Bulan ketiga berjalan tanpa Sela sadari. Tahu-tahu kalender di pintu kulkas sudah berganti halaman, dan Jalen sudah menuliskan satu agenda baru di sana dengan spidol merah.
Sabtu. Bogor. Pembukaan gallery Lane.
“Kamu ikut?” tanya Jalen pagi itu sambil meletakkan sepiring roti bakar di depan Sela.
“Saya diundang?”
“Kamu istri saya. Otomatis diundang.”
Sela mengunyah roti bakarnya pelan. Ia ingat perempuan berambut panjang di koridor rumah sakit dulu. Perempuan yang dipanggil Jalen dengan nada yang tidak pernah ia dengar untuk orang lain. Perempuan yang, Sela duga, membuat Jalen meninggalkannya di pinggir jalan malam itu.
“Saya ikut,” jawab Sela akhirnya.
...
Bangunan putih gading di Bogor itu dipenuhi orang ketika mereka tiba. Lukisan-lukisan dan foto karya seniman muda tergantung di dinding dengan pencahayaan yang hangat. Di halaman belakang, mini kafe sudah ramai dengan tamu yang menikmati kopi dan kue di bawah pohon kamboja.
Lane menyambut mereka di pintu masuk dengan gaun hijau zaitun. Ia memeluk Jalen sekilas, lalu berbalik pada Sela dengan senyum lebar.
“Akhirnya ketemu juga secara resmi. Aku Lane.” Ia mengulurkan tangan. “Atau Sara, kalau kamu dengar Papa manggil. Selamat ya, buat pernikahannya. J nggak ngomong apa-apa sama aku. Aku tahunya dari berita.”
“Sela,” jawab Sela sambil menjabat tangannya. “Terima kasih.”
“Kamu jauh lebih cantik aslinya daripada di foto,” ujar Lane jujur. Lalu ia melirik Jalen. “Pantas aja kamu berubah.”
Jalen tidak menanggapi. Tapi telinganya sedikit memerah. Sela memperhatikan hal itu dan entah kenapa merasa tidak nyaman.
Lane mengajak mereka berkeliling. Ia menjelaskan setiap karya dengan semangat. Jalen sesekali menimpali dengan komentar singkat yang membuat Lane tertawa. Mereka bergerak dengan ritme yang sudah terbiasa. Seperti dua orang yang sudah saling mengenal sangat lama.
Sela berjalan sedikit di belakang. Ia tidak tahu harus ikut tertawa atau tidak.
Shawn dan Namira datang tak lama kemudian. Namira langsung menggandeng lengan Sela dan menyeretnya ke meja kue. Lalu seorang pria paruh baya bertubuh tegap menghampiri mereka bersama seorang perempuan berwajah lembut.
“Ini pasti Sela!” Pria itu tersenyum lebar. “Saya Rayn, Papanya Sara. Ini istri saya, Tisa.”
Sela menyalami keduanya dengan sopan.
“Wah, Jalen ini memang pinter milih. Padahal dulu saya kira dia bakal jadi menantu saya,” ujar Rayn sambil tertawa keras. “Dua tahun lalu dia sempat melamar Sara, loh. Eh ditolak sama anak saya. Saya sampai heran, anak ini kurang apa—”
“Mas!” Tisa menyikut perut suaminya dengan keras.
Namira tersedak kuenya. Rayn baru tersadar dan langsung menggaruk kepala.
“Aduh, maaf, maaf. Saya kebiasaan. Itu udah lama sekali kok, Nak Sela. Udah basi. Lupain aja ya.”
“Tidak apa-apa, Om,” jawab Sela dengan senyum sopan yang sempurna.
Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun untuk dipakai di ruang rapat. Senyum yang tidak pernah gagal menyembunyikan apa pun.
Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, senyum itu terasa berat untuk dipertahankan.
...
Sela menemukan dirinya duduk sendirian di sudut mini kafe setengah jam kemudian. Jalen sedang dikerumuni teman-teman lamanya. Namira sedang berbincang dengan Tisa. Sela memesan teh hangat dan memandangi pohon kamboja tanpa benar-benar melihatnya.
