Bel apartemen berbunyi pukul tujuh pagi. Bukan tiga kali berturut-turut dengan jeda sabar. Melainkan terus-menerus, tidak berhenti, seperti orang yang yakin pintunya akan dibukakan.
Sela membuka pintu dengan mata bengkak dan rambut berantakan. Ia masih memakai pakaian semalam. Ia bahkan tidak ingat kapan pindah dari lantai dapur ke sofa.
Agisti berdiri di depan pintu dengan tas tangan mahal dan raut wajah yang tidak bisa Sela baca.
“Ma?”
“Mama masuk.”
Agisti melangkah masuk tanpa menunggu jawaban. Ia memandangi seisi apartemen. Bantal sofa yang berserakan. iPad yang tergeletak di lantai. Kulkas yang pintunya tidak tertutup rapat. Ia berjalan ke dapur, menutup pintu kulkas itu, dan sempat melihat dua bungkus ketoprak di rak paling atas. Satu sudah dimakan setengah.
“Jalen di mana?”
“Di rumah Bunda.”
Agisti menoleh tajam. “Kalian bertengkar?”
Sela tidak menjawab. Agisti menghela napas panjang dan menarik kursi di meja makan.
“Duduk.”
Sela duduk. Seperti anak kecil yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“Sudah seminggu lebih adikmu murung. Semalam dia nangis di kamarnya sampai jam dua,” ujar Agisti. “Mama ketuk pintunya, dia nggak mau buka. Tadi pagi baru mau cerita. Katanya kalian ribut di kantor. Katanya kamu nyembunyiin sesuatu dari dia. Katanya kamu nggak pernah cerita apa-apa sama dia dari dulu.”
“Ma, saya—”
“Biar Mama selesai dulu.”
Sela diam. Agisti meletakkan tasnya di atas meja. Ia memandangi tangannya sendiri lama sebelum bicara lagi.
“Kamu ingat hari pertama kamu masuk rumah itu?”
Sela mengangkat wajah. Agisti tidak pernah membicarakan hari itu. Tidak sekali pun dalam delapan belas tahun.
“Kamu pakai sepatu kebesaran. Warna merah. Talinya lepas satu,” lanjut Agisti. Suaranya pelan. “Kamu bawa boneka kelinci yang telinganya sobek. Kamu berdiri di ruang tamu dan nggak mau duduk. Mama tanya kamu mau minum apa, kamu bilang terima kasih, Tante. Umur enam tahun. Kamu bilang terima kasih, Tante.”
Mata Agisti mulai merah.
“Mama nggak tahu caranya jadi ibu buat anak yang baru kehilangan ibunya, Sela. Waktu itu Cristal masih tiga tahun. Mama masih belajar jadi ibu buat satu anak. Terus tiba-tiba ada kamu. Diam, sopan, nggak pernah nangis, nggak pernah minta apa-apa.” Agisti tertawa kecil di sela tangisnya. “Jadi Mama ngomel. Mama komentarin baju kamu, rambut kamu, cara kamu makan. Mama pikir itu cara orang tua nunjukin perhatian. Mama dulu juga diomelin terus sama nenekmu.”
Sela tidak bisa bicara.
“Kamu anak Mama,” ucap Agisti. “Dari hari pertama. Mama nggak pernah anggap kamu titipan. Mama nggak pernah anggap kamu harus bayar apa-apa.”
“Tapi Opa…”
“Opa itu Opa.” Agisti mengusap matanya. “Opa yang bikin kamu percaya semua ini cuma pinjaman. Opa yang ngajarin kamu kalimat itu. Apakah ada yang kurang dari kami untukmu. Mama dengar sendiri dia bilang itu ke kamu waktu kamu umur sepuluh tahun, waktu kamu nolak ikut les piano. Mama marah sama dia waktu itu. Tapi Mama diam. Mama selalu diam di depan Opa.”
Agisti menarik napas panjang.
