Mereka memakamkan Tio di belakang parit, di sebuah lubang dangkal yang digali Bara dengan tangannya sendiri sampai berdarah. Tak ada peti, tak ada upacara. Hanya tanda salib dari dua bilah kayu yang diikat, dan nama Tio yang diukir Bara dengan pisau, sebuah keterampilan yang ia pelajari dari Pak Darmo. Di atas gundukan tanah itu, ia meletakkan buku puisi Reno. Biar mereka bersama, pikirnya. Biar penyair menjaga sang nelayan.
Kopral Jaya berdiri di sampingnya. "Dia anak yang baik," kata sang kopral.
"Dia yang terbaik," jawab Bara, suaranya tenang sekarang, terlalu tenang. Duka telah berubah menjadi sesuatu yang lain di dalam dirinya. Bukan kebencian. Sesuatu yang lebih jernih dan lebih tajam. Sebuah tekad.
Hari-hari berikutnya, sesuatu telah berubah dalam diri Bara, dan semua orang di parit melihatnya. Anak desa yang lugu itu telah lenyap sepenuhnya. Di tempatnya berdiri seorang prajurit, tapi bukan prajurit yang dibentuk oleh kebencian atau dendam. Sesuatu yang lebih langka. Bara menjadi tenang di tengah kekacauan. Ia mulai menjaga prajurit-prajurit baru, anak-anak muda yang datang dengan tatapan takut yang sama seperti dirinya dulu, sama seperti Jaya pernah menjaganya.
"Tetap rendah," ia mengajari seorang anak baru bernama Wira, mendorong kepalanya ke bawah persis seperti yang dulu Jaya lakukan padanya. "Penembak jitu mereka sabar. Dengarkan aku, kau hidup."
Ia menemukan, dalam menjaga orang lain, sebuah keberanian yang tak pernah ia tahu ia miliki. Bukan keberanian membabi buta yang menyerang tanpa takut. Itu kebodohan, bukan keberanian. Keberanian sejati, ia mulai mengerti, adalah ketakutan yang tetap melangkah maju. Adalah tetap menjadi manusia di tempat yang dirancang untuk merenggut kemanusiaan. Adalah memilih, setiap hari, untuk peduli, walau peduli berarti membuka diri pada kehilangan yang lebih dalam.
Suatu hari, dalam sebuah serangan kecil, seorang prajurit baru terluka dan terjebak di tanah lapang, menjerit kesakitan. Tak ada yang berani keluar; penembak jitu mengintai. Tapi Bara, tanpa ragu, merangkak keluar di bawah tembakan, menarik anak itu kembali ke keselamatan, peluru memercik di sekitarnya. Saat ia kembali, terengah dan berdarah dari goresan, Kopral Jaya menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah Bara lihat. Bukan amarah. Bukan kekhawatiran.
Kebanggaan.
"Kau sudah jadi prajurit, Nak," kata Jaya pelan, malam itu. "Bukan, lebih dari itu. Kau jadi orang yang membuat tempat ini sedikit kurang gelap."
Bara menggeleng. "Saya cuma melakukan yang Bapak ajarkan. Menjaga orang di sebelah saya."
Jaya tersenyum, sesuatu yang sangat langka. "Tio dan Reno dan Darmo," katanya. "Mereka tidak mati sia-sia. Aku melihat mereka hidup di dalam dirimu. Itulah satu-satunya keabadian yang nyata di tempat ini. Kita hidup dalam orang-orang yang kita jaga."
Malam itu, Bara berjaga sendirian, menatap tanah lapang yang gelap, tanah yang telah merenggut begitu banyak. Tapi untuk pertama kalinya, ia tak lagi diliputi keputusasaan. Ia masih takut, ia akan selalu takut. Tapi ketakutan itu tak lagi melumpuhkannya. Ia telah menemukan sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan: alasan untuk bertahan.
Ia menggenggam bungkusan kunyit dari ibunya, yang sudah lama mengering, yang selalu ia simpan. Pulang dalam keadaan apa pun, kata ibunya. Asal pulang. Dan kini ia tahu, ia akan pulang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk membawa serta semua nama yang tak lagi bisa pulang. Untuk Reno, Darmo, dan Tio. Ia akan membawa mereka pulang dalam ingatannya.
Komandan melompat ke pangkuannya, mendengkur. Bara mengusap kepala si kucing, dan untuk sesaat, di tengah perang yang gelap dan tak masuk akal, ada secercah ketenangan. Secercah cahaya.
Ia tak tahu bahwa cahaya itu sebentar lagi akan diuji dengan cara yang paling berat.