Tanggal itu tertulis dengan spidol merah di kalender pintu kulkas. Bukan oleh Rumi. Bukan oleh Jalen. Sela sendiri yang menuliskannya, pada hari Rumi menempelkan kalender itu. Tanggalnya ia hitung dari malam Jalen menandatangani berkas di apartemen ini dengan pena miliknya.
Hari terakhir.
Sela memandangi lingkaran merah itu pagi ini sambil menunggu air mendidih. Jalen sudah berangkat ke kampus satu jam lalu. Ia meninggalkan sepiring roti bakar dan secangkir susu di meja makan, seperti biasa. Tablet penambah darah di piring kecil. Sudah tidak perlu lagi sebenarnya. Kata dokter dua minggu lalu, kadar hemoglobin Sela sudah normal. Tapi Jalen tetap meletakkannya di sana.
Sela meminumnya tanpa protes.
Seharian di kantor, ia tidak bisa berkonsentrasi. Rumi sampai tiga kali bertanya apakah ia sakit. Cristal, yang kini sudah mengajukan pengunduran diri dari program trainee dan tinggal dua minggu lagi di AMARA, mampir ke ruang GM dan langsung menyipitkan mata.
“Kakak kenapa? Mukanya kayak orang mau sidang skripsi.”
“Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Sela menghela napas. Kenapa semua orang di sekitarnya kini tahu kapan ia berbohong?
“Hari ini kontraknya selesai,” jawab Sela akhirnya.
Cristal mengerjap. Lalu ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan kakaknya.
“Terus Kakak mau ngapain?”
Sela tidak menjawab. Di laci mejanya ada sebuah map. Di dalam map itu ada dua lembar kertas. Salinan kontrak enam bulan yang dulu ia susun sendiri. Dan selembar surat penutupan yang ia ketik semalam, kalimatnya rapi dan dingin seperti semua dokumen yang pernah ia buat.
Kesepakatan berakhir. Para pihak tidak memiliki kewajiban lanjutan. Pihak kedua dibebaskan dari segala keterlibatan.
Pihak kedua. Jalen.
“Kak,” Cristal meraih tangannya. “Kakak masih mikir Kak Jalen itu punya aku?”
Sela mengangkat wajah.
“Papa udah minta maaf soal itu. Aku juga udah bilang ke Papa, aku nggak pernah mau dijodohin sama siapa-siapa. Aku bahkan baru ketemu Kak Jalen waktu aku pulang.” Cristal menatapnya serius. Lebih serius dari yang pernah Sela lihat. “Kak Jalen itu bukan pinjaman, Kak. Dia bukan apa-apa yang perlu dikembalikan. Dan Kakak juga bukan.”
Sela memandangi adiknya lama. Lalu ia menarik map itu dari laci dan memasukkannya ke dalam tas.
...
Malam itu Jalen memasak sop. Wortel, kentang, buncis, potongan ayam. Ia bersenandung lagu yang sama seperti biasanya. Lagu yang Sela tidak tahu judulnya, tapi kini sudah hafal nadanya.
Sela duduk di meja makan dengan map di depannya. Ia menunggu sampai Jalen meletakkan dua mangkuk sop panas di atas meja dan menarik kursi di seberangnya.
“Hari ini tanggalnya,” ucap Sela.
Jalen melirik kalender di pintu kulkas. Lalu melirik map di depan Sela. Ia tidak terlihat terkejut sedikit pun.
“Aku tahu.”
Sela membuka map dan menyodorkan dua lembar kertas di dalamnya ke seberang meja. Jalen membaca kontrak lama itu sekilas. Lalu ia membaca surat penutupan. Kalimat demi kalimat. Pelan. Seperti sedang memeriksa tugas mahasiswa.
“Pihak kedua dibebaskan dari segala keterlibatan,” ia membaca keras-keras. Lalu ia mengangkat wajah. “Kamu yang ketik ini?”
“Semalam.”
