Tiga hari kemudian, dua keluarga itu duduk di ruang tamu yang sama untuk pertama kalinya.
Rumah keluarga Gaung belum pernah terasa sepenuh ini. Javier dan Risa duduk di sofa panjang, Shawn dan Namira di sebelah mereka. Di seberang, Aryan duduk di kursi berlengan dengan tongkat bersandar di sisinya. Pasundanu dan Agisti di sofa lain. Jalen dan Sela duduk di dua kursi terpisah yang diletakkan berdampingan di tengah. Seperti dua terdakwa.
Pembantu rumah tangga menyajikan teh dan kue-kue kecil. Tak ada yang menyentuhnya.
“Javier,” Aryan membuka suara lebih dulu. “Saya minta maaf. Ini semua berawal dari saya.”
Javier mengangguk pelan. Kedua pria tua itu sudah saling mengenal puluhan tahun, dan Sela bisa melihat mereka sudah bicara empat mata sebelum pertemuan ini. Tak ada nada marah di antara keduanya. Hanya ada lelah.
“Yang sudah terjadi biar terjadi, Aryan. Sekarang kita perbaiki dengan benar.”
Pembicaraan berjalan lebih cepat dari dugaan Sela. Akad akan dilaksanakan Jumat depan, di rumah keluarga Gomez. Hanya keluarga inti. Tidak ada resepsi untuk saat ini. Pasundanu akan menjadi wali. Penghulu sudah dihubungi Javier lewat seorang kenalan. Dokumen-dokumen akan diurus oleh asisten masing-masing.
Semuanya dibicarakan seperti rapat dewan. Agenda, keputusan, penanggung jawab. Sela hampir tertawa. Bahkan pernikahannya pun diatur dengan cara yang sama seperti ia mengatur jadwal kerja.
“Sebenarnya,” Pasundanu tiba-tiba bersuara. Semua kepala menoleh padanya. “Sejak awal saya berharap Jalen bisa dekat dengan Cristal. Anak bungsu saya. Saya pikir mereka lebih cocok.”
Ruangan langsung hening. Agisti mencubit lengan suaminya dengan keras.
“Mas!”
“Saya cuma bilang.”
Sela menunduk pada cangkir tehnya yang tak tersentuh. Ia sudah tahu. Ia sudah tahu sejak lama. Tapi mendengarnya diucapkan langsung, di depan keluarga calon suaminya, rasanya seperti ditampar di depan umum.
“Pak Pasundanu.” Suara Jalen terdengar datar dan sopan. Terlalu sopan. “Saya belum pernah bertemu Cristal. Dan yang akan saya nikahi Jumat depan adalah Sela. Saya harap kita bisa sepakat soal itu.”
Pasundanu memandangi calon menantunya. Ia tak membalas. Tapi ia juga tak membantah.
Risa yang sejak tadi diam akhirnya bangkit dari sofa. Ia berjalan menghampiri Sela, lalu berlutut di depan kursinya supaya mata mereka sejajar. Sela terkejut. Ia hampir ikut berdiri.
“Nak,” panggil Risa lembut. “Bunda boleh tanya satu hal?”
Sela mengangguk kaku.
“Kamu mau menikah dengan anak Bunda bukan karena dipaksa, kan?”
Sela memandangi perempuan di depannya. Matanya teduh. Tangannya hangat ketika menggenggam tangan Sela yang dingin. Ini pertama kalinya Sela bertemu Risa. Tapi entah kenapa, di hadapan perempuan ini, ia merasa tidak bisa memasang wajah datarnya.
“Saya tidak dipaksa, Tante,” jawab Sela. Dan itu benar. Tidak ada yang memaksanya mengirim pesan jam enam pagi itu. “Saya memilih.”
Risa tersenyum. Ia menepuk punggung tangan Sela dua kali.
“Mulai Jumat depan, panggil Bunda. Ya?”
Sela tak bisa menjawab. Tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit.
...
Malam itu Geza datang ke apartemen Sela membawa map berisi dokumen. KTP, kartu keluarga, akta kelahiran, surat pengantar. Semua yang dibutuhkan untuk mendaftarkan pernikahan. Jalen juga datang karena formulirnya harus diisi berdua.
Geza pamit setelah menyerahkan map. Ia sempat melirik Sela dengan raut khawatir sebelum menutup pintu. Sela tahu kenapa. Geza tahu apa yang ada di dalam map itu.
