Jumat pagi, langit Jakarta cerah tanpa awan. Seolah cuaca pun ikut bersekongkol untuk tidak memberi Sela alasan apa pun untuk membatalkan.
Sela duduk di depan cermin di salah satu kamar tamu rumah keluarga Gomez. Kebaya putih sederhana membalut tubuhnya. Tidak ada payet berlebihan, tidak ada ekor panjang. Hanya renda halus di bagian lengan dan kerah. Agisti yang memilihnya. Perempuan itu juga yang sejak subuh tadi sibuk menata rambut Sela, menyematkan melati satu per satu.
“Diam dulu. Jangan gerak-gerak.”
“Iya, Ma.”
Agisti menyematkan kuntum melati terakhir. Lalu tangannya berhenti di bahu Sela. Lama. Sela melihat pantulan wajah ibunya di cermin. Mata Agisti merah.
“Ma?”
“Nggak apa-apa.” Agisti buru-buru mengusap matanya. “Bedak Mama luntur nanti.”
Sela tak tahu harus berkata apa. Selama delapan belas tahun, Agisti lebih sering merepet padanya daripada memeluknya. Lebih sering mengomentari pakaiannya daripada menanyakan harinya. Sela tak pernah benar-benar tahu apa yang ada di kepala perempuan ini.
“Kamu cantik,” ucap Agisti pelan. Lalu ia cepat-cepat berbalik dan keluar kamar sebelum Sela sempat menjawab.
Rumi muncul di ambang pintu dengan mata yang juga merah. Asistennya itu datang sejak jam tujuh pagi membawa sekotak tisu dan sebuah kipas kecil.
“Buk,” Rumi terisak. “Ibuk cantik banget.”
“Kenapa semua orang menangis hari ini?”
“Ya karena Ibuk nikah, Buk!”
Sela menghela napas. Tapi entah kenapa, kali ini ia tidak merasa kesal.
...
Ruang keluarga rumah Javier Gomez sudah ditata sederhana. Meja kecil berlapis kain putih di tengah ruangan. Penghulu duduk di satu sisi. Pasundanu di sisi lain. Shawn dan Geza duduk berdampingan sebagai saksi. Geza memakai kemeja batik, bukan kemeja hitamnya yang biasa. Sela hampir tidak mengenalinya.
Di sofa, Javier, Risa, Aryan, dan Namira duduk berdampingan. Agisti di sebelah Namira, memegang ponsel yang terhubung dengan panggilan video. Wajah Cristal memenuhi layar. Adiknya itu sudah menangis bahkan sebelum acara dimulai.
Jalen duduk di depan meja dengan baju koko putih dan peci hitam. Sela didudukkan di sebelahnya, sedikit di belakang. Mereka tidak saling melihat.
Penghulu membuka acara dengan doa. Lalu khutbah nikah singkat. Lalu ia mempersilakan Pasundanu.
Pasundanu menjabat tangan Jalen. Sela memperhatikan tangan ayahnya. Tangan itu gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sela melihat Pasundanu Gaung gemetar.
“Saudara Jalen Gomez bin Javier Gomez.” Suara Pasundanu sedikit serak. Ia berhenti sebentar, berdehem, lalu melanjutkan. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Mirsela Anata binti Pasundanu Gaung, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas dua puluh gram, dibayar tunai.”
Putri kandung saya.
Sela menunduk. Ia meremas ujung kebayanya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Mirsela Anata binti Pasundanu Gaung dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu tarikan napas. Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Suara Jalen terdengar jelas dan tenang, seperti sedang membacakan materi kuliah.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah,” jawab Shawn.
“Sah,” jawab Geza.
“Alhamdulillah.”
Penghulu memimpin doa. Semua orang menengadahkan tangan. Dari ponsel Agisti terdengar isakan Cristal yang makin keras. Risa mengusap sudut matanya dengan sapu tangan. Namira juga. Bahkan Shawn terlihat mengerjap lebih cepat dari biasanya.
