Serangan besar itu datang saat menjelang pagi, beberapa hari kemudian. Musuh, mungkin sebagai balasan atas hancurnya gudang amunisi mereka, melancarkan gempuran terbesar yang pernah Bara lihat. Langit malam berubah menjadi siang oleh kilatan meriam. Bumi tak henti-hentinya berguncang. Parit Sektor Tujuh menjadi neraka.
"Bertahan!" teriak Kopral Jaya di tengah deru ledakan, suaranya nyaris tak terdengar. "Jangan mundur! Kalau parit ini jatuh, seluruh garis runtuh!"
Mereka bertempur seperti tak pernah sebelumnya. Bayangan-bayangan kelabu datang berombak-ombak melintasi tanah lapang, lebih banyak dari yang pernah ada. Senapan Bara memanas di tangannya. Asap memenuhi paru-parunya. Di sebelahnya, Tio menembak dan memuat dan menembak lagi, wajahnya hitam oleh mesiu, berteriak-teriak entah apa.
Lalu sebuah granat melayang masuk ke dalam parit, jatuh berdebum di lumpur tepat di antara Bara dan Tio.
Waktu seolah melambat. Bara menatap benda logam kecil itu, tahu persis apa artinya, tapi tubuhnya membeku, terlalu lelah, terlalu lambat. Ia tahu, dalam keheningan sepersekian detik itu, bahwa ia akan mati. Bahwa ia takkan pulang. Bahwa ibunya akan menunggu di stasiun yang ia janjikan, dan ia takkan datang.
Tapi Tio bergerak lebih dulu.
Tanpa ragu, tanpa berpikir, sahabatnya itu melemparkan tubuhnya menutupi granat, menariknya ke dalam tubuhnya sendiri, meringkuk di atasnya seperti melindungi sesuatu yang berharga.
"TIO!" jerit Bara.
Ledakan itu teredam, tertelan oleh tubuh Tio. Bara terlempar ke belakang oleh gelombang kejutnya, telinganya berdenging, dunia berubah putih lalu hitam lalu putih lagi.
Saat ia merangkak kembali, Tio terbaring di dasar parit, dan Bara tahu, dengan kepastian yang mematahkan segalanya di dalam dirinya, bahwa tak ada yang bisa diperbuat. Ia menarik tubuh sahabatnya ke pangkuannya, tak peduli pada peluru yang masih mendesing, tak peduli pada apa pun.
"Tio, kenapa kau lakukan itu, bodoh," isaknya, mengguncang tubuh sahabatnya. "Kenapa..."
Tio masih bernapas, samar, tersengal. Matanya mencari wajah Bara, dan menemukan kekuatan terakhir untuk tersenyum, senyum retak yang sama seperti di gerbong kereta dulu, seabad yang lalu.
"Marni..." bisiknya, darah di sudut bibirnya. "Bilang ke Marni... aku menepati janji. Aku... aku berperang sampai akhir." Tangannya yang gemetar meraih tangan Bara. "Pulang, Bara. Untuk kita... semua. Pulang."
"Tio, jangan. Jangan kau berani-berani—"
Tapi mata sahabatnya itu sudah menatap ke kejauhan, ke suatu tempat yang jauh melampaui parit dan perang, mungkin ke pelabuhan, ke ombak, ke senyum seorang gadis yang menjualnya kelapa. Lalu napasnya berhenti. Tangannya melemas dalam genggaman Bara.
Dunia runtuh.
Bara tak tahu berapa lama ia berlutut di sana, memeluk tubuh sahabatnya, sementara perang mengamuk di sekitarnya. Ia hanya berhenti ketika tangan Kopral Jaya mencengkeram bahunya.
"Bara." Suara Jaya keras, tapi matanya basah. "Bara, dengarkan aku. Dia menyelamatkanmu. Jangan biarkan itu sia-sia. Berdiri. BERDIRI!"
Sesuatu di dalam Bara, sesuatu yang dulu rapuh, mengeras menjadi baja. Ia meletakkan tubuh Tio dengan lembut di dasar parit, menutup matanya yang masih terbuka. Ia mengambil senapannya. Dan ketika ia berdiri, ia bukan lagi anak desa yang takut menarik pelatuk. Ada api dingin di matanya.
Ia bertempur sepanjang sisa pertempuran itu dengan keganasan yang tak ia kenal dari dirinya sendiri. Dan ketika fajar akhirnya datang, dan serangan musuh akhirnya surut, dan parit Sektor Tujuh masih bertahan, Bara berdiri di tengah puing dan asap dan kematian, memandangi tubuh sahabatnya, dan bersumpah dalam hati.
Ia akan pulang. Ia akan menemui Marni. Dan ia akan mengatakan padanya bahwa Tio, sampai napas terakhirnya, menepati setiap janji yang pernah ia buat.
Komandan, si kucing, datang dan duduk di samping tubuh Tio, mengeong pelan, lalu diam, menjaga, seolah ia pun mengerti bahwa salah satu penjaga celah kemanusiaan itu telah pergi.