Kamis malam di pertengahan bulan kelima, Jalen pulang lebih awal dari biasanya. Kelas sorenya dibatalkan karena ruangan dipakai untuk ujian susulan. Ia mampir ke warung ketoprak langganan mereka yang kini sudah hafal pesanan Sela. Pedas sedang, tanpa tauge, kerupuknya dipisah.
Pintu apartemen tidak terkunci rapat. Jalen mendorongnya perlahan dengan bahu karena kedua tangannya membawa kantong plastik. Lampu ruang tengah menyala redup. Dari arah sofa terdengar suara Sela. Pelan. Berbahasa campur. Suara yang hanya ia pakai untuk satu orang.
“…I know, El. I know.”
Jalen berhenti di lorong pintu masuk. Ia tidak bermaksud menguping. Ia hanya ingin melepas sepatunya tanpa mengganggu.
“And your husband?” suara pria dari iPad terdengar jelas. “Doesn’t he get a say in this?”
Hening sebentar. Lalu suara Sela, pelan dan datar.
“Dia tidak pernah milik saya, El. Semua yang saya pegang sekarang milik Cristal. AMARA. Kursi itu. Bahkan dia. Papa menyiapkan dia untuk Cristal sejak awal. Saya cuma meminjam. Dan barang pinjaman harus dikembalikan.”
Kantong plastik di tangan Jalen berdesir.
Sela menoleh cepat. Wajahnya memucat begitu melihat siapa yang berdiri di lorong. Dari layar iPad, Elliot juga menyadari sesuatu. Pria bule itu berdehem canggung.
“I’ll call you later, Sel. Take care.”
Layar padam.
Jalen berjalan ke dapur. Ia meletakkan kantong plastik berisi ketoprak di atas meja. Pelan. Rapi. Seperti biasa. Lalu ia berdiri di sana dengan punggung menghadap Sela.
“Jalen—”
“Barang pinjaman,” ulang Jalen tanpa menoleh.
Sela bangkit dari sofa. Ia berdiri beberapa langkah di belakang pria itu. “Saya tidak bermaksud—”
“Kamu nggak bohong, kan?” Jalen akhirnya berbalik. Wajahnya datar seperti dulu, saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit. “Itu yang kamu pikirkan. Aku tahu kamu nggak bohong. Kamu nggak pernah bohong sama aku sejak hari itu.”
Sela terdiam.
“Itu yang bikin sakit,” lanjut Jalen pelan.
Kalimat itu menghantam Sela lebih keras daripada bentakan mana pun.
“Aku bukan barang, Sela.” Suara Jalen tidak meninggi. Tapi setiap katanya terdengar jelas. “Aku bukan milik Papa kamu. Bukan milik Opa kamu. Bukan milik Cristal. Aku baru kenal adikmu sebulan lalu. Aku nggak pernah dijanjikan ke siapa pun. Aku memilih sendiri.”
“Anda memilih karena Bunda,” balas Sela. Suaranya bergetar. “Karena nama keluarga Gomez. Anda sendiri yang bilang. Bukan karena cinta.”
“Awalnya.”
Satu kata itu membuat Sela membeku.
“Awalnya iya,” ulang Jalen. “Aku nggak akan bohong soal itu. Tapi kamu pikir aku masak sarapan tiap pagi karena Bunda? Kamu pikir aku nunggu di lobi sampai jam sembilan malam karena nama keluarga? Kamu pikir aku hafal kamu nggak suka tauge karena kontrak?”
Sela mundur satu langkah. Ia tidak siap mendengar ini. Ia tidak pernah siap.
“Saya sudah minta,” ucapnya lirih. “Jangan jatuh cinta sama saya. Itu syarat saya.”
Jalen menatapnya lama. Sangat lama.
“Aku tahu,” jawabnya akhirnya. “Dan aku gagal.”
Apartemen itu sunyi. Hanya terdengar suara jam dinding dan dengung kulkas. Kantong ketoprak di meja dapur perlahan mendingin.
Sela tidak bisa bicara. Tenggorokannya terkunci. Pikirannya penuh dengan semua alasan kenapa ini tidak boleh terjadi. Cristal. Papa. AMARA. Melbourne. Semua janji yang ia susun sejak umur enam tahun. Semua utang yang harus ia lunasi.