Sela menengadahkan tangan dan tidak tahu harus berdoa apa. Ia hanya mengulang satu kalimat di kepalanya. Maafkan aku, Ma. Maafkan aku.
Ia sendiri tak tahu sedang meminta maaf pada ibu yang mana.
Setelah doa selesai, penghulu meminta Sela menyalami suaminya. Sela mengulurkan tangan dengan kaku. Jalen menyambutnya. Tangan pria itu hangat. Sela mencium punggung tangannya, persis seperti yang diajarkan Risa tadi pagi.
Lalu Jalen meletakkan tangannya di ubun-ubun Sela dan membaca doa pelan. Setelah itu, sebelum Sela sempat menegakkan punggung, pria itu menunduk dan mengecup keningnya.
Singkat. Ringan. Hampir tak terasa.
Tapi Sela membeku di tempatnya seperti patung. Ia mendengar Namira memekik kecil. Ia mendengar Cristal berteriak dari ponsel. Ia mendengar Risa tertawa sambil menangis. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
“Itu bagian dari acara,” bisik Jalen di dekat telinganya.
“Saya tahu,” balas Sela sama pelannya. Wajahnya terasa terbakar.
...
Siangnya, Risa menahan mereka untuk makan bersama. Masakan rumahan. Sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, tempe mendoan. Aryan makan dengan lahap. Agisti dan Risa ternyata cepat akrab, membicarakan tanaman hias seolah sudah berteman lama. Javier dan Pasundanu membicarakan bisnis dengan nada yang jauh lebih santai daripada pertemuan tiga hari lalu.
Sela duduk di sebelah Jalen. Sesekali Jalen meletakkan lauk di piringnya tanpa bertanya. Tempe. Ayam. Sayur. Sela makan semuanya tanpa membantah. Ia sadar Risa memperhatikan mereka dengan senyum lebar.
“Nanti malam kalian tinggal di mana?” tanya Risa tiba-tiba.
Sela dan Jalen saling melirik.
“Suami istri itu harus serumah, Nak,” lanjut Risa lembut tapi tegas. “Bunda nggak mau dengar kalian pulang ke rumah masing-masing.”
“Apartemen Sela, Bun,” jawab Jalen. “Lebih dekat ke AMARA.”
Sela menoleh cepat. Mereka belum pernah membicarakan ini.
“Kamar tamunya kosong,” lanjut Jalen dengan suara lebih pelan, khusus untuk Sela. “Saya sudah lihat waktu itu.”
...
Malam itu, Jalen tiba di apartemen Sela dengan satu koper dan satu tas berisi buku. Hanya itu. Ia menata barang-barangnya di kamar tamu tanpa banyak bicara, lalu keluar untuk mengambil air minum di dapur.
Sela sudah berganti piyama. Melati di rambutnya sudah dilepas. Ia berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri, ragu harus mengatakan apa.
“Kamar mandi di kamar tamu airnya agak lama panasnya,” ujarnya akhirnya.
“Oke.”
“Handuk bersih ada di lemari.”
“Oke.”
“Kalau butuh apa-apa—”
“Sela.” Jalen meletakkan gelasnya. “Saya bukan tamu hotel.”
Sela terdiam. Benar juga. Pria ini sekarang suaminya. Suaminya. Kata itu masih terasa asing di kepalanya.
“Selamat malam,” ucap Sela, lalu bergegas masuk kamar.
Sebelum pintunya tertutup, suara Jalen terdengar dari dapur.
“Selamat malam, Istri.”
Sela membuka pintu lagi sedikit. “Jangan panggil begitu.”
“Kenapa?”
“Aneh.”
Jalen bersandar di meja dapur dengan gelas di tangan. Untuk pertama kalinya, Sela melihat pria itu tersenyum lebar. Senyum yang sampai ke matanya.
“Sekarang itu bukan bohong lagi,” jawabnya.
Pintu kamar Sela tertutup dengan bunyi yang sedikit terlalu keras.
***