Bel apartemen berbunyi tiga kali, dengan jeda yang rapi. Sela tak perlu mengintip untuk tahu siapa yang datang sepagi ini dengan cara sesabar itu.
Ia membuka pintu. Jalen berdiri di sana dengan kaos oblong abu-abu, celana training, dan sandal jepit. Rambutnya berantakan. Sela belum pernah melihat pria itu berpenampilan seperti manusia biasa.
“Anda sudah lihat beritanya,” ucap Sela. Bukan pertanyaan.
“Kamu juga.”
Sela membuka pintu lebih lebar. Jalen masuk dan langsung menemukan laptop menyala di meja ruang tengah, tiga ponsel bergetar bergantian di sofa, dan secangkir kopi yang sudah dingin. Sela sendiri sudah berpakaian lengkap dengan blazer biru tua. Seperti siap berperang.
“Duduk,” ujar Sela. “Saya sudah menyiapkan sesuatu.”
Jalen tidak duduk. Ia berdiri di belakang sofa dan membaca layar laptop dari jauh. Sebuah dokumen. Judulnya membuat rahangnya mengeras.
Pernyataan Resmi Mirsela Anata Gaung.
“Kamu mau ngapain?”
“Menyelesaikan masalah.” Sela duduk dan menggeser laptopnya agar Jalen bisa membaca lebih jelas. “Saya akan mengumumkan bahwa berita itu tidak benar. Bahwa saya dan Anda tidak pernah menikah. Bahwa sayalah yang mengarang cerita itu demi jabatan, dan Anda hanya korban yang terseret. Setelah itu saya mundur dari kursi GM.”
Jalen membaca paragraf demi paragraf. Kalimatnya rapi dan dingin. Setiap kalimat menimpakan semua kesalahan pada satu orang. Sela.
“Opa sudah tahu?”
“Opa justru senang dengan beritanya.” Sela tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak lucu. “Katanya biar Darmawan diam. Tapi tadi pagi sekretariat dewan mengirim surat. Darmawan meminta salinan buku nikah diserahkan di rapat dua minggu lagi. Orang-orangnya sudah mencari dan tidak menemukan catatan pernikahan kita di mana pun.”
Tentu saja tidak ada. Karena memang tidak pernah ada.
“Jadi kamu mau menyerahkan semuanya,” ujar Jalen pelan. “Kursi GM. Nama baik kamu. Semuanya.”
“Kursi itu memang bukan punya saya.”
Jalen mengernyit. Kalimat itu terdengar aneh. Bukan seperti orang yang kalah. Lebih seperti orang yang sedang mengembalikan barang pinjaman.
“Maksud kamu?”
Sela tak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke laptop. “Saya akan kirim pernyataan ini ke kantor berita jam sembilan. Nama Anda akan bersih. Keluarga Gomez tidak akan—”
“Bunda saya minta saya menikahi kamu.”
Jari Sela berhenti di atas keyboard.
Jalen akhirnya duduk. Di kursi seberang, berhadapan langsung dengan Sela. Ia menceritakan pagi tadi. Meja makan. Papa. Bunda. Tiga telepon ucapan selamat. Dua pilihan.
Sela mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tetap datar. Tapi ketika Jalen selesai bicara, tangan kanannya sedikit gemetar.
“Tidak,” jawab Sela.
“Saya belum bertanya.”
“Jawabannya tetap tidak.” Sela menutup laptop. “Anda tidak berutang apa-apa pada saya. Ini kekacauan saya. Saya yang menabrakkan diri ke mobil Anda. Saya yang berlutut. Saya yang memaksa. Saya tidak akan mengikat Anda seumur hidup hanya karena kesalahan saya.”
“Ini bukan cuma kesalahan kamu.”
“Ini kesalahan saya.”
“Saya yang berdiri di depan Paman Aryan dan bilang kamu istri saya.” Jalen mencondongkan tubuh. “Saya yang menyampirkan jas di bahu kamu di depan kamera. Saya yang bilang ‘istri saya terlalu sibuk’ ke istri Darmawan. Saya sudah dewasa, Sela. Saya tahu konsekuensinya. Saya cuma tidak mau melihatnya.”
Sela terdiam.
