“Ka, apa kamu tidak mau mempertimbangkannya dulu? Apa yang kurang darinya? Mapan, tampan, dan perhatian,” Tanya Ajeng, wanita yang satu tahun terakhir ini cukup dekat dengan Kalila.
Kalila tidak langsung menjawab. Pandangannya menerawang ke satu titik. Jika bisa memilih mungkin dia akan menerima pinangan pria yang sebenarnya juga menarik baginya itu.
Helaan nafas keluar dari indera penciuman Kalila, “Ada hal yang tidak aku bisa ceritakan, Jeng. Sesuatu yang membuatku saat ini tidak bisa menerima perasaan Asta,” jawabnya.
“Apa itu, Ka? Apakah sangat rahasia sampai kamu tidak mau menceritakannya padaku?” selidik Ajeng.
“Emmm entahlah, Jeng. Yang pasti saat ini aku belum bisa mengatakannya. Mungkin nanti ada masanya aku akan menjelaskannya,” kata Kalila.
“Kamu nggak percaya sama aku?” Ajeng merajuk.
“Bukan begitu, Jeng. Hanya saja-”
“Kalila! Pak Harto memanggilmu ke ruangannya,” suara seorang kerja Kalila menginterupsi obrolan mereka.
“Sekarang, Sa?” tanya Kalila memastikan.
“Ya iyalah! Masa tahun depan,” jawab Salsa ketus lalu berlalu dari meja Kalila.
Kalila menghela nafas, “Ada apa ya, Jeng?” tanyanya.
Ajeng menggeleng, “Kamu melakukan kesalahan akhir-akhir ini, Ka?” tanyanya.
Kalila berpikir sejenak lalu menggeleng, “Sepertinya tidak ada masalah sama kerjaanku, Jeng,” jawabnya.
“Ya sudah. Sebaiknya kamu segera menemui Pak Harto, semoga bukan sesuatu yang tidak baik,” kata Ajeng.
Kalila mengangguk dan segera menuju ruangan pria yang menjabat sebagai Human Resources Department di perusahaannya. Jujur sepanjang perjalanan menuju ruang HRD jantung Kalila berdebar. Dia mencoba menebak apa yang mungkin akan Harto sampaikan kepadanya. Sebagai karyawan kontrak satu hal yang paling Kalila takutkan yaitu pemutusan hubungan kerja.
“Bismillah,” ucap Kalila sebelum mengetuk pintu ruangan Harto.
“Masuk!” ucap suara bariton dari dalam ruangan.
“Bapak mencari saya?” tanya Kalila diambang pintu.
“Iya. Silahkan duduk,” ucap Harto.
Kalila mengangguk lalu duduk di hadapan Harto. Pria itu kemudian menyerahkan sebuah business file pada Kalila.
“Ini apa, Pak?” tanya Kalila ragu.
“Bukalah!” kata Harto yang diikuti begitu saja oleh Kalila.
“Itu adalah catatan penilaian kinerja kamu selama ini,” jelas Harto.
Kalila meneliti dokumen di tangannya. Ada beberapa catatan dan angka-angka di sampingnya.
“Ini maksudnya bagaimana ya, Pak?” tanya Kalila.
Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Harto membahas tentang hal ini. Biasanya penilaian kinerja ini akan dibahas dalam rapat akhir tahun atau ada karyawan yang bermasalah.
“Kantor pusat membutuhkan beberapa karyawan tambahan. Setiap kantor cabang diminta mengajukan calon untuk mengisi posisi tersebut. Berdasarkan beberapa pertimbangan, kepala cabang memilihmu untuk dikirim ke kantor pusat,” jelas Harto.
“Ke-kenapa saya, Pak?” tanya Kalila.
“Itu tadi. Keputusan dari Pak Salim,” jawab Harto.
“Apa saya ada pilihan lain, Pak?” tanya Kalila berusaha menghindar.
Harto memajukan tubuhnya, “Ada.”
“Tapi saya tidak yakin kamu akan memilih pilihan kedua ini,” lanjutnya.
“Apa itu, Pak?” tanya Kalila penasaran.
“Mengundurkan diri,” kata Harto lugas.
“Baiklah, Pak,” kata Kalila pasrah.
