“Lila? Ini beneran Lila?” tanya Siti ketika baru saja melihat seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Kalila mengangguk terharu, “Ibuuuu!” ucapnya sambil berlari memeluk sang ibu.
Sejak Haris membawanya pergi, baru hari ini dia mengunjungi rumah kelahirannya lagi.
“Kamu gimana kabarnya, Lila? Kamu sendirian saja? Mana suamimu?” tanya Siti memeluk dan mengelus kuat punggung Kalila.
Kalila tidak menjawab pertanyaan Siti, “Aku kangen sama ibu. Bapak mana Bu?” tanyanya berusaha mengalihkan perhatian.
“Bapakmu masih di kebun. Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam,” ajak Siti.
Tangan kurusnya melingkar di lengan Kalila seakan tidak ingin melepaskannya. Sebagai ibu dia masih saja khawatir dengan kondisi anaknya. Bahkan meskipun Kalila sudah menikah dan menjadi menantu orang yang benar-benar dia percaya.
“Kamu duduk dulu, Lila. Ibu buatkan teh dulu,” kata Siti.
“Nggak usah, Bu. Nanti aku buat sendiri saja. Ibu jangan perlakukan aku seperti tamu ya. Aku kan tetap anak ibu,” kata Kalila menahan lengan Siti agar ikut duduk bersamanya.
“Nggak apa-apa, Lila. Bukan karena ibu menganggap kamu sebagai tamu. Tapi ibu yakin kamu pasti haus setelah perjalanan jauh,” kata Siti masih dalam posisi berdiri.
“Air putih ini saja, Bu. Ibu di sini aja. Aku kangen sama ibu, sama bapak,” kata Lila memaksa Siti untuk duduk bersamanya.
“Hhhh! Baiklah,” ucap Siti.
Dia kemudian membalik sebuah gelas yang memang selalu disediakan di atas meja untuk minum.
“Biar aku saja, Bu,” kata Kalila mengambil alih kendi berisi air putih dari tangan Siti.
Setelah gelas terisi penuh, Kalila meletakkan kendi kembali ke tempatnya lalu menghabiskan air di gelas dalam dua kali tiga tegukan.
“Alhamdulillah…Air yang selalu segar dan tidak bisa ditemukan dimanapun,” ucap Kalila.
“Ya memang di tempat lain sudah tidak ada lagi yang memakai kendi tanah liat seperti ini, Lil. Apalagi di rumah Mbak Diana yang pasti sudah menggunakan barang-barang canggih. Iya kan?” kata Siti.
“I-Iya, Bu,” jawab Lila terbata.
“Oh iya kamu tadi belum jawab pertanyaan ibu. Kamu datang kesini sendirian? Haris tidak ikut?” tanya Siti.
Kalila mengangguk lalu menggeleng. Siti mengerutkan kening bingung. Dia lalu melihat ke arah pintu untuk memastikan ada tidaknya Haris datang bersama Kalila.
“Aku datang sendirian, Bu. Pak Ha- eh anu Mas Haris ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Kalau aku terus menunggunya bisa-bisa tidak sampai di sini hari ini,” jawab Lila.
Dalam hati dia merapal kata maaf karena tidak jujur pada ibunya. Dia berharap mendapat ampunan jika suatu saat ketahuan.
Siti mengangguk. Ada raut kecewa terlihat dari wajahnya. Meskipun wanita itu tetap tersenyum namun Kalila tetap bisa menangkap apa yang dirasakan sang ibu.
“Aku minta maaf ya Bu karena selama ini tidak pernah pulang dan memberi kabar apapun pada ibu dan bapak,” kata Kalila sambil menggenggam tangan Siti.
Air matanya perlahan turun. Dalam hati dia bimbang antara menceritakan kondisi sebenarnya atau tetap menyembunyikan hingga saatnya tiba.
“Ibu mengerti, Lila. Mungkin kalian memang sibuk dan tidak ada waktu mengunjungi kami di sini,” kata Siti.
Bagi Kalila, kalimat yang baru saja diucapkan Siti bisa memiliki dua makna. Antara itu sebuah pengertian atau sindiran.
“Ibu…maaf ya,” kata Kalila mencium kedua tangan Siti yang sejak tadi di genggamannya.
Siti tersenyum lalu mengangguk. Dia mengubah posisi genggaman sehingga tangan Kalila yang sekarang berada di sebelah dalam.
“Kamu putri kami satu-satunya, Lila. Jadi fokus kami pasti hanya kepadamu. Apalagi ini pertama kali kamu jauh dari kami,” kata Siti.
Kalila mengangguk tersedu.
“Buat ibu sama bapak kebahagian dan keselamatan kamu yang utama. Sejak kamu pergi dan tidak pernah memberi kabar, sebenarnya kami sudah ada niat untuk mengunjungi kalian. Hanya saja kondisi bapak belum memungkinkan untuk perjalanan jauh,” lanjut Siti.
“Apa kondisi bapak drop lagi, Bu?” tanya Kalila panik.
Siti mengangguk,”Dua bulan setelah pernikahanmu. Tapi untungnya mertua kamu memberi kabar kalau kalian baik-baik saja. Bahkan mereka juga memberi uang agar bapak bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik,” kata Siti.
Kalila terkejut mendengar tentang mertuanya, “Mertua? Bu Diana?” tanyanya memastikan.
