Terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta selalu ramai di hari Minggu siang. Orang-orang berdiri berjejer di balik pagar pembatas, sebagian membawa papan nama, sebagian membawa bunga, sebagian hanya memandangi pintu otomatis dengan sabar.
Agisti tidak termasuk yang sabar. Ia sudah berdiri di barisan paling depan sejak pesawat dari Singapura dinyatakan mendarat. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Ponselnya ia periksa setiap tiga puluh detik.
Sela berdiri dua langkah di belakang ibunya. Jalen di sebelahnya. Pria itu menawarkan diri menyetir karena Geza sedang mengantar Opa kontrol ke rumah sakit. Agisti menerima tawaran itu dengan senang hati. Terlalu senang, menurut Sela.
“Itu dia!” Agisti memekik.
Pintu otomatis terbuka. Seorang perempuan muda berambut sebahu muncul sambil mendorong troli penuh koper. Kaos oversize, celana jeans, sepatu kets putih. Begitu matanya menemukan Agisti, ia langsung meninggalkan trolinya begitu saja dan berlari.
“MAMA!”
Agisti dan Cristal berpelukan sambil berputar-putar seperti adegan film. Beberapa orang di sekitar mereka tersenyum. Sela memandangi pemandangan itu dengan wajah datar. Ia sudah melihat adegan ini puluhan kali. Setiap libur semester. Setiap Cristal pulang.
Lalu Cristal melepaskan pelukan ibunya dan berbalik. Matanya membesar begitu melihat Sela.
“KAK SELA!”
Sela tidak sempat menghindar. Adiknya itu sudah menubruknya dengan pelukan erat sampai ia mundur satu langkah. Tangan Jalen menahan punggungnya dari belakang supaya ia tidak jatuh.
“Kakak kurus banget! Kakak makan nggak sih?”
“Makan.”
“Bohong!”
“Dia makan sekarang,” sahut Jalen. “Tiga kali sehari. Saya yang pastikan.”
Cristal melepaskan pelukannya. Ia mendongak, menatap pria tinggi di belakang kakaknya. Lalu menatap Sela. Lalu menatap pria itu lagi. Mulutnya terbuka lebar.
“Ya ampun,” bisik Cristal. “Aslinya lebih ganteng.”
“Cristal,” tegur Sela.
“Apa? Aku cuma bilang fakta!” Cristal menyodorkan tangannya pada Jalen dengan senyum lebar. “Halo, Kakak Ipar! Aku Cristal. Adik kesayangan Kak Sela satu-satunya.”
Jalen menyambut tangan itu dengan sopan. “Jalen.”
“Aku tahu! Temanku yang adiknya kuliah di kampus Kakak udah cerita banyak. Katanya Kakak galak banget. Bener?”
“Bener,” jawab Sela dan Jalen bersamaan.
Cristal tertawa terbahak-bahak.
Sepanjang jalan menuju parkiran, adiknya itu menggandeng lengan Sela erat-erat, seolah takut kakaknya akan hilang lagi di keramaian. Jalen mendorong troli koper di belakang mereka bersama Agisti.
“Kak, nanti malam aku nginep di apartemen Kakak, ya? Kayak dulu. Kita nonton drama sampai subuh.”
“Nggak bisa.”
“Kok nggak bisa?”
Sela melirik ke belakang. Ke arah pria yang sedang mendorong troli. Cristal mengikuti arah pandangnya, lalu menepuk dahinya sendiri.
“Oh iya. Kakak udah punya suami.” Ia tertawa lagi, lebih keras. “Ya ampun, aku masih belum biasa.”
Saya juga, batin Sela.
...
Makan malam penyambutan digelar di rumah keluarga Gaung. Meja makan yang biasanya terlalu panjang itu malam ini terasa penuh. Aryan di ujung. Pasundanu dan Agisti. Cristal yang tidak berhenti bercerita tentang Singapura, tentang tugas akhirnya, tentang teman-temannya. Dan Sela dan Jalen di seberang, sedikit lebih jauh dari yang lain.
Jalen memperhatikan. Ia memperhatikan banyak hal malam itu.
Bagaimana Sela memilih kursi yang paling jauh dari Aryan tanpa diminta. Bagaimana Sela hanya menjawab satu atau dua kata setiap kali ditanya. Bagaimana Sela berhenti makan setiap kali Aryan berbicara, seolah menunggu perintah. Bagaimana Sela tertawa kecil mendengar cerita Cristal, tapi langsung menunduk begitu Pasundanu ikut tertawa.
