Seminggu sudah Kalila menjalani tugas di kantor pusat. Dia sudah mulai bisa beradaptasi dengan ekosistemnya mulai dari makhluk hidup hingga makhluk tak hidup. Beberapa kali bahkan dia mendapat sapaan dari yang katanya makhluk tak kasat mata di gedung ini.
Tidak mudah memang menyesuaikan diri dengan tempat baru. Apalagi tuntutan pekerjaan dan lingkungan sosial yang jauh berbeda dengan di kantor asalnya. Jika di tempat lama Kalila bisa bekerja sambil berbincang santai dengan rekan kerja, di tempat ini dia harus fokus bekerja selama jam kerja. Kalaupun bisa mengobrol itu pun dengan mata tetap di layar komputer atau dokumen yang sedang dikerjakan. Pantas jika gaji di kantor pusat hampir dua kali gaji di kantor cabang. Sayangnya dalam dua bulan ke depan dia hanya akan menerima gaji seperti di tempat lamanya karena drama hari pertama.
“Gimana Ka rasanya kerja di kantor pusat? Jauh berbeda kan dengan di kantor cabang?” tanya Silvi.
Kalila menoleh ke tempat Silvi berada. Mata wanita itu masih lurus ke arah layar dan jari-jarinya tetap lincah menari di atas keyboard.
“Beda banget, Kak,” jawab Kalila dengan kembali melanjutkan memasukkan data dari catatannya ke komputer.
“Bagaimanapun juga kamu harus cepat beradaptasi atau jika tidak kamu harus menyiapkan diri untuk terseleksi,” lanjut Silvi.
“Iya, Kak. Aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi di sini. Hanya saja memang untuk bersikap ke beberapa orang aku masih belum bisa menyesuaikan diri,” kata Kalila.
Kali ini Silvi menoleh pada Kalila. Dia penasaran dengan orang yang gadis itu maksud. Kalila yang menyadari dipandang dalam waktu lebih lama dari biasanya ikut menoleh. Wajahnya menampilkan sebuah cengiran.
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Silvi kemudian.
“Aku tidak bisa bilang. Khawatir menimbulkan masalah,” jawab Kalila.
“Apakah orang itu?” tanya Silvi lagi. Kali ini matanya memberi kode dengan melirik ke sebuah ruangan bertuliskan ‘kepala departemen’.
Kalila mengangguk pelan dengan senyuman penuh arti. Silvi tertawa singkat tanda menyetujui.
“Husst! Sudah jangan bergosip terus. Kembali bekerja. Kalian lupa dia punya telinga dewa. Sekali namanya disebut dia akan langsung muncul entah dari mana,” kali ini Salman ikut bersuara untuk memperingatkan kedua rekannya.
Kalila dan Silvi spontan menoleh pada Salman lalu saling berpandangan. Sedetik kemudian kedua wanita itu kembali pada pekerjaannya masing-masing.
Tidak sampai lima menit, ponsel Silvi berdering. Kalila yang tidak sengaja melihat nama di layar ponsel Silvi langsung memandang sang pemilik.
“Waduh! Semakin sakti saja ini orang. Cuma dibatin aja udah terpanggil,” gerutu Silvi.
“Kak Silvi terlalu kuat mungkin membatinnya, jadi getarannya sampai ke beliau,” goda Kalila.
“Ck! Kamu sih pake ajak-ajak mikirin dia,” ucap Silvi sebelum menerima panggilan.
“Baik, Bu, akan saya sampaikan,” kalimat penutup Silvi setelah sekitar tiga menit berbicara dengan Mimin di telepon.
“Ka! Kamu juga dipanggil tuh!,” kata Silvi setelah mematikan ponselnya.
“Hah?! Seriusan, Kak? Prank ya?” tebak Kalila tidak percaya.
“Ngapain juga aku bohong? Udah sana! Daripada nanti dia yang datang kemari. Bisa kena semua kita,” kata Silvi.
“Tapi kenapa beliau tidak menelponku secara langsung saja? Kenapa harus titip pesan ke Kak Silvi?” Tanya Kalila masih tidak percaya.
“Mana aku tahu. Udah sana! Cepetan,” dorong Silvi.
“Baiklah,” ucap Kalila segera beranjak dari tempat duduknya.
Kalila mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilahkan.
“Permisi, Ibu memanggil saya?” Tanya Kalila.
“Memangnya kapan aku memanggilmu?” Mimin balik bertanya dengan nada ketus.
Dalam hati Kalila merasa kesal pada Silvi. Dia merasa sedang dikerjai oleh rekan kerjanya itu. Dia tidak menyangka Silvi tega melakukan ini padanya.
“Tadi setelah Kak Silvi menerima telepon dari Ibu. Dia bilang Ibu juga memanggil saya,” jawab Kalila apa adanya. Dia tidak ingin kejadian di hari pertamanya datang akan terulang lagi. Dia merasa kali ini harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Betul! Aku tadi memang berpesan pada Silvi untuk memintamu datang kemari. Tapi itu tadi, dua menit yang lalu. Dan kamu kenapa baru datang sekarang?!” Tanya Mimin dengan nada mulai meninggi.
“I-iya, Bu mohon maaf. Tadi saya hanya ingin memastikan kalau Kak Silvi kalau memang Ibu memanggil saya,” jawab Kalila.
“Hehh! Memastikan?!” Cibir Mimin.
“Mengapa harus dipastikan? Apa kamu tidak percaya dengan rekan kerja terdekatmu? Kamu pikir mereka tukang bohong?” Tanya Mimin lagi.