“Saham keluarga Hartono memang buat Cristal. Itu wasiat Papa Mama, Mama nggak bisa ubah. Tapi dengar baik-baik.” Ia menatap Sela tepat di manik mata. “Kursi GM itu bukan warisan, Sela. Kursi itu nggak bisa diwariskan sama siapa pun. Bukan sama Cristal, bukan sama kamu. Kamu duduk di situ karena kamu yang paling pantas. Karena kamu kerja berdarah-darah selama bertahun-tahun. Bukan karena kamu sedang menjaga sesuatu buat orang lain.”
Sela menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan. Satu. Dua. Tiga. Ia tidak menghitungnya lagi.
“Adikmu berhak tahu,” lanjut Agisti lebih lembut. “Bukan karena dia harus. Tapi karena kamu berhak berhenti menyimpannya sendirian. Kita bilang sama-sama. Kamu, Mama, Papa. Mama yang akan bicara sama Papa.”
“Cristal akan benci aku.”
“Cristal nangis semalaman karena dia sayang kamu dan merasa nggak dipercaya. Itu bukan benci.” Agisti meraih tangan Sela di atas meja. Genggamannya erat. “Mama kenal anak-anak Mama.”
Anak-anak Mama. Jamak. Sela memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak umur enam tahun, Sela memeluk ibunya duluan.
...
Agisti pamit pukul delapan. Di depan pintu apartemen, ia berpapasan dengan seorang pria tinggi yang membawa kantong plastik berisi dua bungkus nasi uduk.
Jalen terlihat seperti tidak tidur semalaman. Matanya merah, kemejanya kusut. Ia membungkuk sopan begitu melihat ibu mertuanya.
“Tante.”
“Mama,” koreksi Agisti. Ia memandangi menantunya dari atas ke bawah. Lalu ia menepuk lengan Jalen dua kali. “Jaga anak Mama.”
Jalen mengerjap. Agisti sudah berjalan ke lift sebelum ia sempat menjawab.
Sela berdiri di ambang pintu. Matanya masih bengkak, tapi raut wajahnya berbeda. Lebih ringan. Seperti seseorang yang baru meletakkan beban berat setelah memanggulnya terlalu lama.
“Kamu kembali,” ucap Sela.
“Aku bilang besok pagi.” Jalen mengangkat kantong plastiknya. “Ini besok pagi.”
Mereka sarapan di meja makan yang sama, di kursi yang sama. Nasi uduk dengan telur balado dan kerupuk. Sela makan pelan. Jalen tidak bertanya apa yang dibicarakan Agisti. Ia menunggu.
“Mama bilang kursi GM bukan warisan,” ujar Sela akhirnya.
Jalen meletakkan sendoknya.
“Mama bilang saya duduk di sana karena saya pantas. Bukan karena saya menjaga sesuatu.” Sela memutar-mutar gelas tehnya. “Saya belum tahu harus percaya atau tidak. Delapan belas tahun saya percaya yang sebaliknya.”
“Itu wajar.”
“Dan soal semalam…”
Jalen menunggu.
“Saya belum bisa jawab.” Sela mengangkat wajahnya. Matanya jujur. Seperti biasa. “Saya tidak mau bohong sama kamu, jadi saya tidak akan bilang apa-apa sampai saya yakin. Tapi saya tahu satu hal.”
“Apa?”
“Saya tidak mau kamu tidur di rumah Bunda lagi.”
Jalen memandanginya lama. Lalu sudut bibirnya terangkat. Pelan sekali.
“Kamu barusan panggil aku kamu,” ucapnya. “Bukan Anda.”
Sela mengerjap. Ia sama sekali tidak menyadarinya.
“Oke,” lanjut Jalen. Ia kembali mengambil sendoknya. “Aku nggak akan tidur di rumah Bunda lagi. Dan aku akan nunggu sampai kamu yakin.”
“Kalau saya tidak pernah yakin?”
“Aku orangnya nggak sabaran,” jawab Jalen tenang. “Bunda bilang begitu. Tapi buat yang satu ini, aku bisa belajar.”
Sela menunduk ke piringnya. Ia menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan. Senyum yang muncul begitu saja, tanpa latihan, tanpa alasan bisnis apa pun.
Di luar jendela, matahari pagi Jakarta bersinar terang. Hari Jumat. Sela baru ingat ia terlambat ke kantor hampir dua jam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak peduli.
***