Melamar. Dua tahun lalu. Ditolak.
Kenapa ia harus peduli? Ia tidak punya hak untuk peduli. Pernikahan mereka terjadi karena keadaan. Pria itu menikahinya karena desakan Bunda dan karena tidak ingin namanya rusak. Bahkan Jalen sendiri yang bilang, bukan karena cinta. Dan Sela sendiri yang meminta, jangan jatuh cinta sama saya.
Semuanya jelas. Tidak ada alasan untuk merasa seperti ini.
“Boleh duduk?”
Sela mengangkat wajah. Lane berdiri di depannya dengan secangkir kopi.
“Silahkan.”
Lane duduk. Ia memandangi Sela beberapa saat, lalu menghela napas.
“Maaf soal Papa. Dia memang begitu. Nggak bisa nahan mulut.”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu boleh bilang apa-apa, kok. Aku nggak akan tersinggung.”
Sela terdiam. Lane tersenyum tipis.
“Aku nolak J bukan karena dia kurang,” ujar Lane pelan. “Justru karena dia terlalu. Terlalu baik, terlalu tertutup, terlalu susah digapai. Aku kenal dia bertahun-tahun, dan aku tetap nggak tahu apa yang ada di kepalanya setengah dari waktu itu. Aku takut. Aku pikir aku nggak akan pernah bisa bikin dia bahagia.”
Sela tak menjawab. Ia hanya mendengarkan.
“Tapi tadi aku lihat cara dia lihat kamu.” Lane memutar cangkir kopinya. “Waktu kamu jalan di belakang kami tadi. Dia noleh ke belakang tujuh kali. Aku hitung. Dia nggak pernah noleh ke aku sebanyak itu.”
“Kami menikah karena keadaan,” ucap Sela. Ia sendiri tak tahu kenapa mengatakan itu pada perempuan yang baru ia kenal satu jam.
“Semua orang menikah karena keadaan.” Lane tertawa kecil. “Ada yang karena dijodohkan, ada yang karena takut sendirian, ada yang karena kalah sama omongan keluarga. Yang membedakan cuma apa yang dilakukan setelahnya.”
Lane bangkit dan menepuk bahu Sela pelan.
“J itu kalau sudah memilih, dia nggak setengah-setengah. Percaya sama aku.”
...
Perjalanan pulang dari Bogor diselimuti hujan. Wiper mobil bergerak naik turun dengan irama yang menenangkan. Sela memandangi jendela. Jalen menyetir dalam diam.
“Dua tahun lalu,” ucap Sela tiba-tiba.
Jalen meliriknya. “Om Rayn?”
“Itu benar?”
“Benar.” Jalen tidak berkelit sedikit pun. “Aku melamar Lane. Dia nolak.”
Sela diam. Wiper bergerak naik. Turun.
“Masih sayang?” tanyanya akhirnya. Ia sendiri terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
“Sebagai sahabat, iya. Yang lain sudah selesai lama.” Jalen membelokkan mobil ke jalan tol. “Kenapa tanya?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu cemburu?”
“Tidak.”
Jalen menepikan mobilnya di bahu jalan. Begitu saja. Lampu hazard menyala. Ia menoleh dan menatap Sela lurus.
“Jangan bohong sama saya.”
Sela membuka mulut. Menutupnya lagi. Pria ini benar-benar tidak memberinya jalan keluar. Ia memandangi tangannya sendiri di pangkuan.
“Saya tidak tahu,” jawabnya pelan. “Itu jujur. Saya tidak tahu ini apa.”
Jalen menatapnya beberapa detik lagi. Lalu sesuatu di wajah pria itu melunak. Ia mematikan lampu hazard dan kembali menjalankan mobilnya.
“Oke,” ucapnya. “Kalau sudah tahu, kasih tahu aku.”
Sela memandangi jalanan yang basah di depan mereka. Ia baru sadar Jalen sudah memakai kata aku sejak tadi. Bukan saya.
Ia tidak tahu sejak kapan.
***