Perintah itu datang di hari yang dingin, dibawa oleh seorang kurir berkuda yang wajahnya pucat. Kopral Jaya membacanya dalam diam, lalu mengumpulkan seluruh kompi yang tersisa, yang kini tak lebih dari belasan orang lelah dan compang-camping.
"Intelijen melaporkan," kata Jaya, suaranya berat, "bahwa musuh sedang mengumpulkan kekuatan untuk serangan terakhir. Serangan yang, kalau berhasil, akan menembus seluruh garis dan membuka jalan ke kota-kota di belakang kita. Ke desa-desa kita. Ke keluarga kita." Ia berhenti, menatap mereka satu per satu. "Kita diperintahkan untuk merebut Bukit 88 sebelum mereka, saat fajar besok. Dari sana, artileri kita bisa menghentikan serangan mereka sebelum dimulai. Kalau kita gagal merebut bukit itu..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia tak perlu.
Bukit 88. Sebuah gundukan tanah gundul yang dipertahankan mati-matian oleh musuh, dikelilingi ranjau dan sarang senapan mesin. Mereka semua tahu apa artinya menyerang ke sana saat fajar. Itu hampir bukan misi. Itu nyaris hukuman mati.
Malam itu, parit dipenuhi keheningan yang khusyuk. Setiap orang sibuk dengan pikirannya sendiri, dengan wajah-wajah yang mereka rindukan, dengan doa-doa yang mereka panjatkan diam-diam. Wira, prajurit muda itu, mendekati Bara, tangannya gemetar.
"Bang Bara," bisiknya. "Saya takut."
Bara menatap anak itu, dan melihat dirinya sendiri di malam pertamanya di parit ini, di kehidupan yang lain. Ia meletakkan tangannya di kepala Wira, persis seperti yang dulu Jaya lakukan padanya, dan persis seperti yang ia lihat berulang kali, sebuah warisan kelembutan yang diturunkan dari satu prajurit ke prajurit lain di tempat yang paling gelap.
"Bagus," kata Bara lembut. "Berarti kamu masih manusia. Selama kamu takut, kamu masih punya hati. Yang harus kamu lakukan cuma satu: melangkah maju walau takut. Itu namanya berani. Dan kamu tidak sendirian. Aku ada di sebelahmu. Kita semua bersaudara di sini."
Wira mengangguk, matanya berkaca-kaca, tapi tangannya berhenti gemetar.
Kopral Jaya mendatangi Bara di kegelapan, jauh dari yang lain. Untuk waktu yang lama mereka berdiri bersisian, dua orang yang telah melewati neraka bersama, menatap siluet Bukit 88 yang gelap di kejauhan.
"Bara," kata Jaya akhirnya. Suaranya berbeda malam ini, lebih lembut, dan ada sesuatu di dalamnya yang membuat dada Bara dingin. "Apa pun yang terjadi besok. Apa pun. Kau bawa anak-anak ini pulang. Kau dengar aku? Kau yang memimpin mereka pulang."
"Kenapa Bapak bicara begitu," kata Bara, jantungnya mencelos. "Kita akan pulang sama-sama. Semuanya."
Jaya tersenyum, senyum lelah seorang lelaki yang sudah terlalu lama berperang melawan dunia yang tak masuk akal. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah foto kecil yang sudah usang: seorang wanita dan seorang gadis kecil yang tersenyum. Istri dan putrinya. Ia menyerahkannya pada Bara.
"Simpan ini," katanya. "Kalau aku tidak kembali, biar ada yang ingat mereka. Selama kau ingat namanya, dia belum benar-benar mati. Bukankah begitu yang kuajarkan?"
Bara ingin menolak, ingin membantah, tapi tenggorokannya tercekat.
Fajar mulai merekah di ufuk timur, semburat merah pertama menyentuh langit, mewarnai awan dengan warna darah dan emas. Di kejauhan, terdengar peluit pertama, tanda serangan akan dimulai. Para prajurit merangkak ke garis loncat, jari-jari mereka mencengkeram senapan, napas mereka memburu.
Kopral Jaya berdiri, menarik napas dalam-dalam, dan menatap anak-anak muda yang ia pimpin, anak-anak yang telah menjadi alasan hidupnya. Lalu ia menatap Bara, untuk terakhir kalinya sebelum maju, dan dalam tatapan itu ada segala sesuatu yang tak sempat terucap dalam bahasa, rasa bangga, rasa sayang seorang ayah, dan sebuah kepercayaan yang lebih berat dari emas.
"Untuk mereka yang tak lagi bisa pulang," bisik Jaya. Lalu ia mengangkat tangannya, dan suaranya menggema di sepanjang parit, memecah keheningan fajar.
"MAJU!"
Dan Bara, dengan jantung berdebar dan foto seorang ibu di sakunya dan nama-nama saudaranya di hatinya, melompat keluar dari parit menuju cahaya fajar yang berdarah, menuju Bukit 88, menuju takdir yang menanti di garis depan, tak tahu siapa di antara mereka yang akan menyaksikan matahari benar-benar terbit.