Hal pertama yang Sela pelajari tentang tinggal serumah dengan Jalen Gomez adalah bahwa pria itu bangun jam setengah lima pagi. Setiap hari. Tanpa alarm.
Hal kedua adalah bahwa pria itu memasak.
Pagi ketiga setelah akad, Sela keluar kamar dengan blazer setengah terpasang dan menemukan dapurnya, dapur yang selama dua tahun hanya ia pakai untuk merebus air, berbau bawang putih dan mentega. Jalen berdiri di depan kompor dengan kaos hitam dan celemek abu-abu yang entah dari mana asalnya. Ia sedang membalik telur di wajan sambil bersenandung pelan.
Bersenandung. Jalen Gomez. Pria yang mempermasalahkan sepuluh detik.
“Duduk,” ujar Jalen tanpa menoleh.
“Saya ada rapat jam—”
“Jam setengah delapan. Sekarang jam enam lewat dua puluh. Perjalanan ke AMARA dua puluh menit kalau lewat jalan belakang. Kamu punya waktu untuk makan.”
Sela membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bagaimana pria ini tahu jadwalnya? Lalu ia teringat kalender di pintu kulkas. Rumi yang menempelnya di sana minggu lalu, katanya supaya Pak Jalen tahu jadwal Ibuk.
Pengkhianat.
Sela duduk. Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diletakkan di depannya. Segelas susu. Sebutir tablet penambah darah di atas piring kecil.
“Saya bukan anak TK.”
“Anak TK nggak perlu diingatkan minum obat. Mereka nurut.”
Sela mendengus. Tapi ia makan. Dan nasi gorengnya enak. Terlalu enak untuk ukuran pria yang kelihatannya tidak pernah menginjak dapur. Ia menghabiskan semuanya dan menelan obatnya tanpa disuruh dua kali.
Jalen duduk di seberangnya dengan secangkir kopi hitam. Ia membaca sesuatu di tablet. Mungkin bahan kuliah. Mungkin laporan OseFa. Mereka sarapan dalam diam.
Anehnya, diam itu tidak terasa canggung.
...
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang aneh tapi pelan-pelan terasa wajar.
Jalen berangkat ke kampus atau ke gallery setelah sarapan. Sela berangkat ke AMARA. Geza kini lebih sering menganggur karena Jalen bersikeras menjemput Sela setiap sore. Pukul lima tepat, mobil kuning itu sudah terparkir di lobi. Para resepsionis sampai hafal dan mulai menyapa Jalen dengan sebutan Pak Suami.
Malam hari, Jalen memeriksa tugas mahasiswanya di meja makan. Sela bekerja di sofa dengan laptop di pangkuan. Mereka jarang bicara. Kadang Jalen menyodorkan potongan buah tanpa berkata apa-apa. Kadang Sela membuatkan teh tanpa ditanya. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang tumbuh begitu saja tanpa ada yang memulai.
Sela juga belajar hal-hal lain tentang pria itu. Jalen menata sepatunya berjajar rapi di rak, ujungnya sejajar seperti barisan upacara. Jalen tidak bisa tidur kalau ada piring kotor di bak cuci. Jalen membaca tiga buku sekaligus dan meninggalkan pembatasnya di halaman yang sama berhari-hari. Dan setiap subuh, dari balik dinding kamar tamu, terdengar suaranya mengaji pelan. Sela sering terbangun karena suara itu. Anehnya, ia tidak pernah merasa terganggu.
Jalen pun pasti belajar banyak tentang dirinya. Bahwa Sela menyimpan novel-novel lama di rak paling bawah. Bahwa Sela minum teh tanpa gula. Bahwa Sela selalu memeriksa kunci pintu dua kali sebelum tidur. Pria itu tidak pernah mengomentarinya. Tapi suatu pagi, Sela menemukan tehnya sudah tersedia tanpa gula, dan tidak ada yang perlu bertanya.
Pada malam kesembilan, pukul dua belas lewat tiga puluh, Sela masih menatap laporan keuangan di layar laptopnya. Matanya pedih. Kepalanya mulai berdenyut. Tapi angka-angka itu harus selesai sebelum rapat besok.
Sebuah tangan menutup layar laptopnya perlahan.
“Syarat kedua,” ujar Jalen.
