“Sudah siap? Yakin tidak ada yang tertinggal?” tanya Haris memastikan.
Kalila yang duduk di kursi sebelahnya berpikir sejenak lalu mengangguk, “Sudah,”
“Oke. Kita berangkat sekarang,” kata Haris yang dijawab anggukan lagi oleh Kalila.
Mobil mulai melaju sambil mereka melambaikan tangan pada keluarga Kalila yang mengantar. Baik Kalila maupun orang tuanya sama-sama berurai air mata. Ini pertama kalinya mereka berpisah sangat jauh dan kemungkinan dalam waktu yang cukup lama.
“Kamu tidak pernah jauh dari mereka?” tanya Haris membuka percakapan.
Meskipun tadi malam Sunar sudah menceritakan semuanya tapi Haris ingin mendengarnya dari versi Kalila.
“Iya, Pak. Ini pertama kalinya,” jawab Kalila dengan suara sendu.
Haris lagi-lagi kesal mendengar panggilan Kalila padanya, “Bisa tidak kamu jangan memanggilku ‘Pak’? Apa kamu pikir aku setua itu? Memangnya umur kamu sekarang berapa?” tanyanya tanpa menyembunyikan rasa.
“Sem..sembilan belas tahun, P…” Kalila hampir memanggil ‘Pak’ lagi. Beruntung rem bibirnya cukup pakem sehingga kata itu tidak sampai keluar lagi.
“Apa?! Sembilan belas? Dan kamu setuju begitu saja untuk menikah? Apa kamu tahu kamu dinikahkan dengan siapa sebelumnya?” tanya Haris terkejut.
Kalila menggeleng dengan kepala masih tetap menunduk, “Tidak tahu…Ibu dan Bapak hanya bilang kalau calon suami saya dan keluarganya adalah orang yang baik,” jawabnya.
“Lalu? Kamu percaya begitu saja? Kamu tidak takut orang tuamu hanya membohongi dan memanfaatkanmu saja?” tanya Haris sinis.
Kalila menoleh kepada Haris dengan cepat,”Mereka orang tua saya, Pak! Saya sangat mengenal mereka seperti apa. Jadi sangat tidak mungkin mereka menjerumuskan saya. Saya sangat yakin bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik untuk saya!” ucapnya penuh penekanan.
Haris terkejut mendengar emosi Kalila. Ucapannya yang asal tadi sepertinya membuat gadis itu tersinggung.
“Oke! Oke! Aku minta maaf. Aku hanya asal bicara tadi,” kata Haris jujur.
Apa yang diucapkan seolah ungkapan hati karena sebenarnya dia yang merasa ditipu oleh orang tuanya. Kalila memalingkan wajah ke arah jendela tanpa berbicara apapun lagi. Hingga selama perjalanan menuju rumah Haris tidak ada lagi pembicaraan apapun diantara mereka.
“Kita sudah sampai. Ayo turun,” ajak Haris setelah menghentikan mobil di halaman rumahnya.
Sejenak Kalila memandang bangunan modern di depannya. Jika dilihat sekilas ukurannya hampir sama dengan rumahnya di kampung. Tapi secara bentuk bangunan sangat jauh berbeda.
Kalila turun saat Haris sudah berada di belakang mobil dan membuka bagasi. Gadis itu menghampiri berniat mengeluarkan barang-barang miliknya.
“Biar aku saja. Kamu masuklah,” kata Haris.
“Tidak apa-apa, Pak. Biar saya saja,” kata Kalila hendak mengambil alih tasnya dari tangan Haris.
“Berhenti memanggilku, Pak!” kata Haris tegas.
Kalila bergeming terkejut, “La…lalu saya harus memanggil apa?” tanyanya takut.
Haris memandang Kalila lekat, “Panggil aku “Sa…yang,”.
Pipi Kalila memanas. Bibirnya kelu untuk mengucap. Terlalu malu baginya mengucap kata itu meskipun Haris sudah menjadi suaminya.
“Kamu bisa berlatih dulu kalau memang malu. Tapi ingat! Jangan sekali kali kamu panggil ‘Pak’ lagi!” kata Haris.
“Ba-baik,” kata Kalila sedikit lega atas kesempatan yang diberikan Haris.
Mereka berdua kemudian berjalan beriringan masuk menuju pintu masuk. Barang bawaan Kalila tidak terlalu banyak. Hanya sebuah tas ransel berisi baju dan sebuah map berisi dokumen penting. Kalila ingin bersiap manakala nanti ada keperluan yang membutuhkan berkas-berkas ini.
“Ayo masuk!” kata Haris mempersilahkan.
Dia kemudian mengisyaratkan Kalila untuk terus mengikutinya.
“Ini kamar kita. Desainnya selama ini mengikuti selera mantan istriku. Aku belum sempat mengubahnya karena kurasa memang tidak ada yang perlu diubah. Tapi kalau kamu mau mendesain ulang silahkan,” kata Haris.
Kalila terdiam. Dia tahu Haris adalah seorang duda. Tapi dia tidak menyangka kalau Haris akan segamblang ini menceritakan masa lalunya.
“Kamu tidak masalah kan tinggal di kamar ini?” tanya Haris memastikan karena Kalila yang tidak kunjung bersuara.
“I-iya. Tidak apa-apa,” jawab Kalila.
“Baguslah kalau begitu,” kata Haris.
Pria itu kemudian meletakkan barang Kalila di ujung tempat tidur, “Kamu bisa menata pakaian di lemari itu dulu. Kalau tidak ada ruang, bisa menyisihkan sebagian bajuku,” lanjutnya.
