Empat bulan kemudian.
Sebuah ruko dua lantai di kawasan Kemang kini memasang papan nama baru di depannya. Huruf-huruf kayu berwarna putih, sederhana dan rapi. Studio Kamboja. Di jendela kaca lantai satu, sketsa-sketsa rumah dan ruangan ditempel berjajar seperti pameran kecil.
Cristal berdiri di depan papan itu dengan tangan di pinggang dan senyum paling lebar yang pernah Sela lihat.
“Gimana, Kak? Bagus, kan?”
“Bagus.”
“Bagus aja? Ayolah, Kak. Puji aku sedikit.”
“Bagus sekali,” ulang Sela. Lalu, setelah jeda, “Kakak bangga sama kamu.”
Cristal langsung menubruknya dengan pelukan. Di belakang mereka, Agisti mengusap matanya untuk kesekian kalinya pagi itu. Pasundanu berdiri di sebelah istrinya, memotret papan nama itu dengan ponselnya dari berbagai sudut seperti seorang ayah yang baru melihat anaknya wisuda.
Nama studio itu Cristal sendiri yang memilih. Ia bilang ia suka bunga kamboja di halaman gallery Lane waktu Sela mengajaknya ke sana. Tapi Sela tahu ada alasan lain. Cristal pernah ikut ke Bandung sebulan lalu, berdiri di bawah pohon kamboja tua di sebelah makam Larasati, dan meletakkan bunga sedap malam di atas nisan yang bukan nisan ibunya sendiri.
“Biar Tante Laras tahu aku juga ada,” katanya waktu itu.
...
Banyak hal berubah dalam empat bulan.
Aryan resmi mundur dari kursi Komisaris Utama AMARA. Pasundanu menggantikannya. Pada hari serah terima, Aryan berdiri di depan dewan dan mengatakan bahwa ia akhirnya akan mewujudkan impian lamanya. Sebuah perguruan tinggi kecil di pinggiran Bogor. Ia sudah menemukan lahannya. Dan ia sudah menemukan orang yang ingin ia ajak menyusun kurikulumnya.
Jalen menerima tawaran itu dengan satu syarat. Kampus itu harus menerima mahasiswa dari keluarga mana pun, tanpa memandang nama belakang mereka.
Aryan setuju tanpa menawar.
Hubungan Sela dengan kakeknya belum sepenuhnya pulih. Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya. Tapi setiap Minggu pagi, Sela kini mampir ke rumah keluarga Gaung untuk sarapan bersama. Aryan tidak lagi mengucapkan kalimat itu. Ia kini lebih sering bertanya hal-hal kecil. Kamu sudah makan? Kerjaanmu berat? Jalen baik padamu?
Kalimat-kalimat sederhana yang terlambat delapan belas tahun. Tapi Sela mendengarkannya.
Pak Darmawan mengajukan pensiun dini dua bulan setelah rapat evaluasi. Tidak ada yang menahannya.
Dan di lantai dua puluh dua gedung AMARA Group, sebuah ketentuan baru ditempel di papan pengumuman dewan. Pemimpin AMARA dinilai berdasarkan kinerja dan dukungan keluarga pendiri. Tidak ada satu kata pun tentang status pernikahan. Para pegawai perempuan di lantai tiga memotretnya dan mengirimkannya ke grup obrolan mereka dengan emoji tepuk tangan berderet.
Rumi mencetaknya dan menempelnya di dinding pantry. Sela pura-pura tidak melihat.
Lane mengirim sebuket bunga ke ruang GM hari itu, dengan kartu kecil bertuliskan tangan. Selamat, Bu GM. Kamu nggak perlu siapa-siapa buat duduk di kursi itu. Tapi aku senang kamu punya J. Sela menyimpan kartu itu di laci mejanya, di sebelah surat lusuh dari ibunya.
...
Malam Jumat, iPad di sofa apartemen menyala dengan panggilan video.
“Aunty Sela!”
Noah sudah lebih tinggi dari terakhir kali Sela melihatnya. Gigi depannya ompong satu. Ia memamerkannya dengan bangga ke kamera.