Harto benar. Dia tidak mungkin memilih untuk mengundurkan diri. Pekerjaan ini sangat berarti baginya. Ada amanah besar yang harus dituntaskan agar bisa terlepas dari bayang masa lalu dan melangkah tanpa beban.
Kalila memandang surat keputusan mutasi yang diberikan Harto padanya. Dalam surat itu jabatan, waktu yang ditentukan untuk melapor dan alamat kantor.
“Gimana, Ka? Ada apa?” tanya Ajeng begitu Kalila sampai di mejanya.
Kalila enggan menjawab. Dia menunjukkan lembaran yang dipegang pada Ajeng.
“Waaa! Selamat ya, Ka. Akhirnya kamu diangkat jadi karyawan tetap,” kata Ajeng sumringah.
“Kamu kenapa kayak nggak bersemangat gitu? Bukankah ini yang kamu harapkan selama ini?” tanya Ajeng yang melihat Kalila justru berwajah muram.
“Iya sih, Jeng. Tapi…”
“Tapi kenapa? Apa karena nggak bisa lihat Asta lagi?” goda Ajeng.
“Ck! Kamu ini. Nggak ada hubungannya sama dia,” jawab Kalila kesal.
“Hahaha! Lalu apa masalahnya, Ka? Ini kamu dimutasi ke kantor pusat, diangkat jadi karyawan tetap, jabatan naik dan pasti gaji juga meningkat. Kenapa kamu nggak happy?” tanya Ajeng tidak mengerti dengan perasaan Kalila.
“Aku kayak belum siap aja, Jeng?” jawabnya asal.
“Belum siap apanya, Ka? Kamu khawatir nggak bisa ketemu teman sebaik aku?” goda Ajeng lagi.
“Itu salah satunya,” jawab Kalila.
Ajeng tergelak, “Ya udahlah, Ka. Cuma pindah ini. Aku yakin nanti di sana banyak yang mau berteman baik sama kamu. Tapi tetap jangan sampai kamu melupakanku ya,” kata Ajeng.
Kalila mengangguk lalu tersenyum. Dia memeluk Ajeng tulus dan bersyukur di tempat ini bisa menemukan teman sebaik dia.
Dua minggu berikutnya Kalila mulai membereskan barang-barangnya. Dua hari lagi dia harus melapor ke kantor pusat. Dan sejak hari ini dia sudah diizinkan untuk tidak datang ke kantor cabang lagi.
Kalila memastikan semua barang sudah masuk ke dalam kardus dan koper. Barang di kardus akan dijemput kurir untuk dikirim ke tempat kos yang baru. Sedangkan dia hanya akan membawa sebuah koper dan ransel. Tidak boleh ada yang ketinggalan karena setelah ini dia tidak akan kembali kesini.
Setelah yakin semuanya siap, Kalila menghubungi kurir ekspedisi yang akan mengambil paketnya. Sehingga saat barang itu sampai bisa bersamaan dengan kedatangannya di tempat yang baru. Kalila beruntung karena untuk masalah tempat tinggal sudah dibantu juga oleh HRD.
Kalila duduk di tepi kasur sambil mengamati setiap sudut ruangan. Dia mengingat kembali bagaimana awalnya bisa tinggal di sini.
Lima tahun lalu Kalila pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang menjadi impiannya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sayangnya impian itu sempat tenggelam karena kondisi ekonomi keluarga dan pernikahan. Namun kenyataan mengejutkan yang membuatnya pergi dari rumah Haris justru menjadi awal tercapainya impian.
Sejak di bangku sekolah dasar Kalila sudah ingin kuliah. Melihat bagaimana tetangga kampungnya yang berpendidikan tinggi bisa memiliki pekerjaan yang lebih baik dan membantu peningkatan kualitas pendidikan di desa mampu membuatnya termotivasi.
Kalila tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengambil sebuah kartu dari dompetnya.
“Aku berterima kasih banyak karena diberi kartu ini. Tapi jangan khawatir, aku akan segera mengembalikan semua uang yang telah aku pinjam,” kata Kalila memandang kartu yang diberi Haris lekat.
Kalila kemudian membuka SK mutasinya, “Entah apa yang Engkau rencanakan untukku Ya Allah. Kenapa setelah sekian tahun Engkau mengirimku lagi ke kota ini?” tanyanya bimbang.