Senin pagi, seluruh lantai dua puluh AMARA Group heboh. Bukan karena rapat besar atau kunjungan pejabat. Melainkan karena seorang perempuan muda dengan blazer krem kebesaran berjalan keluar dari lift VIP sambil menenteng tas kanvas bergambar kucing.
“Itu adiknya Buk GM?”
“Katanya baru lulus dari Singapura.”
“Kok beda banget ya sama Buk Sela? Yang ini senyum terus.”
Rumi berdehem keras dari mejanya. Para pegawai itu langsung bubar kembali ke kubikel masing-masing.
Di dalam ruang GM, Sela sudah menunggu dengan setumpuk map setinggi tiga puluh senti di atas meja. Cristal berhenti di ambang pintu dan memandangi tumpukan itu dengan mulut ternganga.
“Kak. Itu apa?”
“Laporan keuangan tiga tahun terakhir. Struktur organisasi. Daftar proyek berjalan. Profil anggota dewan.” Sela menepuk tumpukan itu. “Bacaan minggu ini.”
“Minggu ini?!”
“Minggu depan ada lagi.”
Cristal menjatuhkan diri ke sofa tamu dengan dramatis. “Kak Sela jahat.”
“Opa yang minta.”
“Opa lebih jahat.”
Sela hampir tersenyum. Hampir. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah adiknya, lalu membuka map pertama.
...
Seminggu berlalu. Lalu dua minggu.
Cristal ternyata cerdas. Jauh lebih cerdas dari yang ditunjukkan sikapnya yang serampangan. Ia bisa membaca neraca keuangan dengan cepat, menemukan kejanggalan angka yang bahkan dilewatkan staf akuntansi, dan mengajukan pertanyaan yang membuat kepala divisi gelagapan. Sela diam-diam bangga.
Tapi ada hal lain yang Sela perhatikan.
Setiap kali rapat berlangsung terlalu lama, Cristal mulai menggambar. Di pinggir notulen. Di balik kertas agenda. Di serbet makan siang. Garis-garis rapi yang membentuk ruangan, jendela, tangga, lengkungan atap. Gambar-gambar itu indah. Terlalu indah untuk sekadar coretan iseng.
Pada hari Jumat minggu kedua, saat mereka makan siang di ruang GM, Sela mengambil salah satu serbet yang tertinggal di meja. Gambar sebuah rumah kecil dengan jendela besar menghadap taman.
“Ini kamu yang gambar?”
Cristal langsung merebut serbet itu dan meremasnya. Wajahnya memerah.
“Iseng doang, Kak.”
“Bagus.”
“Iseng doang.”
Sela meletakkan sumpitnya. Ia memandangi adiknya yang kini menunduk memainkan nasi di kotak makan siangnya. Cristal tidak pernah menunduk seperti itu. Cristal selalu berani menatap siapa saja.
“Cris.”
“Hm?”
“Ada yang mau kamu bilang ke Kakak?”
Cristal diam lama. Sangat lama sampai Sela mengira ia tidak akan menjawab. Lalu adiknya itu meletakkan sumpitnya dan menarik napas panjang.
“Aku nggak mau ini, Kak.”
Sela mengerjap.
“AMARA. Kursi GM. Dewan direksi. Semua ini.” Cristal mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Aku kuliah bisnis karena Opa yang suruh. Tapi aku ambil kelas desain interior diam-diam setiap semester. Aku magang di studio arsitek kecil dua kali liburan, bilangnya ke Mama magang di bank. Aku udah ditawari kerja di studio itu, Kak. Aku pengen punya studio sendiri suatu hari nanti.”
Sela tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku takut bilang ke Papa. Apalagi ke Opa.” Cristal tertawa getir. “Kakak tahu kan Opa kayak gimana kalau udah memutuskan sesuatu?”
Tentu saja Sela tahu. Lebih dari siapa pun.
