Kabar gencatan datang tiga minggu kemudian, dibawa oleh seorang kurir berkuda yang wajahnya, untuk pertama kalinya dalam ingatan Bara, tidak pucat oleh ketakutan. Ofensif musuh yang patah di Kalimas tak pernah pulih; garis depan membeku, lalu perundingan dimulai di kota yang jauh, dan akhirnya, perlahan dan tak terasa nyata, perang di front ini berhenti.
Bara menerima kabar itu tanpa sorak, sama seperti ia menerima setiap kabar lain. Ia hanya berdiri lama di lereng yang menghadap timur, di antara makam-makam, dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Pulang. Kata itu terasa asing di lidahnya, seperti kata dalam bahasa yang dulu ia kenal tapi sudah lama tak ia ucapkan.
Ia teringat pada anak desa yang dulu naik kereta dari Sumberarum dengan bekal kunyit-bawang di saku dan ketakutan yang lebih besar dari tubuhnya. Anak itu telah mati di suatu tempat di sepanjang perjalanan ini, sama matinya seperti Sapto, Reno, Darmo, Tio. Yang berdiri di lereng ini sekarang adalah orang lain, orang yang dibentuk oleh lumpur dan kehilangan, orang yang tahu hal-hal yang seharusnya tak diketahui siapa pun. Bara bertanya-tanya apakah ibunya masih akan mengenalinya. Apakah ada cukup tersisa dari anak itu untuk dibawa pulang. Lalu ia menyentuh bungkus kunyit kering di sakunya, dan berpikir: cukup atau tidak, ia akan pulang. Itu janji yang harus ditepati. Itu janji terakhir yang masih bisa ditepati.
Mereka berangkat di pagi yang cerah, sisa-sisa dari sebuah regu yang dulu berjumlah belasan dan kini bisa dihitung dengan jari satu tangan ditambah sedikit. Wira berjalan di sampingnya, lengannya kini sembuh sepenuhnya, langkahnya tegap. Galih membawa ransel yang berat dengan keringanan seorang anak muda yang menemukan bahwa ia akan hidup setelah semua. Dan Komandan, si kucing tua, dibawa dalam keranjang anyaman yang dibuat Karto, mengeong sesekali, menolak ditinggalkan, sebagaimana ia selalu menolak ditinggalkan.
Mereka berjalan melewati tanah yang telah mereka pertahankan dengan begitu banyak darah, dan tanah itu, dalam cahaya damai pagi, tampak begitu biasa, begitu sunyi, begitu tak peduli pada semua yang telah terjadi di atasnya. Rumput sudah mulai tumbuh kembali di beberapa tempat, hijau muda menembus lumpur kering. Bara memandangnya dan berpikir bahwa mungkin begitulah cara dunia menyembuhkan diri: perlahan, diam-diam, tanpa meminta izin pada duka.
Letnan Surya melepas mereka di tepi jalan yang menuju selatan. Perwira itu, yang dulu datang dengan seragam kaku dan keyakinan yang lebih kaku lagi, kini berdiri dengan kerendahan hati yang hanya bisa ditempa oleh kehilangan. "Aku belajar lebih banyak darimu daripada dari seluruh akademi," kata Surya, mengulurkan tangan. Bara menjabatnya. Mereka tak perlu kata-kata lain; ada hal-hal yang dipahami dua orang yang pernah bertahan bersama di tempat yang sama. "Pulang yang selamat, Bara. Dan jaga anak-anak itu." Bara mengangguk. Itu, pikirnya, adalah perintah terakhir yang akan ia terima dengan senang hati, sebab itu perintah yang sama yang telah ia panggul sejak fajar di Bukit 88.
Di sepanjang jalan pulang, mereka melewati makam-makam lain, di Sektor Tujuh yang lama, di tepi Sungai Brangas, di Lembah Kalimas. Bara berhenti di setiap tempat yang ia bisa. Ia berziarah ke makam Tio, tempat buku puisi Reno masih bertahan, lapuk oleh hujan dan kemarau, tapi masih ada, masih menjaga. Ia berlutut di sana dan berbicara pada sahabatnya seolah Tio bisa mendengar, menceritakan tentang Kalimas, tentang Jaya, tentang fajar yang akhirnya bukan ancaman. "Aku pulang, Tio," bisiknya. "Seperti yang kau minta. Aku pulang. Dan aku akan menemui Marni. Aku berjanji."
Ia menyelipkan sehelai rumput kering dari Sumberarum yang ia bawa-bawa di buku catatannya ke celah batu nisan Tio, kebiasaan kecil yang tak punya arti bagi siapa pun selain dirinya. Sahabatnya tak pernah melihat ladang tempat Bara dibesarkan, dan Bara tak pernah melihat pelabuhan tempat Tio besar; mereka hanya berbagi lumpur dan kematian dan persaudaraan yang lebih kuat dari darah. Mungkin, pikir Bara, dengan membawa sedikit dari rumahnya ke makam Tio, dan nanti membawa kabar Tio ke pelabuhannya, ia bisa menyambung dua dunia yang seharusnya bertemu dan tak pernah sempat.
Wira berdiri di belakangnya, dan ketika Bara bangkit, anak muda itu — yang sebenarnya tak lagi terlalu muda, yang perang telah menua jauh lebih cepat dari usianya — berkata pelan, "Bang. Apa kita akan bisa lupa? Semua ini. Apa kita harus lupa?"
Bara menatapnya lama. Ia teringat pada seseorang yang dulu pernah memberinya jawaban di tempat yang gelap, dan ia memberikan jawaban itu sekarang, sebagaimana ia telah memberikan begitu banyak warisan lain.
"Tidak," kata Bara. "Kita tidak boleh lupa. Lupa berarti membiarkan mereka mati untuk kedua kalinya. Kita ingat. Kita bawa mereka. Itu beban, ya. Tapi itu juga yang membuat kita tetap manusia." Ia meletakkan tangannya di bahu Wira, bukan lagi di kepalanya, sebab anak ini bukan lagi anak. "Suatu hari, akan ada orang-orang muda yang takut, seperti kita dulu. Dan kau yang akan menjaga mereka. Kau yang akan mengajari mereka tetap rendah, tetap menjadi manusia. Begitulah caranya. Begitulah mereka tetap hidup."
Mereka berjalan terus, ke selatan, menjauh dari front, menuju kota-kota yang masih berdiri, menuju desa-desa yang masih bernapas, menuju kehidupan yang harus dipelajari kembali dari awal. Di belakang mereka, fajar terbit di atas medan yang akhirnya sunyi. Di depan mereka, jalan panjang menuju rumah membentang, dan untuk pertama kalinya, jalan itu benar-benar menuju rumah.