Kalila berlari ke kamar dan menutup pintu cepat. Dia tidak menduga jika Haris memiliki anak yang sudah dewasa. Bahkan sudah hampir sama dengan usianya.
Bapak dan ibunya hanya bilang kalau orang yang akan menikahinya adalah duda. Mereka menduga jika memang Haris memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, kemungkinan usianya di bawah sepuluh tahun.
“Nggak mungkin! Nggak mungkin!” Kalila duduk memeluk lutut dengan bersandar pada pintu kamar.
“Nggak mungkin aku bisa jadi ibu mereka. Aku nggak mau punya anak yang usianya hampir mirip denganku,” Kalila menggeleng frustasi.
Dia lalu bergegas memasukkan kembali barang-barang yang sejak semalam sempat dikeluarkan. Dia bersyukur masih belum sampai mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam ransel.
“Aku harus pergi dari sini! Aku harus pergi! Aku tidak bisa tinggal di sini,” racau Kalila.
Setelah yakin semua barangnya sudah masuk ke dalam tas, Kalila menunggu di dalam kamar sambil sesekali keluar untuk melihat kondisi. Dia mencari waktu yang tepat agar tidak ada yang tahu kepergiannya.
Sekitar pukul sebelas siang rumah sudah terlihat sepi. Dua anak tadi sudah berangkat sekolah sedangkan Bi Minah sepertinya sedang menyetrika di laundry room. Kalila berjalan tanpa suara demikian pula saat membuka pintu rumah.
Kalila sangat lega setelah berhasil sampai di luar. Tapi sejenak kemudian dia bingung akan ke arah mana. Semalam dia tidak terlalu memperhatikan jalan yang dilewati menuju ke rumah Haris. Dia menoleh ke kanan kiri beberapa kali berharap ada petunjuk atau seseorang yang bisa ditanya jalan keluar dari perumahan.
Hampir sepuluh menit Kalila menunggu hanya ada beberapa mobil yang melewatinya. Dia tidak ada keberanian untuk menghentikan salah satu dari mobil-mobil itu. Sesekali Kalila menoleh ke arah rumah Haris untuk memastikan kondisi masih aman. Namun terpikir olehnya jika dia lebih lama lagi di sini, bukan tidak mungkin akan ada yang menemukan keberadaannya.
“Aku harus segera pergi dari tempat ini,” ucap Kalila.
Dia memilih jalan sesuai keyakinannya untuk bisa keluar dari perumahan mewah ini. Kalila hanya mengikuti petunjuk saat berada di persimpangan. Dia akan berbelok ke tanda panah yang menunjukkan huruf lebih awal.
Entah berapa lama Kalila berjalan hingga bisa sampai di gerbang masuk perumahan. Semakin mendekati pintu masuk, rumah yang dilewatinya semakin besar dan lebih mewah.
“Mbak!”
Panggilan dari seorang sekuriti membuat Kalila menoleh. Dia berhenti dan menoleh ke sumber suara. Salah satu dari petugas itu menghampirinya.
“Mbak ini siapa? Mau kemana?” tanya pria yang di seragamnya tertulis nama Robert.
“Saya mau keluar, Pak?” jawab Kalila tanpa menjawab pertanyaan pertama.
“Mbak ini dari mana memang? Saya sepertinya baru pertama kali melihat? ART baru di sini?“ tanya Robert.
Jantung Kalila rasanya tertusuk mendengar pertanyaan Robert, “ART?”, batinnya.
Kalila memandang kaki dan pakaian yang dikenakannya. Dia menyadari penampilannya mungkin seperti kebanyakan asisten rumah tangga di lingkungan ini.
“I-iya, Pak. Saya tidak betah tinggal di sini. Jadi saya pamit pulang sama majikan saya, “ jawab Kalila. Dia memilih untuk tidak jujur untuk menghindari pertanyaan yang lebih banyak lagi.
“Oalah, kenapa tidak betah? Memangnya majikanmu siapa? “ tanya Robert membuat Kalila jengah karena masih ada pertanyaan lagi.
