“Pernikahan itu ibadah terlama, Lil. Bahkan bisa jadi seumur hidup. Ada kalanya kita diberi ujian, tapi anugerah kenikmatan juga tidak kalah banyaknya. Namun hanya pasangan yang sabar yang bisa lapang d**a menerima ujian. Dan juga selalu bersyukur untuk bisa merasakan kenikmatan,” Lila mengingat pesan ayahnya semalam.
Kepulangannya kali ini tidak lama, hanya sehari semalam. Namun nasihat yang diberikan kedua orang tuanya seakan bisa dipakai seumur hidup.
“Kalau orang Jawa bilang, suami istri disebut garwa, sigaraning nyawa, yang artinya belahan jiwa. Jadi suami istri adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna, Lil. Kekuranganmu bisa dilengkapi atau ditutupi oleh suamimu. Begitu juga sebaliknya, jadilah istri yang bisa menutupi kekurangan suami. Kalau ada masalah coba selalu dibicarakan baik-baik. Yang tenang. Apalagi kamu sudah semakin dewasa. Jangan sedikit-sedikit kabur. Hahaha,” lanjut Sunar yang diiringi candaan.
Sayangnya gurauan sang ayah terasa seperti getokan di kepalanya. Kalila ingatelinganya langsung panas mendengar ucapan Sunar.
“Kamu harus berusaha jadi istri yang baik ya, Lil. Ibu mungkin belum bisa jadi contoh ideal untukmu. Tapi teruslah belajar. Kalau ada tempat untuk mengaji kitab, sempatlah untuk ikut sesibuk apapun kamu. Jadi istri butuh ilmu. Apalagi nanti kalau sudah punya anak, jauh lebih banyak lagi ilmu yang dibutuhkan kalau mau punya anak yang sholeh,” tambah Siti.
“Iya, Pak, Bu,” jawab Lila.
Kalila hanya bisa mengiyakan nasihat orang tuanya. Nasihat yang baginya peringatan keras.
“Sudah sampai, Kak!” Suara pengemudi ojek online membuyarkan lamunan Kalila.
“Oh iya! Terima kasih, Pak,” ucap Kalila setelah menyelesaikan pembayaran.
Hari ini hari pertama kerja di kantor baru. Dia memilih naik ojek online karena belum tahu transportasi umum lain yang bisa mengantarnya ke sini.
Kalila memandang gedung bertingkat di hadapannya. Sepertinya lebih dari dua puluh tingkat. Jauh berbeda dengan kantor cabangnya yang hanya berada di sebuah ruko.
Jantung Kalila berdebar. Kemegahan gedung ini membuat nyalinya ciut. Entah apa yang akan dihadapinya di sini nanti. Pasti akan berbeda. Dia mengingat pesan kedua orang tuanya saat pulang kemarin. Bekerja dengan banyak orang harus banyak berlapang d**a. Gesekan-gesekan kecil bisa saja terjadi. Tapi dia harus ingat tujuan utama bekerja haruslah lurus yaitu untuk ibadah pada Allah, mengamalkan ilmu yang dimiliki dan memberi manfaat bagi banyak orang. Jadi jangan pernah mulai mengusik orang lain, tapi jika ada yang mengusik jangan gentar untuk membela diri.
“Selamat pagi! Ada yang bisa dibantu, Bu?” suara seorang pria membuyarkan lamunan Kalila.
Seorang security mendatanginya karena sejak tadi hanya berdiri saja di depan pintu masuk. Sepertinya keberadaan Kalila disitu mulai menghalangi beberapa orang yang hendak memasuki gedung itu.
“Emmm, iya, Pak. Saya mau ke kantor Akira Development,” jawab Kalila.
Sebenarnya dia sudah memegang alamat lengkap kantor barunya. Hanya saja berdasarkan informasi, di gedung perkantoran ini tidak hanya ada satu perusahaan. Jadi dia perlu memastikan kemana arah yang harus dilalui untuk sampai ke kantornya.
