Dua hari setelah rapat dewan, hari Sabtu, Aryan memanggil Sela ke rumah. Bukan ke gedung AMARA. Bukan ke ruang kerjanya yang beraroma cendana. Melainkan ke kamar tidurnya di rumah Pasundanu, kamar yang ia tempati sejak keluar dari rumah sakit.
Sela mengetuk pintu dua kali.
“Masuk.”
Aryan duduk di kursi dekat jendela dengan selimut menutupi lututnya. Ia terlihat lebih tua dari dua hari lalu. Lebih kecil. Seolah sesuatu yang selama ini menopang punggungnya tiba-tiba diambil.
“Duduk, Sela.”
Sela duduk di tepi tempat tidur. Mereka diam beberapa saat. Dari luar jendela terdengar suara Agisti dan Cristal yang sedang berdebat soal tanaman di halaman.
“Kau tahu kenapa Opa selalu mengatakan kalimat itu padamu?” tanya Aryan akhirnya. “Apakah ada yang kurang dari kami untukmu.”
Sela tidak menjawab.
“Karena Opa takut.” Aryan memandangi jendela. “Kau mirip sekali dengan ibumu. Keras kepala. Pintar. Tidak pernah meminta apa-apa. Larasati juga begitu. Waktu Opa mengusirnya, dia tidak menangis. Dia tidak memohon. Dia cuma bilang, baik, Pak. Lalu pergi.”
Sela meremas ujung bajunya.
“Opa takut kau akan pergi juga. Seperti dia. Jadi Opa mengikatmu dengan satu-satunya tali yang Opa tahu. Rasa berutang.” Suara Aryan bergetar. “Opa pikir kalau kau merasa berutang, kau tidak akan pergi. Kau akan tetap di sini. Menjaga AMARA. Menjaga keluarga ini. Opa tidak pernah memikirkan berapa mahal harga tali itu untukmu.”
Aryan meraih sesuatu dari laci meja kecil di sebelahnya. Sebuah amplop cokelat yang sudah menguning. Ujung-ujungnya lusuh.
“Ini datang ke kantor Opa seminggu sebelum ibumu meninggal. Opa tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun. Bahkan pada Danu.”
Sela menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Di depannya tertulis nama Aryan Gaung dengan tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan. Tulisan seorang guru.
Ia membuka amplop itu perlahan. Selembar kertas bergaris, dilipat tiga.
Pak Aryan, saya tidak meminta apa-apa untuk diri saya. Saya hanya meminta satu hal untuk Sela. Kalau saya pergi, tolong biarkan dia tumbuh menjadi apa pun yang dia mau. Dia anak yang kuat. Jangan buat dia merasa harus membayar karena dilahirkan. Larasati.
Sela membaca kalimat itu tiga kali. Lalu ia melipat kertas itu kembali dan memeluknya di dadanya.
“Opa tidak menepatinya,” ucap Aryan. Air mata jatuh di pipi keriputnya. “Opa minta maaf, Sela. Opa sangat minta maaf.”
Sela tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya duduk di sana, memeluk satu-satunya surat dari ibunya, dan membiarkan kakeknya menangis.
Lama sekali, sampai akhirnya Sela mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Aryan yang keriput. Ia tidak berkata saya memaafkan Opa. Ia belum bisa. Tapi ia juga tidak melepaskan genggaman itu.
...
Hari Minggu, mobil kuning itu melaju di jalan tol menuju Bandung. Jalen menyetir. Sela duduk di sebelahnya dengan sebuket bunga sedap malam di pangkuan. Pasundanu duduk di jok belakang, diam sepanjang perjalanan.
Pemakaman umum itu terletak di lereng bukit di pinggiran kota. Tidak besar, tidak mewah. Rumput-rumput liar tumbuh di sela nisan. Pasundanu berjalan di depan, langkahnya mantap seperti sudah hafal jalannya. Sela memperhatikan hal itu dan mengernyit.