Jalen mengambil kunci mobilnya dari meja.
“Aku butuh udara,” ucapnya. “Aku tidur di rumah Bunda malam ini. Besok pagi aku kembali. Aku nggak kabur. Aku cuma nggak mau bilang hal-hal yang nanti aku sesali.”
Ia berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar tanpa menoleh.
“Ketopraknya dimakan. Kamu belum makan malam.”
Pintu tertutup.
Sela berdiri di tengah ruang tengah cukup lama. Lalu ia berjalan ke dapur, membuka kantong plastik itu, dan menemukan dua bungkus ketoprak. Satu bertuliskan spidol hitam di kertas pembungkusnya. Tulisan tangan si abang penjual.
Mbak Sela. Pedas sedang. Tanpa tauge.
Sela duduk di lantai dapur dengan bungkusan itu di pangkuannya. Dan untuk kedua kalinya dalam delapan belas tahun, ia menangis. Kali ini tidak hanya satu air mata.
...
Lampu dapur istana Javier Gomez masih menyala pukul sebelas malam. Risa berdiri di depan kompor, menunggu air mendidih untuk teh jahenya. Ia menoleh begitu mendengar pintu belakang terbuka.
“J?”
Jalen berdiri di ambang pintu dengan wajah yang membuat Risa langsung mematikan kompor.
“Bun,” ucapnya pelan. “Aku boleh tidur di sini malam ini?”
Risa tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menuangkan dua cangkir teh jahe dan menarik kursi untuk putranya. Jalen duduk. Untuk beberapa lama, mereka hanya meminum teh dalam diam.
“Bertengkar?” tanya Risa akhirnya.
“Hm.”
“Siapa yang salah?”
Jalen memandangi uap yang mengepul dari cangkirnya. “Nggak tahu. Mungkin nggak ada.”
Lalu ia bercerita. Tidak semuanya. Rahasia keluarga Gaung bukan miliknya untuk dibagi, bahkan kepada Bunda. Ia hanya bilang bahwa istrinya dibesarkan dengan keyakinan bahwa semua yang ia punya harus dikembalikan suatu hari nanti. Tentang Melbourne. Tentang kalimat barang pinjaman yang masih terngiang di kepalanya.
“Dan aku melanggar syaratnya, Bun,” ucap Jalen akhirnya. “Dia minta aku jangan jatuh cinta. Aku bilang itu syarat yang gampang.”
Risa tersenyum. Senyum yang membuat Jalen merasa seperti anak kecil lagi.
“Syarat yang paling gampang dilanggar itu syarat yang dibuat orang yang ketakutan, Nak.” Risa mengusap punggung tangan putranya. “Dia nggak minta kamu jangan jatuh cinta karena dia nggak mau dicintai. Dia minta begitu karena dia takut nggak bisa membalas. Atau takut harus mengembalikan.”
Jalen terdiam.
“Anak perempuan yang dari kecil diajari bahwa kasih sayang itu ada harganya,” lanjut Risa lembut, “nggak akan percaya ada yang dikasih cuma-cuma. Kamu bilang cinta, dia dengar utang. Kamu kasih perhatian, dia hitung berapa yang harus dia bayar balik.”
“Terus aku harus gimana, Bun?”
“Jangan cuma bilang. Tunjukkan.” Risa menghabiskan tehnya. “Dan sabar. Kamu itu anak Bunda yang paling nggak sabaran, tahu nggak? Sepuluh detik telat aja kamu ributin.”
Jalen mengerjap. “Bunda tahu soal itu?”
“Namira yang cerita. Katanya Sela cerita ke dia waktu di Bogor.” Risa tertawa kecil. “Kamu itu ya. Ketemu perempuan pertama kali, yang kamu omelin sepuluh detik. Pantes nggak laku-laku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Jalen tertawa. Tawa kecil yang lelah, tapi tulus.
Ia tidur di kamar lamanya malam itu. Tapi ia tidak benar-benar tidur. Ia memandangi langit-langit kamar sampai subuh, memikirkan seorang perempuan yang sedang duduk sendirian di sebuah apartemen dengan dua bungkus ketoprak yang mendingin.
***