“Satu halaman lagi.”
“Kamu bilang begitu satu jam yang lalu.”
“Kali ini benar.”
Jalen mengambil laptop itu dari pangkuan Sela. Begitu saja. Seperti mengambil mainan dari tangan anak kecil. Ia menyelipkannya di bawah lengan dan berjalan ke kamarnya sendiri.
“Jalen!”
“Besok pagi saya kembalikan. Jam setengah enam.”
“Itu laporan untuk rapat dewan!”
“Rapat dewan jam sepuluh. Kamu masih punya empat jam besok pagi.” Jalen berhenti di depan pintu kamarnya. “Dan kamu baru saja panggil nama saya. Tanpa Tuan. Tanpa Bapak.”
Sela membeku. Ia memang baru saja melakukannya. Untuk kedua kalinya.
“Selamat tidur, Sela.”
Pintu kamar tamu tertutup. Sela duduk di sofa dengan mulut setengah terbuka dan pangkuan kosong. Ia ingin marah. Sangat ingin. Tapi tubuhnya terlalu lelah. Dan diam-diam, di sudut paling kecil dari dirinya, ia merasa lega.
Malam itu ia tertidur dalam hitungan menit.
...
Rapat dewan berlangsung pukul sepuluh pagi. Sela menyelesaikan laporannya pukul tujuh, dua jam lebih cepat dari yang ia perkirakan. Mungkin karena kepalanya jauh lebih jernih setelah tidur enam jam penuh. Ia tidak akan pernah mengakuinya pada Jalen.
Agenda terakhir rapat hari itu adalah permintaan Pak Darmawan. Rumi melangkah ke depan dan menyerahkan sebuah map kepada sekretaris dewan. Di dalamnya ada salinan buku nikah yang sudah dilegalisasi.
“Sesuai permintaan Bapak,” ujar Sela tenang.
Sekretaris dewan membuka map itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk lalu meneruskannya kepada Aryan. Aryan melihatnya sebentar dan mengangguk puas. Map itu lalu berpindah tangan, satu per satu, sampai akhirnya tiba di depan Pak Darmawan.
Darmawan membukanya. Ia membaca lebih lama dari siapa pun.
Sela memperhatikan wajah pria itu. Ia sudah menyiapkan diri untuk sindiran atau pertanyaan lanjutan. Tapi Darmawan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya membaca. Matanya berhenti di satu bagian halaman. Lama.
Lalu ia tersenyum.
“Terima kasih, Bu Mirsela,” ucapnya sambil menutup map. “Saya minta salinan ini disimpan di arsip dewan. Untuk kelengkapan dokumen evaluasi enam bulan nanti.”
“Tentu,” jawab sekretaris dewan.
Rapat ditutup. Para anggota dewan meninggalkan ruangan satu per satu. Beberapa menghampiri Sela untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya. Sela membalas dengan senyum sopan yang sudah ia latih bertahun-tahun.
Tapi senyum Darmawan tadi terus mengganggunya. Senyum orang yang baru saja menemukan sesuatu.
“Buk?” Rumi menyentuh lengannya. “Ibuk nggak apa-apa?”
“Kamu lihat bagian mana yang dia baca lama tadi?”
Rumi menggeleng. “Nggak kelihatan, Buk. Kenapa?”
Sela tak menjawab. Ia mencoba mengingat isi halaman pertama buku nikah itu. Nama. Tempat. Tanggal lahir. Tanggal akad. Wali. Saksi. Semuanya benar. Semuanya sah. Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang salah, kan?
Pukul lima tepat, mobil kuning itu sudah menunggu di lobi. Sela masuk dan memasang sabuk pengaman tanpa bicara. Jalen meliriknya.
“Rapatnya gimana?”
“Lancar.”
Jalen memandanginya beberapa detik lebih lama. Lalu ia menjalankan mobilnya tanpa bertanya lagi.
“Malam ini saya masak sop,” ujarnya kemudian. “Kamu suka wortel atau nggak?”
Pertanyaan itu begitu sederhana sampai Sela tak bisa menahan senyumnya. Senyum kecil yang tidak ia latih sama sekali.
“Suka.”
“Oke.”
Dan untuk malam itu, Sela memutuskan tidak memikirkan senyum Darmawan lagi.
***