Haris seperti terhipnotis dengan kejadian yang begitu cepat. Bahkan saat melantunkan ijab qobul, entah mengapa lisannya begitu lancar mengucap janji mengambil alih tanggung jawab mempelai wanita dari sang ayah.
Hingga pada saat ini Haris sudah berada di kamar milik wanita yang tadi siang sudah halal baginya. Ruangan yang mungkin seharusnya menjadi kamar pengantin mereka. Namun karena tempat tidurnya hanya cukup untuk satu orang, jadilah hanya dia sendiri yang berada di kamar ini.
“Apakah ini nyata? Atau hanya mimpiku saja?” Batin Haris sambil menatap langit-langit kamar.
Langit-langit tanpa plafon sehingga langsung terlihat kayu dan genteng yang berhias sarang laba-laba. Sebuah dipan kayu dengan kasur dan bantal berisi kapuk randu yang sekarang menjadi alas tidurnya. Terasa keras, berbeda dengan tempat tidur mewah di kamarnya. Sedikit saja bergerak sudah terdengar deritan kayu yang saling bergesekan.
Haris masih termenung memikirkan apa yang sudah terjadi. Dalam hati terus berdengung pertanyaan, “Kok bisa ya? Kok bisa?”.
Tubuh sebenarnya sudah lelah tapi mata tak mau memejam. Sejak kemarin malam dia tidak tidur. Pulang kerja langsung diminta masuk mobil tanpa diberi penjelasan. Perjalanan tengah malam selama lima jam dengan rasa penasaran membuatnya tidak bisa terlelap. Belum lagi setelah shubuh dia sudah diminta mandi dan mempersiapkan diri.
“Aduh! Kenapa jam segini malah kebelet sih!” gerutu Haris yang tiba-tiba tidak bisa menahan buang air kecil.
Sejak tadi ruangan yang paling dihindarinya adalah kamar mandi. Bagaimana tidak, jika ruangan itu berada di luar bangunan rumah. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan tinggi sekitar dua meter tanpa ada atap yang menutupi. Belum lagi air yang tersedia hanya segentong yang entah dari mana asal airnya karena dia tidak melihat ada kran air di atasnya.
Haris membuka pintu kamar perlahan. Pria itu ragu, antara melanjutkan tujuan atau kembali merebah dan menahan rasa ingin buang urine. Jam masih menunjukkan pukul dua puluh satu lebih lima puluh tiga menit. Tapi hampir semua ruangan gelap. Hanya bagian teras dan dapur yang dibiarkan menyala.
“Mau kemana, Nak?” suara seorang wanita mengagetkan Haris.
Dia menoleh perlahan ke arah sumber suara. Seorang wanita paruh baya berdiri di belakangnya.
“Eh, itu, Bu. Anu, emm…saya mau ke kamar mandi,” jawab Haris.
Wanita yang sudah menjadi mertua Haris itu melihat jam dinding sekilas, “Berani keluar sendiri?” tanya Siti.
Haris menggaruk tengkuk, “Be..rani, Bu,” jawabnya tidak yakin.
Siti tersenyum, “Apa mau diantar? Biar Ibu bangunkan Bapak,” kata Siti menengok ke arah suaminya yang sedang terlelap di kursi tamu.
Haris ikut melihat ke arah pandang Siti. Ayah mertuanya tidur berselimut sarung di kursi yang terbuat dari kayu. Ada perasaan kasihan sekaligus bersalah melihat pria renta itu yang harus mengalah karena keberadaannya. Dia menempati kamar Kalila, istrinya, sedangkan tempat pria itu ditempati Siti dan Kalila.
“Tidak perlu, Bu. Kasihan Bapak. Sepertinya sudah nyenyak,” kata Haris.
“Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya, Nak,” kata Siti yang selanjutnya bergerak mengambil sesuatu di bufet.
“Kamu pakai ini untuk lihat jalan. Takutnya ada binatang atau jalan yang licin,” kata Siti menyerahkan sebuah senter.
“Baik, Bu. Terima kasih,” kata Haris.
Siti mengangguk lalu meninggalkan Haris masuk ke kamarnya.
Haris menimbang senter di tangannya dan mencoba menyalakan untuk memastikan nyalanya. Dia tidak mematikan lagi senternya karena kondisi ruangan yang juga gelap.
“Aman Haris. Aman, “ ucapnya dalam hati saat membuka pintu belakang.
Kebun jagung yang mengelilingi rumah ini masih terlihat meskipun samar. Sayangnya kamar mandi yang tadi siang dia perkirakan berjarak lima meter dari rumah, sekarang terlihat sangat jauh.