“Akira development ada di lantai delapan sampai sepuluh, Bu. Ibu diminta datang ke lantai berapa?” tanya security.
“Lantai delapan, Pak,”
“Sudah ada id card, Bu?”
“Ini, Pak,” Kalila menunjukkan kartu tanda karyawan miliknya.
Security itu memeriksa sejenak,”Ini dari kantor ibu?”
“Betul, Pak. Saya baru pindah dari kantor cabang kesini,” jawab Kalila.
“Untuk pimpinan dan karyawan di gedung ini ada kartu khusus, ibu. Untuk keamanan. Jadi setiap perusahaan di gedung ini akan memberikan id card dengan QR Code untuk mengakses setiap fasilitas,” kata security menjelaskan.
Kalila mengangguk paham, “Lalu bagaimana agar saya bisa sampai ke kantor saya, Pak?”.
“Nanti ibu bisa menemui resepsionis untuk mengisi buku tamu dan id card tamu. Untuk id card karyawan akan diatur oleh perusahan ibu,” jawab security.
“Baik. Terima kasih informasinya, Pak,” kata Kalila.
Debaran jantungnya mulai normal mendapat informasi dan pelayanan dari security yang baik. Demikian juga saat berada di bagian resepsionis. Dia mendapatkan perlakuan yang tidak kalah ramahnya.
“Silahkan isi buku tamunya ya, Bu. Ada kartu pengenal yang harus ditinggal untuk ditukar id card tamu,” Kata resepsionis.
Kalila menyerahkan kartu tanda penduduk miliknya dan mengambil id card bertali biru yang diberikan. Setelah itu Kalila diberi petunjuk arah mulai dari lift sampai lantai yang ditujunya.
“Alhamdulillah, sepertinya tidak seperti yang teman-teman katakan. Meskipun ini kota besar tapi tetap banyak orang yang peduli dan bersikap ramah,” Kalila membatin selama dalam lift. Kepercayaan dirinya kembali bangkit. Ada sekitar delapan orang yang bersamanya saat ini. Tidak terlalu penuh karena memang masih jauh dari jam masuk kantor.
Kurang dari sepuluh menit pintu lift sudah terbuka di lantai yang ditujunya. Kalila bersyukur ternyata ada dua orang lain yang keluar bersamanya. Itu berarti mereka juga bagian dari perusahaannya.
“Permisi, Kak!” Kalila memanggil dua orang yang sudah berjalan di depannya. Keduanya berbalik lalu saling pandang karena merasa tidak mengenal Kalila.
“Kamu panggil kita?” tanya salah seorang yang berambut panjang terurai.
“Iya, Kak. Mohon maaf, kakak berdua ini apa bekerja di perusahaan ini juga?” tanya Kalila memastikan.
Kedua wanita di hadapan Kalila tersenyum miring lalu mengangkat id card yang menggantung di dadanya, “Kamu bisa baca kan?” jawab wanita dengan rambut dikuncir kuda.
Kalila memperhatikan nama perusahaan dan nama masing-masing. Maya, wanita berambut tergerai dan Cynthia, wanita yang berkuncir.
Kalila mengangguk.
“Ada apa memangnya? Kamu anak baru ya?” tanya Cynthia.
“Iya, Kak. Saya pindahan dari kantor cabang,” jawab Kalila.
“Oh. Tapi minggu ini HRD kayaknya sedang dinas luar kota. Iya kan May?”
“Iya, Cyn. Kamu yakin disuruh datang hari ini? Biasanya kalau HRD tidak di kantor tidak ada karyawan yang diminta masuk,” Maya menjawab pertanyaan Cynthia sekaligus menjelaskan pada Kalila.
Kalila membuka berkasnya mencari surat pengantar dari kantor cabang. Dia lalu menunjukkan kepada Maya dan Cynthia untuk memastikan bahwa dia benar.
“Ini Kak surat dari kantor saya,” kata Kalila.
Maya dan Cynthia saling pandang setelah membaca lembaran yang diberikan Kalila,
“Oh kamu dari kabupaten M?” tanya Cynthia yang terdengar meremehkan.