Makam Larasati berada di bawah pohon kamboja tua. Nisannya bersih. Rumput di sekitarnya terpotong rapi. Ada bekas bunga yang belum terlalu layu di atasnya.
Sela berhenti. “Papa sering ke sini?”
Pasundanu tidak langsung menjawab. Ia berjongkok di sebelah nisan dan mengusap nama yang terukir di sana.
“Setiap tanggal dia meninggal,” jawabnya pelan. “Delapan belas tahun. Papa nggak pernah bilang siapa-siapa. Bahkan Mama kamu. Mama Agisti. Dia pikir Papa ke Bandung untuk urusan kantor.”
Sela tidak bisa berkata apa-apa. Ia selalu mengira ayahnya sudah melupakan Larasati. Ia selalu mengira Pasundanu memilih AMARA dan tidak pernah menoleh ke belakang.
“Papa pengecut, Sela.” Pasundanu tidak mengangkat wajahnya dari nisan. “Papa memilih AMARA karena Papa takut sama Opa. Lalu Papa membawamu ke rumah itu dan membiarkan Opa membentukmu jadi apa yang dia mau. Karena Papa takut lagi. Papa diam setiap kali Opa bilang kalimat itu ke kamu. Papa diam waktu Opa bilang kamu cuma penjaga kursi buat Cristal. Papa bahkan bilang di depan keluarga suamimu bahwa Papa lebih suka Jalen sama Cristal.”
Ia akhirnya mengangkat wajah. Pasundanu Gaung, pria yang ekspresinya tidak pernah bisa ditebak siapa pun, menangis di depan makam istri pertamanya.
“Papa minta maaf. Sama kamu. Sama Larasati. Papa nggak tahu apakah itu cukup.”
Sela berjongkok di sebelah ayahnya. Ia meletakkan buket sedap malam di atas nisan. Bunga kesukaan ibunya. Ia masih ingat aroma itu di rumah kecil mereka di Bandung.
“Belum cukup, Pa,” jawab Sela jujur. “Tapi ini awal.”
Pasundanu mengangguk. Ia mengusap matanya dan berdiri. Ia memandangi Jalen yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
“Papa tunggu di mobil,” ucapnya, lalu berjalan pergi.
Sela tetap berjongkok di depan nisan. Jalen mendekat dan ikut berjongkok di sebelahnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya memandangi nama yang terukir di batu itu.
Larasati. Binti Sudirja. Lahir dan wafat dengan selisih yang terlalu pendek.
“Ma,” bisik Sela. “Ini Jalen. Suami Sela.”
Angin bertiup pelan. Daun kamboja berjatuhan di sekitar mereka.
“Dia menyebalkan, Ma. Dia ngomel kalau Sela telat sepuluh detik. Dia sita laptop Sela tengah malam. Dia masak sarapan setiap hari dan maksa Sela minum obat.” Sela tertawa kecil di sela tangisnya. “Tapi dia nggak pernah bohong sama Sela. Sekali pun.”
Jalen memandangi nisan itu. Lalu ia menunduk sedikit, seperti memberi salam pada seseorang yang dihormati.
“Assalamualaikum, Bu,” ucapnya pelan. “Saya Jalen. Maaf baru datang sekarang.”
Ia diam sebentar.
“Saya akan menjaga Sela. Tapi bukan seperti orang menjaga barang titipan. Saya akan menjaganya supaya dia bisa jadi apa pun yang dia mau.”
Sela menoleh. Ia tidak pernah menceritakan isi surat ibunya pada Jalen. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan Opa.
“Kamu…”
“Hm?”
“Nggak apa-apa.”
Sela kembali memandangi nisan ibunya. Dan untuk pertama kalinya, sejak ia duduk sendirian di koridor rumah sakit delapan belas tahun lalu, ia merasa seseorang datang menjemputnya.
***