“Pak Haris, “ jawab Kalila cepat.
“Bukannya Pak Haris orangnya baik ya? Beliau termasuk warga yang ramah dan royal, termasuk pada kami,” tanya Robert.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak betah saja. Emm saya permisi dulu ya, Pak, “ kata Kalila sambil berbalik untuk segera meninggalkan tempat.
“Eh! Sebentar dulu. Mbak mau pulang ke kampung? Memangnya sudah tahu mau naik apa dari sini?” tanya Robert lagi.
Kalila mengurungkan langkah. Dia menyadari kalau saat ini tidak tahu arah dan ini kesempatannya bertanya agar tidak sampai salah arah.
“Saya belum tahu, Pak. Kalau saya mau terminal bis, saya harus berjalan kemana dan naik apa ya, Pak? “ tanya Kalila.
“Tuh kan. Gitu kok mau pergi begitu saja. Kalau kamu tersesat dan diculik orang gimana? Gadis muda sepertimu di kota ini banyak yang mau. Dan cara laki-laki tidak baik merayumu itu ada seribu cara,” kata Robert panjang lebar.
Kalila sebenarnya tidak sabar mendengar nasihat Robert. Dia khawatir jika tiba-tiba Minah atau Haris melewati tempat ini dan menemukannya.
“Iya, Pak. Terima kasih. Jadi sebaiknya saya ke arah mana ya, Pak?” tanya Kalila lagi.
“Bagus. Lagipula sepertinya kamu baru lulus sekolah ya? Kenapa tidak kuliah saja? Kenapa justru bekerja jadi ART? Ap-”
“Eh, maaf Pak. Apa boleh saya diberi informasi dulu tentang arah yang benar. Saya khawatir sampai rumah kemalaman kalau tidak segera berangkat, “ Kalila memberanikan diri memotong ucapan Robert yang ternyata masih ingin menceramahinya.
“Oh iya, sampai lupa. Saya punya anak seusia kamu jadi rasanya se-”
“Ke kanan atau ke kiri ya, Pak? “ tanya Kalila mulai tidak sabar.
“Ah! Itu… Nanti kamu ke arah kanan sampai ujung jalan. Nanti ada pangkalan ojek. Kamu bisa naik ojek ke jalan besar. Dari situ naik angkot warna ungu. Kamu ikut saja karena pemberhentian terakhir di terminal. Kalau sudah sampai terminal kamu bisa tanya lagi bis ke tempat yang kamu tuju,” jelas Robert.
“Baik, Pak. Terima kasih banyak. Saya permisi dulu,” kata Kalila segera berpamitan.
Dia pun segera pergi pada saat Robert sudah akan memberi wejangan lagi. Entah seperti apa pengalaman hidup pria itu sampai suka sekali bercerita. Padahal setahu Kalila jatah kata pria sehari maksimal hanya tujuh ribu kata.
Kalila berjalan cepat menuju pangkalan ojek yang dimaksud. Siang sudah semakin terik, dia harus segera sampai ke terminal agar bisa sampai di rumah tidak terlalu malam.
Sampai di terminal Kalila tidak segera naik bis. Dia belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini sendirian. Dalam kebingungannya, dia memutuskan untuk sholat dhuhur dan istirahat sejenak sambil memikirkan rencana selanjutnya.
“Kalau aku pulang sekarang bagaimana perasaan ibu dan bapak? Mereka pasti khawatir atau sedih. Bisa jadi hubungan ibu dan Bu Diana jadi kurang baik karena kabur ku kali ini. Tapi aku juga tidak mau tetap di sana dan hidup dengan anak tiri yang sudah dewasa, “ batin Kalila.
Dia kemudian mengatur nafas agar lebih tenang sambil terus memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
“Apa aku tetap di sini saja ya. Sementara waktu aku akan cari kerja. Jika saatnya sudah tepat baru aku pulang dan mengatakan yang sebenarnya,” Kalila merasa menemukan ide bagus. Namun sejenak kemudian di ragu, “Kalau aku bertemu Pak Haris atau keluarganya gimana?”