“Kamu harus coba,” ucap Sela akhirnya. Suaranya keluar lebih keras dari yang ia maksud. “Kamu baru dua minggu, Cris. Kamu belum tahu rasanya.”
“Aku udah tahu, Kak. Aku nggak suka.”
“Kamu belum benar-benar mencoba.”
“Kenapa sih Kakak ngotot?” Cristal menatapnya dengan sorot yang tiba-tiba tajam. “Kakak yang anak pertama. Kakak yang udah kerja di sini bertahun-tahun. Kakak yang udah jadi GM. Kursi itu punya Kakak! Kenapa harus aku?”
Sela membuka mulut. Lalu menutupnya.
Karena kamu pewaris yang sebenarnya. Karena saham keluarga Hartono milikmu. Karena aku bukan anak Mama. Karena aku cuma menjaga kursi itu tetap hangat sampai kamu datang.
Ia tidak bisa mengatakan satu pun dari itu. Cristal tidak tahu. Cristal tidak boleh tahu. Itu janji yang Sela pegang sejak umur sembilan tahun, sejak pertama kali ia menggendong adiknya yang menangis karena jatuh dari sepeda. Cristal harus tetap menjadi Cristal yang hangat, ribut, dan tidak tahu apa-apa.
“Karena itu sudah diputuskan,” jawab Sela datar.
Cristal menatapnya lama. Matanya yang berkaca-kaca kini terlihat terluka.
“Kakak selalu begitu,” bisiknya. “Dari dulu. Selalu ada yang Kakak sembunyiin dari aku. Aku pikir setelah aku pulang, setelah Kakak nikah, Kakak bakal berubah. Ternyata nggak.”
Cristal bangkit, meraih tas kanvas bergambar kucingnya, lalu berjalan keluar ruangan. Pintunya tidak dibanting. Ditutup pelan. Dan itu entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan.
Sela duduk sendirian di sofa dengan dua kotak makan siang yang belum habis.
...
Pukul lima tepat, ponsel Sela bergetar.
“Aku di lobi.”
Sela memandangi tumpukan pekerjaan di mejanya. Lalu memandangi kursi kosong di sofa tempat Cristal duduk tadi. Ia mengetik.
“Saya lembur. Pulang duluan saja.”
Sejak malam di mobil itu, percakapan mereka kembali seperti dulu. Pendek. Sopan. Dingin. Jalen tetap memasak sarapan dan tetap menjemput setiap sore. Tapi ia tidak lagi bicara lebih dari yang perlu. Dan Sela tidak tahu bagaimana memecah dinding yang ia sendiri bangun.
“Oke,” balas Jalen.
Sela mengira pria itu akan pulang. Ia bekerja sampai pukul sembilan malam, sampai lantai dua puluh benar-benar kosong dan lampu-lampu koridor sudah diredupkan. Ketika akhirnya ia turun ke lobi dengan mata pedih dan kepala berat, ia berhenti di depan pintu lift.
Mobil kuning itu masih terparkir di depan lobi.
Jalen duduk di sofa tamu dekat meja resepsionis yang sudah kosong. Laptop terbuka di pangkuannya. Setumpuk kertas tugas mahasiswa di sebelahnya. Ia mendongak begitu mendengar langkah Sela.
“Sudah?”
Sela berdiri mematung. “Saya bilang pulang duluan.”
“Aku bilang oke. Nggak bilang mau pulang.” Jalen menutup laptopnya dan merapikan kertas-kertasnya. “Ayo. Kamu belum makan malam.”
“Dari mana Anda tahu?”
“Kamu nggak pernah makan malam kalau lembur.” Jalen berdiri dan meraih tas Sela dari tangannya tanpa bertanya. “Dan mata kamu merah. Kamu habis nangis, atau cuma kelamaan lihat layar?”
Sela tidak menjawab. Jalen tidak memaksa.
Mereka berjalan ke mobil dalam diam. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, diam itu tidak terasa seperti dinding.
Lebih seperti seseorang yang menunggu di depan pintu.
***