya telah berubah.
Aku menatap kembali keluarga kecil di dalam kafe. Mereka masih tertawa, tidak menyadari keberadaanku yang berdiri di luar, menonton mereka dari balik kaca.
Aku menghapus air mataku dengan tergesa, menegakkan bahu seolah itu bisa menahan sesak di dadaku. Aku harus terus berjalan. Masa lalu tak bisa diubah, dan aku tidak bisa terus meratapinya.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan kafe, telingaku menangkap suara gaduh dari arah jalan seberang. Beberapa orang mulai berkumpul di pinggir trotoar, membentuk lingkaran di sekitar sesuatu—atau seseorang.
Aku mempercepat langkah, didorong oleh rasa ingin tahu dan firasat buruk yang tiba-tiba muncul. Begitu aku cukup dekat untuk melihat apa yang terjadi, jantungku seakan berhenti berdetak.
Di tengah kerumunan, Ethan berdiri tegak, ekspresi dinginnya tak tergoyahkan meskipun pria di depannya jelas-jelas tengah berapi-api. Laki-laki itu bertubuh besar, dengan wajah merah padam penuh amarah. Tinju kanannya terangkat, siap menghantam Ethan kapan saja.
Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik, beberapa menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku membeku di tempat.
Apa yang sedang terjadi di sini? Dan kenapa Ethan ada di sini?