“Ini nama keluarga saya juga,” lanjut Jalen. “Dan kalau kamu kirim pernyataan itu, orang tidak akan bilang saya korban. Orang akan bilang anak bungsu Javier Gomez ikut sandiwara, lalu lari begitu ketahuan. Dan kamu…” Jalen menunjuk laptop yang tertutup. “Kamu akan jadi perempuan yang menjual diri demi jabatan. Itu yang kata Bunda paling tidak adil. Dan Bunda benar.”
“Saya bisa menanggungnya.”
“Saya tahu kamu bisa. Kamu bisa menanggung apa saja. Itu masalahnya.”
Ponsel di sofa kembali bergetar. Opa. Sela tidak mengangkatnya. Getarannya berhenti. Lalu mulai lagi. Rumi.
“Pernikahan itu bukan kontrak, Jalen,” ucap Sela akhirnya. Di luar kagetnya di koridor rumah sakit dulu, ini pertama kalinya ia memanggil nama itu tanpa embel-embel Tuan atau Bapak. “Tidak bisa ditandatangani, lalu dirobek setelah enam bulan.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
“Makanya saya minta dengan benar.”
Jalen menegakkan punggung. Ia menatap Sela tepat di manik mata. Sorotnya tidak lembut, tidak romantis. Hanya serius. Sangat serius.
“Mirsela Anata. Menikahlah dengan saya.”
Sela merasa udara di ruangan itu menghilang.
“Bukan karena cinta,” lanjut Jalen. “Saya tidak akan bohong soal itu. Saya bahkan belum tahu apakah saya suka kamu. Tapi saya tidak mau kamu jatuh sendirian karena sesuatu yang kita lakukan berdua. Kita menikah dengan sah. Setelah itu, kalau suatu hari salah satu dari kita ingin berpisah, kita berpisah dengan cara yang benar juga. Tidak ada yang perlu berbohong lagi. Tidak pada dewan. Tidak pada keluarga saya. Tidak pada siapa pun.”
Sela tidak menjawab. Ia memandangi tangannya sendiri di atas pangkuan.
Yang ia pegang selama ini bukan miliknya. AMARA bukan miliknya. Kursi GM bukan miliknya. Dan pria di depannya ini, pria yang sejak awal Papa inginkan untuk Cristal, juga bukan miliknya. Ia hanya meminjam. Semuanya pinjaman. Dan suatu hari ia harus mengembalikan semuanya.
Bagaimana bisa ia menikahi sesuatu yang harus ia kembalikan?
“Saya butuh waktu,” ucap Sela akhirnya. “Satu malam.”
Jalen mengangguk. Ia bangkit dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
“Satu hal lagi. Jangan kirim pernyataan itu jam sembilan.”
“Saya tidak akan mengirimnya sebelum memberi Anda jawaban.”
“Itu janji?”
“Saya tidak boleh bohong sama Anda, kan?”
Jalen menatapnya beberapa detik. Lalu pintu tertutup.
...
Malam itu Sela tidak tidur. Ia duduk di depan jendela apartemennya sampai lampu-lampu kota mulai padam satu per satu. Di tangannya ada sebuah bingkai foto kecil yang biasanya ia simpan di laci. Foto dua anak perempuan di taman. Satu berusia sekitar sembilan tahun, berwajah serius. Satu lagi lebih kecil, kira-kira enam tahun, tertawa lebar dengan es krim belepotan di pipi.
Sela dan Cristal.
“Maaf, Cris,” bisiknya pada foto itu. “Kakak pinjam sebentar lagi. Nanti Kakak kembalikan. Semuanya. Kakak janji.”
Pukul enam pagi, Sela mengetik pesan.
“Saya mau.”
Balasan datang dalam hitungan detik. Seolah pria itu juga tidak tidur.
“Oke.”
Sela memandangi kata pendek itu. Lalu ia mengetik lagi.
“Tapi saya punya satu syarat.”
“Apa?”
Sela menarik napas panjang.
“Jangan jatuh cinta sama saya.”
Kali ini balasannya datang lebih lama. Hampir satu menit. Sela sampai mengira Jalen tertidur.
“Itu syarat yang gampang.”
Sela meletakkan ponselnya dan menghapus dokumen pernyataan di laptopnya. Lalu ia pergi mandi, berpakaian, dan berangkat ke kantor seperti hari-hari biasa. Seolah ia tidak baru saja menyetujui pernikahan yang sungguhan.
***