“Ini dokumen pribadi karyawan beserta kelengkapannya. Semua sudah ada petunjuk untuk karyawan yang baru dipindahkan kemari sudah ada di sini. Kamu bisa baca sendiri sambil jalan. Jika ada yang belum dipahami bisa ditanyakan pada kami,” kata staf personalia bernama Kiki.
“Baik, Bu Kiki,” kata Kalila sambil mengecek dokumen dan id card yang tadi dijelaskan oleh resepsionis di lantai satu.
“Oh iya! Seharusnya ada satu dokumen lagi yaitu keputusan pengangkatan karyawan kantor pusat. Hanya saja karena tadi ada pesan dari Bu Mimin untuk melihat kinerja kamu selama dua bulan ke depan baru akan dikeluarkan surat tersebut,”lanjut Kiki.
“Bu Mimin itu…?”
“Beliau kepala departemen operasional layanan, atasan langsung kamu. Karena kamu tadi terlalu siang melapor jadi surat itu masih ditahan untuk sementara waktu. Oleh karena itu gaji kamu masih belum bisa disesuaikan,” jawab Kiki.
Ingin sekali rasanya Kalila menjelaskan kejadian sebenarnya tapi rasanya akan percuma. Kiki hanya menjalankan tugas. Yang perlu dilakukan saat ini adalah memberikan bukti kalau kinerjanya tidak seperti yang Mimin katakan.
“Saya mengerti, Bu Kiki. Lalu saya bisa mulai bekerja kapan, Bu?” tanya Kalila.
“Hari ini juga. Departemen operasional layanan ada di deretan meja keempat. Ada satu meja kosong yang memang harus diisi. Jadi kamu yang selanjutnya akan mengisinya,” jelas Kiki.
“Baik, Bu Kiki. Terima kasih penjelasannya. Saya akan segera ke meja saya,” kata Kalila.
Dia kemudian keluar dari ruangan Kiki setelah mendapat persetujuan.
Kalila menghitung deretan meja kerja hingga ke bagian yang ditujunya. Sebenarnya dia ingin menyapa setiap orang yang dilewatinya. Tapi karena mereka semua terlihat fokus pada layar komputer masing-masing, akhirnya Kalila hanya melewatinya begitu saja.
“Permisi, apa benar ini bagian operasional layanan?” tanya Kalila bertanya pada wanita yang duduk paling tepi.
Sayangnya wanita itu tidak langsung menoleh. Sekitar tiga puluh detik kemudian barulah Kalila mendapat perhatiannya.
“Kamu anak pindahan?” tanya wanita itu.
“Betul, Kak,” jawab Kalila lega karena mendapat respon.
“Tadi sudah dijelaskan sama staf personalia di mana meja kerjamu?”
“Sudah, Kak!”
“Di mana?”
“Meja kosong di deret keempat,”
“Ini deret ke berapa?” tanya wanita itu lagi.
“Keempat, Kak,” jawab Kalila setelah kembali memastikan.
“Ada meja kosong di deret ini?”
Kalila mengecek meja di deretan tempatnya berdiri sebelum menjawab, “Ada Kak,”
“Ya sudah!” kata wanita itu yang langsung kembali menatap layar komputernya.
Kalila terdiam. Sejenak mengatur emosi, “Kenapa nggak langsung bilang ‘iya’ aja? Pakai balik tanya muter-muter segala,” ucap Kalila dalam hati. Kesal juga rasanya mendapat jawaban dengan cara seperti ini.
“Kenapa masih berdiri di sini?! Bukannya kamu tadi sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sama bagian personalia?” sebuah suara dengan nada tinggi di belakang Kalila mengagetkannya. Hal ini ternyata menarik perhatian karyawan lain sehingga semua pandangan tertuju padanya.
Kalila berbalik. Dari suaranya dia sudah bisa mengenali siapa yang berbicara.
“Sudah, Bu Mimin. Ini saya sedang mencari meja kerja saya,” jawab Kalila.
“Cari meja kerja?! Memangnya serumit apa penataan ruangan kantor ini sampai-sampai kamu butuh waktu lama untuk menemukan meja kerjamu?!” cecar Mimin.
“Eh.. itu.. sudah saya temukan, Bu,” kata Kalila sambil mengalihkan pandangan ke meja kosong. Saat itu dari sudut mata dia bisa melihat beberapa orang menggelengkan kepala lalu kembali menekuni pekerjaan masing-masing.
“Lalu kenapa kamu masih berdiri di sini?!” tanya Mimin dengan nada yang tidak turun sedikitpun.
“I-iya, Bu. Ini saya-”Kalila hendak bergeser ke meja kerjanya.
“Tunggu!” cegah Mimin yang membuat Kalila berhenti mendadak.
“Ini berkas yang harus kamu selesaikan,” kata Mimin sambil menyerahkan setumpuk dokumen.
Kalila terkejut namun tetap harus menerimanya, “Baik, Bu Mimin. Akan segera saya kerjakan,” ucapnya.
“Berkas ini seharusnya selesai hari in. Tapi karena kamu baru mulai kerja jam segini jadi saya beri kelonggaran sampai besok sebelum jam istirahat,” kata Mimin sambil melirik jam dinding di depan mereka. Kalila melihat ke arah yang sama. Waktu sudah menunjukkan jam dua lebih empat puluh menit. Itu artinya jam kerja kantor tidak sampai dua jam lagi.
“Kamu bisa lembur untuk menyelesaikannya hari ini atau besok datang lebih pagi,” lanjut Mimin.
