Sumberarum tak banyak berubah, dan justru itu yang hampir meruntuhkan Bara.
Ia berdiri di pinggir desa pada sore yang keemasan, memandang ladang-ladang padi yang menguning, mencium bau jerami yang membangkitkan ingatan akan pagi pertama dari kehidupan yang lain, saat ia masih seorang anak yang mengikat berkas padi dan belum tahu apa-apa tentang lumpur dan parit dan nama-nama yang harus diingat. Segala sesuatu di sini masih sama, sementara segala sesuatu di dalam dirinya telah berubah selamanya, dan jurang antara keduanya terasa seperti luka.
Ibunya sedang di pekarangan ketika ia melangkah masuk gerbang bambu. Wanita itu lebih tua dari yang Bara ingat, rambutnya lebih putih, punggungnya lebih bungkuk. Ketika ia mendongak dan melihat sosok di gerbang — seorang lelaki kurus berseragam pudar dengan mata yang telah melihat terlalu banyak — untuk sesaat ia tak mengenalinya. Lalu pengenalan itu datang, dan tangannya yang sedang menampi beras terjatuh, dan beras berhamburan di tanah, dan ia berlari, terhuyung, memanggil nama yang telah ia panjatkan dalam setiap doa selama lebih dari setahun.
"Bara. Bara. Anakku."
Bara memeluk ibunya, dan untuk pertama kalinya sejak entah kapan, sesuatu di dalamnya yang telah lama mengeras menjadi baja akhirnya melunak, dan ia menangis seperti anak kecil, menangis untuk semua yang tak sempat ia tangisi, di bahu seorang wanita yang baunya sama persis seperti dalam ingatannya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan bungkus kunyit-bawang yang telah ia bawa sepanjang perang, kering dan rapuh, tapi utuh.
"Aku menyimpannya, Bu," bisiknya. "Sepanjang waktu. Aku pulang. Aku pulang dalam keadaan apa pun, seperti yang Ibu minta."
Ibunya hanya memeluknya lebih erat, dan tidak bertanya apa-apa, sebab ada hal-hal yang seorang ibu mengerti tanpa perlu kata.
Ia tinggal di desa beberapa pekan, belajar kembali bagaimana menjadi manusia di dunia yang tak berperang. Lalu, ketika ia cukup kuat, ia menempuh perjalanan yang masih harus ia tempuh, perjalanan yang telah ia janjikan pada seorang sahabat di dasar sebuah parit, bertahun lalu, seabad lalu.
Pelabuhan itu ramai dan riuh dan penuh bau garam dan ikan, dan Bara menemukan Marni di tempat persis seperti yang Tio dulu ceritakan, berjualan kelapa muda di dekat dermaga, rambutnya diikat, tangannya cekatan membelah buah. Ketika Bara menyebut namanya, dan ketika ia melihat wajah lelaki asing berseragam pudar itu, sesuatu di mata Marni langsung mengerti, bahkan sebelum Bara berkata sepatah kata pun, sebab perempuan yang menunggu prajurit selalu belajar membaca kabar dari cara seseorang berdiri.
Bara menceritakan semuanya. Tentang gerbong kereta, tentang persaudaraan yang tumbuh di lumpur, tentang malam Tio melemparkan tubuhnya menutupi granat untuk menyelamatkan nyawanya. Dan ia menyampaikan pesan yang telah ia bawa begitu lama, kata demi kata, persis seperti yang dibisikkan di dasar parit itu.
"Dia menyuruhku bilang," kata Bara, suaranya bergetar, "bahwa dia menepati janjinya. Bahwa dia berperang sampai akhir. Dan bahwa..." ia menelan. "Bahwa dia memikirkanmu, sampai napas terakhirnya. Aku tahu, karena aku memeluknya. Yang terakhir ia lihat bukan parit. Ia melihat laut. Ia melihatmu."
Marni menangis tanpa suara, dan Bara berdiri bersamanya dalam duka yang tak butuh kata, dua orang yang dipersaudarakan oleh seseorang yang tak ada lagi. Sebelum pergi, ia memberinya buku catatan kecil tempat ia telah menuliskan setiap nama, supaya ada satu salinan lagi di dunia yang mengingat bahwa seorang lelaki bernama Tio pernah hidup, dan mencintai, dan menepati janji.
Tahun-tahun berlalu, seperti tahun-tahun selalu berlalu.
Pada suatu pagi musim semi, bertahun kemudian, seorang lelaki yang tak lagi muda berdiri di lereng sebuah bukit kecil di pinggir Sumberarum, di tempat ia telah menanam pohon-pohon dan memasang batu-batu bertuliskan nama. Reno. Pak Darmo. Tio. Sapto. Bidin. Naba. Dan di tempat paling tinggi, sebuah batu untuk Kopral Jaya, dan di sebelahnya, sebuah bingkai kecil berisi foto seorang wanita dan seorang gadis kecil yang tersenyum, terlindung dari hujan dan dijaga supaya tak pernah dilupakan.
Seorang anak laki-laki, cucu dari kerabat jauh, menarik-narik lengannya. "Kek," tanya anak itu, memandang batu-batu itu dengan mata polos yang belum tahu apa-apa tentang dunia. "Mereka siapa?"
Bara berlutut di samping anak itu, dan meletakkan tangannya di kepala si kecil, persis seperti sebuah tangan dulu pernah diletakkan di kepalanya, di tempat yang gelap dan dingin, seabad yang lalu. Di timur, matahari terbit di atas ladang-ladang padi, fajar yang lembut dan keemasan, fajar yang bukan ancaman melainkan janji.
"Mereka," kata Bara, suaranya tenang, "adalah orang-orang terbaik yang pernah Kakek kenal. Mereka menjaga Kakek waktu Kakek takut. Mereka mengajari Kakek bahwa berani itu bukan berarti tidak takut — berani itu tetap melangkah maju walau takut, demi melindungi orang di sebelahmu." Ia memandang cahaya fajar yang merekah. "Selama kita ingat nama mereka, mereka belum benar-benar pergi. Maukah kamu mengingatnya bersama Kakek?"
Anak itu mengangguk, meski belum mengerti, dan mulai mengeja nama-nama di batu satu per satu. Dan Bara, yang telah membawa mereka semua pulang dalam ingatannya, yang telah memanggul nama-nama itu melewati lumpur dan beku dan api dan akhirnya melewati waktu, mendengarkan suara kecil itu menyebut nama-nama saudaranya di bawah fajar yang hangat, dan tahu, akhirnya, bahwa mereka telah benar-benar sampai di rumah.