“Kamu mau aku tanda tangan?”
Sela membuka mulut. Ini bagian yang sudah ia latih sepanjang hari. Ia akan bilang iya. Ia akan bilang kamu bebas sekarang. Ia akan bilang terima kasih untuk enam bulan ini. Ia akan bilang kalau kamu ingin berpisah, saya tidak akan menahan.
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah hal lain.
“Kamu bilang kalau saya sudah tahu, saya harus kasih tahu kamu.”
Jalen meletakkan kertas itu perlahan.
“Saya sudah tahu,” ucap Sela. Suaranya bergetar, tapi ia tidak berhenti. “Saya cemburu waktu di Bogor. Bukan sedikit. Banyak. Saya senang setiap kali lihat mobil kuning itu di lobi jam lima tepat. Saya hafal kamu bersenandung lagu yang sama setiap masak, dan saya nggak tahu judulnya, dan saya nggak mau tanya karena takut kamu berhenti. Saya nggak mau ke Melbourne kalau kamu nggak ikut. Saya nggak mau pergi ke mana pun kalau kamu nggak ada di sana.”
Jalen tidak bergerak. Ia hanya memandanginya.
“Saya sudah minta kamu jangan jatuh cinta sama saya,” lanjut Sela. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Tapi ternyata saya sendiri yang gagal memenuhi syarat saya.”
Hening. Uap sop di antara mereka mengepul perlahan.
Jalen meraih dua lembar kertas itu. Kontrak lama dan surat penutupan. Ia memandanginya sebentar. Lalu ia merobeknya. Menjadi dua. Menjadi empat. Menjadi delapan. Potongan-potongan kecil itu ia letakkan di sebelah mangkuk sopnya.
“Kontrak ini sudah selesai,” ucapnya. “Pernikahan kita nggak pernah ada di kontrak ini. Pernikahan kita ada di depan penghulu, di depan Papa kamu, di depan Allah. Dan itu nggak bisa dirobek.”
Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berjongkok di sebelah kursi Sela. Seperti Bunda Risa dulu, supaya mata mereka sejajar.
“Aku cinta kamu, Mirsela Anata,” ucapnya. “Sejak entah kapan. Mungkin sejak kamu bilang mobil itu Bapak yang punya. Mungkin sejak kamu duduk di warung ketoprak pakai blazer mahal. Mungkin sejak kamu bilang terima kasih yang tulus di lobi. Aku nggak tahu. Aku cuma tahu aku gagal memenuhi syaratmu dan aku sama sekali nggak menyesal.”
Sela tertawa di sela tangisnya. Tawa kecil yang pecah.
“Kita dua-duanya gagal.”
“Hm.” Jalen mengusap air mata di pipi Sela dengan ibu jarinya. “Syarat aku masih berlaku, kan? Jangan bohong sama aku.”
“Masih.”
“Kalau begitu jawab. Kamu cinta aku?”
Sela memandangi pria di depannya. Pria yang mempermasalahkan sepuluh detik. Pria yang meninggalkannya di pinggir jalan, lalu mengembalikan tasnya, lalu menyerahkan kunci mobilnya supaya ia tenang. Pria yang menunggu di lobi sampai jam sembilan malam. Pria yang mengucapkan salam di depan makam ibunya.
“Iya,” jawab Sela. Jujur. Seperti biasa. “Saya cinta kamu.”
Jalen tersenyum. Senyum lebar yang sampai ke matanya. Ia menarik Sela ke dalam pelukannya, dan Sela membiarkan dirinya dipeluk tanpa menghitung apa pun yang harus ia bayar kembali.
Sop di atas meja makin dingin. Tak ada yang peduli.
“Satu lagi,” bisik Jalen di dekat telinganya.
“Apa?”
“Jangan pakai saya lagi kalau ngomong sama aku. Aneh.”
Sela tertawa. “Iya. Aku.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak akad, Jalen tidak kembali ke kamar tamu.
***