Haris mengarahkan cahaya senter ke jalan yang akan dilewatinya. Tidak ada apapun dan dia sudah menemukan bagian mana yang akan dilewatinya. Setelah itu dia berlari agar segera sampai di kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya. Akan tetapi baru setengah dari proses yang dilakukannya, terdengar pintu berderit. Haris berusaha mengabaikan dan segera menyelesaikan kegiatan bersucinya.
Sama seperti sebelumnya, Haris memastikan kembali jalan yang akan dilewati. Setelah yakin aman lagi-lagi dia berlari untuk menghindari berada di luar terlalu lama.
“Aaaaaa!” Haris menjerit saat baru saja kakinya masuk ke dalam rumah lagi.
Ternyata dia tidak sendirian. Ada suara teriakan lain muncul di tempat yang sama.
“Kamu ngapain di sini? Bikin kaget saja!” ucap Haris setelah memastikan suara itu berasal dari mulut Kalila.
Kalila tidak langsung menjawab. Jantungnya masih berdegup kencang karena terkejut luar biasa.
“Saya… saya diminta Ibu menunggu Bapak di sini. Ibu khawatir kalau nanti terjadi sesuatu sama Bapak,” jawab Kalila.
Haris memicingkan mata bingung, “Bapak? Bukannya Bapak kamu sedang tidur?” tanyanya.
“Ehh anu. Maksudnya Bapak,” kata Kalila menunjuk pada Haris.
Haris menunjuk hidungnya sendiri tidak percaya, “Aku? Bapak? Kamu panggil aku Bapak?” tanyanya dengan suara pelan tapi dalam.
Kalila mengangguk ngeri, “Sepertinya Bapak sudah aman. Kalau begitu saya kembali ke kamar lagi,” kata Kalila yang langsung kabur meninggalkan Haris yang masih tidak percaya dengan panggilan gadis itu padanya.
“Hei! tunggu! Ini ba-” Haris setengah berteriak memanggil Kalila namun dihentikan setelah mengingat bapak mertuanya yang sedang tidur.
Haris kembali menuju ke kamar setelah menutup pintu. Sepanjang perjalanan dia menggerutu karena istrinya memanggilnya dengan sebutan Bapak.
“Apa iya aku setua itu sampai dia memanggilku Bapak? Meskipun aku jauh lebih tua tapi aku ini suaminya lho. Apa tidak bisa dia memanggilku Kak atau Mas atau siapalah yang pantas sebagai panggilan untuk suami,” kata Haris.
“Haris! Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu tadi?” tanya Sunar.
“Eh, Bapak? Bapak bangun?” tanya Haris mengetahui pertanyaan itu datang dari bapak mertuanya.
“Iya. Tadi Bapak dengar ada yang berteriak jadi terbangun,” jawab Sunar tetap di tempat duduknya.
“Oh iya, Pak. Mohon maaf tadi saya dan Kalila sama-sama terkejut. Jadi refleks kami teriak,” kata Haris mendekati Sunar dan duduk di sampingnya.
Sunar mengangguk, “Bapak titip Kalila ya, Ris. Dia anak kami satu-satunya. Selama ini dia tidak pernah jauh dari kami. Selesai sekolah pasti langsung pulang. Rekreasi sekolah pun Lila tidak pernah bersedia ikut. Mungkin karena keadaan kami jadi dia banyak menahan untuk bersenang-senang. Padahal seandainya dia mau, kami pasti kami akan mengusahakan. Tapi yah seperti itulah Lila. Bagi kami dia sangat pengertian bahkan kadang terlalu pengertian,” kata Sunar memandang Haris lekat lalu menerawang.
Haris mengangguk mendengarkan setiap kalimat Sunar. Dia mencoba membayangkan kondisi yang selama ini dihadapi keluarga ini.
Sunar menepuk bahu Haris, “Tanggung jawab menjaga Kalila sudah Bapak serahkan sama kamu. Setelah ini kamulah yang harus diutamakan oleh Kalila sebelum. Mulai besok kalian akan tinggal jauh dari kami. Bapak harap kamu akan memperlakukannya dengan baik. Jika memang dalam perjalanan pernikahan kalian kamu tidak sanggup lagi mempertahankannya, Bapak mohon kamu kembalikan dia kesini baik-baik,” lanjut Sunar.
“Saya akan berusaha sebisa saya ya, Pak,” kata Haris.
“Pak… aku dengar bapak sedang kurang sehat. Sebaiknya Bapak tidur di kamar. Biar aku yang di sini,” tawar Haris.
“Bapak tidak apa-apa. Kamu tetap tidur di kamar Kalila. Kalian besok akan menempuh perjalanan panjang. Istirahatlah dengan baik,” kata Sunar.
Haris hanya bisa mengangguk dan menyetujui. Segera dia berpamitan untuk masuk ke kamar. Dia agak khawatir harus ke kamar mandi lagi jika terus terjaga.