Perempuan yang di ruang rapat dewan bisa memaparkan laporan empat puluh menit tanpa catatan. Perempuan yang berani menabrakkan diri ke mobil demi sebuah kursi. Di meja makan ini, perempuan itu seperti mengecil.
Jalen meletakkan sepotong ayam di piring Sela tanpa berkata apa-apa. Sela melirik piringnya, lalu meliriknya. Jalen pura-pura tidak melihat.
“Kalian ini lucu ya,” ujar Agisti sambil tersenyum. “Kayak pengantin baru beneran.”
“Mereka memang pengantin baru, Ma,” sahut Cristal.
“Iya, iya. Maksud Mama…”
“Sebenarnya,” Pasundanu menyela dengan nada santai, “kalau saja Jalen ketemu Cristal lebih dulu—”
“Papa!” Cristal langsung memotong. Wajahnya memerah. “Ih, jangan mulai deh. Kak Jalen itu suami Kak Sela. Malu-maluin tahu nggak.”
“Papa cuma bercanda.”
“Bercandanya nggak lucu.” Cristal melirik kakaknya dengan raut minta maaf. Sela tersenyum tipis padanya. Senyum yang bilang tidak apa-apa. Padahal Jalen bisa melihat genggaman Sela di sendoknya mengeras.
Aryan meletakkan gelasnya. Seketika semua orang diam. Seperti biasa.
“Cristal,” panggilnya. “Senin depan kamu mulai masuk AMARA.”
Cristal mengerjap. “Senin depan, Opa? Aku baru pulang.”
“Sebagai management trainee. Di bawah Sela langsung.” Aryan menoleh pada cucu sulungnya. “Sela akan mengajarimu semuanya. Keuangan, operasional, cara menghadapi dewan. Dalam dua tahun, kamu harus siap.”
Siap untuk apa, tak perlu dijelaskan. Semua orang di meja itu tahu. Kecuali mungkin Cristal sendiri, yang hanya mengangguk dengan raut bingung.
“Iya, Opa,” jawab Sela.
Dua kata itu terdengar begitu pasrah sampai Jalen ingin meletakkan sendoknya.
...
Mobil kuning itu melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Gaung pukul sepuluh malam. Jalanan sudah lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan.
Sela bersandar di jok dengan mata terpejam. Ia terlihat lelah. Lebih lelah dari setelah rapat dewan mana pun.
“Setelah enam bulan, apa rencana kamu?” tanya Jalen tiba-tiba.
Sela membuka matanya. Ia tidak langsung menjawab.
“Kamu pernah bilang mau pergi ke tempat di mana nggak ada yang tahu nama Gaung,” lanjut Jalen. “Ke mana?”
Sela menarik napas panjang. Jangan berbohong pada saya.
“Kontrak kita selesai. Saya mengajari Cristal sampai dia siap. Setelah itu Melbourne,” jawabnya. “Ada pekerjaan yang menunggu saya di sana. Ada sahabat saya juga.”
“Yang suka video call malam-malam?”
Sela menoleh cepat.
“Dinding kamar tamu tipis,” jawab Jalen tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Ada suara anak kecil. Manggil kamu Aunty.”
“Elliot. Dan anaknya, Noah.” Sela memandangi jalanan di depan. “Elliot sahabat saya sejak kuliah. Dia yang menawari pekerjaan itu.”
Jalen diam. Mobil berhenti di lampu merah. Detik demi detik di layar penghitung mundur berjalan lambat.
“Dan pernikahan kita?”
Sela menunduk. “Kita sudah sepakat. Kalau salah satu dari kita ingin berpisah, kita berpisah dengan cara yang benar.”
Tangan Jalen mengencang di setir. Sela bisa melihat buku-buku jarinya memutih.
“Kamu yang ingin?”
Lampu berganti hijau. Mobil di belakang mereka membunyikan klakson. Jalen tidak bergerak. Ia menunggu jawaban.
“Saya harus,” jawab Sela akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar.
Jalen menatapnya sedetik lagi. Lalu ia menginjak gas. Mobil itu kembali melaju.
Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Dan untuk pertama kalinya sejak akad, keheningan di antara mereka terasa seperti dinding.
***