Maya membisikkan sesuatu pada Cynthia sambil melirik Kalila sehingga membuat gadis itu tidak nyaman.
“Kamu tunggu saja di sana. Nanti kalau ada yang bertugas menghandle pasti kamu dipanggil,” kata Cynthia menunjuk tempat yang terdapat seperangkat sofa.
“Baik, Kak. Terima kasih,” kata Kalila.
Cynthia mengangguk lalu mengajak Maya berbalik meninggalkan Kalila. Kedua wanita itu terlihat tertawa dengan sesekali melihat ke arah Kalila.
“Apakah mereka menertawakanku?” batin Kalila.
Dia mengangkat bahu singkat lalu berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh Cynthia.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Itu berarti Kalila sudah menunggu lebih dari lima jam di tempat ini. Mulai dari kantor sepi hingga semua kursi terisi penuh. Sejak tadi Kalila terus memperhatikan lalu lalang karyawan yang bekerja sambil menunggu panggilan.
Entah kenapa dia tidak ada niat untuk bertanya pada karyawan lain untuk memastikan kebenaran informasi dari Cynthia tadi. Kalila agak segan karena sejak tadi orang-orang yang melaluinya hanya melihat sekilas tanpa ada satupun yang bertanya keperluannya. Jauh berbeda dengan keramahan yang dia dapatkan di lantai satu tadi. Dia hanya berusaha menduga mereka memang sangat sibuk sehingga tidak ada waktu melayani orang yang tidak ada kepentingan dengan pekerjaan mereka.
“Permisi, Pak” Kalila menghentikan seseorang berseragam office boy.
“Iya, Mbak,” jawabnya.
“Mohon maaf mau tanya apakah di sini ada musholla? Saya mau ikut sholat dhuhur,” tanya Kalila.
“Ada, Mbak. Di ruangan ujung,” jawab pria setengah baya bernama Enrico itu.
“Baik. Terima kasih, Pak,” kata Kalila.
“Mbak ini mau bertemu siapa ya? Saya lihat Mbak sudah sejak tadi di sini,” tanya Enrico.
Kalila menjelaskan keperluannya seperti yang dijelaskannya pada beberapa orang sebelumnya, “Tadi katanya saya akan dipanggil kalau yang bertugas sudah datang. Tapi sampai jam segini belum ada panggilan juga.”
“Oalah. Kenapa tidak tanya ke Mbak Sandra? Bagian penerima tamu. Pasti nanti diarahkan ke bagian yang benar,” kata Enrico.
Pria itu kemudian sedikit mendekat pada Kalila, “Kalau dua orang yang mbak sebutkan tadi memang sering ngerjain orang,” bisik Enrico.
Kalila mengangguk mengerti. Ternyata dia memang sedang dikerjai.
“Mari saya antar ke Mbak Sandra dulu sebelum mereka istirahat,” kata Enrico.
“Baik, Pak. Terima kasih banyak,” ucap Kalila kemudian mengikuti Enrico dari belakang.
Enrico terlihat menyampaikan sesuatu pada seseorang yang Kalila duga ada lah Sandra. Di sebelahnya ada seorang wanita lagi yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah kurang baik.
Beberapa menit kemudian Enrico dan dua wanita itu menoleh pada Kalila. Tiba-tiba saja wanita yang berdiri menghampiri Kalila.
“Jadi kamu karyawan yang dimutasi ke sini?! Kenapa baru melapor sekarang?! Kamu tahu sudah banyak pekerjaan menunggu! Seharusnya sejak pagi kamu sudah harus mengurus dokumen karyawan dan persiapan tempat kerjamu. Ck! Sikap apa ini?! Bagaimana bisa orang seperti ini yang dikirim ke tempat ini?!,” cecar wanita itu tanpa memberi waktu Kalila menjelaskan.
“Sa-”
“Sudahlah! Ini peringatan pertama untukmu! Kalau sampai terulang jangan harap kamu bisa bertahan di perusahaan ini. Sandra! Antar dia mengurus keperluannya!”