“Haris, apa sudah ada kabar tentang Kalila?” Diana membuka obrolan di meja makan.
Haris yang setelah sekian bulan baru berkunjung lagi ke rumah Diana hanya diam. Sendok dan pisau di tangan sejenak melayang karena terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Diana.
“Belum sih, Ma. Tapi seharusnya dia baik-baik saja,” jawab Haris tenang.
“Bagaimana bisa kamu menyimpulkan seperti itu. Memangnya kamu sudah tahu keberadaannya?” tanya Diana kurang senang.
Haris meletakkan alat makan lalu memandang Diana serius. Dia lebih dulu membuka ponsel sebelum menjawab pertanyaan sang ibu.
“Haris! Kamu kenapa malah membuka ponsel sih?!” kali ini Diana ikut meletakkan sendoknya.
“Sabar, Ma. Jawabannya ada di sini,” kata Haris tenang.
“Apa maksudnya, Ris?” tanya Diana penasaran.
Haris mengalihkan pandangan pada Diana lalu menghembuskan nafas panjang.
“Oke-oke!” bisik Diana mengerti bahwa Haris butuh waktu.
Hanya beberapa detik kemudian, Haris menyerahkan ponsel pintarnya pada Diana. Sebuah layar terbuka menunjukkan barisan-barisan informasi.
“Apa ini, Ris?” tanya Diana bingung memandang angka-angka yang tertera di layar.
“Itu adalah catatan mutasi rekening dari sms banking. Di hari pertama Kalila datang aku memberinya kartu debit untuk menafkahinya. Saat pergi aku yakin dia membawanya serta,” kata Haris menjelaskan.
“Lalu?”
“Mama bisa lihat masih ada catatan uang keluar masuk. Jadi aku yakin Kalila baik-baik saja dengan uang yang aku berikan padanya,” kata Haris.
Diana mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Kepergian Kalila cukup menyita pikirannya. Tekanan darahnya sempat naik lagi mendengar kabar menantunya itu tidak ada di rumah saat Haris kembali. Ditambah lagi hasil pencarian yang dilakukan orang suruhan Haris tidak bisa menemukan Kalila di rumah orang tuanya.
Beberapa kali Diana memaksa Haris terus mencari Kalila dan melaporkannya pada polisi. Dia merasa bersalah sekaligus khawatir jika ada hal buruk menimpanya. Namun Haris menyampaikan jika sudah meminta beberapa orang untuk berusaha menemukan gadis itu. Hal ini sudah membuat Diana cukup tenang.
“Kalila buat apa ya uang sebanyak in?” tanya Diana melihat nominal pertama yang didebet oleh Kalila.
Haris tertawa sinis, “Buat apa lagi, Ma? Namanya juga wanita. Jika melihat kondisi keluarganya aku yakin selama ini dia jarang merasakan kemewahan. Jadi bisa saja uang itu digunakan untuk membeli barang yang selama ini sangat dia inginkan.”
“Kamu jangan berburuk sangka seperti itu, Ris. Mama yakin Kalila bukan perempuan seperti itu. Mama sangat mengenal keluarganya. Dari attitude Kalila juga Mama bisa tahu kalau dia anaknya tidak neko-neko,” sanggah Diana.
“Mama juga jangan terlalu berprasangkan baik sama orang baru ditemui sekali dua kali. Mungkin memang orang tuanya baik, tapi anaknya belum tentu. Jaman sekarang anak-anak sudah pandai menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya. Teknologi sudah cukup canggih untuk membuat anak bisa meyakinkan bahwa kebohongannya benar di mata orang tuanya,” kata Haris.
Diana terdiam. Putranya memang benar. Jaman sekarang pergaulan anak-anak bisa luar biasa bebas tanpa diketahui oleh orang tuanya. Dia sendiri sudah banyak mendengar kejadian-kejadian seperti ini dari lingkungannya.
“Iya sih, Ris. Tapi entah kenapa Mama yakin kalau Kalila tidak seperti itu,” kata Diana antara ragu dan yakin.
