Minggu sore, di ruang keluarga rumah Gaung, Cristal mendengarkan cerita yang selama dua puluh satu tahun disembunyikan darinya.
Agisti yang membuka. Pasundanu yang melanjutkan, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah Sela dengar. Tentang Larasati. Tentang KUA kecil di Bandung. Tentang pilihan yang diberikan Opa dan pilihan yang ia ambil. Tentang seorang anak perempuan berumur enam tahun yang ia jemput dari koridor rumah sakit.
Aryan tidak hadir. Pasundanu yang memintanya. Untuk pertama kalinya, Pasundanu meminta ayahnya untuk tidak ikut campur.
Cristal tidak menyela sekali pun. Ia duduk di sofa dengan kedua lutut ditekuk ke dada, memeluk bantal, matanya berpindah dari wajah Papa ke wajah Mama ke wajah Sela. Ketika Pasundanu selesai bicara, ruangan itu hening cukup lama.
“Jadi,” Cristal akhirnya bersuara. Serak. “Kakak bukan anak Mama.”
“Kakakmu anak Mama,” jawab Agisti tegas. “Mama yang besarin dia.”
“Maksudku…” Cristal menggeleng. Ia memandangi Sela. “Kakak tahu dari dulu?”
“Dari dulu,” jawab Sela.
“Dan Kakak nggak pernah bilang.”
“Kakak nggak mau kamu… berubah.”
“Berubah gimana?” Suara Cristal pecah. “Kakak pikir aku bakal berhenti sayang sama Kakak cuma karena Mama kita beda? Kakak yang gendong aku waktu aku jatuh dari sepeda. Kakak yang ngajarin aku perkalian. Kakak yang dateng ke wisuda SMA aku waktu Papa sama Mama telat karena macet. Itu semua jadi nggak ada artinya?”
Sela tidak bisa menjawab.
Cristal melempar bantalnya ke samping dan berdiri. Ia berjalan melintasi ruangan dan memeluk Sela erat-erat. Sangat erat sampai Sela susah bernapas.
“Kakak tetap Kakak aku,” bisik Cristal di bahunya. “Bodoh. Kakak bodoh.”
Sela memejamkan mata dan membalas pelukan itu. Di seberang ruangan, Agisti menangis tanpa suara. Pasundanu menunduk dalam-dalam.
Setelah tangis mereka reda, Cristal menarik napas dan menatap kedua orang tuanya.
“Karena kita lagi jujur-jujuran,” ucapnya. “Aku juga mau bilang sesuatu. Aku nggak mau jadi GM AMARA.”
Sela menggenggam tangan adiknya. Kali ini, ia tidak menyuruh Cristal mencoba lagi.
...
Senin pagi, Rumi masuk ke ruang GM dengan wajah pucat dan selembar kertas di tangan.
“Buk.” Ia menutup pintu rapat-rapat. “Saya dapat ini dari teman di sekretariat dewan. Saya nggak seharusnya lihat, tapi…”
Sela mengambil kertas itu. Draf agenda rapat evaluasi enam bulan. Kamis minggu depan. Poin pertama adalah kinerja GM, seperti yang sudah dijadwalkan. Tapi poin kedua adalah tambahan. Diajukan oleh Pak Darmawan.
Klarifikasi atas kejanggalan pemenuhan syarat pengangkatan GM.
Di lampirannya ada dua tanggal. Tanggal pengangkatan Sela sebagai GM. Dan tanggal akad nikah yang tercantum di salinan buku nikah yang ia serahkan sendiri ke arsip dewan empat bulan lalu. Selisihnya lima minggu. Di bawahnya, Darmawan juga melampirkan potongan artikel berita yang memuat foto di balkon hotel. Artikel itu terbit empat minggu setelah Sela diangkat, dan kurang dari dua minggu sebelum tanggal akad.
Sela membaca lampiran itu dua kali. Lalu ia meletakkannya di meja.
Jadi itu yang dibaca Darmawan lama sekali hari itu. Tanggalnya. Ia sendiri yang menyerahkan buktinya.
“Buk?” Rumi menatapnya cemas. “Ibuk mau saya hubungi Pak Aryan?”