“Baik, Bu,” kata Kalila.
“Ya sudah! Segera kerjakan! Kalau ada kesulitan segera tanya ke rekan satu tim. Jangan diam saja dan buang-buang waktu,” kata Mimin yang langsung pergi menuju ke ruangannya lagi.
Kalila menghela nafas sejenak lalu berjalan ke meja kerja barunya. Dia kemudian memperkenalkan diri ke rekan yang duduk di kanan kirinya. Hanya berusaha menjalankan adab bertetangga yang baik karena dia menyadari suasana antar rekan kerja di tempat ini cukup berbeda.
“Bismillahirrohmanirrohiim…” ucap Kalila lirih tapi penuh penekanan.
Jujur Kalila ingin menangis sebenarnya. Kejadian hari ini sungguh menguras energi dan emosinya. Menunggu selama lima jam saja sudah melelahkan ditambah lagi beberapa kejadian yang membingungkan. Sudahlah bertanya malah dikerjain, tidak bertanya jadi buang waktu, bertanya lagi akhirnya disuruh jawab sendiri. Hehh entahlah.
Kalila mulai meneliti berkasnya satu persatu. Dia memilah dan memilih dokumen sesuai perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Dengan cara seperti ini dia mengukur agar tidak ada pekerjaan yang setengah selesai saat ditinggal pulang.
“Masih banyak yang harus diselesaikan?” tanya Salman. Rekan kerja yang duduk di sebelah kanan Kalila.
“Lumayan, Pak. Masih ada lima dokumen lagi,” jawab Kalila.
Salman mengangguk,”Kalau mau lembur usahakan tidak sendirian. Pulanglah jika tidak ada lagi yang lembur bersamamu,” pesan pria itu.
“Tapi Pak, kalau besok tidak selesai saya bisa kena masalah lagi,” kata Kalila.
“Terserah kamu sih. Itu tadi hanya saran dari orang yang sudah lebih dulu mengenal tempat ini. Kalau aku lebih memilih dimarah Bu Mimin daripada keselamatanku terancam,” lanjut Salman yang langsung beranjak pergi karena memang sudah jam pulang kerja.
Pertanyaan Kalila tertahan di mulut karena Salman sudah berjalan ke arah lift. Dia penasaran dengan maksud pria itu tentang ancaman keselamatan.
“Kamu dengarkan saja saran Pak Salman daripada besok malah nggak bisa masuk kerja,” kata Silvi yang duduk di sebelah kiri Kalila.
“Ke-” lagi-lagi pertanyaan Kalila menggantung karena Silvi juga bergegas pergi.
Konsentrasi Kalila mulai buyar mendengar saran kedua rekan kerjanya tadi. Dia melihat tumpukan dokumen di mejanya lalu melihat sekeliling. Masih ada sekitar lima orang lagi yang sedang bersamanya di ruangan itu namun dari departemen yang berbeda. Dia pun memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan karena masih ada teman lembur.
Selang beberapa menit kemudian beberapa orang mulai beranjak pulang. Kalila jadi bimbang antara melanjutkan atau tidak. Tinggal sedikit lagi satu dokumen terselesaikan.
“Mbak!” sebuah suara mengejutkannya.
“Ya, Bu?” tanya Kalila kepada sepasang pria dan wanita yang sudah berdiri di dekatnya. Dia memperhatikan name tag dari masing-masing orang, Lia dan Dani.
“Anak baru?” tanya Lia.
“Betul,” jawab Kalila.
“Kami sudah mau pulang. Sebaiknya Mbak sudahi juga pekerjaannya dan turun bersama kami,” lanjut Lia.
“Em… Baik, Bu. Sebentar saya bereskan. Bapak sama Ibu silahkan duluan saja tidak apa-apa,” kata Kalila. Dia masih harus menyimpan file dan mematikan komputernya. Dia khawatir kedua orang itu menunggu terlalu lama.
“Tidak apa-apa. Kami tunggu,” kata Dani.
“Oh, Baik! Sebentar,” kata Kalila yang kemudian bergegas merapikan semuanya.
Tidak sampai sepuluh menit Kalila sudah bergabung dengan Dani dan Lia. Dalam perjalanan menuju lantai dasar, Kalila bertanya tentang apa yang disampaikan Salman. Apalagi kedua orang itu juga dengan serius menunggunya untuk turun bersama.
“Emm… ini hari pertamamu. Jadi sebaiknya kami tidak menceritakannya sekarang,” kata Dani.
“Memangnya kenapa, Pak?” tanya Kalila semakin penasaran.
Dani dan Lia saling berpandangan dan membalas pertanyaan Kalila dengan senyuman misterius. Kalila pun menyerah dan memilih menunggu saat yang tepat mendapatkan jawaban.
“Alhamdulillah sudah sampai. Kalian hati-hati di jalan. Aku duluan,” ucap Dani saat mereka baru keluar dari lift.
“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Kalila.
“Oke, Dan. Aku juga duluan ya, Kalila,” ucap Lia yang kemudian pergi mendahului.
Kalila masih berdiri di tempatnya sambil melihat punggung Dani dan Lia menjauh. Entah bagaimana dia menilai teman-teman sekantornya ini. Mereka yang awalnya terlihat individualis ternyata memiliki perhatian padanya juga.
Lamunan Kalila terhenti saat mendengar suara pintu lift di terbuka. Dia menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Namun apa yang baru saja dilihatnya membuat jantungnya berdebar kencang. Wajahnya pucat dan keringat dingin mengalir setelah melihat sosok yang baru saja masuk ke dalam lift.