Haris berdecak, “Mama ini udah kayak drama Cina. Kalau percaya sama orang kadang berlebihan sampai fanatik. Sampai-sampai kebenaran yang nyata bahkan tidak bisa dipercaya,” cibirnya.
“Ck! Kamu kayak pernah nonton drama Cina aja, Ris,” ledek Diana.
“Nggak pernah sih. Cuma dengar orang-orang di kantor waktu ngobrol,” kata Haris kembali melanjutkan makannya.
“Tapi, Ris, bukannya catatan mutasi rekening ini tidak bisa ditelusuri tempat penarikan uangnya? Aliran dananya masuk kemana? Atau catatan apa saja yang bisa menunjukkan lokasi pemegang kartu ini berada?” tanya Diana.
“Bisa aja sih, Ma. Tapi aku harus datang sendiri ke kantor bank. Aku masih belum sempat, Ma,” kata Haris enteng.
“Apa, Ris? Nggak sempat? Ini transaksinya sudah empat tahun lebih lho. Masa iya selama itu kamu nggak ada waktu?” tanya Diana menggelengkan kepala kesal.
Haris hanya mengangkat bahu singakat sebagai jawaban.
“Mama ini bukan cuma karena Kalila, Ris. Mama juga khawatir kalau ternyata yang pegang kartu ini bukan Kalila. Tapi ada yang menyalahgunakan. Kan kamu juga yang rugi nantinya,” kata Diana.
Haris memandang Diana lekat. Mamanya benar juga. Apalagi pin kartu debit itu dia tempel di balik kartu.
“Oke akan segera aku selidiki, Ma,” kata Haris kemudian.
“Memangnya ada berapa uang di rekening itu?” tanya Diana.
“Nggak banyak sih, Ma. Cuma lima puluh juta. Aku belum tahu berapa banyak uang yang dibutuhkan Kalila selama sebulan. Jadi aku beri segitu dulu,” kata Haris.
“Uang segitu memang sudah baik kalau untuk Kalila. Tapi kalau digunakan orang lain, rasanya Mama juga nggak rela,” kata Diana.
“Iya, Ma,” jawab Haris begitu saja.
Dua hari kemudian Haris benar-benar meluangkan waktu ke bank untuk mengecek mutasi rekeningnya. Dia ingin memastikan siapa yang menggunakan uangnya selama ini. Jika memang kartu itu masih ada pada Kalila, maka ada kesempatan baginya untuk menemukan wanita itu dan segera memperjelas status mereka.
Haris meneliti laporan mutasi rekening yang baru diterimanya dari customer service. Ada sekian baris transaksi tertulis sejak kepergian Kalila. Baris paling atas adalah pengeluaran senilai dua puluh juta rupiah. Pengeluaran pertama sekaligus paling besar. Setelahnya ada beberapa angka sama yang rutin keluar setiap bulan dan beberapa pengeluaran acak dengan nominal yang lebih kecil.
Tabel debet hanya terisi sampai tahun ketiga kepergian Kalila. Selanjutnya hanya ada kredit yang berarti ada uang masuk rekening. Haris masih terus meneliti setiap nominal yang masuk. Jumlahnya beragam mulai tiga ratus hingga lima ratus ribu rupiah.
Di lembaran lain yang didapatkan dari customer service ada laporan lokasi penarikan uang. Meskipun berbeda-beda tempat tapi masih dalam kota yang sama. Dari sini Haris bisa menyimpulkan jika pemegang rekening berada di kota tersebut.
Haris segera menghubungi orang yang dulu diminta memeriksa keberadaan Kalila,”Aku kirim beberapa dokumen. Cari tahu keberadaannya di kota M. Wilayah pencarian sudah aku kerucutkan. Kemungkinan dia ada di sana,” titahnya.
“Segera hubungi aku jika menemukannya. Atau kalau kamu bisa membawanya langsung ke hadapanku akan ada bonus lebih besar,” lanjut Haris setelah mendapat kesanggupan dari orang suruhannya.
“Kamu tunggu saja Kalila. Begitu aku menemukanmu, akan segera aku selesaikan semua urusan kita,” tekad Haris.