“Haris, mau sampai kapan kamu seperti ini? Mama sudah tua. Tinggal kamu anak mama yang belum berkeluarga. Kakak sama adik kamu bahkan sudah punya anak remaja,” kata Diana lemah.
Wanita usia hampir enam puluh tahun itu harus beristirahat total saat hipertensinya kambuh. Hari ini adalah giliran Haris untuk berjaga di kamar sang ibu.
“Ma… kenapa Mama bicara seperti itu? Mama kan tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku,” kata Haris jengah.
Sebenarnya ingin sekali Haris pergi. Dia malas membicarakan tentang pernikahan. Namun karena kondisi Diana yang sedang kurang sehat, Haris pun menanggapi seperlunya.
“Iya, Ris, mama mengerti. Tapi Mama berharap kamu mau mencoba sekali lagi. Ini yang terakhir. Kalau memang belum berhasil, Mama tidak akan memaksa lagi,”
Haris memandang sudut ruangan sambil berpikir dan menimbang permintaan ibunya.
“Jujur aku sudah lelah mencari calon istri, Ma,” ucapnya kemudian.
“Kali ini percayakan pada Mama untuk memilihkan calon untukmu,” kata Diana.
“Memangnya Mama sudah punya calon untukku?” Selidik Haris.
“Ada, Ris. Anaknya bulek Siti. Masih kerabat jauh kita. Mama sudah istikhoroh dan insyaAllah dia akan jadi jodoh yang baik untukmu,” kata Diana.
Haris tertawa kecil. Dalam hati dia meragukan keyakinan Diana.
“Kamu nggak percaya sama Mama?” tanya Diana jengkel.
Haris segera merubah ekspresinya, “Percaya, Ma,” katanya berusaha terlihat tulus.
“Kalau begitu besok kita ke sana. Kita melamar dan kalau memang mereka bersedia bisa sekalian akad nikah,” kata Diana bersemangat.
Raut wajah sayu dan tubuh yang tadi terlihat lemah sirna entah kemana. Punggung yang tadi bersandar langsung tegak mendengar kesediaan Haris.
“Besok, Ma?! Kenapa tiba-tiba sekali? Lagipula Mama juga masih kurang sehat kan?” tanya Haris terkejut.
“Mama sehat. Mama sudah sehat, Ris. Lihat!,” kata Diana yang tiba-tiba sudah mencoba turun dari tempat tidurnya.
“Hati-hati, Ma!” kata Haris sigap menangkap tubuh Diana yang hampir jatuh saat berusaha berdiri.
“Mama masih kayak gini kok bilangnya sudah sehat,” kata Haris sambil membantu Diana kembali ke posisi semula.
“Tinggal pusing sedikit saja, Ris. Mama yakin besok sudah benar-benar pulih,” kata Diana berusaha meyakinkan Haris.
“Tidak, Ma. Aku tidak akan menikah kalau Mama memaksakan tubuh seperti ini. Mama harus benar-benar pulih baru kita ke rumah Bulek Siti,” kata Haris tegas.
Wajah Diana berubah, “Baiklah. Tapi kamu janji ya mau ikuti permintaan Mama kalau Mama sudah sehat lagi?”
“Iya, Ma. Aku janji. Kalau besok Mama sudah sehat betul, minggu depan kita berangkat,” kata Haris membujuk sang ibu.
Diana kembali sumringah, “Baiklah. Kalau begitu sekarang Mama mau istirahat dulu. Kamu juga bisa tidur lebih awal agar saat hari pernikahan wajah kamu bisa lebih fresh,” ucapnya.
Haris memutar bola mata malas, “Iya.”
Esoknya, saat istirahat siang, ada panggilan masuk ke ponsel Haris.
“Mama?” tanya Haris pada diri sendiri.
Tidak biasanya Diana meneleponnya di jam kerja kecuali ada sesuatu yang darurat. Apalagi beberapa hari ke belakang kondisi kesehatan ibunya sedang kurang baik. Dia jadi khawatir dan segera menjawab panggilan.
“Ya, Ma? Mama kenapa? Apa ada sesuatu yang darurat?” tanya Haris sedikit panik.
“Mama nggak apa-apa, Ris. Tapi memang ada sesuatu yang mendesak,” jawab Diana dengan nada serius.
“Ada apa, Ma? Apanya yang mendesak?” tanya Haris tidak sabar.
“Mama tidak bisa cerita sekarang. Nanti pulanglah lebih awal dan langsung ke rumah Mama. Biar kami jelaskan semuanya,” jawab Diana.