“Tidak usah,” jawab Sela tenang. “Opa pasti sudah tahu.”
Benar saja. Satu jam kemudian, ponselnya berdering.
...
Ruang kerja Aryan di lantai paling atas gedung AMARA selalu beraroma kayu cendana. Rak-rak buku tinggi menutupi dua sisi dinding. Di salah satu rak, foto hitam putih para pendiri AMARA berjajar rapi. Gaung. Hartono. Dan tiga keluarga lain yang kini hanya tinggal nama di akta perusahaan.
Aryan duduk di balik meja besarnya dengan raut keras.
“Kita bisa menyelesaikan ini,” ucapnya tanpa basa-basi begitu Sela duduk. “Kita katakan kalian sudah menikah siri sebelum pengangkatan. Akad di KUA hanya pencatatan. Banyak keluarga melakukan itu. Opa sudah menyiapkan dua orang saksi yang bisa—”
“Tidak, Opa.”
Aryan berhenti. Ia menatap cucunya seperti tidak mengenalinya.
“Saya tidak akan berbohong lagi,” lanjut Sela. Suaranya tenang. Lebih tenang dari yang ia sendiri duga. “Tidak pada dewan. Tidak pada siapa pun.”
“Kau akan kehilangan semuanya.”
“Kalau begitu saya kehilangan dengan jujur.”
Aryan bangkit dari kursinya. Untuk pria setua itu, gerakannya masih terlihat mengintimidasi. “Kau tahu apa yang Opa korbankan untuk menempatkanmu di kursi itu? Kau tahu berapa tahun Opa—”
“Saya tahu, Opa.” Sela ikut berdiri. “Saya tahu Opa mengorbankan banyak. Saya juga mengorbankan banyak. Delapan belas tahun saya bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang kurang dari mereka untuk saya. Jawabannya selalu tidak. Jadi saya bayar. Saya bayar terus. Dengan nilai sempurna, dengan les yang tidak saya suka, dengan bekerja sampai pingsan, dengan berlutut di depan orang asing, dengan menabrakkan diri ke mobil.”
Aryan terdiam.
“Saya sudah lunas, Opa,” ucap Sela pelan. “Mulai sekarang, kalau saya duduk di kursi itu, saya duduk karena saya pantas. Bukan karena saya berutang. Dan kalau dewan memutuskan saya tidak pantas, saya akan berdiri dengan kepala tegak.”
Ia membungkuk sopan, lalu berjalan keluar. Aryan tidak memanggilnya kembali.
...
Malam itu, Sela menceritakan semuanya pada Jalen di meja makan. Agenda rapat. Lampiran Darmawan. Usulan Opa. Penolakannya.
Jalen mendengarkan sampai selesai tanpa menyela. Lalu ia bertanya satu hal.
“Kamu mau aku datang?”
“Kamu bukan anggota dewan.”
“Aku tahu. Aku tanya, kamu mau aku datang?”
Sela memandangi suaminya. Pria yang dulu ia anggap paling menyebalkan sedunia. Pria yang mempermasalahkan sepuluh detik. Pria yang tidak pernah berbohong satu kalimat pun di depan dewan, bahkan ketika itu akan lebih mudah.
“Iya,” jawab Sela. “Saya mau kamu datang.”
“Oke.” Jalen mengangguk. “Aku duduk di sebelahmu. Bukan sebagai tamu. Sebagai suamimu yang sah. Dan kalau mereka tanya, aku juga akan jawab jujur.”
“Itu bisa merusak nama kamu juga.”
“Namaku sudah rusak waktu aku bilang kamu istriku di depan orang tanpa akad.” Jalen meraih tangan Sela di atas meja. Genggamannya hangat. “Sekarang aku mau memperbaikinya. Dengan cara yang benar.”
Ponsel Sela bergetar di atas meja. Pesan dari Cristal.
“Kak, Kamis aku ikut rapat. Opa nggak bisa larang. Aku pemegang saham Hartono, kan? Aku punya hak bicara. Aku udah baca aturannya semalaman.”
Sela memandangi pesan itu. Lalu memandangi tangan Jalen yang masih menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya, menghadapi dewan direksi tidak terasa seperti berperang sendirian.
***