“Bu Diana? Kamu masih memanggilnya seperti itu?” tanya Siti menyelidik.
“Eh tidak, Bu. Maksudku mama,” ralat Kalila.
“Iya, Lila. Mereka memang tidak datang langsung. Hanya menitip pesan dan kiriman uang lewat bulekmu,” jawab Siti.
Kalila mengangguk. Dalam hati terbesit perasaan bersalah karena pergi tanpa pamit. Tapi sejenak kemudian dia merasa apa yang dilakukan wajar karena mereka tidak mengatakan yang sebenarnya tentang masa lalu Haris.
“Kamu juju sama ibu, Lil,”
Deg! Ucapan Siti membuat Kalila berdebar. Entah kejujuran apa yang diminta sang ibu. Dia berharap bukan sesuatu yang tidak bisa diungkapkannya saat in.
“A-Apa, Bu?” tanya Kalila hati-hati.
“Bagaimana hubunganmu dengan Haris? Apa dia bisa menerimamu? Apa dia memperlakukanmu selayaknya seorang istri?” tanya Siti penuh selidik.
“Hah?! Ehh… anu… emmm. Mas Haris baik kok, Bu. Hubungan kami baik-baik saja,” jawab Lila.
“Benarkah?!” tanya Siti tidak percaya.
Kalila mengangguk cepat, “I-iya, Bu.”
Siti terdiam. Matanya beralih ke salah satu bagian tubuh Kalila.
“Kenapa ibu tanya seperti itu?” tanya Kalila yang melihat Siti terdiam.
“Apa kamu atau Haris ada masalah kesuburan?” tanya Siti.
Kalila baru menyadari kalau Siti sedang memperhatikan perutnya. Dia pun mengikuti arah pandang Siti dan mengelus perutnya pelan.
“Emm…Bu… Sebenarnya kami sedang menjalani hubungan jarak jauh,” kata Kalila akhirnya.
“Maksudnya, Lil?” tanya Siti. Ada rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di matanya.
“Empat tahun ini kami tinggal terpisah,” jawab Kalila.
Siti sudah akan menyela namun Kalila lebih dulu melanjutkan ceritanya.
“Aku melanjutkan pendidikan, Bu. Aku kuliah di universitas yang sejak dulu aku impikan,” lanjut Lila.
“Kuliah?” tanya Siti tidak percaya.
Kalila mengangguk.
“Haris mengijinkan?” tanya Siti lagi.
Kalila lagi-lagi mengangguk. Namun kali ini anggukannya lebih lambat karena dia sadar sedang tidak jujur pada ibunya.
“Kebetulan Mas Haris yang membiayai kuliahku di awal masuk. Termasuk semua kebutuhannya,” kata Kalila.
Kali ini dia berkata benar meskipun caranya tidak seperti yang Siti bayangkan.
“Sedangkan untuk biaya selanjutnya Alhamdulillah aku dapat beasiswa, Bu,” kata Kalila.
Mata Siti berkaca-kaca. Dia mendekatkan posisi pada Kalila lalu mengelus lembut lengannya.
“Alhamdulillah, Lila. Ibu ikut bahagia dan bersyukur karena keinginanmu selama ini akhirnya terwujud. Jujur, ibu dan bapak sempat bersedih dan menyesal karena harus menikahkanmu selepas SMA. Padahal kami tahu kalau kamu sebenarnya sangat ingin melanjutkan pendidikan,” kata Siti menangis haru.
Air mata Kalila pun ikut mengalir lagi.
“Tapi memang jalan yang dipilihkan Gusti Allah pasti baik. Impianmu untuk bisa kuliah tetap diwujudkan meskipun tidak lewat tangan kami,” lanjut Siti.
“Iya, Bu. Aku sendiri tidak percaya kalau bisa sampai menyelesaikan S1. Tapi aku minta maaf ya, Bu, karena selama ini belum bisa kirim apapun buat ibu dan bapak,” kata Kalial.
Siti menggeleng, “Nggak apa-apa, Lila. Yang penting kamu sehat. Allah sudah kirimkan rezeki dari jalan yang lain untuk kami.”
“Alhamdulillah sekarang aku sudah bekerja, Bu. Ini sedikit tabunganku untuk ibu membeli kebutuhan sehari-hari dan juga obat untuk bapak,” kata Lila sambil menyerahkan sebuah amplop coklat berisi uang dari tasnya.
Siti menolak pemberian Kalila,”Sudah, Lil. Kamu pakai saja. Ibu dan bapak insyaAllah sudah tercukupi kebutuhan kami.”
“Tolong jangan ditolak, Bu. Hanya ini yang bisa aku berikan. Aku mohon doanya agar pekerjaanku lancar dan bisa mencukupi kebutuhan ibu sama bapak,” kata Kalila penuh permohonan.
Siti menghela nafas. Pandangan tulus sang anak membuatnya luluh.
“Baiklah, ini ibu terima. Ibu doakan rezekimu dan Haris diberi keberkahan. Keluarga sakinah mawaddah warahmah dan segera dititipi keturunan sholeh sholeha,” ucap Siti.
Kalila terdiam sejenak. Dia ragu mengaminkan kalimat terakhir yang diucapkan sang ibu.
“A..aamiin,” ucap Kalila akhirnya.
“Jadi apa kalian sekarang sudah tinggal bersama lagi?” tanya Siti tiba-tiba membuat Kalila gelagapan.