Jalen duduk di meja makan dan mulai mengisi formulir dengan tulisan tangan yang rapi. Nama lengkap. Tempat dan tanggal lahir. Alamat. Ia membuka akta kelahiran Sela untuk menyalin data orang tua.
Penanya berhenti bergerak.
Nama ayah: Pasundanu Gaung.
Nama ibu: Larasati.
Bukan Agisti.
Sela yang duduk di seberangnya melihat semuanya. Bagaimana mata Jalen berhenti di satu baris. Bagaimana rahangnya sedikit menegang. Bagaimana pria itu lalu meletakkan pena perlahan dan tidak berkata apa-apa.
Jalen tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
Sela menarik napas panjang. Jangan berbohong pada saya. Diam memang bukan bohong. Tapi di balkon hotel malam itu, ia sudah berjanji akan bercerita kalau sudah siap.
Mungkin ia tidak akan pernah siap. Mungkin justru karena itu ia harus bicara sekarang.
“Papa menikahi Mama saya diam-diam,” ucap Sela. Suaranya pelan tapi jelas. “Di KUA kecil di Bandung. Sah. Tapi tanpa restu Opa. Mama saya cuma guru bahasa di sekolah swasta. Bukan siapa-siapa.”
Jalen tidak menyela.
“Opa tahu waktu Mama sedang mengandung saya. Opa marah besar. Opa memberi Papa pilihan. Mama saya, atau AMARA. Papa memilih AMARA.” Sela tersenyum tipis. “Papa menceraikan Mama, lalu menikah dengan Mama Agisti. Keluarga Hartono, salah satu tetua pendiri AMARA. Pernikahan yang direstui semua orang.”
Sela memutar-mutar cincin kecil di jari kelingkingnya. Cincin perak sederhana yang selalu ia pakai. Jalen baru menyadarinya sekarang.
“Mama membesarkan saya sendiri di Bandung. Lalu Mama sakit. Waktu saya enam tahun, Mama meninggal. Di rumah sakit. Saya sudah cerita bagian itu.” Sela berhenti sebentar. “Besok paginya Papa datang menjemput. Untuk pertama kalinya saya bertemu Papa.”
“Lalu kamu dibawa ke rumah ini.”
“Mama Agisti setuju membesarkan saya. Orang-orang diberi tahu saya anak sulung mereka yang selama ini tinggal bersama nenek di luar kota. Tahun lahir saya diceritakan setahun lebih muda supaya cocok dengan tanggal pernikahan mereka. Cuma di KTP dan akta yang tidak bisa diubah.”
Itu menjelaskan semuanya. Kejanggalan yang Jalen temukan di dompet Sela pagi itu.
“Dan Cristal?”
“Cristal anak Papa dan Mama Agisti. Lahir waktu saya tiga tahun.” Sela menatap Jalen lurus. “Saham keluarga Hartono di AMARA diwariskan untuk Cristal. Ditambah bagian Gaung, Cristal adalah pewaris AMARA yang sebenarnya. Saya cuma dibesarkan untuk menjaga kursi itu tetap hangat sampai dia siap. Itu syarat Opa sejak awal. Itu harga saya diterima di rumah ini.”
Apakah ada yang kurang dari kami untukmu? Kalimat itu tiba-tiba terdengar sangat berbeda di kepala Jalen.
“Jadi selama ini kamu bukan ambisius,” ujar Jalen pelan.
“Saya ambisius.” Sela tertawa kecil tanpa suara. “Ambisi saya cuma satu. Melunasi utang, mengembalikan semuanya ke Cristal, lalu pergi. Ke tempat di mana tidak ada yang tahu nama Gaung.”
Jalen memandangi perempuan di depannya. Perempuan yang selama ini ia benci karena ia pikir terlalu haus kekuasaan. Perempuan yang ia masukkan ke daftar hitamnya bahkan sebelum ia mengenalnya.
Ia teringat ucapan Yasmine dulu. Nggak semua orang bisa mengerti dan memahami kita.
“Kamu nggak berutang apa-apa sama siapa pun karena dilahirkan,” ucap Jalen.
Sela tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Ia sudah terlalu lama berlatih untuk tidak menangis.
Jalen mengambil penanya kembali. Ia menyalin nama Larasati dengan hati-hati di kolom nama ibu, huruf demi huruf.
“Nama yang bagus,” ujarnya tanpa mengangkat wajah.
Sela memalingkan wajah ke jendela. Dan untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, ia membiarkan satu air mata jatuh di depan orang lain.
***