“Baik, Pa, eh, Sa..yang,” kata Kalila dengan perasaan tidak karuan.
Haris tersenyum tipis mendengar panggilan Kalila yang mulai berubah, “Kamu bisa mandi di sana. Aku akan mandi di kamar mandi luar. Sudah gerah dan lelah rasanya setelah perjalanan yang panjang dan menegangkan,” ucapnya.
Tanpa menunggu tanggapan dari Kalila, Haris pun segera keluar dari kamar.
Kalila duduk di ujung tempat tidur. Dia memandang sekeliling ruangan. Bersih, indah, dan mewah. Dia merasa istri Haris sebelumnya memiliki selera yang bagus.
Kalila memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum menata pakaian. Dia juga sudah merasa tidak nyaman dengan keringat yang menempel punggung.
Banyak hal baru Kalila temui di rumah ini. Bentuk, tampilan, dan teknologi yang belum pernah dinikmati secara langsung sebelumnya. Beruntung selama ini di rumah, dia dan ibunya rajin menonton sinetron dengan setting rumah mewah sehingga beberapa hal sudah dikenalnya.
Seperti kebiasaan di rumah, Kalila tidak pernah membawa baju ganti ke kamar mandi. Setelah mandi dia hanya memakai handuk dan berganti pakaian di kamar. Sayangnya kali ini Kalila lupa jika ini bukan kamarnya sendiri tapi berdua dengan Haris.
“Ka-”
“Waaa!” Kalila refleks berteriak saat Haris membuka pintu kamar.
“Tunggu!!! Aku belum selesai berpakaian!” pekik Kalila.
“Ah! Oh! Oke! Maaf. Aku tunggu di luar. Ada yang mau aku bicarakan,” kata Haris yang kemudian segera menutup pintu kembali.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian Kalila keluar dari kamar. Haris yang berada di meja makan memanggilnya mendekat.
“Aku minta maaf untuk yang tadi. Aku tidak tahu kalau kamu belum selesai berpakaian,” kata Haris saat Kalila sudah duduk di hadapannya.
“Sudah! Jangan dibahas!” potong Kalila kesal sekaligus malu, “Ada apa? Apa yang mau dibicarakan?” tanyanya.
“Emm… Aku minta maaf sebelumnya. Seharusnya minggu ini aku masih cuti karena kita menikah. Tapi baru saja atasan menelepon ada hal mendesak di kantor cabang. Jadi aku harus berangkat keluar kota malam ini juga,” kata Haris menjelaskan.
Kalila mengangguk. Dia tidak merasa harus mencegah kepergian Haris atau apapun. Justru mungkin dia harus bersyukur karena untuk sementara waktu dia aman dari hubungan yang lebih intim dengan Haris.
Haris menyerahkan sebuah kartu debit pada Kalila, “Ini uang belanja sekaligus nafkah dariku. Kamu bisa menggunakannya untuk kebutuhan rumah dan pribadimu,” ucapnya.
“Terima kasih,” kata Kalila.
“Setiap pagi ada Bi Minah yang bertugas bersih-bersih dan terkadang juga masak untukku. Tapi dia tidak menginap. Sore atau jika pekerjaannya sudah selesai dia akan dijemput suaminya pulang,” jelas Haris.
“Baik,” kata Kalila.
“Ada yang mau ditanyakan dulu mungkin sebelum aku berangkat?” tanya Haris yang dijawab gelengan kepala oleh Kalila.
“Oke. Kamu baik-baik di rumah. Kalau perlu sesuatu minta saja sama Bi Minah atau bisa juga langsung meneleponku,” kata Haris kemudian berlalu.
Sebelum benar-benar pergi dia menyempatkan mengusap lembut kepala Kalila. Tidak dipungkiri hal ini membuat gadis itu tersipu.
Seperginya Haris, Kalila memilih untuk tidur. Baru saja merebah dia sudah merasa sangat nyaman. Kasur yang empuk dan wangi serta suhu udara yang bisa diatur sesuai kebutuhan membuatnya dengan mudah terlelap.
Esoknya Kalila bangun kesiangan. Entah karena terlalu lelah atau kasurnya terlalu nyaman sehingga dia tidak mendengar adzan subuh. Dia terbangun karena suara keributan dari luar kamarnya.
Kalila mencuci muka dan merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum memastikan apa yang sedang terjadi di rumah ini. Dia baru membuka pintu kamar setelah memastikan tidak ada kotoran di mata dan bagian lain wajahnya.
“Selamat pagi, Bundaaaa!” suara seorang anak laki-laki berseragam SMP menyapanya. Kalila jelas terkejut. Haris maupun kedua orang tuanya tidak pernah bercerita tentang keberadaan anak.
“Ibu? Sudah bangun? Silahkan duduk, sarapannya sudah siap,” kata seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila.
“Bi Minah?” tanya Kalila saat wanita itu sudah berada di hadapannya.
Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Minah kemudian mengajak Kalila duduk di meja makan. Dia duduk tepat di samping anak yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya. Bahkan sampai saat Kalila duduk, mata anak itu tidak terlepas darinya. Kalila salah tingkah.
“Kamu-”
“Oh ini istri barunya ayah?” tanya seorang anak lagi dari arah depan Kalila.
Anak dengan seragam SMA itu ikut duduk dan terus memandangnya,
“Ayah?!”, tanya Kalila lirih.
“Kalian ini si-siapa?”