Serangan balik itu tidak indah. Tidak ada yang indah tentang manusia yang berlari menyongsong peluru. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Bara, bahkan di tengah keganasannya, merasa untuk pertama kalinya bahwa mereka tidak sedang mati sia-sia.
Mereka menghantam barisan musuh yang ragu di titik tempat keraguan itu paling lebar. Granat-granat Wira melayang lebih dulu, meledak di parit-parit dangkal tempat sosok kelabu berlindung, dan kekacauan menjalar di antara mereka. Musuh, yang sudah mengira lembah ini milik mereka, yang sudah kehilangan dua ombak dan tombak ketiga, tidak siap menghadapi orang-orang yang seharusnya sudah habis tapi malah bangkit dan datang. Garis kelabu itu retak, lalu pecah, lalu mulai surut.
Tanah lapang yang mereka seberangi adalah tanah yang sama tempat begitu banyak kawan mereka tumbang sepanjang malam, dan kaki-kaki mereka melangkahi tubuh-tubuh yang tak sempat dievakuasi, dan tak seorang pun berhenti, sebab berhenti berarti mati, dan mati berarti mengkhianati setiap nyawa yang sudah dibayar untuk membeli momen ini. Peluru mendesing di sekitar Bara seperti lebah marah. Sesuatu menyambar lengannya, panas, lalu nyeri, lalu ia tak punya waktu untuk merasakannya. Ia terus berlari, terus menembak, terus meneriakkan arah, dan di belakangnya derap kaki sisa Kalimas menggemuruh seperti satu makhluk yang menolak mati.
Bara berlari di depan, dan ia tidak menghitung lagi berapa kali ia menembak. Ia melihat Galih merebut sebuah parit musuh dengan dua orang lain, anak yang dulu membeku dalam baku tembak pertamanya kini berteriak memerintah seperti seorang prajurit sejati. Ia melihat Karto dan para pengisi senapan mesin memindahkan sarang mereka ke celah yang Jaya tutup, dan dari sana muntahan api itu kini menghalau musuh yang mencoba kembali, seolah Jaya masih di sana, masih menjaga celahnya. Ia melihat Wira di sampingnya, selalu di sampingnya, melindungi sisi kirinya persis seperti Bara dulu melindungi sisi kiri Jaya.
Mereka merebut kembali setiap jengkal yang hilang semalaman. Lalu mereka merebut lebih dari itu. Mereka mendorong musuh keluar dari mulut Lembah Kalimas, melewati garis pertahanan lama, sampai ke tanah lapang tempat ombak pertama dulu berangkat. Dan di sana, dengan amunisi yang nyaris habis dan tubuh yang nyaris remuk, mereka berhenti, sebab maju lebih jauh berarti kehilangan apa yang baru saja ditebus mahal.
Bara menahan orang-orangnya di sana, meneriakkan perintah untuk tidak mengejar. Ia melihat seorang prajurit muda, mabuk oleh kemenangan dan kemarahan, hendak menembak punggung-punggung kelabu yang melarikan diri, dan ia menahannya. "Cukup," kata Bara, tangannya menekan laras senapan itu ke bawah. "Mereka sudah lari. Membunuh orang yang lari bukan keberanian. Itu cuma pembunuhan." Anak itu menatapnya, napas memburu, lalu sesuatu di matanya melunak, dan ia menurunkan senapannya. Bara tahu, di tempat seperti ini, kemanusiaan adalah hal pertama yang dicuri perang dari seseorang. Ia telah bertekad, sejak parit pertama, untuk tak membiarkannya dicuri dari dirinya, atau dari anak-anak yang ia jaga. Itu pun bagian dari membawa mereka pulang — pulang masih sebagai manusia, bukan hanya sebagai tubuh yang bernapas.
Musuh tidak datang lagi.
Bara berdiri di tanah lapang yang berasap, terengah, senapan menggantung berat di tangannya, dan menyadari perlahan-lahan bahwa tidak ada lagi ombak kelabu yang berkumpul di seberang. Ofensif yang seharusnya menembus seluruh front, yang seharusnya membuka jalan ke kota-kota selatan, ke desa-desa, ke Sumberarum — ofensif itu patah di Lembah Kalimas. Patah di sini. Patah karena mereka.
Di timur, di balik gulungan asap yang mulai menipis, langit pucat itu akhirnya retak oleh cahaya. Semburat merah pertama menyentuh awan, lalu kuning, lalu emas, mewarnai lembah yang penuh kematian dengan warna yang sama yang dulu Bara takuti di kaki Bukit 88. Fajar.
Tapi fajar ini berbeda.
Dulu, fajar adalah aba-aba serangan, peluit yang memanggil ke tanah pembantaian, warna darah dan ancaman. Bara telah belajar membenci fajar, sebab fajar selalu merenggut. Tapi sekarang, berdiri di antara tubuh-tubuh kawan dan lawan, di tanah yang ditebus dengan nama-nama yang takkan pernah ia lupakan, ia memandang cahaya yang merekah di ufuk timur itu, dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan ladang ayahnya, fajar tidak terasa seperti ancaman.
Wira datang berdiri di sampingnya, terhuyung, wajahnya hitam, matanya basah. "Bang," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kita... menang?"
Bara tidak langsung menjawab. Ia memandang lembah di belakangnya, tempat begitu banyak yang gugur. Ia memandang celah yang bungkam di kejauhan, tempat seorang lelaki tua pincang berbaring. Ia merasakan foto di sakunya, dan bungkus kunyit kering yang selalu ia simpan, dan seluruh beban nama-nama yang ia panggul.
"Kita bertahan," kata Bara akhirnya, suaranya serak. "Kita menahan jalan pulang tetap terbuka. Itu yang dia minta dari kita."
Bara mengangkat tangan ke saku dadanya, ke tempat foto seorang wanita dan seorang gadis kecil tersimpan, dan menekannya pelan, seolah ingin orang yang telah memberikannya merasakan bahwa lembah ini telah ditahan, bahwa jalan pulang anak-anaknya tetap terbuka, bahwa pengorbanan itu telah menemukan maknanya. Sambungan kalimat tak sempat terucap di bibirnya. Hanya bisik di dalam hati: berhasil, Pak. Kita berhasil. Tapi Bapak tidak ada di sini untuk melihatnya. Dan itulah harga dari setiap kemenangan di tempat ini — selalu ada kursi yang kosong saat matahari akhirnya terbit.
Cahaya fajar naik perlahan di atas Kalimas, menyentuh wajah-wajah lelah yang masih bernapas, dan untuk satu momen yang panjang dan rapuh, tidak ada satu pun senapan yang menyalak. Hanya keheningan, dan cahaya, dan napas orang-orang yang masih hidup untuk menyaksikan matahari benar-benar terbit.