“Oh tidak-tidak, Bu. Saya bukannya tidak percaya, tapi-”
“Ah! Sudahlah! Jangan banyak alasan kamu. Bagaimana kamu bisa bekerja dengan baik di sini kalau tidak ada kepercayaan pada rekan kerja? Apalagi mereka itu adalah senior kamu, yang sudah lebih dulu bekerja di sini dan mengenal kantor ini,” lanjut Mimin.
Kalila hanya bisa menahan nafas panjang, “Baik, Bu Mimin. Saya mohon maaf atas kesalahan saya,” ucapnya pada akhirnya.
Kalila sudah enggan membela diri lagi. Karena masalah ini bukannya akan selesai tapi justru bisa makin panjang.
“Sudahlah! Kamu kembali saja ke mejamu!” kata Mimin kemudian.
Kalila sudah hendak membuka mulut untuk bertanya tujuannya dipanggil tapi urung. Mood Mimin sepertinya sedang tidak baik saat ini.
“Baik, Bu Mimin. Saya permisi,” ucap Kalila.
“Ada apa,Ka?” tanya Silvi begitu Kalila duduk kembali di tempatnya.
Kalila mengangkat bahu singkat, “Entahlah, Kak. Bu Mimin cuma memarahiku karena tidak segera datang,” jawabnya jujur.
“Tuh kan. Kamu sih-”
“Iya, Ka. Aku salah memang,” kata Kalila memotong kalimat Silvi.
“Terus dia cuma marah aja? Nggak kasih tugas apa-apa?” tanya Silvi heran.
Lagi-lagi Kalila mengangkat bahu, “Itulah! Aku mau tanya ngga berani,” jawabnya nyengir.
“Ya udahlah. Kamu selesaikan saja pekerjaanmu sekarang secepatnya. Mana tahu nanti tiba-tiba dapat kerjaan baru,” kata Silvi.
“He eh,”
“Kalian ini kenapa kerja sambil ngegosip? Jangan sampai salah input data ya,” Suara Mimin tiba-tiba terdengar dari depan Kalila duduk.
Sontak semua yang ada di ruangan itu memandang ke sumber suara lalu beralih pada Kalila dan Silvi. Mereka berdua jadi salah tingkah karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian.
“Kalila! Kamu pergi ke ruang HRD sekarang!” kata Mimin memecah suasana.
“Baik, Bu!” ucap Kalila yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia belajar dari kejadian sebelumnya. Jangan sampai terlalu banyak tanya hingga akan memancing kemarahan Mimin lagi.
“Eh! Mau kemana kamu? Aku belum selesai bicara,” kata Mimin mencegah.
“Oh iya, Bu Mimin. Mohon maaf. Apa ada informasi yang lain Bu?” tanya Kalila.
“Kamu bawa dokumen kepindahanmu lagi untuk dicek,” kata Mimin,
“Baik, Bu,” kata Kalila yang langsung mengambil map berisi berkas yang diminta.
“Ada lagi, Bu Mimin?” tanya Kalila memastikan.
“Sudah! Nggak perlu banyak tanya lagi. Kamu sudah ditunggu dari tadi,” kata Mimin.
“Baik, Bu Mimin. Saya permisi,” kata Kalila yang langsung melesat meninggalkan tempatnya menuju ruang HRD.
Sejak kedatangannya di kantor pusat ini memang dia belum pernah lapor diri secara langsung. Menurut informasi, HRD ada pekerjaan di luar kota.
Kalila merasa ini adalah kesempatannya untuk membahas masalah gaji. Dia berencana menjelaskan kejadian hari pertama hingga keputusan Mimin memberi masa tenggang sebelum menaikkan gajinya sesuai ketentuan.
Kalila menghela nafas panjang mengetuk pintu ruangan HRD. Dia bermaksud mengatur emosi dan menyiapkan diri menghadapi segala hal. Memiliki kepala departemen seperti Mimin sudah membuat tekanan darahnya naik turun dalam tempo yang tepat. Entah bagaimana dengan HRD yang akan dihadapinya nanti.
Kalila mengetuk pintu tiga kali.
“Masuk!” ujar suara dari dalam ruangan.
“Bismillah,” ucap Kalila bersamaan dengan tangannya yang memutar handle pintu.
“Selamat siang, Pak,” ucap Kalila pada pria yang sedang berdiri membelakanginya.
“Silahkan duduk,” ucap HRD tanpa memutar tubuhnya.
Pria itu berdiri di depan lemari kaca dan terlihat sibuk meneliti sebuah dokumen.
Kalila mengikuti perintah HRD dan duduk menunggu dengan tenang.
“Dewi Kalila ya?” tanya HRD masih dalam posisi yang sama.
“Betul, Pak,” jawab Kalila.
“Lulusan S1 manajemen dari universitas negeri di kabupaten M,” lanjut HRD.
“Betul,” jawab Kalila.
Pria itu mulai beranjak menuju ke kursinya. Sayangnya dari posisi Kalila duduk dia tidak bisa melihat wajahnya.
Tubuh Kalila menegang saat HRD sudah duduk tepat di depannya. Wajahnya memucat dengan keringat dingin mulai keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Kondisi yang sama dengan apa yang dirasakan pada saat pulang kerja di hari pertama. Karena yang di depannya sekarang adalah sosok yang sama dengan yang dilihatnya masuk ke dalam lift saat itu.
Haris. Pria yang sampai hari ini masih berstatus suaminya.
Sosok yang saat itu dia kira hanya halusinasi ternyata benar-benar berada di gedung yang sama dengannya. Bahkan sangat dekat dengannya.