Setelah pertempuran, datanglah pekerjaan yang lebih berat daripada pertempuran itu sendiri: menghitung.
Mereka mengumpulkan yang gugur sepanjang hari itu dan hari berikutnya. Bara bersikeras setiap orang dibawa kembali dari tanah lapang, dari celah, dari mana pun mereka jatuh, sebab ia telah lama bersumpah tak akan membiarkan satu pun saudaranya membusuk di tanah tak bertuan seperti Reno dulu. Mantri Sukma dan beberapa relawan dari desa belakang bekerja tanpa henti merawat yang terluka, dan dr. Asih datang dari rumah sakit gereja tua untuk membantu, wajahnya tirus oleh kelelahan yang sama yang dialami semua orang.
Mereka menggali kuburan di lereng menghadap timur, supaya yang berbaring di sana bisa selalu menyambut fajar. Bara menggali sebagian besar dengan tangannya sendiri, sampai telapaknya melepuh, sampai punggungnya mati rasa, sebab ada sesuatu dalam menggali yang membuat duka punya tempat untuk mengalir.
Galih bekerja di sampingnya tanpa bicara untuk waktu yang lama, lalu akhirnya berkata, suaranya nyaris tak terdengar, "Naba dan aku dari kampung yang sama, Bang. Kami berangkat naik kereta yang sama. Ibunya menitipkan dia padaku." Ia berhenti menggali, menatap tanah. "Apa yang harus kukatakan nanti? Kalau aku pulang dan dia tidak?"
Bara meletakkan sekop dan menatap anak muda itu lama. Ia mengenal pertanyaan itu sampai ke tulang, sebab ia telah memanggulnya sendiri sejak parit pertama. "Kau katakan yang sebenarnya," jawab Bara pelan. "Bahwa Naba tidak mati ketakutan. Bahwa dia ada di sini, di antara saudara-saudaranya, sampai akhir. Dan kau ingat namanya, Galih. Kau sebut namanya keras-keras kapan pun ada yang bertanya. Selama kau ingat namanya, dia belum benar-benar pergi. Itu satu-satunya hal yang bisa kita berikan pada mereka sekarang." Galih mengangguk, dan mengusap matanya dengan lengan kotornya, dan kembali menggali, dan kali ini ada sesuatu yang lebih tegak di punggungnya.
Mereka menemukan Jaya di celah, di bawah tumpukan yang ia tahan, masih memeluk senapan mesin yang membungkam ofensif terbesar perang ini. Wajahnya, anehnya, tenang. Bara berlutut di sampingnya untuk waktu yang lama, tak mampu berkata apa-apa, sementara Wira dan Galih berdiri di belakangnya dalam diam yang khusyuk.
Mereka memakamkan sang kopral di tempat paling tinggi di lereng itu, di tempat yang bisa memandang seluruh lembah yang ia selamatkan. Bara mengukir namanya pada bilah kayu dengan pisau yang sama yang dulu ia pakai untuk nama Tio, keterampilan yang ia warisi dari Pak Darmo, tangan yang sibuk supaya tak gemetar. KOPRAL JAYA. Lalu, di bawahnya, ia mengukir kata-kata yang tak pernah ia ucapkan saat Jaya hidup: AYAH BAGI KAMI YANG TAK PUNYA AYAH LAGI.
Ia mengeluarkan foto dari sakunya, foto seorang wanita dan seorang gadis kecil yang tersenyum, yang telah ia jaga sejak fajar di Bukit 88. Ia hampir meletakkannya di atas makam, lalu ia berhenti. Selama kau ingat namanya, dia belum benar-benar mati. Foto ini tak boleh membusuk di tanah. Foto ini harus tetap diingat. Ia mengembalikannya ke saku, dekat ke jantungnya, dan berbisik, "Akan kubawa mereka, Pak. Istri dan putri Bapak. Akan selalu ada yang ingat."
Letnan Surya — yang dulu datang dengan teori akademi dan keangkuhan, dan yang perang telah membuat rendah hati dan matang — berdiri di samping Bara di makam itu. "Aku menyusun laporan untuk batalion," kata Surya pelan. "Tentang apa yang terjadi di sini. Tentang siapa yang menahan Kalimas." Ia menatap Bara. "Mereka akan menulis nama Mayor Hardi di atas kemenangan ini, kau tahu itu. Tapi aku akan memastikan nama-nama yang benar tercatat di suatu tempat. Nama mereka semua."
Bara mengangguk. Ia tak peduli pada nama siapa yang ditulis di laporan para perwira di kota yang jauh dari lumpur. Ia hanya peduli pada nama-nama yang ia panggul di dalam dirinya, dan ia akan terus memanggulnya, sampai pulang, sampai ada tempat yang aman untuk meletakkannya.
Mantri Sukma menghampirinya menjelang petang, tangannya masih berbau karbol dan darah, wajahnya kuyu. "Yang terluka sudah kuusahakan semampuku," katanya. "Tapi kita kehilangan dua lagi malam ini. Lukanya terlalu dalam, dan aku tak punya cukup apa pun." Ia duduk berat di sebelah Bara, memandang lembah. "Aku tidak terbiasa pada bagian ini. Menyembuhkan, ya, itu pekerjaanku. Tapi memutuskan siapa yang tak bisa kuselamatkan..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Bara meletakkan tangan di bahunya, gerakan yang sama yang ia berikan pada semua orang yang ia jaga, dan tak berkata apa-apa, sebab ada beban yang tak bisa diringankan oleh kata, hanya oleh kehadiran. Mereka duduk bersama dalam diam sampai matahari turun di balik lereng yang penuh makam baru.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, lembah Kalimas hening. Tidak ada meriam. Tidak ada peluit. Hanya angin di lereng, dan suara mantri Sukma menjahit luka di tenda, dan dengkuran pelan Komandan, si kucing, yang entah bagaimana selalu menemukan jalan untuk tetap hidup dan tetap di dekat mereka, kini meringkuk di pangkuan Bara seolah tak ada perang yang pernah terjadi.
Bara mengusap kepala kucing tua itu dan memandang ke arah makam-makam yang menghadap timur, abu-abu samar di bawah bintang. Ia tak menangis lagi. Air matanya sudah habis sejak lama. Tapi di tempat air mata dulu mengalir, kini ada sesuatu yang lebih tenang. Bukan kebahagiaan — ia tak yakin akan pernah lagi mengenal kebahagiaan yang lugu seperti dulu. Sesuatu yang lebih dalam. Penerimaan. Bahwa kemenangan tak pernah datang tanpa kehilangan. Bahwa ia hidup, dan begitu banyak yang tidak, dan tugasnya kini adalah membawa mereka semua pulang dengan cara yang masih mungkin: dalam ingatan.