“Apa kamu tahu alasan kantor cabang memilihmu?” tanya Haris.
Mulut Kalila terkunci. Pun demikian dengan suaranya yang tercekat di tenggorokan. Jika bisa dia berharap pingsan saja agar dibawa keluar dari ruangan ini.
“Dewi Kalila!” suara tegas Haris mengagetkan Kalila.
“I-Iya, Pak?” tanya Kalila gelagapan.
Haris mengulangi pertanyaannya, “Apa kamu tahu kenapa kantor cabang memilihmu menempati posisi di kantor ini?”
“Eh…eh…itu… Saya kurang tahu tepatnya. Tapi emm… HRD mengatakan kalau pemilihan saya adalah keputusan dari kepala cabang,” jawab Kalila terbata.
“Kamu yakin itu alasannya? Bukan karena kamu memberikan sesuatu pada atasanmu agar dipilih?” Selidik Haris.
“Apa maksud, Bapak?” Tanya Kalila.
Rasa takutnya berubah menjadi amarah. Dia sebenarnya paham apa yang Haris maksud. Tapi tetap ingin memastikan arti dari pertanyaan pria itu.
“Dengan karakter dan cara bicaramu seperti ini, siapa yang yakin bahwa kamu terpilih murni karena kemampuanmu?” tanya Haris lagi. Nada bicaranya biasa saja tapi cukup menusuk.
Kalila masih kesal, tapi dia berusaha menerima dugaan Haris. Keterkejutannya tadi membuat pikirannya kosong sejenak dan berpengaruh juga pada bicaranya.
“Saya tidak memberikan apapun kepada atasan agar dipindahkan ke kantor pusat. Secara finansial saya belum mampu memberikan barang mewah untuk menyuap atasan,” jawab Kalial berusaha tenang.
“Jadi kalau secara finansial kamu sudah mampu, ada kemungkinan kamu akan melakukan hal itu?” Tanya Haris lagi.
Tangan Kalila mengepal di atas pahanya, “Entah apa maksud Bapak bertanya seperti ini pada saya. Dari awal saya bekerja hanya karena ingin memiliki penghasilan yang halal dan berkah. Lagipula Jika boleh jujur, saya lebih nyaman bekerja di kantor cabang dibandingkan di sini. Bekerja di kantor pusat tuntutannya lebih berat dan yang lebih berat lagi punya atasan yang otoriter. Saat bawahan salah langsung dimarahi dan diberi sanksi tanpa diberi kesempatan menjelaskan atau membela diri,” lanjut Kalila.
Haris tertawa sinis,”Oh ya? Sombong sekali kamu ya. Apa HRD di kantor cabang tidak mengatakan berapa gaji yang bisa kamu terima di sini?” Tanyanya.
“Sudah, Pak. Tapi itu tidak menjadi motivasi utama saya bersedia dipindahkan ke sini. Saya terpaksa menerima keputusan ini daripada harus mengundurkan diri. Untuk saat ini saya masih membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang stabil,” kata Kalila membalas pertanyaan Haris.
Dia sadar ucapannya memang tidak sopan dan berisi kesombongan. Tapi ucapan Haris terlanjur melukai harga dirinya. Biarlah jika nanti akhirnya dia akan dipecat atau bila beruntung akan dikembalikan ke kantor cabang.
“Lagipula apakah kinerja saya selama satu minggu ini belum bisa menunjukkan kualitas kerja saya?” tanya Kalila.
“Aku belum melihat laporan kinerjamu. Hanya saja kesan pertama yang kamu tunjukkan memang terlihat kurang baik,” kata Haris.
“Saya mohon maaf. Tadi memang ada hal yang membuat saya terkejut sehingga sempat blank Dan bicara jadi tidak lancar,” kata Kalila berusaha memperbaiki keadaan.
“Terkejut? Kenapa? Apa karena aku? Kamu ada masalah dengan saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” cecar Haris penasaran dengan penjelasan Kalila.
Kalila terdiam mencoba mencerna pertanyaan Haris. Apakah pria itu tidak mengenalnya? Atau pria itu hanya pura-pura saja. Tapi jika diingat, mereka hanya bertemu kurang dari dua hari lalu berpisah lebih dari empat tahun. Belum lagi perubahan yang terjadi penampilannya, bisa saja Haris memang tidak mengenalinya.
Haris memukul meja dan membuat Kalila terlonjak, “Kualitas seperti ini yang kamu banggakan?”
“Mohon maaf, Pak,” ucap Kalila.
Rasanya dia tidak ingin menyanggah Haris lagi. Dengan keyakinan pria itu tidak mengetahui statusnya yang sebenarnya sudah membuatnya cukup lega. Paling tidak dia merasa masih ada waktu untuk mengumpulkan uang Haris yang dia pakai sebelumnya. Itupun jika dia masih diijinkan bekerja di perusahaan ini. Tapi jika diberhentikan, sepertinya dia akan kembali ke kampung dengan rencana baru yang akan dipikirkan selanjutnya.