“Emm, kamu juga sebaiknya ijin pada atasan untuk cuti. Paling tidak dua hari. Kalau bisa satu minggu akan lebih baik,” lanjut Diana.
“Cuti? Kenapa harus cuti segala, Ma? Ada apa sebenarnya?” tanya Haris semakin bingung.
“Mama…Mama tidak bisa bicara lebih banyak, Ris. Itu tadi pesan Mama. Semakin cepat kamu pulang akan lebih baik. Ma-” Panggilan telepon tiba-tiba terputus padahal jelas terdengar kalau Diana belum selesai bicara.
“Ma! Mama!,” panggil Haris dengan suara keras.
Dia memandang layar ponsel yang sudah kembali gelap. Tangan kanan mengusap rambut kasar pertanda gelisah. Beberapa detik kemudian dia baru terpikir untuk menghubungi Husna, kakaknya yang tinggal serumah dengan Diana.
“Kak? Kamu di rumah?” tanya Haris begitu telepon tersambung.
“Aku masih di luar, Ris. Ada apa?” tanya Husna.
Haris kemudian menceritakan apa yang disampaikan Diana di telepon tadi. Husna juga tidak mengerti dengan maksud Diana jadi ikut panik juga.
“Serius kamu, Ris? Tadi aku pamit pergi Mama baik-baik saja. Malah sudah bisa jalan-jalan di rumah sendiri,” kata Husna.
“Mama sudah pulih, Kak?” tanya Haris.
“Aku tanya tadi katanya sudah sehat bugar. Aku cek tekanan darahnya juga sudah normal,” jawab Husna.
“Terus kenapa Mama bicara seperti itu ya, Kak?” tanya Haris mencoba memikirkan beberapa kemungkinan.
“Entahlah, Ris. Aku habis ini pulang. Biar aku pastikan apa yang terjadi. Kamu sebaiknya ikuti apa yang Mama perintahkan. Takutnya memang ada hal yang mendesak,” kata Husna. Dia mengucapkan salam dan menutup telepon setelah Haris menyetujui pesannya.
Haris tidak lagi tenang dalam bekerja. Pikirannya teringat pada kondisi terakhir Diana anfal. Ingin rasanya Haris segera pulang, namun karena ada satu pekerjaan yang harus selesai hari ini jadi dia memutuskan tetap bertahan. Apalagi Diana memintanya mengajukan cuti beberapa hari, jadi mau tidak mau dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.
Tiga puluh menit setelah jam pulang yang seharusnya, Haris baru bisa keluar dari kantor. Semua yang diminta Diana sudah dilakukan. Setengah berlari dia menuju ke mobil dan segera mengendarainya dengan cepat.
Tidak sampai tiga puluh menit Haris sudah sampai di rumah Diana. Padahal normalnya butuh waktu hampir satu jam di jam pulang kerja seperti ini.
Haris tidak langsung masuk ke rumah Diana setelah menghentikan mobil di depan rumah masa kecilnya itu. Dia mencoba mencerna kondisi tidak biasa yang sedang dilihatnya. Ada dua mobil lain terparkir di depan rumah Diana. Haris mengenalinya sebagai mobil sang ayah dan Husna. Selain itu ada beberapa paman dan bibi Haris yang berdiri gelisah di luar pagar.
Tidak lagi banyak berpikir, Haris segera turun dan berlari menuju rumah Diana. Baru saja dia keluar dari mobil terlihat wajah lega dari kerabat Haris.
“Mbak, ini Haris sudah datang!” teriak salah satu paman Haris.
Beberapa saat kemudian Diana terlihat keluar menghampiri Haris, “Mama?”
“Haris! Ayo langsung masuk ke mobil mama,” titah Diana membuat Haris bingung. Ibunya terlihat sehat dan cekatan.
“Ada apa, Ma? Kenapa, Ma? Mama nggak apa-apa?” tanya Haris saat Diana menarik “Nanti Mama ceritakan di mobil. Kunci mobilmu kasih ke Om Heri. Biar dia yang bawa,” kata lengannya menuju mobil.
Diana memindahkan kunci mobil dari tangan Haris kepada adiknya.
“Ada apa ini, Ma? Kita mau kemana?” tanya Haris lagi ketika mobil sudah melaju tapi Diana belum berniat menjelaskan.
“Kita mau ke desa. Mama mau nikahin kamu,” kata Diana tegas.