“Noah! Giginya ke mana?”
“Dikasih ke peri gigi! Aku dapat koin!”
Elliot muncul di belakang anaknya sambil tertawa. Ia melambai pada Sela, lalu pandangannya bergeser ke sebelah Sela. Ke pria yang duduk di sana dengan lengan melingkar santai di bahu istrinya.
“So this is the famous husband.”
“Jalen,” sapa Jalen dengan anggukan sopan.
“Elliot. Finally.” Elliot menyipitkan mata ke arah kamera dengan raut menilai. “You better take care of her, mate. She’s the best person I know.”
“I know,” jawab Jalen tenang. “That’s why I married her. Twice, technically.”
Sela menyikut rusuk suaminya. Elliot tertawa terbahak-bahak.
Noah menarik-narik baju ayahnya. “Daddy, is he nice? Is Aunty Sela’s husband nice?”
Elliot memandangi Sela. Sela memandangi Jalen. Jalen memandangi layar dengan wajah datar andalannya.
“Saya galak,” jawab Jalen dalam bahasa Indonesia.
“What did he say?”
“He said he’s very nice,” jawab Sela cepat.
Jalen menoleh. “Kamu bohong.”
“Sama Noah boleh.”
Mereka mengobrol hampir satu jam. Tentang sekolah Noah. Tentang pekerjaan Elliot. Tentang tawaran pekerjaan di Melbourne yang akhirnya Sela tolak dengan sopan dua bulan lalu. Elliot tidak marah. Ia bahkan terlihat lega.
“But you’re still coming in December, right?” tanya Elliot sebelum menutup panggilan. “Noah’s already counting down.”
“Iya,” jawab Sela. Ia melirik suaminya. “Kami datang berdua.”
“Bulan madu,” tambah Jalen. “Yang belum sempat. Istri saya terlalu sibuk.”
Sela tertawa. Ia ingat kalimat itu. Kalimat yang diucapkan Jalen di depan Bu Ratna di ballroom hotel, ketika semuanya masih sandiwara. Sekarang kalimat yang sama terdengar sangat berbeda.
...
Pukul sembilan malam, Sela turun dari mobil Geza di pinggir jalan yang sepi. Lampu jalan yang jarang. Deretan pohon di kanan kiri. Gerobak ketoprak dengan lampu petromaks yang sama.
Jalen sudah duduk di bangku plastik. Ia datang langsung dari kampus. Di depannya sudah ada dua piring ketoprak. Satu pedas sedang, tanpa tauge, kerupuknya dipisah.
Sela berjalan menghampiri dengan langkah santai. Sangat santai. Ia sengaja.
Jalen melirik jam tangannya. Jam limited edition hadiah ulang tahunnya yang kedua puluh satu. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap istrinya dengan alis terangkat.
“Kamu telat.”
“Berapa?”
“Sepuluh detik.”
Sela menarik bangku plastik dan duduk di seberangnya. Ia mengambil sendok dan mulai makan dengan tenang.
“Aku cuma telat sepuluh detik,” ucapnya. Persis seperti dulu. Bedanya, kali ini ia tersenyum.
Jalen memandanginya lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang keras dan lepas, yang membuat si abang penjual menoleh dari balik gerobaknya.
“Mbaknya udah maafin Masnya belum?” tanya si abang penjual sambil terkekeh. Ia sudah menanyakan hal yang sama setiap kali mereka datang, dan selalu mendapat jawaban yang berbeda.
Sela memandangi suaminya. Pria yang dulu ia anggap paling menyebalkan sedunia. Pria yang kini duduk di depannya di bawah lampu petromaks, dengan sisa tawa di wajahnya dan cincin pernikahan di jari manisnya.
“Udah, Pak,” jawab Sela. “Dari lama.”
Malam itu langit cerah. Angin bertiup pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mirsela Anata tidak merasa sedang meminjam apa pun dari siapa pun.
Semuanya miliknya. Termasuk sepuluh detik itu.
TAMAT