“Asal kamu tahu Dewi Kalila, orang-orang yang ditempatkan di kantor ini sudah diseleksi dengan benar di kantor cabang. Jadi kesalahan sekecil apapun tidak mudah ditoleransi. Kalau kamu masih mau bertahan di kantor pusat pastikan kamu bekerja dengan cepat dan tepat,” kata Haris memperingatkan.
“Baik, Pak. Terima kasih kesempatannya. Saya akan berusaha bekerja dengan maksimal,” kata Kalila menyanggupi.
“Aku ingin melihat secara langsung bagaimana kinerjamu dalam dua minggu kedepan. Jika terbukti dugaanku benar maka jangan harap kamu bisa bertahan di tempat ini,” kata Haris.
“Baik, Pak Haris. Saya mengerti,” ucap Kalila lagi.
“Baiklah. Silahkan kembali ke tempat dan lanjutkan pekerjaanmu,” kata Haris.
“Mohon maaf. Ada satu hal yang ingin saya klarifikasi dan konfirmasi,” ucap Kalila memberanikan diri mengutarakan niatnya.
“Apa itu?” tanya Haris.
Kalila kemudian mengutarakan niatnya sebelum masuk ke ruangan ini. Haris mendengarkan dengan seksama.
“Aku tidak tahu kalau Mimin memberi keputusan ini terhadap kamu. Dia juga belum memberi penjelasan tentang hal ini,” kata Haris setelah Kalila menyelesaikan ceritanya.
“Aku tidak bisa memberikan keputusan sekarang. Aku perlu melakukan konfirmasi pada beberapa orang yang kamu sebutkan tadi dan mengecek CCTV,” lanjut Haris.
Tanggapan Haris membuat Kalila sedikit puas. Paling tidak dia merasa Haris cukup objektif.
“Terima kasih banyak pengertiannya, Pak Haris,” ucap Kalila.
“Oke. Nanti juga akan aku sampaikan agar Mimin tidak terlalu otoriter dan mau menerima penjelasan bawahan sebelum memutuskan,” lanjut Haris.
Kalila panik, “Eh… untuk soal itu mungkin tidak perlu disampaikan ke Bu Mimin, Pak. Saya khawatir beliau semakin tidak suka dengan saya,” pintanya.
“Kenapa? Hanya berani membicarakannya di belakang? Takut menghadapi resiko dari komplain yang diajukan? Mana keberanianmu yang tadi?” ledek Haris.
Kalila menghelas nafas, “Baiklah. Terserah Bapak saja,” ucapnya kemudian meminta izin untuk keluar dari ruangan.
“Semoga dia benar-benar tidak mengenaliku,” ucap Kalila lirih.
Sampai di tempat duduknya Kalila bernafas panjang.
“Kenapa, Ka? Kamu kayak habis ujian nasional aja. Tegang banget,” kata Silvi.
“Bukan lagi, Kak. Ini sih ujian hidup,” ucap Kalila membuat Silvi tertawa singkat.
“Bisa aja kamu, Ka. Memangnya kamu diapain sama HRD? Lama banget di ruangannya,” kata Silvi.
“Tadi memang ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Jadi agak lama,” jawab Kalila.
“By the way dia masih single lho. Siapa tahu kalian ada jodoh,” canda Silvi.
Kalila yang tadinya sudah fokus pada layar komputer langsung menoleh pada Silvi.
“Single?”
"Iya! Dulu memang pernah menikah. Dua kali. Tapi berpisah. Gosipnya sih karena istrinya tidak bisa mencapai standar yang Pak Haris tentukan. Makanya diceraikan," jelas Silvi.
"Kalian berdua hari ini kayaknya terlalu banyak bicara ya. Apa masih kurang tragedi tadi menimpa kalian?" Salman kembali mengingatkan Silvi dan Kalila.
"Iya ya, Pak. Tragedi hari memang cukup tragis," kata Kalila lemas.
"Aku mau ke buat kopi dulu lah. Kak Silvi, Pak Salman mau sekalian dibuatkan?" tawar Kalila.
"Boleh deh, Ka. Mata juga sudah agak pedes ini," kata Salman.
"Aku nggak deh, Ka. Tadi pagi udah," tolak Silvi.
"Oke," kata Kalila.
Sampai di pantry Kalila menyiapkan dua cangkir yang diisi dengan racikan yang sama. Kopi tanpa ampas, gula dan serbuk jahe dengan perbandingan satu banding dua banding satu. Resep yang diajarkan oleh ibunya ini cukup ampuh diminum saat pikirannya tegang.
"Satu orang apa perlu minum dua cangkir kopi sekaligus?" sebuah suara datang saat Kalila sedang mengaduk kopi.
Kalila menoleh. Dalam hati dia menggerutu karena harus bertemu pria ini lagi.
"Ini yang satu untuk Pak Salman, Pak. Tadi saya yang menawari beliau untuk sekalian dibuatkan," jawab Kalila jujur.
Haris mengangkat alis lalu mengangguk, "Baik juga ya kamu. Apa kamu tidak berniat menawariku juga?" sindirnya.
"Bapak juga mau?" tanya Kalila basa basi.
"Boleh. Aku mau tahu apa kopi yang kamu buat mampu memenuhi standar seorang istri,"