Kalila berjalan ke peron sambil masih terus berpikir. Dia melihat bis-bisa berjajar menunggu penumpang penuh sebelum berangkat. Kalila juga meneliti harga tiket bus ke berbagai tujuan. Hingga matanya tertuju pada sebuah kota yang selama ini menjadi tempat impiannya setelah lulus SMA. Dia membuka dompet dan menghitung uangnya yang tersisa.
“Bismillah, cukup!” ucapnya.
Kalila dengan mantap menuju ke tempat bus berkumpul. Dia membaca tulisan trayek setiap bus sampai menemukan yang dicari. Dengan senyum terkembang dia menuju ke bus tersebut dan segera masuk.
“Saya mohon pertolonganMu ya Allah, “ ucap Kalila pasrah saat bus mulai meninggalkan terminal.
Haris pulang setelah pergi selama dua minggu. Sebelumnya Minah sudah memberitahu kalau Kalila pergi dari rumah. Namun karena pekerjaannya yang sedang dalam masalah rumit, Haris tidak sempat menanggapinya dengan serius.
“Bi Minah!” panggil Haris begitu memasuki rumah.
“Pak Haris sudah pulang, “ sambut Minah sambil mengambil alih tas dan jas Haris.
“Gimana, Bi? Apa Kalila sudah pulang? “ tanya Haris langsung.
“Belum, Pak. Apa mungkin Bu Kalila pulang ke rumah orang tuanya ya? “ tebak Minah.
Haris menggeleng, “Aku belum cari tahu, Bi. Apa Bi Minah tahu sejak kapan Kalila pergi? “ tanya Haris.
“Saya tidak yakin, Pak. Pagi hari setelah Bapak pergi Bu Kalila masih ada. Malah masih sempat bertemu Mas Adam dan Mas Isa. Sore waktu saya pulang pintu kamar tertutup. Besoknya saya datang kondisi rumah masih sama seperti saat saya pergi. Siang waktu saya coba ketuk pintu kamar tidak ada jawaban jadi saya coba masuk dan ternyata memang tidak ada orang. Saya coba cari ke tempat lain tapi tidak ada juga. Saat itu saya langsung kirim pesan ke Pak Haris, “ jawab Minah.
Haris mengangguk paham, “Baiklah, Bi. Nanti saya coba cari tahu keberadaannya, “ ucapnya.
“Iya, Pak. Jujur saya terus kepikiran. Bu Kalila masih sangat muda dan cantik juga. Saya khawatir terjadi apa-apa, “ kata Minah.
“Cantik?” batin Haris.
Gadis polos dengan kulit sawo matang. Rambut ikal panjang sepinggang yang dikuncir satu. Wajah tirus tanpa polesan apapun dan baju yang sangat sederhana. Entah bagian mananya yang membuat Bi Minah menilai Kalila cantik.
Haris menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaan Kalila di rumah orang tuanya, mertuanya dan tempat lain yang diduga bisa menemukannya. Hasil pencarian tidak menunjukkan jejak Kalila dimanapun. Bahkan di kantor polisi atau rumah sakit dengan dugaan ada hal buruk dialaminya.
Sebulan pencarian tidak ada kabar positif, Haris memutuskan menghentikan dulu pencarian. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk mendatangi orang tua Kalila untuk menyampaikan kejadian ini.
Haris duduk termenung dengan buku nikah yang menampilkan foto mereka berdua di tangan kanan, “Kemana kamu sebenarnya? Apa yang membuatmu pergi?“ tanyanya pada foto Kalila.
Beberapa menit kemudian masuk sebuah notifikasi di ponselnya. Haris tertawa sinis membaca pemberitahuan penarikan dana senilai dua puluh juta rupiah dari salah satu rekeningnya. Nomor rekening yang kartu debitnya diberikan pada Kalila.
“Cih! Ternyata kamu sama saja dengan mereka!”